untuk menikah, pemuda seumuranku dua
puluh tiga tahun, menurutku juga belum matang, masih banyak yang harus
digapai, sebenarnya alasan itu kubuat-buat sendiri, kalau tak mau
membohongi jawaban yang pas, jawabannya adalah aku takut memberi nafkah,
akan ku kasih makan apa nanti istriku? Kerjaan tetap tak ada, kalau
membanggakan sebagai pelukis ah tak cukuplah, rokok aja aku kadang harus
ngelinting dari puntung. Apa jadinya nanti istriku?
Pikiran seperti itu tentu timbul dan ada
sebelum aku menjalani laku nggembel, jadi pengemis dan orang gila untuk
melihat dengan ainul haq, bahwa segala rizqi segala mahluq yang bergerak
merayap di atas bumi ini adalah di dalam kekuasaan Tuhan. Kalau aku
sudah mengamalkan ilmu tawakal, tentu aku ditawari nikah he-eh aja.
Aku berjalan cepat karena sudah
ngantuknya mataku, jam di tanganku sudah menunjukkan jam sepuluh siang,
aku berhenti ketika mau menyeberang jalan raya, menunggu mobil yang
lewat sepi, tiba-tiba suara kecil merdu terdengar di belakangku.
“Mas Ian, tunggu..!” suara Juwita berlari sambil membawa kresek hijau, menyusulku.
“Ini mas, nanti untuk berbuka puasa.”
“Makasih banyak.” seraya mengulurkan tangan untuk menerima.
Tapi gadis itu menariknya menjauhi
tanganku, “Biar aku aja yang bawakan.” kata Juwita, seraya berlari
mendahuluiku, menyeberang, aku pun mengikutinya dari belakang, kulihat
Juwita dari belakang, tak terasa aku menelan ludah, ah dasar setan,
sukanya menggoda manusia, tapi tak usah digoda setanpun, ini nyata
benar-benar gadis yang sempurna, lincah, periang, ah glek uhuk, wah
terlalu banyak ludah ku telan, jadi agak tersedak.
“Mas Ian, aku ingin melihat hasil
karyanya, boleh kan?” aku ngangguk aja, gimana mau nolak, senyum yang
merekah, gigi yang putih, lesung pipi, mata yang berpijaran, aduh
runtuhlah pertahanan, dadaku benar-benar diaduk seperti bergolaknya
lahar menggelegak, tapi tak punya jalan keluar dari tebing hatiku karena
takut dengan jurang dan tebing bayangan buatanku sendiri, Juwita
berjalan di sampingku.
Mungkin lima tahun yang lalu, aku ketemu
Juwita, sebelum aku jadi murid Kyai, ah pasti udah ku pacari, tapi kini
keadaannya lain, aku telah jadi murid Kyai, mungkin aku lebih senang
kalau orang-orang seperti Juwita tak ada di dekatku, karena teramat
susah melawan nafsu, teramat berat berperang dengan nafsu sendiri.
“Mas Ian maafkan Abah ya, memang Abah
selalu begitu, kalau punya mau ceplas ceplos aja tanpa dipikir, maen
jodoh-jodoh aja, emangnya ini jaman apa?” kata gadis itu mbesengut.
“Ah, tak papa kok.” mungkin Juwita sudah
punya pacar di sekolahnya sehingga tak mau dijodohkan, aku maklum akan
gadis sekarang, apalagi gadis secantik Juwita, aku cemburu? Ya enggak
lah, “Tapi kalau memang benar mau milih,” suara gadis itu terdengar
manja, “Mas Ian pilih Juwita ya?!” pletar..! Seperti petasan dinyalakan
di telingaku, kaget nginggg, sebebas lepas benar gadis ini. Hampir aja
jantungku copot, untung setelah tarik napas kurasakan masih ada.
Untung Juwita tak lama ada di tempat
kerjaku dan berkali-kali dia berdecak mengagumi lukisanku, aku senyum
nyengir aja, sampai saat mau pulang, gadis itu tiba-tiba memencet hidung
mancungku, “Kamu memang hebaaat.” katanya gemes, perbuatannya yang
mendadak itu sungguh mengagetkanku, tapi aku tak bisa menghindar. Ah
sudahlah, kulihat ia berlari-lari kecil meninggalkanku, aku segera pergi
tidur mengingat malam nanti aku harus kerja. Malamnya aku hanya kuat
kerja sampai jam setengah dua dini hari, karena siang kurang istirahat,
aku pun beranjak tidur, lampu ku matikan, tapi lampu penerangan di luar
masih bisa menerobos masuk lewat lubang angin. Belum sampai lima menit
aku tertidur, kurasakan tubuhku lengket di keramik tak bisa digerakkan
dan dari pintu musholla nampak gadis-gadis berjalan, sekarang ini mereka
ada lima orang. Aku mencoba menggerakkan tubuh, tapi sia-sia. Ah aku
benar-benar tiada daya, tak mampu melawan apa-apa, mereka memperkosaku
habis-habisan, mereka ini apa? Aku tak mengerti, jika aku menangis,
kemudian mengatakan aku diperkosa, pasti jadi bahan tertawaan. Maka
besoknya aku pun memutuskan pulang ke pesantren, mau meminta solusi
kepada Kyai. Setelah pamit pada pak Kosasih aku pun pulang.
Sampai di pesantren Kyai hanya tersenyum melihat aku yang loyo, “Gak papa cuma jin-jin perempuan yang nakal.” kata Kyai,
“Tapi Kyai..”
“Udah nanti ajak aja si Jauhari, sama si Majid, untuk menemani.” kata Kyai menghiburku.
Besoknya aku berangkat lagi ke tempat pak
Kosasih. Hari itu aku tak langsung kerja, jadi malamnya aku disuruh
istirahat dulu, setelah ngobrol dengan pak Kosasih sampai jam dua belas
malam, kami pun beranjak tidur berdampingan. Sekarang akan kulihat apa
reaksi perempuan itu. Tentu kejadian yang menimpaku tak ku ceritakan
pada ketiga temanku. Rupanya kami bertiga mengalami hal yang
berbeda-beda. Majid kakinya diangkat dan diputar-putar, sementara
Jauhari dijatuhi anak kecil kira-kira umur sembilan tahunan diduduki
dadanya dan dipukul sampai wajahnya pada lebam, wajahnya yang hitam
makin tambah hitam, sementara aku masih tetap diperkosa. Sebenarnya
kedua temanku ini sudah takut, dan mengajak aku kembali ke pondok, tapi
tanggung lukisanku tinggal sedikit, maka ku bujuk mereka untuk
menemaniku semalam lagi, karena paginya saling bercerita jadi kami tahu
kisah masing-masing. “Entar malem aku yang tidur di tempat kamu aja mas,
biar aku ngerasain bagaimana rasanya diperkosa, masak aku dibikin lebam
kayak gini.” Jauhari protes, dan ku iyakan aja. Maka setelah kerja,
kami pun berangkat tidur, dengan perasaan tegang. Sesuai permintaan
Jauhari aku pun menempati tempatnya Jauhari, dan Jauhari menempati
tempatku tidur, jam setengah empat kami semua bangun, kulihat muka
Jauhari makin jontor.
Wajahnya yang jelek makin jelek aja, dan
aku lemas sekali karena melayani lima wanita, pinggangku benar-benar
sakit, dengkul kayak tak ada olinya lagi, sementara Majid ngos-ngosan
karena semalaman kakinya diangkat-angkat dan diputer-puter. Tapi aku
mengajak mereka berdua untuk neruskan tidur aja karena waktu subuh masih
lama, saat itulah aku melihat dari pintu musholla masuk lima belas
wanita cantik, beraneka warna bajunya juga anak kecil bersisik ular,
digiring seorang kakek bongkok membawa cambuk, nampak kelima belas
wanita dan anak kecil itu takut, tunduk. Ctar..! Suara cambuk
dilecutkan, para perempuan itu menjerit.
“Ayo minta maaf, kalian telah mengganggu
para santri Kyai Lentik, cepat minta maaf.!” bentak kakek tua itu,
dengan takut-takut para perempuan itu minta maaf, kemudian mereka
digiring kakek itu, keluar musholla, aku segera terbangun. Besoknya
mencari tempat mandi. Di sumur dekat musholla, lalu ikut sholat shubuh
di musholla, dan ketika Kyai Mashuri mengajakku main kerumahnya aku
menolak dengan halus. Karena pekerjaan telah selesai maka aku dan
teman-temanku pun pamit pulang kepada pak Kosasih.
Aku dipesan kalau membutuhkan pekerjaan
harap sudi datang, karena masih banyak yang harus ku lukis. Saat
berpamitan inilah pak Kosasih bercerita tentang riwayat masa lalunya
rumah makan ini. Menurut kisahnya dulu sebelum menjadi rumah makan
tempat ini adalah jurang yang lumayan dalam, dan sering kali terjadi
kecelakaan, kadang rombongan pengantin satu mobil masuk jurang, semuanya
meninggal dalam kecelakaan, ada satu keluarga dalam mobil semua
meninggal dalam kecelakaan masuk jurang. Ada juga truk rombongan
kampanye masuk jurang, walau tak semua mati, tapi akhirnya dari orang
yang tak mati dalam kecelakaan inilah, diketahui, bahwa setiap mobil
yang celaka sebetulnya jalannya tetap biasa saja, lurus, tapi entah
kenapa tiba-tiba mobil ada di awang-awang dan meluncur ke jurang.
Melihat banyaknya kecelakaan itu, pak
Kosasih pun membeli jurang dan tanah di sekitarnya, lalu dibangunlah
rumah makan yang besar, dengan harapan termanfaatkannya tanah yang
kosong dan yang lebih penting tak ada lagi kecelakaan. Tapi harapan pak
Kosasih, hanya harapan saja, buktinya sampai sekarang kecelakaan di
daerah itu tetap saja terjadi. Entah berapa kali tembok pagar rumah
makan itu diganti, karena ambrol disruduk mobil yang mengalami
kecelakaan. Juga para pelayan rumah makan itu tak ada yang kuat bertahan
lebih dari tiga bulan, ada saja masalahnya, karena takut, karena
kesurupan. Tapi rumah makan itu tetap berjalan dan ramai pengunjungnya.
Setelah pulang ke pesantren Pacung, aku
menyelesaikan puasa empatpuluh satu hari, dan setelah selesai, aku minta
ijin pada Kyai untuk pulang sebentar ke Tuban menengok kampung halaman,
Kyai pun mengijiniku, tanpa menunggu lama aku berangkat pulang, walau
telah hampir setahun aku mesantren di tempat Kyai, tapi aku masih tak
tau aku ini mendapatkan apa di pesantren. Sebab Kyai tak pernah
mengajarku apa-apa. Puasa juga baru dua puluh satu hari, dan empat puluh
satu hari.
Sampai di desaku sendang rumahku adalah
lingkungan pesantren, ada sekitar tujuh pesantren di sekitar rumahku,
kalau dihitung dalam satu desaku ada sepuluh pesantren. Semua
pengasuhnya masih ada hubungan saudara denganku, ada yang pamanku, ada
yang saudara sepupu ayahku. Maka desaku terkenal dengan desa santri. Dan
kehidupan masyarakatnya kebanyakan bertani. Ketika teman-temanku tau,
aku datang ke rumah semua pada datang berkunjung, ada yang dari teman
pesantren dekat rumah, tapi ada juga para gank kampung, maklum aku dulu
anak yang paling nakal di desaku, bagiku sebenarnya kenakalan remaja,
tapi bagi orang lain kenakalanku melampaui batas.
Aku ingat bersama teman-temanku mencuri
semangka berkarung-karung, dan penjaganya ku ikat dengan tambang. Ku
ingat menguras empang ikan orang yang ada di depan rumah orang sementara
yang punya rumah ku pantek semua pintunya hingga tak bisa keluar. Dulu
orang mending ngasih upeti kepadaku, daripada dihabiskan anak buahku.
Siapa sih cewek cantik di desaku dan desa-desa tetanggaku yang tak
pernah ku pacari?, yah itulah masa lalu, tapi apa yang telah terjadi di
masa lalu memang tak bisa hilang dan akan tetap bagian dari lembaran
hidup kita.
Habis sholat magrib teman-temanku sudah pada pulang, ibuku memanggil aku pun segera memenuhi panggilannya,
“Ada apa bu?” ketika sampai di dekat ibuku yang memasukkan buah-buahan ke tas plastik.
“Ayo antarkan ibu ke rumah paman Mursid.”
“Kenapa dengan paman Mursid Bu?”
“Paman Mursid sakit, sudah tiga bulan
makannya lewat jarum infus, dokter udah tak sanggup, makanya dua hari
yang lalu dibawa pulang.” aku cuma manggut-manggut dan mengerutkan
kening. Aku segera menuju motor Jupiter, sebelumnya mengambil kunci
kontak yang tergantung di balik pintu kamarku.
Setelah menyalakan motor untuk memanaskan mesinnya aku kembali ke tempat ibuku duduk. “Sakitnya sebenarnya sakit apa to bu?”
“Awalnya ya tak tau lah nang.” panggilan
nang adalah panggilan orang Tuban kepada anak lelakinya, kalau masih
kecil dipanggil cong, kalau sudah gede dipanggil nang.
“Paman Mursidmu itu ditemukan pingsan di
pematang sawah dekat dam ratan. Sejak itu ditemukan ya sampai sekarang
ini tak pernah sadar, kasihan pamanmu juga istrinya bibi Asiah, dia
sudah kemana aja untuk mencarikan obat suaminya tapi tak mendapatkan
hasil apa-apa.”
“Apa dulu waktu ditemukan tak ada tanda gigitan ular, bekne digigit ular.” tanyaku heran.
“Tak ada, tak ada tanda sakit apa-apa itulah yang aneh.”
“Trus menurut pemeriksaan dokter sakit apa bu?”
“Ah banyak kalau menurut dokter, ada
komplikasi, ah pokoknya banyak gitu sisi gak mudeng aku, mungkin juga
karangan dokter, nyatanya pamanmu tak sembuh.”
“Kalau dukun gimana?”
“Udah banyak dukun didatangkan, saratnya aneh-aneh, tapi semua percuma tak ada faedahnya, malah membuang buang uang saja.”
“Trus paman Muhsin udah nyoba? Kyai Kyai udah dimintai sareat?”
“Udah semua, paman Muhsin juga tak sanggup,”
“Wah kalau gitu ya berat” kataku mengakhiri pertanyaan.
Ku bonceng ibuku menuju rumah paman
Mursid, pelan-pelan aku jalankan motor, melewati jalanan paping blok, di
dunia ini yang paling ku sayangi dan ku hormati adalah ibuku, bukan
hanya karena hadis Nabi mengatakan derajat ibu lebih mulia daripada
ayah. Tapi karena ibu adalah orang yang sayang dan paling pengertian
kepadaku, dulu saat aku masih nakal-nakalnya ibuku tak pernah
menyalahkanku, tak pernah melarangku, malah kalau aku mau pergi nonton
konser musik, ibukulah yang memasangkan anting di telingaku, yang
menyisirkan rambut panjangku, soal cewek ibu selalu memesanku, punya
cewek banyak tak masalah, karena memang aku dulu punya pacar tak pernah
kurang dari sepuluh, tapi kata ibuku, jangan mencemarkan nama orang tua,
jangan sampai kau menghamili wanita, yang bukan istrimu, ibumu juga
wanita.
Ah ibu memang bijaksana.
Sampailah motorku di depan rumah paman Mursid.
Setelah mengucap salam, kami segera
masuk, nampak di dalam juga banyak orang, dengan para lelaki aku segera
bersalaman, ternyata juga banyak tukang suwuk (mungkin di tempat lain
disebut dukun, tapi di daerahku disebut tukang suwuk, red.) ada kang
Nur. Aku sebenarnya lebih mengenal orang ini adalah pelatih pencak
silat, aku ingat waktu kecil orang ini suka menunjukkan ketrampilannya,
berjalan di atas pedang, bergulingan di atas duri salak, makan pecahan
kaca dan melengkungkan besi menggunakan lehernya, di saat keramaian
tujubelasan Agustus.
Lalu yang ku salami yang kedua adalah
kang Widji, orang ini sering dimintai oleh pemuda desa ilmu-ilmu
pukulan, seperti lebur sekti, lembu sekilan dan lain-lain. Yang ku
salami ketiga adalah pamanku, adik sepupu dari ayahku, namanya Muhsin,
dia terkenal di daerahku sebagai orang yang menyembuhkan penyakit karena
kerasukan jin, kesurupan, serta suka memagar rumah, mengambil wesi aji,
yang lain adalah orang biasa. Aku juga menyalami Muhamad anak terbesar
dari pamanku Mursid. Setelah menyalami aku pun mencari tempat duduk yang
nyaman. Memang setelah melihat keadaan paman Mursid, sungguh orang
siapa saja melihat pasti akan kasihan karena memang keadaannya sangat
memprihatinkan.
Wajahnya kelihatan tua, padahal umurnya
tak lebih dari limapuluh tahun tapi wajah paman Mursid seperti ketarik
ke dalam, pipinya seperti masuk ke dalam, rongga matanya juga menjorok
ke dalam, sampai seperti kubangan hitam, lehernya mengecil, seakan-akan
mengkeret. Semua tulang iganya menonjok keluar, kulihat wajah paman
Mursid seperti menahan penderitaan yang tak tertahan. Karena tubuh paman
Mursid tak berbaju mungkin syarat dari dukun, karena banyak kembang
aneka warna di sekitar tubuhnya, jadi aku bisa melihat perutnya. Oh ada
gumpalan dalam perut sebesar kepalan tangan, aku tak berani bertanya,
apa itu?
Tiba-tiba tubuh paman Mursid
mengejang-ngejang, semua orang ribut, bibi Asiah menangis karena melihat
suaminya seperti merasa sakit yang amat dasyat, para tukang suwuk pun
berupaya menolong dengan segala daya, ada yang mengeluarkan jurus, ada
yang meniup-niup, ada yang menyiprat-nyipratkan air, suasana tegang
sekali, dan aku tetap duduk di kursi, melihat dari jauh, oh nampak
olehku gumpalan di perut paman Mursid hidup dan bergerak kesana kemari,
paman Mursid melenguh-lenguh kakinya menjejak-jejak tapi tubuhnya tetap
di tempat. Ah ngeri aku. Namun usaha para tukang suwuk ini sama sekali
tak ada manfaatnya.
Bibi Asiah menangis menggerung-nggerung
melihat keadaan suaminya, juga Muhamad anak tertua paman Mursid juga
menangis di sebelah kiri paman Mursid. Tiba -tiba bibi Asiah
menghampiriku, dan mencengkeram lenganku,
“Dek Ian, ayolah bantu dek Ian huhuu…
jangan melihat saja… siapa tau kesembuhannya dititipkan kepada dek Ian…,
huhu… dek Ian kan dari Banten pasti bisa mengobati…” aku kaget.
“Aku?” seperti orang bego menunjuk hidung dengan jari telunjukku sendiri.
“Aku tak bisa apa-apa, wong di Banten itu
tak diajari apa-apa…” kataku jujur, tapi mana mau orang panik
mendengar. Aku main tarik-tarikan dengan bibi Asiah. Tiba-tiba kudengar
suara ibuku di dekatku, “Cobalah nang… Tak ada salahnya dicoba…” aku tak
pernah membantah ibuku maka aku pun maju ke tempat paman Mursid
ditidurkan, tubuhnya masih mengejang-ngejang.
Sungguh aku tak tau, harus berbuat apa? Pura-pura mencak-mencak, ah kayaknya kurang bijak, di tempat orang sakit.
Ku ingat-ingat aku sering melihat Kyai mengobati orang, ah salah satu cara aja yang kupakai, setidaknya ada yang kulakukan.
Andai tak berhasilpun, aku tak akan
disalahkan, wong orang yang telah punya nama sebagai tukang suwuk aja,
tak berhasil apalagi aku yang bekas bocah ndugal.
Tanpa ragu aku melangkah maju, duduk di
samping kanan paman Mursid, sementara di sebelah kirinya paman Mursid
adalah anaknya yang bernama Muhamad.
Aku segera duduk bersila, wirid yang
selama ini kubaca, satu per satu kubaca tiga kali dengan menahan napas,
segala cipta rasa kukerahkan, akal kukonsentrasikan, rasa getaran halus
berpendaran mengalir dari pusarku ke arah tapak tanganku, kupikirkan
keluar dari tapak tanganku masuk ke tubuh paman Mursid membelitnya,
mengikatnya kemudian menarik keluar, kugenggam dalam tanganku, lalu
kubuang. Buk…! Suara gedebukan dari tubuh Muhamad yang tadi ada di
samping kiri paman Mursid, tempat aku membuang apa yang kuambil, aku tak
menyangka akan berakibat seperti itu. sekarang pemuda itu terjengkang
ke belakang, kemudian berdiri dan tertawa-tawa, suaranya berat
menyeramkan,
“Hua haha..keluarga ini akan ku habiskan, huahaha.”
Aku tak memperdulikan Muhamad yang
kerasukan dan diurusi oleh para tukang suwuk, termasuk pamanku Muhsin,
ku salurkan energi lagi, menyalurkan energi? Ah lebih tepatnya aku
menghayal seakan-akan menyalurkan energi, hayalan tingkat tinggi. Tubuh
paman Mursid sudah tidak kejang-kejang, gumpalan di perutnya juga sudah
tak ada, jangan dikira walau cuma ngayal menyalurkan energi, tapi huh
keringatku sebesar kacang polong, luber sampai bajuku basah, tanganku
yang kanan, ku arahkan ke atas dada berjarak sepuluh senti, tanpa
menyentuh kulit, yang kiri kuarahkan ke kepala juga tanpa menyentuh
kepala, terasa energi bergulung-gulung kearah kedua tanganku, perlahan
tapi pasti, kedua mata paman Mursid terbuka, lalu melihatqu. “Oh dek
Ian, terimakasih..” suaranya pelan tapi, efeknya semua orang yang ada di
situ menangis, bibi Asiah memelukku erat sekali, menangis nggugak
guguk, dia tumpahkan syukurnya yang tiada terkira, betapa selama ini ia
pontang-panting mencari obat untuk menyembuhkan paman Mursid yang tak
pernah sadar selama tiga bulan, bahkan dokter juga telah tak sanggup, eh
tanpa kusentuh bisa begitu saja sembuh.
“Kenapa tak dari kemaren-kemaren dek Ian,
dek Ian, sudah habis air mataku…” kata bik Asiah, masih menangis, dia
melepaskan pelukannya, kemudian mencium pipi kiri kananku, lalu
bersimpuh di tepi ranjang suaminya, memegang erat tangan suaminya yang
lemah. Baru sekarang aku tau sebenarnya dalam tubuhku telah mengalir
ilmu pengobatan yang aku tak tau bagaimana dan dari mana ilmu itu ada
dalam diriku. Aku masih berfikir ketika tiba-tiba paman Muhsin menepuk
pundakku,
“Itu bagaimana si Muhamad, semua orang kuwalahan!” ku lihat wajah pamanku itu kawatir.
Memang Muhamad yang sedang kerasukan
benar-benar mengamuk, kursi meja pada patah, kang Wiji dan kang Nur yang
ahli beladiri, serta dua pemuda dimentalkan begitu saja, kang Nur coba
menerjang dengan menotok bagian-bagian tertentu dari tubuh Muhamad, tapi
segala serangannya seperti mengenai batu, hingga jari-jarinya terasa
nyeri. Bahkan kakinya ketika menendang kena ditangkap Muhamad, dan dia
diputar bagaikan gasing, lalu tubuhnya dilempar, untung kang Nur
orangnya jago sehingga ketika menghantam tembok ia dahulukan
punggungnya, dan ketika mental kembali dia berputar miring dan jatuh di
tanah tangan dan kakinya menahan hempasan badannya. “Hua haha ilmu kroco
macam itu dibanggakan di depanku.” kata Muhamad dengan suara dalam dan
berat.
Kang Wiji pun tak mau kalah, dia maju
menyerang dengan bogem yang telah dilambari aji lebur sekti, tangannya
yang besar berotot menderu, tapi plep! Pergelangan tangannya dapat
ditangkap Muhamad. Dan oleh Muhamad kepalan kang Wiji diadu dengan
bogemnya . Dugh! Kang Wiji menjerit, jari-jarinya seperti patah semua,
lalu tangan kang Wiji yang masih digenggaman Muhamad itu diangsurkan ke
mulutnya yang terbuka menganga, “Sudah mateng huahaha..” tangan kang
Wiji digigit, aku sudah sampai disitu “Hentikan!!” bentakku tak sadar.
Muhamad kaget, tangan kang Wiji dilepaskan, yang segera dipeganginya dan
wajahnya meringis-ringis, sementara Muhamad melihatku, dia
mundur-mundur. Takut, aku beranjak maju, dan Muhammad mundur-mundur.
Untung saja aku mempunyai daya hayal yang tinggi karena setelah ku
pelajari, ilmu dalam tubuhku ini perlu dibangkitkan dengan memerlukan
daya hayal yang tinggi, melihat Muhamad yang kerasukan mundur-mundur
takut padaku, bertambahlah keberanianku, tanganku terangkat dengan jari
telunjuk membuat coretan-coretan di udara kearah tubuh Muhamad, setelah
itu tapak tanganku terbuka, kubayangkan aku menyedot jin yang ada di
dalam tubuh Muhamad, dengan menggunakan telapak tanganku, hasilnya,
tubuh Muhamad lemas menggelosor ke bawah, pertanda jin telah keluar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar