“Trus tadinya dek Ros ini dari mana?” tanyaku mencoba mengusir keinginan mengambil kesempatan dalam kesempitan.
“Ih, mas Ian ini, kayak tak tau saja, kan
dalam novel itu wanita pujaan mas, mondok di pesantren, jadi saya ya
jelas dari pondok pesantren, dari nama pondok, desanya, kotanya dah aku
cocokin semua, aku akan menjadi gadis yang mas Ian inginkan.” wah sudah
sejauh itu? Waduh makin kacau aja. Ruwet…., ruwet…., walau bus ini
ber-AC keringat tak urung membasahi punggungku. AC dalam bus hanya
mengeringkan keringat yang ada di wajahku. Tapi tak mengeringkan
keringat di dalam bajuku.
Sementara gadis di sampingku yang masih
memeluk tangan kananku dan kepalanya rebah di pundakku, tertidur. Ah aku
mungkin tak bisa menyelesaikan masalah ini, biarlah aku berserah, pada
penyelesaian Tuhan. Maka akupun membaca wirid dan mencoba tidur.
Aku berharap setelah tidur gadis ini tak
ada, atau masalah ini hanya mimpi saja, bagiku terlampau sulit untuk
mencari jalan keluarnya. Aku benar-benar tak menyangka hanya karena
cerita fiktif, bisa menimbulkan masalah sebegini peliknya.
Setelah wirid dan hatiku tenang maka akupun tertidur.
Malam mulai merambat, dan gadis di
sampingku masih lelap dalam tidurnya, lagu Setasiun Balapan mengalun
dari speaker mendayu-mendayu, disusul lagu Sri Minggat, lagu Jawa itu
kadang membuatku sedikit tertawa, tapi aku segera memejamkan mata lagi.
Ingin sedapat mungkin berlari dari kenyataan ini, sampai besok saja
sampai aku terlepas dari gadis di sampingku ini.
Ah kenapa begitu susahnya, dadaku terasa
sesak akan himpitan, aku segera memenuhi illalloh…, ku ulang-ulang untuk
mencari pegangan atas kegelapan yang mulai membutakan mata hati, ya
Alloh lindungi aku dari kenistaan nafsu, dan segala macam tipu dayanya.
Aku telah tertidur lagi dengan lelap. Sampai kurasakan ada tangan menepuk pundak kiriku.
Tepukan itu kurasakan keras, jadi tak mungkin aku bermimpi.
Aku tengak tengok, semua penumpang
tertidur, lalu siapa yang menepuk pundakku? Ku menengok ke kanan kiri
ingin tau bus ini sampai di mana, dan betapa terkejutnya aku ketika
kulihat ke sebelah kiri bus.
Bus ini sedang membelok ke kiri, dan di
sebelah kiri ada warung tepi jalan yang kayu gentengnya menjorok ke
jalan, sehingga kalau bus terus membelok tak diragukan lagi kaca kirinya
akan menghantam kayu warung itu.
“Stooop..!” aku menjerit sekencangnya.
Sampai gadis di sampingku melonjak kaget bukan alang kepalang. Tapi
rupanya supir bus tak memperdulikanku, mungkin mengira aku sedang
mengigau. Dan tak bisa dielakkan lagi.
“Duar…, kratakkkreek… tar.. tar..!” suara
kaca bus sebelah kiri pecah berhamburan. Jerit penumpang ramai, juga
jerit mengaduh dari penumpang yang terkena pecahan kaca.
“Stoop!!!” suara ku keraskan untuk
mengalahkan ribut suara panik penumpang, karena aku takut sopir bus akan
memundurkan busnya, tapi kekawatiranku langsung terjawab, mungkin
karena paniknya sopir, bus pun dimundurkan ke belakang, “Dar.., tarrk…
kkrrk…!!” kembali terdengar, kaca bus yang tadi menghantam kayu pojok
warung dan kayu yang masuk ke dalam bus begitu saja menyapu kaca yang
tersisa dan masih menempel karena scotlet bening melapisi kaca.
Terdengar lagi jerit penumpang. Sekarang semua orang meminta bus berhenti.
Para penumpang berebut turun, kulihat
tiga kotak kaca bobol pecah tak karuan, banyak orang terluka wajahnya
karena terkena pecahan kaca, termasuk suami istri yang sekarang
menempati kursi yang tadinya kududuki, dan mereka berdua lukanya paling
parah, sehingga harus dibawa ke rumah sakit.
Seandainya aku yang masih duduk disitu,
apa jadinya aku? Tuhan mempunyai rencana tuk menyelamatkanku, aku tak
membayangkan bagaimana seandainya aku ngotot tak mau pindah tempat
duduk, walau aku mendapatkan cobaan gadis yang duduk di sampingku. Ah,
mana gadis tadi? Aku tak melihatnya, ah kenapa aku harus mencarinya?
Bukankah dari rumah awalnya juga berangkat sendiri-sendiri, aku
membetulkan letak tas punggungku, ketika dua bus cadangan datang tuk
menampung penumpang, aku segera masuk ke dalam satu bus, dan mencari
kursi yang masih kosong, karena bus ini telah terisi penumpang.
Bus yang ku tumpangi pun melaju lagi,
para penumpang ramai membicarakan kecelakaan yang terjadi. Jam tangan
bututku ku lirik, menunjukkan jam sepuluh seperempat. Aku menyandarkan
tubuh di kursi dan menempatkan badan senyaman mungkin lalu biasa memulai
wiridku. Ah rupanya kecelakaan tadi jawaban atas doaku agar aku selamat
dari gadis yang mati-matian mengidolakanku. Entahlah?
Aku pun tertidur, sampai bus berhenti di rumah makan. Aku segera turun menyusul penumpang yang lain.
Ku baca tulisan di rumah makan itu NIKKI Subang, kiranya telah sampai di Subang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar