banyak kejadian yang kadang tak masuk di akal di balik kesederhanaan Sang Kyai.
Waktu maghrib itu, santri yang menjalankan puasa, telah selesai berbuka
dengan singkong rebus dan air putih, seperti biasa juga Kyai ikut
berbuka dengan kami dengan beralaskan daun pisang singkong yang sudah
masak dituang di atas daun pisang dan dinikmati bersama-sama sambil
jongkok, tak ada yang istimewa, tak ada pecel lele Lamongan, rendang
Padang, soto Madura, soto babat bahkan nasi pun tak ada.
Tapi tak pernah kami perduli, itu hanya
makan, lebih baik makan apa adanya tapi untuk beribadah, daripada makan
yang enak-enak ujung-ujungnya untuk berbuat maksiat. Setelah makan kami
mengelilingi toples yang berisi tembakau, itu barang berharga kami,
tembakau oleh-oleh dari Lukman yang pulang dari ngejalani ngedan, kami
semua mengalami, yaitu pergi tanpa bekal, menyerahkan diri di kehendak
Allah, pakaian compang-camping, sambil terus di hati mengingat Allah,
berjalan kemanapun kaki melangkah, tanpa tujuan kecuali Allah, kalau
lapar tak boleh meminta pada siapapun kecuali Allah, kadang mencari
makan dari mengorek sampah, tidur kadang di hutan, sawah juga kuburan.
Nah, pada waktu itu setiap ada yang
ngejalani, santri pada memesan uthis yaitu puntung rokok, di jalan,
dikumpulkan sampai satu kresek nanti dibawa pulang, sampai di pondok
dibuka satu-satu dipisahkan tembakau dan kertas rokoknya. Aku mengambil
kertas koran lalu membuat lintingan, dari korek kapuk kunyalakan kuhisap
dalam dan asap pun bergumpal-gumpal keluar dari hidung dan mulutku,
kadang kutiupkan asap sambil asap mengepul dari tembakau dan bau kertas
koran yang terbakar, aku menengadah, sambil meresapi asap keluar dari
mulutku, seakan suatu kenikmatan tiada tara, santri yang laen juga
sepertiku.
Saat aku menengadahkan wajah entah untuk
yang keberapa kali, kulihat melayang bayangan hitam di antara pohon
kelapa yang banyak bertebaran, aku kaget sekali, jelas bayangan itu
manusia yang melayang tak terlalu cepat, karena saat petang maka
bayangan itu kelihatan hitam. Bayangan itu melintasi pohon jengkol di
dekat dapur sebelah kanan rumah Kyai, lalu melayang dengan indah turun
di depan rumah Kyai.
Kami segera memburu ke arah orang itu, yang sejak tadi kami ribut
menebak-nebak apa sebenarnya. Deg-degan kami menghampiri, ternyata
bayangan yang terbang itu seorang wanita tua, rambutnya semua memutih,
dia terbang menggunakan sajadah, jelas bahwa ilmu meringankan tubuhnya
teramat tinggi, yang mungkin kalau sekarang kami tidak melihat dengan
mata kepala kami sendiri, tentu kami akan menyangka ilmu seperti itu
hanya ada di cerita silat, atau film di televisi, arahan imajinasi.
Kami semua melongo melihat perempuan itu
melipat sajadah yang tadi digunakan untuk terbang, aku teringat kisah
aladin, tapi ini nyata, perempuan tua tinggi kurus, berpakaian putih
kusam ringkas membentak,
“Dimana Kyai Lentik, aku ingin mengadu ilmu.”
“Nyai siapa?” kataku menguasai keterkejutan.
“ah mana Kyai Lentik? Hai Kyai keluar!!”
katanya, karena menantang-nantang dan sama sekali tak memperdulikan
kata-kataku, aku pun segera bergegas menghadap Kyai, yang aku yakini tengah berada di musolla menunggu sholat berjama’ah.
Aku kawatir perempuan tua itu ilmunya teramat tinggi, bagaimana nanti Kyai menghadapinya, setahuku Kyai
tak punya ilmu kanuragan, juga tak pernah mengajarkan kanuragan, tapi
memang kalau dipikir-pikir aneh juga, kami para santri, tak pernah
dilatih kanuragan, ilmu silat apapun kami tak tahu, karena memang di
pesantren Pacung ini kami hanya diajar bagaimana mendekatkan diri pada
Allah, bukan lewat teori tapi praktek, bagaimana bertawakal, syukur,
houf, rojak, dan bagaimana membersihkan hati dari segala sifat yang
menjadi penyakit hati.
Tapi para penduduk sekitar juga para tamu
yang datang, selalu berkeyakinan kalau pesantren ini adalah pesantren
kanuragan, yang muridnya sakti-sakti kebal senjata, bisa terbang dan
cerita-cerita yang dilebih-lebihkan, aku masih takut bagaimana jadinya
kalau Kyai bertarung
dengan nenek sakti ini? Selama ini yang aku tahu Kyai sangat menguasai
ilmu pengobatan, sakit apapun, dari sakit gila, sakit luar, penyakit
dalam, sampai penyakit kena santet, kena guna-guna kena jin, kena
narkoba, semua bisa disembuhkan, orang pengen jadi lurah, camat, bupati,
gubernur, sampai mau jadi presiden larinya ke Kyai, dan Kyai hanya
mendo’akan saja, tapi kalau ilmu kanuragan, aji kesaktian, aku tak tau,
aku jadi ingat ada seorang tentara mau dikirim menjadi pasukan. Pasukan
penjaga perdamaian di Kuwait namanya Iqbal, dia datang dengan tamu yang
lain mau meminta sareat ilmu kekebalan, dia ngantri dengan tamu yang
lain lalu menghadap Kyai, pas giliran si Iqbal, Kyai bicara sebelum
Iqbal ngomong.
Begitulah Kyai
selalu tahu maksud kedatangan orang sebelum orang itu menyampaikan
maksudnya. Bahkan tahu hari, tanggal, tahun kelahiran serta siapa bapak
ibunya. Bahkan orang itu habis melakukan maksiat apa Kyai pun tahu, dan
kadang diucapkan Kyai tanpa tedeng aling-aling. Begitu saja mengalir.
Aku jadi ingat waktu aku pertama kali, datang ketempat Kyai.
Kyai mengupas aku habis-habisan tentang pacar-pacarku. Apa yang
kulakukan dengan si Hani, dengan Umi, dengan si Dyah dengan si Faty,
Dina, semua disebutkan satu-satu oleh Kyai
plus nama orang tua gadis itu. Jelas membuatku jengah, malu dan aku
yang sebelumnya datang ke pesantren ini karena bekerja yaitu membuat
kaligrafi dari semen, akhirnya memutuskan untuk mondok dan belajar ilmu
dari Kyai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar