“Ya namanya juga nyoba, ya belum tau…” katanya sambil tertawa.
Aku mulai mempersiapkan diri, sambil
duduk di kursi tubuh ku tegakkan, kutarik nafas panjang, kusimpan di
perut, wirid yang biasanya kubaca puluhan ribu, ku baca tiga kali-tiga
kali tanpa napas, terasa tenaga yang di pusarku bangkit, terasa dingin,
mengalir seperti ribuan semut berjalan, juga kurasakan aliran tenaga di
bawah dadaku sebelah kanan terasa panas, mengalir kearah pertengahan
dadaku, bertemu dengan tenaga dingin sehingga terasa ada pusaran,
kusalurkan ke arah tanganku, kedua tenaga itu berpencar yang dingin
kearah tangan kanan, dan yang panas kearah tangan kiri. Ku rasakan
tangan kananku dingin seakan mengeluarkan uap dingin, lalu tangan
kananku kuangkat, aku rasakan setiap mengarahkan kearah tertentu, ada
getaran halus, seperti getaran kalau tubuh sedang merinding, atau terasa
seperti jutaan semut, atau terasa tapak tangan menebal, setelah yakin,
aku konsentrasikan, tapak tanganku seakan menyedot sesuatu, menahan
dengan tapak kiriku.
Tiba-tiba angin keras menerpa kami dari
segala penjuru, sampai baju yang ku kenakan dan yang dikenakan Macan
berkibaran, dan beberapa daun nangka berguguran, hampir menimpa kami.
“Ini Can… kamu photo di depan, sudah berkumpul…”
Macan segera menjepretkan ngawur saja ke depanku, beberapa kali.
“Sudah-sudah cukup…!” katanya karena takut dan memang aku sendiri teramat merinding,
Ku hempaskan tanganku ke depan. Kembali angin bertiup tapi kali ini seperti meninggalkan kami.
Aku mengusap keringat yang membasahi
pelipisku, kemudian menyeruput kopi yang tinggal sedikit, karena
tenggorokanku terasa kering.
Ku ambil sebatang djisamsu filter dan menyalakan.
“Gimana Can, berhasil?” tanyaku yang melihat dia memutar-mutar galeri.
“Wah menakjubkan sekali, tak akan percaya
kalau tidak mengalami sendiri.” dia menunjukkan gambar yang
diperolehnya, memang kulihat gambar-gambar yang menyeramkan, kulihat ada
enam gambar dalam satu pemotretan. Dan diulang-ulang pemotretan gambar
itu sama, tapi susunannya yang berubah-ubah.
Enam gambar menyeramkan, satu adalah
kakek yang juga ada di belakang Macan, wajahnya teramat tua, karena
kerutan-kerutannya, kumis dan jenggotnya memanjang sampai ke dada dan
berwarna putih, juga alisnya memanjang sampai ke pipi, matanya merah
mencorong marah.
Kedua adalah lelaki dengan wajah separuh
rusak, hingga sebagian wajahnya hanya tengkorak saja, matanya tinggal
satu dan mulutnya terlihat sebagian.
Ketiga adalah perempuan dengan rambut
panjang, di sekitar matanya menghitam dan wajahnya pucat, serta dari
sela-sela bibirnya ada taring mencuat.
Keempat wajah tengkorak yang telah remuk,
dan wajahnya tak terbentuk lagi, mata telah tak ada, sehingga tempat
mata hanya lubang hitam saja.
Kelima, lelaki berkerudung hitam dan wajahnya hitam semuanya hidung dan matanya hanya kelihatan seperti bayangan.
Keenam siluet merah membentuk wajah, tapi tak begitu jelas, karena bentuk siluet cahaya. Yang terus bergerak.
“Wah ngeri juga ya Can….!”
“Makanya aku takut, dan tak mau bertemu yang seperti ini.”
Kami masih menikmati malam yang sepi, di atas bulan seujung kuku tergantung,
“Ian, kamu sering dapat benda pusaka enggak?” tanya Macan di antara pembicaraan kami.
“Benda pusaka? Maksudmu keris dan sejenisnya?”
“Iya, pernah gak?”
Aku jadi ingat satu kali aku diminta
seseorang tuk membersihkan rumah dari gangguan mahluk halus di daerah
Pekalongan, di desa Pring Langu, rumah itu besar dan tua, dan dibeli
dengan harga murah, karena angker.
Aku masuk kerumah itu, ku rasakan hawa
wingit memang terasa kuat, rumah ini teramat tua terdiri dari tiga
joglo, jadi teramat besar, lebar semua ada empat ratus meter.
Pemilik rumah menyuruh dua orang menemaniku, bernama Lutfi, pemudanya tinggi, bertubuh sedang, dan Zamrosi pemuda kurus.
Aku pun membuat air isian tuk
membersihkan rumah, air isian selesai ku buat, kedua orang itu pun
kuminta menyiramkannya ke seantero rumah, setelah air selesai disiramkan
ke seluruh rumah, maka aku menunggu reaksi, waktu itu aku duduk di
depan rumah dengan kedua orang tersebut, ngobrol kesana kemari tak
juntrung, membicarakan apa saja, namanya juga anak muda, apalagi di
depan rumah adalah jalan raya besar, yang menghubungkan kota Pekalongan
dan daerah Kedungwuni, maka jalan kalau sore teramat ramai, orang lalu
lalang tiada henti.
Kalau anak muda nongkrong apa lagi yang
dilihat, kalau tak cewek-cewek yang lewat. Kami selalu
membanding-bandingkan kalau ada cewek lewat, ini cakep gak, berapa
nilainya… Yah begitulah sehingga kami bertiga makin akrab.
Tiba-tiba lagi enak-enaknya ngobrol, ada
gadis cakep dibonceng motor oleh temennya, siuut begitu saja gadis itu
terlempar dari atas motor dan jatuh di depan kami, terang kami terlongo
kaget, kami bertiga segera menghampiri, juga orang-orang datang
mengerubuti, dan gadis itu digotong ke pelataran rumah dalam keadaan
pingsan.
Orang-orang pun sibuk menolong, ada yang
mengipasi, ada yang menciprati air, ada juga yang mengolesi minyak
angin, tapi gadis cantik itu tak sadar juga, orang-orang pada ribut,
membicarakan asal muasal terjadinya jatuh dari motor itu, dan semua
membuat penilaian sendiri-sendiri, jadi malah membuat keadaan makin
ribut, sementara sudah setengah jam, tapi gadis itu masih belum sadar
juga.
Lutfi menoel pundakku, “Mas Ian mbok ya ditolong, kasihan kan…” katanya.
Aku baru sadar, kenapa dari tadi berdiri.
Ikut-ikutan menonton saja, aku segera menyeruak di antara orang-orang
yang berkerumun. Lutfi berteriak-teriak menyuruh orang minggir, sehingga
memudahkanku sampai ke dekat gadis itu, yang tidur di ubin, dengan
wajah pucat lesi.
Aku segera berjongkok, tanganku segera ku
tempel ke kepala gadis itu. Ku salurkan tenaga yang mengalir dari
pusarku, semua orang yang asalnya ramai, diam sepi.
Tak sampai dua menit kutempelkan tapak tanganku di kepala gadis itu, tubuhnya pun bergerak-gerak sadar.
Maka suara ribut orang-orang terdengar
lagi, aku segera menyuruh Lutfi mengambilkan segelas air, setelah
diambilkan, air itupun ku tiup dan kusuruh meminum gadis itu, yang
segera segar kembali, lalu dibonceng lagi oleh motor
temannya. Orang-orang pun bubar, dan aku masuk rumah ditemani Lutfi dan
Zamrosi.
Setelah sholat magrib, karena nganggur
aku dan kedua temanku, duduk lagi di depan rumah, suasana di luar
teramat ramai, memang jalan raya Ponolawen Kedungwuni ini ramai sekali,
beraneka macam orang jualan di sepanjang jalan, dari tenda Lamongan,
martabak, bakso, kentaki, mie ayam, sampai penjual ikan hias, dan yang
paling banyak adalah penjual tenda lesehan khas Pekalongan, yaitu sego
megono, karena setiap jarak lima meteran ada penjual sego megono, itu
ada sampai sepanjang 10 kiloan, bisa dibayangkan betapa ramainya. Dan
semua ada pengunjungnya karena memang yang harganya murah, yaitu cuma Rp
1000,
Sungguh kota yang ramai, motor
bersliweran, mobil juga tak ada habisnya, di depan rumah yang aku
bersihkan dan ku pagar ini, jalan raya sangat lurus, dan aspal sangat
halus.
Selagi aku duduk dengan Lutfi, Zamrosi
datang membawa tahu aci, dan sambal petis, juga teh, kami pun makan
sambil melihat orang yang lalu lalang. Apalagi ini adalah bulan Agustus,
sudah menjadi tradisi di daerah Pekalongan tiap bulan Agustus, ada
acara makan gratis satu bulan penuh. Setiap malam di adakan di setiap
gang bergiliran. Juga ada lomba-lomba yang langsung mendapatkan hadiah
di tempat. Seperti melempar paku pada lingkaran, di lingkaran itu ada
tulisannya, kalau melempar tepat pada tulisan itu maka akan mendapatkan
langsung apa yang ditulis, kalau tulisannya itu jam dinding, maka akan
mendapat jam dinding, paku? tinggal minta kepada panitia. Juga ada
memasukkan gelang pada botol dengan dilempar, dan masih ada permainan
yang lain.
Jadi jalanan sangat ramai, kalau ada
makan gratis seperti ini, tukang bakso, mie pangsit, dan tukang jualan
dorong, tak usah takut tak laku, karena para penjual itu malah semua
dagangannya telah diborong oleh rumah yang memanggilnya untuk melayani
orang yang mau makan. Gratis.
Orang-orang berdatangan, tapi karena kami
menangani dengan sigap, jadi kemacetan yang ditimbulkan tidak
berlarut-larut, kami bertiga segera nyangkruk lagi, namun tak lama kami
nyangkruk kembali terjadi kecelakaan lagi.
Saat kami sedang enak-enakan duduk
ngobrol, tiba-tiba “Sroook..! Braak… praak..!” Sebuah sepeda motor tanpa
ada sebab yang jelas tergelincir, terbanting-banting di aspal,
pengendaranya terseret sampai enam meter. Aku, Lutfi dan Zamrosi segera
berlarian kearah kecelakaan itu, Lutfi menuntun motor ke tepi jalan dan
aku memapah pengendara yang babak bundas itu, sementara Zamrosi memberi
isyarat pada kendaraan yang mau lewat.
Kebetulan ada becak lewat, aku pun
menyetopnya, dan memintanya membawa pengendara motor yang kecelakaan ke
rumah sakit, sementara motornya yang sudah tak karuan ku titipkan di
bengkel sebelah.
Kali ini seorang pengendara sepeda yang
sedang menyeberang di hantam motor roda belakangnya, sehingga lelaki
pengendara sepeda itu terlempar, sementara pengendara motor juga jatuh
menyluruk, keadaan teramat ribut dan memacetkan jalan, yang memang
ramai.
Kali ini aku tak ikut menolong, karena
tempat kecelakaan telah dikerubuti orang, dan yang mengalami kecelakaan
telah ditolong orang.
Lutfi, yang sebelumnya ikut membantu lancarnya lalu lintas, telah duduk lagi di sampingku.
“Wah apa biasanya di sini sering terjadi kecelakaan seperti ini, Lut?” tanyaku.
“Ah kyaknya tidak tuh, tapi yang lebih
tau Zamrosi, dia kan asli orang sini, kalau aku dari Pekalongan kota,
jadi kurang tau persis.”
Zamrosi yang kuminta membelikan rokok baru saja kembali,
“Benar Zam di sini sering terjadi kecelakaan? Seperti hari ini?”
“Setahuku tak pernah tuh mas, ya hanya
hari ini, aku juga heran, kenapa hari ini banyak terjadi kecelakaan? Ada
apa ya?” kata Zamrosi.
“Mana aku tau Zam…” kataku yang memang tak menguasai ilmu teropong.
“Tadi juga ada anak kecil umur tujuh
tahunan jatuh mas, waktu digandeng ibunya, tiba-tiba saja tubuhnya
terbanting jatuh menghantam bekas tebangan pohon itu, dan giginya
tanggal.” kata Lutfi sembari menunjuk bekas pohon yang ditebang, cuma
setinggi mata kaki.
“Ada apa ya..?” tanyaku sendiri.
“Apa mungkin karena rumah ini mas bersihkan, lalu setannya lari ke jalan terus ngamuk?” kata Lutfi.
“Tak taulah….”
“Iya mas bisa jadi begitu..”tambah Zamrosi
Malam makin larut, jam telah menunjukkan
pukul setengah sebelas malam, aku masuk rumah untuk melakukan sholat
isya, sekaligus melakukan pemagaran secara wirid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar