orang pintar telah didatangkan untuk
membujuk Marjuki turun dari genteng, tapi malah disambitin pake genteng,
dia hanya mau turun kalau diberi minum darah ayam dan kambing. Sudah
dua hari Marjuki ada di atas genteng, dia mau turun kalau ada darah ayam
dan kambing disediakan, dan setelah minum darah itu maka dia meloncat
lagi ke atas rumah, dan menyambitin orang yang lewat. Kelakuan Marjuki
yang menyambiti orang yang lewat dengan genteng rumahnya ini benar-benar
membuat panas hati, maka para pemuda kampung pun bermusyawarah untuk
menangkap Marjuki, dan nantinya akan dipasung, setelah dipancing dengan
darah, Marjuki pun turun, ketika sedang menikmati darah yang dikasih
obat bius itu, para pemuda pun bergerak meringkusnya, yang mau
meringkusnya dari belakang ada tiga orang itu kecele, walau Marjuki tak
melihat kebelakang, tapi dengan mudahnya dia menjatuhkan diri dan
berguling sehingga yang menubruknya dari belakang hanya menangkap angin.
Pemuda dan orang desa pun melakukan
pengepungan, dari kiri kanan, depan belakang, dengan susah payah tujuh
orang dapat memegang tangan kaki, namun semua dapat disentak lepas, dan
banyak yang terpental dilemparkan oleh Marjuki yang kerasukan, yang
memang tenaganya berlipat-lipat, kembali tujuh orang berusaha mendekap
memiting kaki tangan Marjuki, namun kali ini para penduduk tak mau usaha
mereka sia-sia, maka segera berbagai macam tambang dijeratkan ke tubuh
Marjuki. Rupanya saat itu obat bius yang dicampurkan darah pun mulai
bekerja. Kelihatan sebentar-sebentar, Marjuki melengut ngantuk siut,
lalu meronta lagi, begitu berulang kali, dan orang-orang tak mau
kecolongan tetap mendekapnya erat, sampai akhirnya Marjuki terbius.
Perjuangan yang melelahkan, Marjuki kelihatan tergolek di pelataran
rumah pak Soleh, semua orang yang meringkusnya semua mandi keringat,
bahkan ada yang luka berdarah dan salah urat. Orang-orang yang tidak
ikut meringkus Marjuki, telah membuatkan pasung dari kayu sebesar
sedekapan manusia, Marjuki pun dipasung. Tangannya masih dirantai, para
dukun paranormal didatangkan, para Kyai dimintai tolong, untuk membantu
penyembuhan, sawah lima petak pun telah terjual sebagai biaya
pengobatan, tapi kesembuhan tak kunjung datang. Sampai hampir setahun
Marjuki dipasung. Tapi penyakit gilanya makin parah saja.
Kami berdua diajak melihat keadaan
Marjuki, ternyata pemuda itu diletakkan di ruangan terpisah di belakang
rumah dalam satu ruangan.
Berdinding gedek, pintu dibuka dan bau
busuk segera menampar hidung, bangunan berukuran lima meter persegi itu
gelap, karena tak ada jendela juga tak ada penerangan, penerangan hanya
dari lampu ublik yang dibawa pak Soleh, nampak lapat lapat seorang
pemuda dewasa tengah duduk terpasung, wajahnya mengerikan, matanya yang
hitam ke atas, tapi yang putih mencorong merah menatap kami, wajah
pemuda itu tak bisa dibilang bersih lagi, wajahnya menghitam penuh daki,
rambutnya awut-awutan kribo panjang, bagian atas tubuh tak berpakaian
dan nampak bekas darah ayam dan kambing yang mengering menempel di
tubuhnya. Orang yang melihat keadaan Marjuki, pasti akan ngeri sekaligus
iba, siapakah orangnya yang mempunyai cita-cita menjadi orang gila.
Karena penerangan yang tak memadai, maka oleh pak Soleh kami diminta
mengobatinya besok hari saja, malam ini kami menginap, beristirahat.
“Yan bagaimana menurutmu, gila kerasukannya Marjuki?” tanya paman Muhsin, ketika kami berdua telah rebahan dalam kamar.
“Ya gilanya karena mempelajari ilmu,
tanpa dasar yang kuat, tarekat misalkan, juga karena mempelajari ilmu
tanpa guru pembimbing, sungguh berbahaya sekali, karena belajar ilmu
tanpa guru, maka gurunya adalah syaitan, bagaimana menurut lek Muh
sendiri?” tanyaku balik.
“Apa yang kamu katakan, tepat sekali,
tapi terus terang aku ragu akan bisa menyembuhkannya…” nampak lek Muhsin
mengerutkan keningnya.
“Yah sebelum kita mencoba, kenapa harus
ragu lek? Itu sama saja dengan kita kalah satu langkah, kita hanya
berusaha, kesembuhan hanyalah di tangan Tuhan semata, jangan sampai kita
tertindih oleh keharusan, seakan akan sembuh dan sakit itu kuasa kita,
hidup dan mati kuasa kita, kita hanya berusaha saja…” dan kami pun tidur
tanpa beban.
Esoknya, kami berdua diantar pak Soleh ke
tempat Marjuki dipasung, jam di tanganku baru menunjukkan jam tujuh
seperempat, matahari yang kuning keemasan memantulkan sinarnya yang
hangat, terasa hangat di tubuh yang baru mandi, membayangkan hal yang
seperti itu, betapa damai dunia, seakan di dunia ini tak ada kejadian
yang seperti dialami Marjuki.
Setelah masuk ke tempat Marjuki, uh jijik
sekali, rupanya bau yang menyengat di malam itu, adalah baunya kotoran
dan kencingnya Marjuki, juga bau bangkai tikus dan binatang-binatang
lain yang dimakan mentah-mentah oleh Marjuki. Oh, sungguh menggidikkan
bulu roma. Rupanya di tempat pemasungan, telah berjejal-jejal orang desa
yang ingin menonton, tua muda, prawan, janda, remaja, jejaka, duda,
semua pada datang menonton, sampai kebun belakang rumah pak Soleh
bener-bener lebek, ah kyak ada tontonan dangdutan aja, atau bioskop
misbar, gerimis bubar, orang-orang itu ada yang mengintip dari gedek,
ada yang berdesakan di pintu masuk, dan ada yang dari luar pagar saja,
rupanya pengobatan Marjuki, tanpa disiarkan dengan mikropon keliling
kampung, telah terdengar dari telinga ke telinga.
Lek Muhsin mulai mengobati, sementara aku
mempersiapkan yang diperlukannya. Lek Muhsin memang sudah profesional,
segala macam cara mengobati orang kesurupan dia kuasai. Dari yang model
kejawen, ilmu tao, ilmu tenaga dalam, dan ilmu rukyah. Lek Muhsin mulai
mengobati dengan ilmu tao, bajunya diganti jubah kuning, dan ada simbol
tao di punggungnya, semua mata menatap tegang ketika dia beraksi, dengan
uang logam Cina kuno yang dengan cepat dibentuk pedang, dan tangan
kirinya memegang pedang dari kayu setigi, tubuh lek Muhsin mulai
berloncatan kesana kemari, membuat jurus mengelilingi Marjuki, tiba-tiba
Marjuki yang sedari tadi diam, menatap kosong, serentak ramai, “Ayo…
ayo menari…, bang Roma menarinya kurang seru, kenapa tak pakai gitar…?”
semua yang ada di situ kontan ketawa, karena memang lek Muhsin adalah
penggemar Roma Irama, jadi biasalah kalau dari potongan rambut, jenggot,
dia upayakan mirip dengan Roma.
Tapi lek Muhsin ini tak terlalu, malah
ada tetanggaku yang mirip sekali, namanya Joni, sangking ngidolain
banget sama Roma, bukan hanya rambut dan jenggotnya yang dibuat mirip
Roma tapi juga suaranya, pernah kulihat Joni lagi naik sepeda, ee ada
lagunya Roma diputar kenceng-kenceng, maka si Joni turun dari sepeda,
lalu sepedanya disandarkan di pohon, ia nyamperin ke rumah yang lagi
muter lagu, “bang, numpang joged ya?” kata si Joni, tanpa nunggu jawaban
si Joni langsung joged, sampai lagu selesai, dan setelah lagu selesai,
dia pun permisi, tak lupa mengucapkan terima kasih, dengan dialek Roma.
Karena dengan jurus tao tidak ada
perubahan apa-apa, lek Muhsin pun segera mengubah pengobatan dengan
tenaga dalam dan ilmu kejawen, tapi juga tak menghasilkan apa-apa, malah
Marjuki bilang katanya permainan sandiwara lek Muhsin untuk
menghiburnya teramat membosankan, Marjuki minta diganti lakon yang lain
saja, dan disambut ketawa oleh penonton yang menyaksikan, karuan saja
membuat lek Muhsin malu bukan kepalang. Dan keringatnya mengalir deras
sampai lehernya basah, dan pakaiannya juga basah. Seperti orang yang
habis nyangkul di sawah, aku memahami perasaan lek Muhsin.
Kali ini lek Muhsin mengobati dengan
rukyah, membaca ayat-ayat Alqur’an, ayat satu digabungkan dengan ayat
yang lain, tapi pengobatan rukyah ini rupanya juga tak begitu ada
hasilnya, Marjuki malah siat-siut mengantuk, ayat-ayat Alqur’an itu
seperti menina bobokannya, melihat gelagat yang tak baik ini, aku segera
ikut membantu, seluruh wirid yang biasa ku baca, ku baca dalam hati
tiga kali, sambil menahan napas. Serasa hawa aneh mengalir bergeletaran
dari pusarku, ku salurkan ke tanganku ku arahkan ke tubuh Marjuki, ku
bayangkan tubuh jin yang ada di tubuh Marjuki terlingkupi dan berusaha
ku sedot ke tanganku, tiba-tiba tubuh Marjuki yang siat-siut ngantuk itu
membuka matanya, liar dan “krimpying..!!, kretekkriet..!!,” Marjuki
berdiri tegak, kayu yang dipakai memasungnya sebesar dekapan manusia itu
berderak membalik. “Hah, siapa yang mencoba menarikku keluar dari tubuh
ini, hrrr..brr…bedebah, belum tau siapa aku?!”
“Aku iki panglimane Nyai Roro kidul, ayo
sopo pengen adu ilmu…huahaha…” aku grogi juga mendengar yang masuk ke
tubuh Marjuki adalah anak buah ratu pantai selatan, keringatku pun mulai
keluar, aku segera meminta tikar kepada pak Soleh, sementara keadaan
semakin menegangkan. Sementara lek Muhsin rupanya juga takut, dia
mencengkeram lenganku.
“Bagaimana ini yan?’
“Tenang lek, aku akan berusaha… nanti
bantu wirid Basmalah sebanyak-banyaknya…” kataku, sambil melihat wajah
lek Muhsin yang ketakutan. Setelah pak Soleh datang membawa tikar.
Akupun menggelar tikar di tempat yang bersih, mengingat lawan yang
berat, aku pun berinisiatif membaca fatihah kepada Nabi dan silsilah
tarekat kodiriah nahsabandiah, sampai ke Kyaiku, Kyai Lentik.
Sementara Marjuki masih ketawa sesumbar.
Tiba-tiba salah seorang penonton, seorang setengah baya kesurupan, dan
maju ke depan ke arah Marjuki yang masih tertawa bergelak.
Mendadak saja tertawa Marjuki berhenti,
aku masih membaca wirid, dengan khusuk, tak urung suara orang yang
kesurupan itu terdengar di telingaku. Suara itu suara Kyai.
Aku pun membuka mata, nampak orang yang kesurupan itu petentang petenteng, di depan Marjuki yang tertunduk, takut-takut.
“Kau tau siapa aku?” suara Kyai berwibawa.
“Ampunkan saya, saya tau tuan Kyai Lentik…” suara Marjuki dengan nada takut.
“Lalu kalau kau tau siapa aku kenapa tak
cepat keluar, apa aku sendiri yang akan mencabutmu, dan menjadikanmu
debu..!!” suara Kyai membentak. Tiba-tiba tubuh Marjuki lemas. Dan
menggelosor ke tanah. Kyai yang ada di tubuh orang lain itu segera
mengusap tubuh Marjuki yang segera sadar. Dan memanggil ayah ibunya.
Sementara Kyai mendekatiku dan membisiki telingaku.
“Kalau mau kembali ke pondok, kalau sakit
biar sembuh dulu.” lalu orang desa yang kerasukan itu sadar. Lelaki
yang sebelumnya dipinjam wadagnya oleh Kyai itu tak mengerti dengan apa
yang terjadi.
Hari itu Marjuki benar-benar telah sembuh, dan segera dimandikan, aku dan lek Muhsin pun mohon diri.
Setelah mengalami pengalaman di
Bojonegoro, aku pun memutuskan untuk kembali ke pesantren, setelah
selang dua hari di rumah aku pun memutuskan kembali kepesantren. Maka
aku mempersiapkan segala sesuatunya, karena besok siang aku pergi dengan
bus malam jurusan Kampung Rambutan.
Tapi malam harinya tiba-tiba tubuhku
terserang demam teramat tinggi, batuk, kepala pening, dada ampeg, perut
seneb. Dan nafasku sesak sekali, sampai kalau aku menarik napas akan
terdengar suara ngiik, ngiik, suaranya seperti sempritan atau sumur
pompa.
Yang jelas aku merasa tersiksa dan seakan aku telah dekat kepada mati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar