mencari arah tulisan yang menunjukkan
Musholla. Dan melakukan sholat jamak dan koshor. Selesai sholat,
setidaknya hati tentram. Aku mengagumi mushola dan rumah makan ini
begitu besar sekali. Tiba-tiba seseorang lelaki setengah baya
menghampiriku, dan mengucap salam kepadaku, dan ku jawab salamnya.
“Mas Ian kan?” tanyanya kepadaku, aku
jelas kaget karena tak pernah merasa kenal dengan orang ini. Apa ini
penggemarku lagi? Betapa susahnya kalau jadi orang terkenal macam artis.
Kemana-mana tentu tak bebas. Aku mengiyakan.
“Ah sudah saya kira…” wajah lelaki itu sumringah, kemudian menyalamiku.
“Bapak siapa?” tanyaku masih tak mengenali.
“Aku pak Dadang, yang sering ketempat
kyai, mungkin mas Ian tak mengenaliku, tamunya kyai kan banyak.” kata
pak Dadang memperkenalkan diri. Lalu pak Dadang memanggil pelayan dan
membisikinya. Dan pelayan itu segera cepat berlalu, sebelumnya
membungkuk, rupanya pak Dadang dikenal dan dihormati.
“Mari kerumah mas.” kata pak Dadang yang membuatku heran.
“Tapi saya ikut bus malem pak, apa rumah bapak ini dekat sini?” tanyaku, takut ditinggal bus.
“Itu rumah bapak di belakang, kelihatan
dari sini, mas Ian singgah aja di sini, barang tiga empat hari, lagian
kyai juga tiga hari lagi mau ke sini, jadi nanti ke Bantennya bisa
bareng.”
“O, kyai mau ke sini?” pak Dadang manggut.
“Ya kalau begitu saya ngambil tas saya yang masih di bus, sekalian bilang kalau saya tak ikut melanjutkan perjalanan.”
“Ya sebaiknya begitu.” maka aku pun menuju bus yang diparkir mengambil tas dan bicara pada supir kalau turun di sini saja.
Aku segera menemui pak Dadang yang masih
berdiri di depan Mushola. Dan dia mengajakku kerumahnya, rumah besar
mewah yang didomisili marmer dan kayu jati dipadukan sedemikian
artistik.
“Mas Ian tidur di kamar ini aja.” suara
pak Dadang mengagetkanku. Karena aku sibuk menikmati arsitektur rumah
yang dibuat demikian sederhana namun elegan, dengan lemari bifet tinggi
menyentuh plafon. Dan lantai dari marmer yang mengkilap.
Aku segera masuk kamar didahului pak
Dadang. Setelah menyuruhku mandi dulu, pak Dadang pun pergi. Aku segera
mencopot baju untuk mandi, kamar ini luas, kurang lebih empat meter
persegi, dua ranjang besar dalam kamar, dengan selimut yang tebal, salah
satu dinding kamar tertutup lemari bifet yang besar, ada tivi dua puluh
sembilan inc. Juga Dvd player Aiwa, AC yang selalu menyala. Sehingga
udara terasa dingin, aku segera memasuki kamar mandi yang ada dalam
kamar, bak mandi untuk berendam telah penuh, dan di sampingnya terdapat
minuman segar entah apa namanya, aku terlalu ndeso untuk menjelaskan
semuanya. Tubuhku pun ku rendam air yang terasa hangat. Dan mencicipi
minuman, kujilat-jilat dulu, takutnya memabukkan.
Setelah mandi dan tubuh terasa segar, aku
segera ganti pakaian, pintu kamar diketuk, lengkap memakai pakaian ku
buka pintu, seorang pemuda berpakaian seragam biru muda dengan krah baju
warna kuning.
“Ini mas silahkan makan, sudah
disiapkan..” katanya sambil membungkuk, aku hanya manggut dan keluar
kamar, wah di depan kamarku di depan tivi di atas tikar yang terbentang,
beraneka masakan telah terjajar rapi.
“Silahkan mas dinikmati, saya tinggal dulu…” katanya sambil segera berlalu.
Aku yang ditinggal tingak-tinguk, melihat makanan sebanyak ini, bingung mau pilih yang mana.
Nasi di bakul, sebelahnya ada sotong
goreng tepung, pepes ikan laut, pepes jamur, sambel tomat, lodeh ikan
pari, soto sapi, ayam goreng kering, sotong masak hitam, pecel lele,
burung dara goreng renyah, hati sapi goreng kering. Ah masih banyak
lagi, aku tak tau namanya, ada juga jengkol goreng, lalapan petai,
terong ungu dan segala macam daun yang aku tak tau namanya. Aku pun
mulai makan, ku cicipi satu-satu, toel sana sini, sampai piringku penuh,
ketika aku lagi makan, pak Dadang muncul,
“Mas Iyan, dikenyangkan lo makannya, jangan sungkan-sungkan, anggap rumah sendiri saja…” cuma berkata itu dia pun berlalu.
Seumur-umur baru kali ini aku makan
sampai seramai ini, dengan berbagai macam masakan dan aneka warna lauk,
pertama aku begitu bersemangat, karena kecendrungan nafsu, semua pengen
aku embat, tapi setelah kupikir-pikir, ah rasanya tetap itu-itu saja,
kenikmatan semu, sebatas tenggorokan, renyah, gurih, asin, pahit, manis,
kecut, kenyal, alot, pedas… ah membosankan, ku ambil teh poci dan
menuang ke cangkir kecil, menyruputnya pelan-pelan. Kuambil hati sapi
goreng dan melangkah keluar, ku ambil rokok Djisamsoe filter, dan
kunyalakan, aku duduk di undakan emperan depan rumah pak Dadang, malam
makin larut, tapi mobil yang mengunjungi rumah makan ini makin rame
saja. Khususnya bus malem dari Jakarta ke arah daerah, juga dari daerah
ke arah Jakarta. Juga tak sedikit mobil-mobil pribadi.
Akhirnya ku tau rumah makan ini adalah
miliknya pak Dadang, nama Nikki adalah nama pendiri pertama rumah makan
di daerah Subang, sekarang setelah H. Nikki meninggal, maka rumah makan
diteruskan oleh anak dan saudara-saudaranya termasuk pak Dadang. Itu
penjelasan dari pelayan yang melayaniku.
Setelah rokok habis dua batang, aku pun
kembali ke kamar dan berangkat tidur. Menunggu kyai selama tiga hari di
rumah pak Dadang, membosankan juga, ketika kyai datang tiga hari
kemudian, aku teramat bahagia, aku segera mencium tangannya, takzimku
sebagai murid, seperti biasa, kyai tidur di pangkuanku, dan minta
kupijit kepalanya, oh rasa cinta karena Alloh sungguh nikmatnya. Aku
sangat tahu kyai sangat mencintaiku sebagaimana aku mencintainya karena
Alloh. Bila kyai tiduran di pangkuanku maka sudah pasti, ia akan
menanyakan tentang keadaan keluargaku, dan memperingatkan akan ada orang
yang iri dengan keluargaku, akan terjadi begini begitu, dan tak lupa
kyai menurunkan ilmu kepadaku.
Aku kadang terharu akan cinta kyai
kepadaku yang teramat besar, sampai kyai hafal betul orang yang ada di
ruang lingkup kehidupanku, walau aku tak pernah menyebutkan
nama-namanya, tapi kyai hapal satu-satu. Sebegitu sayangnya kyai padaku,
di manapun aku bekerja, kyai pasti menjengukku, bahkan kadang
menungguiku berhari-hari, karena tak ingin aku didholimi oleh orang yang
memakai jasaku. Pernah kyai mengatakan padaku, jika ada orang yang
memusuhimu, maka akulah yang akan menjadi tameng hidupmu, maka jangan
takut berdiri di atas kebenaran.
“Mas Ian…!” kata kyai yang tiduran di
pangkuanku, sementara beberapa tamu lelaki perempuan, mengitari kami,
ada sekitar sembilan orang.
“Iya kyai…”
“Nanti mas Iyan kembali ke pondok dulu
ya..! Sekalian mampir ke rumah Macan…” kata kyai sambil memegang
tanganku mengarahkan supaya memijit arah di atas kedua mata.
Macan adalah panggilan santri, yang
seangkatanku, asalnya orang rusak, suka mabuk, teler, main perempuan,
berantem, jadi raja gank, tapi kemudian ditobatkan, dan menjadi murid
kyai, yang ditugaskan untuk menyadarkan para pemabuk dan preman.
Pengikutnya dari para orang-orang yang rusak di daerahnya sudah banyak,
walau dalam keadaan tersembunyi.
“Ada apa kyai, kok saya harus ke tempat Macan?”
“Nanti ajak dia nglakoni nggila, tapi dia
tak akan mau, orang udah rusak seperti itu kok masih ada di sudut
hatinya pengen di-wah orang, ah Macan…Macan….!”
“Kalau kyai sudah tau dia tak mau ngedan, kenapa aku ke rumahnya Macan kyai?…”
“Sudah nanti pokoknya kesana aja..! Masih
punya uang gak?” tanya kyai, memang begitulah kyai, di mana-mana
rasanya tak ada seorang kyai yang berdialog dengan murid santrinya
sedetail itu, kyai tau uang di sakuku tinggal berapa, tapi dia masih
bertanya,
“Masih kok kyai…”
“Ini untuk beli rokok, rokoknya gak punya
kan?” kyai mengangsurkan uang dua ratusan ribu, memang rokokku telah
habis, aku ingat kalau di pondok, aku sama sekali tak punya uang dan
rokok juga tak ada, tembakau dari uthis juga tak ada, maka kyai
memanggilku, dan memberi rokok yang anehnya saat itu ku bayangkan, walau
kadang aku membayangkan rokok yang aneh-aneh, misalkan roko Cigarilos.
Maka kalau kyai memanggilku akan memberi rokok cerutu Cigarilos. Pernah
satu kali temanku menemukan bungkus rokok Djisamsoe yang dari plastik
pak berwarna hitam, bukan dari kertas, dan kami membicarakan, bagaimana
ya rasanya, tiba-tiba kyai memanggilku dan memberi rokok Djisamsoe dari
plastik itu.
Aku segera menerima yang diberikan kyai,
kenapa tak ditolak? Nah itulah unggah ungguhnya, tata kramanya,
diperintah apa saja, atau diberi apa saja harus siap menerima, walau
kadang tak masuk akal.
Karena beda dengan kyai biasa, sambil
masih tiduran di pangkuanku, kyai pun menanyakan keperluan tamu satu
persatu, dan memberikan solusi.
Setelah tamu semua telah pergi, kyai bangun dari pangkuanku.
“Apa yang dipesankan oleh Syaih Abdul
qodir Al jilani….?” tanya kyai. Dan walau aku telah menyangka akan
ditanya soal itu, aku kaget juga, tapi segera maklum kalau kyai tau.
“Anu kyai saya disuruh menyempurnakan ilmu, dan diminta segera baiat Toriqoh kodiriyah wanaksabandiyah.” jawabku.
“Ya kalau begitu nanti sampai di pondok
aku baiat.” kata kyai menepuk pundakku. ”Sekarang segera saja berangkat
ke rumah Macan…!”
Aku segera mencium tangan kyai, dan melangkah pergi, karena tamu-tamu yang lain telah datang ke depan kyai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar