Kyai adalah pembaiat Toriqok kodiriyah wa
naksabandiyah yang diserahi baiat dari Abah Anom, sesepuh pesantren
Suryalaya, juga diserahi baiat dari Abuya dari pesantren Syaih Nawawi
Tanahara, Serang. Walau kyai tak mondok di kedua pesantren itu.
Aku segera mengambil tasku yang masih dalam kamar, dan tak lupa pamitan kepada pak Dadang.
Aku pun menyetop bus di depan rumah
makan, jam menunjukkan jam sepuluh siang, panas serasa menyengat
kepalaku, untung aku memakai tutup kepala kain coklat susu, yang terbuat
dari beludru, seperti kain sajadah tebal, jadi kepalaku walaupun panas
agak nyaman, rambut kuikat kebelakang dan ku masukkan baju.
Setelah memilih bus akupun akhirnya mendapatkan bus yang jurusan terminal Kampung Rambutan.
Jam tiga siang memasuki terminal Kampung
Rambutan. Aku segera mencari ojek di belakang terminal dan setelah tawar
menawar harga aku pun diantar ke daerah Ciracas, tempat tinggal Macan.
Sebenarnya ada tiga orang murid kyai yang benar-benar seangkatanku yaitu aku sendiri, Macan, dan Haqi.
Haqi sendiri telah menjadi guru toriqoh
di Jawa Timur, selain membuka pengisian badan, memagar rumah, mengobati
orang sakit, dia juga sering dipanggil untuk mengisi orang-orang
Pagarnusa.
Ojek menurunkanku di depan rumahnya
Macan, rumah yang sederhana, seorang perempuan cantik istrinya Macan
sedang mengasuh anaknya di depan rumah.
Perempuan itu yang memang sangat
mengenaliku langsung menyambutku dengan sapaan, karena dulu dia salah
satu kekasihku, ah masa lalu. Dia bernama Idaraya.
“Ee Iyan… sendirian?”sapanya.
“Iya nih Da… Macan ada?”
“Ada, tapi masih tidur.., ayo masuk dulu…”
Aku segera masuk dan duduk di sofa.
Sementara Ida masuk ke dalam. Aku jadi ingat, saat itu di pesantren, aku
dan Macan adalah teman yang teramat akrab, kami ini seperti tumbu dan
tutup, kemana ada aku, pasti ada Macan, mandi, masak, dan tidur pun
selalu bareng. Kalau soal tidur Macan ini tak bisa pisah dariku, kami
selalu tidur satu bantal, bukan apa-apa, Macan sekalipun seorang jagoan
tapi dia teramat penakut, takut pada hantu.
Karena dulu para santri belum punya
kobong sendiri, jadi masih tidur di tempat pembuangan jin, yang luasnya
dua puluh meter persegi, walau tempat itu luas dan bangunan rapi tapi
karena sudah diputuskan untuk tempat membuang jin yang ditangkap, jadi
angker banget.
Yah ruangan pembuangan jin ini didiami
oleh beribu-ribu jin, bahkan mungkin berjuta, aku sudah biasa, bahkan
kalau lagi tubuh pegel, tak jarang aku minta dipijiti, karena dihuni
oleh banyak sekali jin, maka siang dan malam ruangan luas ini teramat
dingin, seperti dalam kulkas saja, kalau siang pun walau di luar terasa
panas, tapi udara di dalam teramat dingin, bahkan kalau tidur tak pakai
selimut, maka tubuh terasa tak kuat, karena dinginnya.
Malam itu Macan ndesel dengan selimut
sarungnya dan masih memakai celana levis, karena memang teramat
dinginnya, dia tidur denganku satu bantal, kalau kutinggal dia pasti
akan ikut bangun, apalagi kemaren malam ada tamu yang pingsan karena
melihat pocong, kuntilanak dan tengkorak, itu semakin membuat Macan
jerih sekali.
“Ian… Dah tidur belum…?” suara Macan
terdengar dari balik sarungnya, karena wajahnya ditutupi sarung, takut
kalau melihat hal-hal yang menyeramkan. Padahal Macan ini orangnya
tinggi besar, wajahnya seram, pipi berlubang-lubang bekas jerawat batu,
alisnya tebal, hidung mbengol, bibir tebal, mata mencorong merah, dan
tubuh dempal berotot, kalau ngomong suaranya berat.
“Ada apa?” tanyaku yang memang belum tidur, aku terbiasa memutar tasbih sambil tiduran, melanjutkan wirid-wiridku.
“Aku ini sebenarnya mau menikah…” memang saat itu Ida belum menjadi istri Macan. Tapi sudah bekas pacarku.
“Kamu, mau nikah? Apa aku tak salah dengar Can…?”
“Bener, aku tak bohong…”
“Wah kamu jelek gitu, kok laku ya…”
“Ini perjodohan orang tua, sama orang tua, jadi aku sendiri belum melihat ceweknya…”
“Wah kalau belum ngelihat ceweknya, jangan mau Can..!”
“Ya kalau melihat ceweknya di foto sih udah Ian, tapi menatap langsung yang belum…”
“Oo gitu, kamu bawa photonya Can? Kalau bawa, coba aku lihat cakep enggak.”
“Kalau ceweknya jelas cantik.”
“Mana fotonya? Coba lihat?!” aku penasaran.
Masih menutup wajah dengan sarung, Macan
kedesal-kedesel mengeluarkan dompet membukanya dan mengeluarkan foto,
lalu menyerahkan padaku, dari balik sarungnya.
Aku menerima foto itu dan melihat, mengarahkan foto itu ke cahaya lampu listrik yang membias ke arahku.
“Bagaimana Ian, cantik khan?”suara Macan dari bawah sarungnya.
“Entar dulu, aku seperti kenal dengan foto ini……, wah tak salah lagi, ini Idarayya..!” kataku spontan.
“Lho kamu kok kenal Ian?” Macan sudah membuka wajahnya dari tutup sarung.
“Benar khan…?”
“Iya emang bener itu namanya.., tapi kok kamu bisa tau namanya?”
“Dia dulu pacarku Can…”
“Pacarmu Ian, wah celaka aku.”
“Cilaka bagaimana?”
“Udah kamu apakan aja Ian, jangan-jangan udah tak prawan…?”
“Ya tak aku apa-apakan, emangnya ku apakan? Tak prawan gimana? Emangnya aku sebejad itu?!”
“Ya siapa tau…!”
“Wah kamu tega amat Can, berpikiran begitu padaku,”
“Tapi sudah kamu cium?”
“Cuma sedikit…”
“Awas nanti kalau ternyata telah tak perawan, kita tuntaskan dengan golok…”
“Kita lihat aja nanti…”
Begitulah, akhirnya Macan menikah dengan
Idaraya, dan sampai sekarang, hubungan dia dan aku melebihi dari seorang
saudara sekandung.
Kulihat Macan keluar dari kamar, lalu menghampiriku, di wajahnya masih mengurat cap bantal tidur, lalu dia menyalamiku,
“Dah dari tadi Ian?”
“Baru aja datang… aku dipesan kyai tuk nemuimu…”
“Kamu baru dari Banten?”
“Enggak, aku dari rumah, aku ketemu kyai di Subang,”
“Dipesan apa sama kyai?”
“Disuruh ngajak kamu ngedan…”
“Byuuh, giak sanggup aku ngedan, kalau
mau jadi orang gila, kamu aja sendiri, aku.. kekkekekikik, apa kata
anakku kalau aku menjadi orang gila, kalau kamu ngajak aku mukulin
orang, ayo sekarang juga berangkat, tapi kalau ngajak aku jadi orang
gila, aku angkat tangan, aku punya istri, punya anak, la kamu..?”
Aku tak kaget kalau Macan tak mau, karena kyai telah mengatakan sebelumnya.
“Yah kalau kamu tak mau ya udah….” kataku melemah.
“Terus terang Ian, kalau amalan-amalan
lain, aku sanggup menjalani, tapi kalau amalan ngedan, byuuh, aku tak
sianggup Ian, aku tak sanggup orang mengatakan wah si Macan yang hebat
itu sekarang uedan, keberatan ilmu, apa tak malu aku nantinya, lagian
menurutku apa gunanya ngedan itu?”
“Ee kamu ini bagaimana sih Can, waliyulloh syaih Abdul qodir aljailani, melakukan, kok kamu menyangsikan gimana kamu?”
“Bukan menyangsikan begitu, aku ini kan bekas orang bujad, tentu tak semengerti kamu.”
“Baiklah, memang kyai sendiri tak pernah
menjelaskan akan manfaatnya, tapi setelah aku membaca kitab manakibnya
syaih Abdulqodir, aku dapat menarik kesimpulan, bahwa laku ngedan itu
dilakukan untuk membersihkan hati.”
“Membersihkan hati yang bagaimana Ian… aku ndak mudeng sama sekali.”
“Dalam hati manusia, cenderung mempunyai
sifat sombong, iri, dengki, membanggakan diri, dianggap unggul, pengen
dianggap gagah, dimulyakan manusia lain, dianggap kaya, dianggap berilmu
dan dianggap-dianggap yang lain, ah apa untungnya dianggap tak ada kan?
Juga dalam hati manusia itu selalu ada perasaan mencela orang lain,
perlawanan dari sifat ingin dianggap, hati manusia juga tak ingin
dicela, dan sifat-sifat itu semua mengotori hati, sehingga hati tertutup
oleh cahaya ilmu Alloh Taala, maka jika manusia sadar, harus berusaha
menghilangkan segala macam penutup hati itu, nah jalan yang mencakup
pembersihan menyeluruh, adalah dengan cara menjadi gila..”
“Jelaskanlah lebih detail lagi Ian, biar
aku ngerti…” inilah yang ku suka dari Macan, biarpun dia tak mengerti
ilmu agama, tapi dia selalu bersemangat kalau diajak ngomong masalah
ilmu.
“Yah dalam diri orang gila apa sih yang
perlu disombongkan, dibanggakan, diiri didengki, dipuja, tak ada orang
yang melihat orang gila, lalu bilang orang gila itu hebat, kebanyakan
orang pasti dicemooh, nah saat dihina itulah, kita menempatkan hati,
menguatkannya, membuat hilang perasaan pengen dianggap Wah dan hebat,
yang tiada guna sama sekali, dipuja sampai ujung tenggorokan saja, kamu
lihat para pemimpin negara kita, di depan dihormati, tapi di belakang
dihujad, apa enaknya hidup palsu seperti itu. Apalagi tidak dimulyakan
tapi pengen dianggap mulya, bukankah itu palsu di atas palsu. Maka dalam
nggila itu, kalau kita sudah mampu menghilangkan dari hati segala macam
sifat, yang menurut manusia itu muliya, tapi teramat tercela itu,
langkah selanjutnya, belajar memasrahkan diri pada takdir Alloh, atas
tubuh kita, memasrahkan sepasrah pasrahnya.
“Kita berusaha sepasrah mungkin, pasrah
atas rizqi, pasrah atas nasib, menerima apapun dari Alloh tiada menolak,
kalau sudah dalam tanggungan Alloh hati akan senang, tak ada beban, tak
ada susah, tak ada kekawatiran, sekalipun saat itu nyawa dicabut,
karena semua adalah kehendakNya, kalau sudah begitu pikiran akan tenang,
dan hati lapang, karena ilmu Alloh yang masuk ke dalam hati, tak ada
penghalang lagi… ketentraman dan kedamaian haqiqi. Sesungguhnya para
wali ALLAH itu tiada rasa takut, dan tiada susah.”
Kataku mengakhiri pembicaraan sambil menyruput kopi dan menyalakan rokok djisamsoe filter.
“Walaupun begitu aku belum berani
menjalankan Ian, kelihatannya berat sekali.” kata Macan sambil ikut
menyalakan rokok djisamsoe kretek.
Aku hanya menginap semalam di rumah
Macan, malam itu aku dan dia duduk di samping rumah di bawah pohon
nangka. Di mana ada meja memanjang dan dua kursi kayu panjang, suasana
sangat sepi. Kami nikmati secangkir kopi dan ketela goreng.
Macan mengeluarkan hpnya,
“Ian pernah gak kamu memotret hantu?” tanya Macan.
“Motret hantu Can, emang bisa…?”tanyaku balik heran.
“Aku kemaren motret diri sendiri Ian,
tapi ada bayangan orang tua di belakangku, coba lihat ini..?” Macan
mengangsurkan hpnya ke depanku setelah membuka galerinya.
Kulihat wajah Macan, dan memang ada bayangan orang tua, seperti asap tapi jelas.
“Wah kok bisa begitu ya?” kataku, ”Berarti bener bisa dipotret hantu itu.”
“Coba Ian kamu yang ilmunya lebih tinggi, kamu tarik hantu yang ada di sekitar sini, biar aku potret…” idenya.
“Apa bisa…?” tanyaku ragu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar