Saat aku melakukan wirid, kedua temanku
itu di belakangku sedang ngobrol besenak-besenik, karena tak mau
mengganggu wiridku, Mereka berdua ngobrol sambil ngerokok, tiba-tiba
terdengar ledakan dalam tembok, “Duar..!” Suaranya di tembok bagian
kananku.
“Hei apa itu yang meledak?” tanya Zamrosi,
“Iya ya kok ada ledakan dalam dinding, suaranya seperti bohlamp,” jawab Lutfi.
Aku tetap khusuk dalam wirid, dan tak
memperdulikan kedua temanku yang mulai memeriksa. Dan mereka kembali
duduk karena tak menemukan apa-apa.
“Aneh wong ada ledakan tapi tak tau apa yang meledak.” kata Lutfi dengan nada heran.
“Apa mungkin kita yang salah dengar?” kata Zamrosi.
“Ah tak mungkin, wong terdengar jelas” yakin Lutfi.
Kembali mereka pun ngobrol, sampai yang ku dengar dengkur kedua temanku itu, karena jam telah menunjukkan jam satu lebih.
Aku masih meneruskan wiridku, sampai
terdengar penjaga memukul tiang listrik dua kali, pertanda pukul dua
malam, kurasakan desiran angin dingin mengitari tubuhku.
Aku tenang penuh konsentrasi, terdengar
suara, “kreeet..!” Kontan aku membuka mata karena suara itu, memandang
ternit asal dari suara, kulihat ternit melengkut, seperti terinjak kaki
yang besar, aku kaget… tapi terus melanjutkan wirid,
Dan “krek…nyut…krek nyut…” Ternit
memantul-mantul seperti dibuat nyot-nyotan kaki yang besar, mengingat
ternit yang kuat, nampaknya tak mungkin kucing atau tikus. Tapi aku tak
bergeming dan terus melanjutkan wirid sampai selesai.
Ternit mental-mentul itu terjadi hanya sampai setengah jam, kemudian berhenti.
Jam tiga aku baru menyelesaikan wirid,
kemudian ikut tidur di dekat kedua temanku. Paginya setelah sholat subuh
aku tidur lagi, karena mata yang masih mengantuk, jam sembilan aku baru
bangun, setelah memakan sarapan yang disediakan, aku menghampiri
Zamrosi, yang tengah menyapu halaman,
“Lutfi kemana Zam?”
“Pulang dulu mas… ada apa mas..?”
“Aku mau naik ke atas ternit..”
“Wah mau ngapain mas, kok repot…”
“Mau melihat ada apa di atas ternit,”
Tanpa menunggu jawaban Zamrosi, aku
segera mencari jalan naik ke ternit. Dan ku temukan di atas dapur,
untung ada planggangan di sana-sini, sehingga memudahkanku naik ke atas.
Untung aku ingat membawa senter, sehingga
kalau terlalu gelap bisa ku lihat, aku juga membuka genteng, sehingga
penerangan masuk, dan dalam ternit tak terlalu gelap, aku menyusuri kayu
sampai ke arah di atas tempatku semalam melakukan wirid, dan itu
melewati satu ruangan, kubuka genteng lagi, sehingga penerangan masuk,
dan suasana terang, kulihat kayu penahan ternit kuat, ku injak dengan
kakiku tepat di mana semalam kayu ini melengkung, sembari berpegangan
pada usuk takut jatuh, tapi aku merasa aneh, memang tanpa pegangan
sekalipun kayu ini kuat menopang tubuhku, bagaimana semalam bisa
melengkung-lengkung tak karuan, tiba-tiba mataku melihat dua benda
menggeletak, aku segera memungut.
Benda itu ternyata sebuah batu akik
sebesar jempol tangan tanpa emban dan sebuah keris kecil, dan
warangkanya, keris itu cuma sebesar jari kelingking anak kecil, tapi
bentuknya amat antik sekali, walau bentuknya teramat kecil tapi sangat
antik sekali, warangkanya terbalut kain rapi, tapi sudah sangat usang
dan kuno, ketika ku tarik lolos keris itu dengan kedua jariku, ah betapa
mungilnya tapi teramat indah, karena keris itu dihiasi ukiran teramat
detail, aku tak sanggup membayangkan bagaimana mungkin, seseorang
mengukir dalam keris kecil ini sedemikian detailnya.
Tapi aku bukan orang yang suka keris dan batu akik, walau banyak beredar cerita tentang batu dan keris yang mempunyai kesaktian.
Aku hanya orang yang tak punya pikiran
neko-neko, bagiku mengamalkan agama sebaik mungkin, hidup tenang, istri
sholehah, anak-anak yang sholeh-sholehah, serta keluarga selamat,
sejahtera. Walau aku percaya keampuhan keris, karena jin yang
menghuninya. Tapi aku lebih percaya Alloh penolongku.
Aku pun turun dari internit.
“Kamu mau keris Zam?“ tanyaku setelah turun.
“Keris? Untuk apa mas?” tanyanya dengan pandangan heran.
“Ini aku dapat keris dari atas, ya kalau kamu mau?”
“Wah kalau saya ini kalau ada di kasih duwit aja, jangan keris, saya ini orang susah mas, butuhnya duwit…”
“Ya udah kalau tak mau…”
“Coba lihat kerisnya mana mas?”
Keris segera ku keluarkan, dan dilihatnya, setelah dijinggleng dan diteliti, keris diberikan lagi padaku.
“Wah aku gak ngerti sama sekali tentang keris mas, tapi kok kecil sekali ya, kayak mainan anak-anak aja.”
“Tapi kalau mas Ian mau, aku punya teman yang sukanya mengoleksi keris, dia pasti mau dikasih keris,”
“Nanti malem suruh aja datang kesini.”
“Tapi dia preman stasiun mas, gimana?”
“Ya nggak papa, suruh aja datang, siapa namanya?”
“Namanya Gimo mas… baik nanti aku hubungi.”
Siang itu aku mengisi batu untuk ku tanam
ke empat penjuru rumah, sebagai pagar gaib. Malamnya Gimo datang,
setelah berkenalan denganku, aku mengajaknya duduk di teras,
membicarakan keris yang aku temukan.
Gimo orangnya tinggi besar, dempal, dan
berotot, sangat suka mempelajari ilmu kesaktian, dan suka mengumpulkan
wesi aji dan batu akik.
“Bener nih kang sampean mau ngasih saya
keris?” tanyanya setelah duduk di sampingku. Dan Lutfi juga Zamrosi ikut
nimbrung ngobrol.
“Ia mas Gimo, mas Ian ini, mendapatkan keris tadi siang,” sela Zamrosi.
“Dapat dari mana to mas?” Lutfi yang belum tau bertanya.
“Dapat dari internit..” kata Zamrosi, mendahuluiku menjawab.
“Kamu ini mbok ya diam dulu to Zam, biar mas Iyan cerita,” kata Lutfi.
“Iya Zamrosi benar, aku mendapatkannya di ternit,”
“Wah bagaimana itu bisa tau kang? Ah pasti sampean ini orang sakti.” kata Gimo sumringah.
“Ya kebetulan saja…”
“Ah tak mungkin kebetulan, wong tadi pagi tiba-tiba aja pengen naik ke ternit, kan aneh?” kata Zamrosi nyerocos.
“Gimana to gak sakti mas Gimo? Mas Ian
ini kan kesini untuk memagar rumah ini, diminta bos yang punya rumah
ini,” kata Lutfi, menjelaskan.
“Wah semuda ini, masih bocah..!,” kata Gimo.
“Tapi nyatanya begitu…”
“Sudah-sudah, nih mas Gimo keris dan batu
akiknya, silahkan diterima…” kataku sembari mengeluarkan kedua benda,
dan menyerahkan pada Gimo, dia menerima dengan gemetar.
“Wah kecil amat kerisnya?” kata Lutfi, yang memang baru melihat keris ini.
“Wah ini keris dan batu tak bisa dipisahkan kang, dan keris ini ampuh sekali.” kata gimo setelah mengamat-amati sebentar.
Saat kami tengah asyiknya ngobrol,
tiba-tiba “Duaar!!, bruakkk..!!” suara ledakan tabrakan motor dengan
motor, kulihat sekilas, sebuah motor Gl pro, menyalip ke kanan
mendahului kendaraan lain, tak taunya ada mobil angkot di depan, maka
motor itu membanting ke kiri, untuk menghindari mobil angkot, dan
ternyata di samping angkot ada motor lain yang juga mau mendahului
angkot, maka tak terelakkan lagi kecelakaan pun terjadi, kedua
pengendara sampai terpental dan terbanting di aspal. Pengendara Gl pro
langsung tewas di tempat. Keadaan menjadi ribut sekali, jalanan macet
total, karena kecelakaan tepat di tengah jalan, tubuh pengendara Gl pro
tergeletak, dan darah meleleh kemana-mana, mungkin kepalanya pecah.
Orang-orang membludak, karena memang masih berlangsung kegiatan Agustusan, makan gratis.
Ku lihat Gimo tangkas juga, dia segera
menggotong pengendara Gl pro, di masukkan ke pikup dan disuruh membawa
ke rumah sakit, sementara pengendara Karisma musuh Gl pro tak apa-apa,
walau luka lecet-lecet, tapi kedua motor hancur sana-sini pecahan
onderdil, dan kaca lampu berserakan di sana sini.
Ah ini benar-benar tak beres, tak bisa
dibiarkan, aku segera masuk, mengambil air wudhu, kemudian duduk dalam
kamar, menyatukan rasa dan cipta, membaca semua wirid dalam hitungan
tiga-tiga, kemudian membaca doa hijab yang diajarkan kyai kepadaku.
Mengalir kekuatan dari pusarku, kemudian tersalur ke tanganku.
Kubayangkan aku mengitari jalan depan rumah lalu menangkap semua
lelembut, jin, siluman, mengikatnya jadi satu kemudian kubuang ke
belakang rumah dalam keadaan terikat.
Aku bernapas lega, dan mengusap keringat
yang keluar mbrendol-mbrendol sebesar jagung dari pori-pori tanganku,
keringat bahkan menetes-netes dari ujung hidungku, juga mengalir dari
pori-pori kepalaku, mengalir ke leherku, dan punggungku sampai lengket,
basah oleh keringat.
Aku segera beranjak keluar, tak lupa
mengambil keempat batu yang tadi siang kuisi, dan di luar keadaan sudah
sepi, Lutfi dan Zamrosi masih duduk, ngobrol ditemani beberapa tetangga
toko sekitar, aku memanggil mereka berdua, lalu kuajak menanam dua batu
di pojok belakang rumah, dan dua batu di pojok depan rumah.
Malam itu aku tak tidur terlalu malam,
mengingat wiridku telah selesai. Esok paginya, setelah subuh aku
mengajak kedua temanku itu jalan-jalan, sekalian mencari sarapan bubur
kacang hijau, di tengah perjalanan kami bertemu Gimo, sedang menggenjot
sepedanya,
“Mau kemana kang Gimo?” sapaku. Dia langsung berhenti.
“Ee…kang Ian, kebetulan sekali kang, aku
mau ke tempat kang Ian, mau mengembalikan keris dan akik pemberian kang
Ian semalem.” katanya, sembari menuntun sepedanya di sampingku.
“Lho emangnya kenapa? Bukankah kang Gimo ini pengoleksi benda antik…?” tanyaku heran.
“Wah cilaka kang..” katanya masgul.
“Cilaka bagaimana to?” tanyaku.
“Kang Gimo mbok sampean ceritakan yang jelas.” Zamrosi menyela.
Pemuda kekar yang penuh tato di tubuhnya itu menarik napas dalam lalu mulai bercerita.
Semalam setelah terjadi kecelakaan Gimo
mencariku, dan menanyakan kepada kedua temanku tentang keberadaanku,
tapi oleh kedua temanku aku dilihat dalam keadaan wirid, jadi Gimo pun
pamit pulang, dia mengendarai sepeda pancalnya pulang, karena memang
rumahnya di daerah Pekalongan utara.
Saat sedang bersepeda itu dia melewati
gerombolan pemuda yang nongkrong di gang sambil ketawa-ketawa, aneh Gimo
marah dan menghampiri pemuda yang ada enam orang itu.
“Hei, mengetawakanku!” bentaknya.
“Tidak kang, kami ketawa sendiri.” jawab seorang pemuda yang duduk paling pinggir, menatap heran pada Gimo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar