ketika aku bangun dan mau keluar kamar,
tubuhku begitu saja terbanting ke belakang, dan tanganku yang mencoba
menahani tertindih punggungku sendiri, dan salah urat, makin lengkaplah
penderitaanku.
Aku ingat kata-kata Kyai waktu di
Bojonegoro, kalau aku sakit, keberangkatan ke pondok ditunda dulu.
Rupanya Kyai memperingatkanku. Dan kini, aku tergeletak begitu saja.
Tiada daya, Dokter dipanggil untuk mengobatiku, aku disuntik dan diberi
obat yang banyak sekali macamnya, tapi tak membuatku sembuh. Tanganku
juga dibawa ke dukun pijat tapi, sama saja masih salah urat.
Aku belum pernah mengalami penyakit
separah ini, paling-paling biasanya pusing, atau sesak napas, karena
terlalu banyak cat yang kuhirup, karena melukis air brush, yah cat yang
partikelnya teramat kecil tetap saja masuk ke hidungku, dan melekat di
rongga hidung dan rongga mulutku, sehingga kalau meludah akan serwarna
dengan cat yang ku semprotkan, dan hidungku kaku karena terlalu banyak
cat yang menempel.
Tapi sekarang penyakit ini lain, kalau mau wudhu aja kakiku gemetaran, dan tangan harus berpegangan.
Ketika ibuku menangis di sampingku, ”Bu,
jangan menangis….” kataku yang lemah tidur tak berdaya, “Kalau Tuhan
memang telah memanggilku, nanti tolong pada Hanni, pintakan maaf, aku
tak bisa menikahinya…, katakan pada Diyah, supaya mencari lelaki yang
lebih baik dariku….” aku nyerocos tak karuan menyebut semua bekas
pacarku, yang telah ku kecewakan, seakan aku ini terlampau banyak dosa,
telah menyia-nyiakan banyak wanita, tak mensyukuri atas ketampananku,
tak mensyukuri kelebihan-kelebihan yang telah Tuhan berikan padaku.
Kalau Dokter dipanggil berkali-kali tapi
tak ada perubahan pada penyakitku, semua makanan yang ku telan, ku
muntahkan kembali, lalu siapa lagi yang ku harapkan mengobatiku.
Kalau orang lain sakit, begitu mudahnya
aku memberi solusi, tapi ketika aku sendiri yang sakit, ah memang berat
kalau kita mengalami sendiri, seperti teman yang sakit gigi, lalu kita
melihat, ah sakit gigi gitu saja merengek-rengek, e, setelah kita yang
sakit gigi, maka kita mengaduh lebih dari teman kita.
Keadaanku makin kritis, aku sudah sering
mengigau, mataku membalik, tinggal kelihatan putihnya saja, ibuku tiap
hari menungguiku dengan sabar, mengompresku, tidur di sampingku, ku
dengar ayahku marah-marah,
“Ini karena sering bermain dengan jin,
jadi dapat balasannya, mungkin anaknya jin yang ia tawan atau bunuh,
telah membalasnya.” Yah begitulah ayahku, selalu menyalahkanku, seakan
aku berdiri salah, duduk juga salah, bahkan aku mungkin setahun ngomong
dengan ayahku bisa dihitung dengan jari, tapi memang harus begitu satu
sisi ada yang selalu menyayangiku yaitu ibuku, juga ada yang selalu ada
yang menyalahkanku yaitu ayahku, jadi aku ada kendali kadang melaju,
kadang juga berhenti, jadi tak manja. Walau ayahku selalu bersikap
seperti itu, aku tetap mencintainya, karena tak ada ayah yang ingin
anaknya sengsara, jadi maksud ayahku itu demi kebaikanku juga.
Malam telah larut, mungkin saat itu jam
dua dini hari, aku mendengar ada suara memanggilku, menyuruhku bangun,
dan kubuka mata, kulirik ibuku masih tidur miring di sebelahku. Ah, lalu
siapa yang tadi membangunkanku? Aku mau memejamkan mata lagi, terdengar
jelas di sampingku.
“Iyan… bangun ngger…!” karena suara itu
kudengar di samping kiriku, aku pun membuka mata, dan mencoba menengok
orang itu dengan leher yang sakit, ngilu.
Aku heran ada lelaki teramat tua duduk di
sampingku, tersenyum, dan senyumnya terasa mendamaikanku. Wajah lelaki
itu lembut seperti bayi, dan ada cahaya kuning tipis menyelimuti, sejuk
dipandang seperti matahari mau tenggelam. Juga memancarkan wibawa yang
menyilaukan, alis orang tua itu tebal melengkung indah, kedua matanya
bening lembut memandangku, seakan-akan menembus sampai dasar hatiku.
Hidungnya mancung, seperti hidung
orang-orang Arab, kumis dan jenggotnya tebal memutih, namun terawat
rapi, ikat kepalanya seperti gambar di wali-wali songo. Berwarna putih
juga bajunya berwarna putih.
“Siapakah tuan?” tanyaku.
“Apakah tuan yang akan mencabut nyawaku? Baiklah aku sudah siap.” lalu ku pejamkan mata dan melafadkan dua kalimat sahadah.
“Anak baik…, aku bukan malaikat yang akan
mencabut nyawamu…, Alloh mencintai orang-orang yang bertaubat.” kata
lelaki itu lemah lembut.
“Lalu siapakah tuan ini?” tanyaku, kembali membuka mata.
“Ngger, aku Abdul kadir…”
Gemuruh rasa dadaku, takdim, takut,
cinta, rindu, semua teraduk dalam dadaku, bagaimana tidak, manusia yang
ku cintai ku kagumi akan amaliahnya, kuyakini akan karomahnya, selalu
kukirimi fatihah, karena bersyukur atas ilmunya, sekarang ada di
depanku, aku mencoba bangun tapi tak kuasa, tubuhku terlampau lemah.
“Sudah ngger…, tak usah bangun, kau
sedang sakit, biar aku mencoba menyembuhkanmu,” tangan Syaih diulurkan
ke atas tubuhku, aku seperti merasakan hawa damai tiada tara, ku dengar
letupan kecil halus, dari dalam tubuhku, dan semua sakitku serasa hilang
tak tau entah kemana, tubuhku nikmat, ringan, dan seketika aku bersujud
mencium tangannya, menumpahkan cintaku, rinduku…,
“Sudah ngger, sebaiknya engkau jangan
memberikan pertolongan di atas kemampuanmu, sempurnakanlah ilmumu, nanti
nabi Isa alaihi salam akan mengajarkan ilmu pengobatan padamu,
sebagaimana dia mengajarkan kepada Kyaimu.., aku pergi ngger.” terdengar
suara salam, dan tangan yang ku pegang telah hilang, meninggalkan bau
harum yang tiada tara.
Aku segera menuju kamar mandi mengambil air wudhu dan menjalankan sholat dua rakaat, kemudian melakukan sujud syukur.
Ibuku terbangun, melihatku sedang sholat, setelah aku selesai, ia bertanya.
“Lho udah sembuh to nang?”
“Alhamdulillah sudah bu.”
“Wah bau apa ini nang kok wangi sekali..?
Kamu makai minyak apa nang, kok baunya harum?” kata ibu sambil
hidungnya kembang kempis lucu.
“Jangan-jangan, ah tak mungkin, dulu aku
juga mencium bau harum seperti ini waktu kakekmu meninggal, tapi kau
kulihat sehat, seperti tak sakit lagi?” wajahnya kawatir.
“Ah, ibu jangan berfikir yang aneh-aneh.”
Besoknya aku pun kembali ke pesantren, naik bus malam PAHALA KENCANA.
Ibuku sebenarnya tak mengijinkanku kembali dulu ke pesantren, tapi aku
memaksa, karena rinduku kepada Kyai. Sekarang aku telah berada dalam bus
yang melaju tak terlalu cepat, karena hujan mengguyur deras di setiap
perjalanan. Penumpang dalam bus tak terlalu banyak mungkin sekitar dua
belasan orang, karena bus ini nantinya mengambil penumpang di agen-agen
penjualan tiket di setiap perjalanan, aku duduk di tengah sebelah kiri
bus. Dan daripada melamun, aku selalu membaca wirid di setiap
perjalananku. Bus melaju kadang oleng kanan kiri, ketika rodanya masuk
ke jalan yang berlubang dan penuh genangan air hujan, sehingga air di
kubangan muncrat menyiram para pejalan kaki atau pengendara motor, pasti
terdengar jiancok!, atau jiamput!, sumpahan khas, ah mengapa tak
subhanallah. Entahlah…
Di daerah Lasem bus berhenti di agen
penjualan tiket, para penjual makanan segera masuk menyerbu, takut
pembelinya kedahuluan penjual lain, kulihat pembeli tua melangkah pelan,
menawarkan dagangan, ku lihat makanan kesukaanku, yaitu jagung muda
yang diparut kemudian diuleg dengan bumbu dikasih telur lalu digoreng,
dimakan dengan cabe, huh enak sekali, di daerahku makanan itu namanya
pelas.
“Berapa nek?”
“Tiga ribu nak.” ku keluarkan uang tiga ribuan, nenek itu menerimanya dengan jari gemetar.
“Nenek sakit?” tanyaku. Perempuan itu
mengangguk. Ku keluarkan uang dua ratusan ribu, lalu ku jejalkan di
telapak tangannya, mungkin uangku ini lebih berguna di tangan nenek ini
daripada di tanganku, ini adalah uang gajiku melukis di rumah makan.
Lumayanlah dua minggu aku mendapat tiga jutaan. Nenek itu terkejut.
Tapi aku segera berkata, ”Sudahlah nek,
tak usah terima kasih, sekarang nenek tak usah kerja, nenek pulang, dan
uang itu untuk membeli obat, sana nenek turun, terus pulang.” nenek itu
menuruti kata-kataku kemudian dia turun, sampai di bawah kulihat dia
melihat uang yang kuberikan. Lalu menatapku dari bawah dan air matanya
berkaca-kaca. Kulihat dia mengangkat kedua tangannya berdoa. Sementara
aku mulai menikmati apa yang kubeli.
Beberapa penumpang naik, dan juga dua
penumpang pasangan setengah tua, ku perkirakan umurnya lima puluh
tahunan, setelah mencari-cari nomer kursi ternyata yang lelaki duduknya
di sebelahku, sementara yang perempuan di kursi dua kursi deretan
sebelah kanan arah depan kursiku.
Bus pun melaju, jam butut di tanganku telah menunjukkan pukul setengah lima sore.
Tiba-tiba perempuan istri lelaki di
sampingku, bangkit dari kursi dan berjalan ketempat aku duduk. “Nak,
bisa enggak kita gantian tempat duduk, biar saya duduk di sebelah suami
saya, dan anak duduk di kursi saya.”
“Oh nggak papa bu, silahkan… silahkan.” kataku segera memberesi tas dan barangku. Untuk pindah tempat duduk.
Aku segera pindah tempat duduk yang
ditempati perempuan tua itu. Oh rupanya disitu ada penumpangnya, seorang
gadis berjilbab, cantik? Entah aku belum melihat wajahnya, aku mengucap
permisi lalu duduk, menempatkan tasku, di tempat yang aman.
Nah, saat mengucap permisi itulah gadis
itu menengokku dan mempersilahkanku, kulihat wajahnya terkejut
melihatku, tapi aku duduk saja.
Terus terang aku orangnya tertutup, walau
ada gadis di sampingku cantiknya sundul langit, aku tak akan bertanya,
juga tak akan mengganggu. Kecuali ditanya. Walau dalam hati dag-dig-dug,
tak karuan, yah namanya tetap juga manusia, ketertarikan lelaki pada
wanita, wajar saja, tapi aku bukan tipe lelaki yang petentang-petenteng
membawa pedang asmara, lalu kalau ketemu gadis ayu, menusukkan pedang ke
dadanya, dan memberikan serangan rayuan yang berbunga-bunga, ah aku
hanya pemuda dingin, kadang aku sendiri merasa kedinginan, tapi mungkin
karena rambutku panjang anting ada di telinga, jadi orang lebih mengira
aku ini anak nakal. Untuk beberapa saat kami terdiam, sampai gadis itu
bertanya padaku.
“Mau ke mana mas?” pertanyaan yang wajar,
tak wajar kalau dia bertanya mau makan apa mas? Sebab ini dalam bus
bukan dalam warung.
“Mau ke Jakarta.” jawabku juga wajar,
kalau ku jawab ke Surabaya, tentu aku makin jauh, sebab bis ini menuju
ke barat. Kulihat gadis itu, ah pasti waktu mau bertanya padaku tadi dia
berusaha mati-matian membasahi bibirnya. Sebab kulihat bibirnya basah
sekali, seperti dikasih madu. Rasanya pasti…. ah setan, menggoda saja.
“Mbak sendiri mau kemana?” tanyaku sambil melihat hidung mungilnya yang seperti cabe merah besar.
“Sama mau ke Jakarta…”
“Oo, kalau begitu bisa sama-sama dong….!” kataku, ah kenapa dialognya tak bermutu begini, tapi diteruskan juga.
“Boleh kenalan mas? Nama saya Rosalia…”
cewek itu mengulurkan jemarinya yang lentik halus. Oh Tuhan maafkan aku,
sebenarnya aku tak boleh menyentuh tangannya, tapi kalau aku tak
menyentuhnya, aku rugi nantinya.
“Iyan.., Febrian.”
“Ah, tak salah dugaanku, pasti mas…
orangnya, bener-bener tak nyangka.” tiba-tiba gadis ini girang bukan
main, dan tanganku, ditariknya ditempel ke pipinya yang putih kemerahan,
aku buru-buru menarik tanganku, takutnya digigit.
“Ah, mbak pasti salah orang.” kataku takut, jangan-jangan maniak sex, wah kalau diperkosa, aku bisa tak perjaka lagi.
“Tak mungkin salah, aku begitu lama
menyanjungmu, begitu merindumu, memujamu, tak akan pernah salah
mengenali dirimu…” dia mengatakan bersemangat sampai air liurnya muncrat
kemana-mana, apa mungkin dia ngiler ya ngelihat aku?
“Dulu aku berpikir apakah engkau itu
benar-benar nyata? Ternyata engkau benar-benar nyata.” tangannya yang
halus membelai pundakku. Ah sial aku jadi merinding, mengapa jadi
serumit ini.
“Bener mbak ini salah orang, nanti mbak menyesal..!”
“Bagaimana aku akan salah orang, fotomu
aja selalu ku bawa.” katanya sambil membuka tasnya dan mengeluarkan
sebuah majalah, dan kliping tulisan dan fotoku.
Aduh… aduh… rupanya ini penggemarku, yang
begitu memujaku, memang dulu aku aktif menulis di berbagai majalah.
Tapi itu sudah lama aku fakum, kenapa penggemarnya masih ada? Kulihat
foto yang ditunjukkanku, dari pertama aku menulis di majalah Jawa
penyebar semangat, sampai majalah Anita, dan majalah Alkisah. Ah
benar-benar deh aku tak nyangka akan ada yang mengidolakan aku.
“Benar kan ini mas Ian…?” tanyanya,
matanya yang seperti artis Jeklin itu menyelidik. Dan aku mengangguk.
Aku tak kuasa ketika lenganku tiba-tiba direngkuh dalam pelukannya.
“Mas, aku telah mencoba menjadi gadis
idamanmu, aku yang sebelumnya tak berjilbab, sekarang telah berjilbab,
lihatlah mas. Apakah aku kelihatan cantik, aku siap menjadi pacarmu
bahkan istrimu.” wah aku bertemu dengan penggemar yang tak bisa
membedakan dunia fiksi dan dunia nyata, ah aku harus bisa lepas dan
melepaskan dia dari dunia hayalnya. Ah semakin sulit aja.
“Mas, em… aku boleh ya minta ciumnya…”
wah semakin ngawur aja, kalau aku tinggalkan gadis ini, ah betapa tak
bertanggung jawabnya aku atas cerita fiktif yang ku buat. Aku berusaha
menenangkan diri.
“Eh, gini ya dek Rosa, soal cium itu
nanti mudah dech. Waktu kita kan masih panjang, jadi baiknya kita
ngobrol dulu, jadi pasangan kan harus mengenal lebih jauh calon
pasangannya?” kataku mencoba setenang mungkin.
“Dek Ros, asli orang Jakarta ya?” tanyaku
mengalihkan pembicaraan, sambil mencari akal untuk keluar dari krisis
multidimensi, ah dibesar-besarkan aja.
“Iya mas, aku dari Cipinang Muara.”
katanya kemudian menggelayut, merebahkan kepalanya di pundakku, ah bisa
gawat nih, suara dadaku makin bergeladukan saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar