yang menegangkan telah berlalu, Bibi
Asiah tak menangis lagi, dan Muhamad juga telah sadar, sementara tak
hentinya orang-orang memberikan ucapan selamat atas keberhasilanku
mengobati. Para tukang suwuk memuji-muji ilmu yang ku miliki.
“Mas Ian, benar-benar luar biasa, belum
pernah saya melihat ilmu sehebat itu, mengeluarkan jin dari seseorang
tanpa jurus-jurus.” kata kang Nur.
“Ah jangan dilebih-lebihkan, biasa saja.” jawabku yang memang belum tau pasti akan ilmu dalam tubuhku.
“Benar sampean kang Nur.” tandas paman
Muhsin, “Aku saja kalau mengeluarkan jin harus pakai sarat atau jurus
tertentu, setidaknya harus pakai bacaan Ayat tertentu dari Alquran.”
kang Nur dan kang Wiji manggut-manggut. Kang wiji nampak memegangi
tangannya yang biru lebam.
“Kenapa kang tangannya?”
“Ini mas tadi, beradu jotos dengan Muhamad yang kerasukan.” jawab kang Wiji meringis menahan sakit.
“Coba lihat.” tangan kang Wiji yang lebam segera diangsurkan kepadaku.
“Saya akan coba obati, kalau sembuh ya
syukur, kalau tak sembuh ya sabar.” kataku, karena sekalian mau mencoba
ilmu yang ada di dalam tubuhku.
Kusuruh kang Wiji meletakkan tangannya
yang lebam membiru di atas tapak tangan kiriku yang terbuka, lalu tapak
tangan kananku ku taruh di atas tangan kang Wiji, berjarak sepuluh
sentian, kubayangkan tenaga mengalir dari pusarku hangat bergulung
berkumpul di tapak tanganku, menyerbu masuk ke tangan kang Wiji
mengangkut segala sakit derita, nyeri terangkat seperti udara hitam
berkumpul terangkat dan ku tangkap di tapak tanganku, kemudian kubuang.
“Sudah..!” kataku, sambil melepaskan
penahanan napasku, semua mata yang memandang pun ikut bernapas lega,
yang saat aku mengobati kang Wiji semua menatap tegang.
“Bagaimana kang rasanya?” tanyaku yang tak yakin akan ilmuku sendiri.
Kang wiji menggenggam lalu membentangkan jarinya, dilakukan berulang-ulang, “Sudah enak, tak sakit lagi.” katanya girang.
“Ah yang benar kang?” kata kang Nur tak percaya.
“Tadi apa yang kau rasakan, saat diobati?”
“Seperti banyak semut yang masuk ke dalam
tubuhku, lalu seperti ada yang terbetot keluar dari tanganku, wah,
makasih banyak mas Febri…!” kata kang Wiji haru.
Malam itu aku benar-benar tak habis-habisnya dipuji.
Besoknya jadi pembicaraan di setiap
mulut, sekaligus menambah keyakinanku akan ilmu pengobatan dari Kyai.
Dan di malam aku mengobati itu, dalam tidurku tiba-tiba aku mendengar
ledakan teramat keras membahana. Aku kaget dan terbangun. Betapa
terkejutku, karena kamarku penuh asap. Dan ternit kamarku jebol. Yang
lebih menakutkanku apa yang ku lihat. Ku lihat tubuh yang teramat besar
dalam kamarku, aku beringsut mundur, melihat penampakan yang memiriskan
hati, tubuh yang tinggi besar sampai kepalanya tembus ke internitku,
padahal ternit dalam kamarku tingginya empat meter dari tanah.
“Kau siapa?” tanyaku gemetar.
“Ampun tuan, mohon saya dilepaskan dari
belenggu ini tuan..!” kata suara mahluk besar itu memelas, mengiba-iba.
Baru kuperhatikan tubuh mahluk besar itu terbelit-belit rantai yang
hampir membungkus tubuhnya.
“Hei, siapa yang membelenggumu?” tanyaku keheranan.
“Oh kenapa tuan lupa? Bukankah tuan yang
membelengguku? Huhu…, tolong tuan lepaskan saya, ampuni saya tuan,
huhu…” kata mahluk itu menangis.
“Hus..,cengeng, masak begitu saja nangis…” aku mulai berani.
“Tapi tuan, kalau belenggu ini tak
dilepas, saya akan sengsara seumur-umur, huhu…, bagaimana kalau saya
makan, bagaimana saya buang air besar, huhu…, bagaimana aku pipis? Tak
ada yang memegangi, pasti kencingnya kemana-mana, huhu…”
“Nanti dulu, nanti dulu.., aku mau
melepaskanmu, tapi kau tunjukkan dulu asalmu dan kenapa sampai di tubuh
paman Mursid, awas jangan bohong!!, udah jangan nangis…! Jadi jin
cengeng amat sih…” kataku agak jengkel juga karena jin itu nangis
hahahuhu.
“Tuan, aku ini adalah jin penghuni Telogo Wungu, daerah Pati, aku sampai di tubuh Mursid karena aku dikirim orang.”
“Dikirim lewat pos? atau paket kilat?”
“Ya enggak lah, masak jin dikirim lewat
pos hu..hu..hu..” lalu jin itu menceritakan tentang siapa yang
mengirimkan dan karena masalah apa. Aku pun melepaskan rantai yang
membelit tubuh jin, dengan menjulurkan tanganku, dan bilang “lepas!”,
maka rantai yang membelenggu jin itu pun hilang, entah kemana.
Setelah belenggunya tak ada, tiba-tiba
jin itu menggelosor bersimpuh di depanku, aku kaget tapi ingin ketawa
juga, karena melihat ukuran jin itu duduk aku masih sepinggangnya kalau
berdiri, yang membuat aku pengen ketawa karena wajahnya yang tak
menyeramkan dan lucu. Mata jin itu bulat besar, mengerjap-erjap,
kepalanya gundul, tapi bekas cukurannya kurang bersih, hidungnya
mbengol, dan bibirnya tebal sekali, seperti bibir keledai.
“Hei kenapa kau belum pergi?” tanyaku heran.
“Apakah tuan tak ingin menjadikanku pelayan?”
“Ah pelayan apa? Aku tak biasa dilayani, aku biasa nyuci baju sendiri,”
“Bukan itu maksudku tuan, tapi kalau tuan mau aku bisa mengambilkan nasi gandul dari Pati, enak lo tuan.”
“Ah apa enaknya nasi gandul tak usah promosi, lagian aku tak punya kerjaan tetap, tak kan sanggup membayarmu, udah sana pergi!”
“Baiklah tuan, kalau begitu aku mohon diri.”
“Eh tunggu dulu, betulkan dulu ternitku yang kau jebolkan.”
“Baik tuan.” lalu jin itu menjentikkan tangan dan ternitku kembali seperti semula.
Begitulah, setelah kejadian aku
menyembuhkan paman Mursid, aku makin dikenal dan tiap hari ada saja yang
datang dari anak yang rewel, orang sakit gigi, sakit kepala, penyakit
dalam, penyakit luar, semua datang minta diobati, juga aku sering diajak
lek Muhsin untuk menolong orang yang kerasukan jin. Namun aku sudah
janji kepada Kyai bahwa aku hanya di rumah dua bulan, aku sudah kangen
pada Kyai dan kedamaian pondok lereng gunung Putri. Apalagi setelah
mengalami suatu kejadian yang membuatku amat merasa betapa masih
dangkalnya ilmu yang kumiliki.
“Yan…!” suara lek Muhsin memanggilku, ketika ku utak atik internet, melihat pesan di emailku.
“Ada apa lek?”
“Nanti sore temani aku ke Kalitidu Bojonegoro ya?”
“Mau apa lek ? Mau nyambangi saudara apa?”
“Ah, biasa ada orang minta tolong,
keluarganya ada yang kesurupan.” aku mantuk aja. Dan selepas Ashar, aku
dan lek Muhsin pun pergi ke Bojonegoro.
Perjalanan ke Kalitidu dari rumahku hanya
memakan waktu dua jam setengah, yaitu dari rumahku, naik angkot,
kemudian ganti bus jurusan ke Bojonegoro, trus naik mobil ke Kalitidu,
ini kalau lewat utara, sebenarnya melewati selatan lebih dekat, yaitu
dari rumahku ke Cepu, Bato’an lalu nyebrang, sampai deh, cuma akan makan
waktu lebih lama, karena dari rumahku ke Cepu jarang ada kendaraan,
mungkin seharian menunggu belum tentu ada kendaraan.
Jadi untuk lebih gampangnya harus lewat
Bojonegoro, walau jalannya muter, tapi kendaraan selalu ada. Sampai di
rumah yang kami tuju, hari sudah sore tapi matahari masih enggan ke
peraduan, suasana amat sepi, kami mengucap salam, berulang kali, baru
muncul seorang lelaki setengah tua. Peci kain bundar bermotif
kotak-kotak kain sarung ada bertengger di kepalanya. Wajah lelaki itu
sedikit murung. Namun ketika berhadapan dengan lek Muhsin dia langsung
tersenyum.
“Oh lek Muhsin, mari-mari, silahkan
dienak-enakkan dulu.” setelah menerima kami berdua dengan ramah maka
lelaki itu pergi ke dalam, menyuruh istrinya mengambilkan minuman dan
makanan ala kadarnya.
Setelah itu kedua suami istri itu pun
mengobrol dengan kami, saat berkenalan denganku lelaki itu bernama pak
Soleh. Dan istrinya bernama Hamidah, karena istrinya adalah orang
sedesaku maka mengenal lek Muhsin, kemudian tau lek Muhsin biasa
menyembuhkan orang yang kerasukan jin, jadi lek Muhsin dipanggil.
“Awal-awalnya gimana to di, kok si Marjuki itu bisa berpenyakit seperti itu?” pak Soleh pun bercerita:
“Benar Ki kamu mau mesantren?” tanya pak Soleh suatu malam kepada Marjuki yang sedang makan.
“Bener pak’e, aku sudah jenuh di rumah terus, tak ada perkembangan.” jawab Marjuki sambil mengunyah nasi di mulutnya.
“Mondok itu berat lho, kalau kamu
mbangkong di rumah bapakmu ini tak ngapa-ngapain kamu, tapi kalau kamu
mbangkong tak mau subuhan, bisa dipecuti sama Kyainya, kalau kamu
melanggar peraturan pondok kamu akan diberi hukuman, apa kamu siap?
Tirakat di pondok?”
“Pokoknya aku siap pak’e.”
“Lalu kamu mau mesantren di mana?”
“Bagaimana kalau di Tegalrejo, Magelang, pak’e?”
“Di mana saja tak masalah kalau memang kamu siap.”
Marjuki adalah anak tunggalnya pak Soleh,
sifatnya ceria dan rajin bekerja, kadang membantu orang tuanya di
sawah, kadang juga bekerja di tempat orang lain, pekerjaan apa saja,
Marjuki siap melakukan asalkan halal, umur Marjuki telah menginjak
sembilan belas tahun. Akhir-akhir ini Marjuki merasa kesepian, sebab
teman-temannya yang selama ini menemaninya nyangkruk telah pergi semua,
mencari pengalaman hidup, ada yang mesantren ada juga yang pergi
merantau ke Jakarta, ada yang ke Malaysia, bahkan ada yang ke Saudi
Arabia, Marjuki bingung mau kemana. Tapi setelah berpikir, maka Marjuki
memutuskan mesantren saja, maka dia pun bercerita pada ibunya supaya
keinginannya disampaikan pada ayahnya. Dan terjadilah dialog malam itu,
sekarang dia telah pergi ke Magelang.
Setahun di pesantren, Marjuki pulang
keadaannya telah berubah, dulu dia periang dan giat bekerja, kini sering
kelihatan diam dan amat malas, bahkan dia suka pergi menyepi di
kuburan-kuburan, dan melakukan puasa yang aneh-aneh, bahkan kamarnya
dicat warna hitam. Pak soleh melihat hal yang seperti itu, mau menegur,
tapi takut Marjuki marah, tak jarang karena kesalahan sedikit saja,
Marjuki marah membanting piring.
Ternyata Marjuki telah terseret mempelajari ilmu sesat, yang berhubungan dengan Nyai Roro Kidul.
Telah beberapa hari, Marjuki tak keluar
kamar, tidak makan, tidak melakukan aktifitas apa-apa, dari dalam
kamarnya bau menyan jawa. Tiap malam menyengat hidung, ibunya sangat
kawatir, maka setelah ada lima harian di kamar ibunya mengetuk pintu,
memintanya untuk makan karena takut terjadi apa-apa yang menimpa anak
semata wayangnya. Setelah lama mengetuk, terdengarlah lenguhan dari
kamar, dan pintu terbuka. Terkejutlah perempuan itu, melihat Marjuki
yang tak seperti anaknya.
Mata Marjuki semerah darah, di lingkar
matanya warna hitam angker, hidungnya mendengus-ndengus, dari mulutnya
keluar air liur yang membanjir.
“Hmmm, siapa kau perempuan tua? Mengganggu saja.” suara Marjuki, berat mendirikan bulu roma. Sangar!
“Nak ayo makan, nanti kamu sakit…” suara ibu Marjuki, di antara rasa takut melihat keadaan anaknya.
“Jebleng, jebleng… apa sudah kau sediakan darah ayam dan darah kambing?”
“Udah ibu masakkan sambal terong kesukaanmu.”
“Sialan, memang aku apa? Di masakkan
suambel terong mati saja kau…” tiba-tiba tangan Marjuki bergerak cepat
menyambar leher ibunya dan mencekiknya. Untung ibunya masih sempat
teriak, sehingga teriakan itu didengar pak Soleh yang sedang
membersihkan rumput di depan rumah, yang segera berhambur ke dalam
rumah, melihat istrinya dicekik anaknya, sampai kelihatan matanya mau
keluar, maka pak Soleh segera memukul tangan anaknya itu sehingga
cekikan lepas. Melihat ada yang memukul tangannya Marjuki pun
mengalihkan serangan ke leher pak Soleh, dengan mudahnya dia menangkap
leher pak Soleh dan mencekiknya, tubuh pak Soleh sampai terangkat dari
tanah. Dia mencoba melepaskan dengan segala daya, tapi tangan Marjuki
yang kerasukan itu teramat kuat sehingga pak Soleh hanya
menendang-nendangkan kakinya, nyawanya benar-benar telah di ujung
tanduk, sementara istrinya yang tadi dilepas oleh Marjuki, ngos-ngosan
di tanah, melihat suaminya dalam keadaan sekarat, segera mengambil kursi
kayu, dan mengemplangkan ke kepala Marjuki sekuatnya. Sampai kursi kayu
patah-patah. Dan untung cekikannya dilepaskan, sehingga pak Soleh pun
menggelosor jatuh di tanah. Aneh, Marjuki sama sekali tidak berdarah,
malah tertawa bergelak-gelak, lalu mengamuk menghantam meja kursi sampai
semuanya hancur. Lalu dia berlari keluar rumah mengamuk di jalan,
segera gemparlah semua tetangga, orang yang lewat segera lari ketakutan,
lalu Marjuki meloncat ke atas genteng. Melempar-lemparkan genteng pada
orang yang lewat di jalan. Ibu Marjuki menangis melihat keadaan anaknya
seperti itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar