Gimo maju memegang kerah baju pemuda itu,
melihat gelagat yang kurang baik, kelima teman pemuda yang dipegang
kerah bajunya oleh Gimo segera menyerang dengan bogem mentah
bertubi-tubi. Yang kesemuanya dapat ditangkis dan dielakkan oleh Gimo,
kini Gimo yang mengamuk, keenam pemuda itu dihajar semua sampai
nyungsep, tak ada yang bangun lagi, padahal biasanya untuk mengalahkan
satu dua orang Gimo takkan bisa mengalahkan dengan semudah itu. Tapi ini
ada enam orang, dengan mudahnya dapat ia robohkan tak sampai sepuluh
menit.
Dia juga heran kekuatannya juga dia
rasakan berlipat-lipat. Pasti ini karena keris dan batu akik yang
dibawanya. Gimo pun melanjutkan perjalanan pulang, meninggalkan keenam
pemuda yang terkapar.
Lalu dia sampai di rumah, menggedor-gedor
pintu, Gimo cuma hidup di rumah bertiga, ibunya, adiknya lelaki yang
bernama Munsorif dan dia sendiri.
Gimo masih menggedor pintu, tapi pintu tak kunjung dibukakan, darahnya mulai naik ke ubun-ubun, maka dia menggedor sampai keras.
Gimo masih menggedor pintu, tapi pintu tak kunjung dibukakan, darahnya mulai naik ke ubun-ubun, maka dia menggedor sampai keras.
“Ia sebentar…!” terdengar suara ibunya. Dia makin tak sabar.
Setelah pintu dibuka, ia membentak ibunya.
“Buka pintu lama banget, apa perlu pintu ini aku jebol?”
“Wah jangan begitu to, ibu kan harus jalan dulu…” kata ibunya lembut.
“Buka kan gak perlu ibu, Munsorif mana? Pasti sudah ngorok!!” kata Gimo membentak.
“Dia lagi sholat ngger…, jadi ibu yang harus buka.”
“Ah sholat aja diurusi, hidup tak berbakti, masak ibu disuruh membuka pintu!!”
“Sudahlah ngger, ibu senang kok
membukakan pintu untukmu, ndak usah marah-marah, tapi kamu harus sabar,
ibu ini sudah tua, jadi jalannya pelan.”
“Ada apa to kang? Mbok ya sudah, jangan
marah-marah, tak enak didengar tetangga,” suara seorang pemuda yang tak
lain adalah Munsorif, pemuda ini sungguh jauh sekali dengan Gimo yang
srampangan ugal-ugalan, pemuda ini lembut, wajahnya bersih, dan
bercahaya karena air wudhu, maklum Munshorif orangnya selalu daimul
wudhu, yaitu melanggengkan wudhu, jadi kalau batal wudhunya dia wudhu
lagi, sehingga wajahnya mengeluarkan pancaran cahaya alami, penuh
kelembutan, ditambah baju koko yang dipakainya, berwarna putih kebiruan,
dan peci putih yang bertengger di kepalanya, melihat adiknya keluar,
Gimo makin meluap marahnya,
“Bangsat sok alim, mau menceramaiku…!?” katanya dengan mata berapi-api.
“Ya enggak kan, cuma kang Gimo jangan ribut, kan didengar tetangga, malu…” Munsorif suaranya dipelankan.
“Berani kau melarangku… rasakan ini!!” tiba-tiba Gimo menyerang mengayun bogemnya ke wajah adiknya.
Sebuah pukulan menderu ke arah kepala
Munsorif, pemuda ini pernah juga hidup di pesantren, dan belajar sedikit
ilmu silat, melihat kakaknya menyerang ke arah wajahnya dia melemaskan
tubuh ke belakang dan mundur satu langkah, sehingga pukulan Gimo menerpa
tempat kosong, dan itu membuat Gimo yang merajai stasiun marah, merasa
ditantang dan dilecehkan, maka dia makin membabi buta menyerang adiknya,
sementara ibu Duriah, ibunya kedua pemuda itu, menjerit-jerit melihat
kedua anaknya berantem,
“Aduh lub… jangan berantem to lub, kalian
ini saudara luuub… aduh piyo to iki yo kok kebangeten…” kata perempuan
tua itu menangis.
Tapi Gimo memang sudah mata gelap, dia
terus memburu Munsorif dengan serangan-serangan mematikan, sementara
adiknya itu hanya mengelak dan menangkis serangan.
Satu kali Gimo melakukan tendangan sapuan
ke arah perut, dan Munshorif menekuk perutnya ke belakang, sehingga
serangan lewat tiga centi dari perutnya, tapi Gimo menyusul dengan
pukulan tangan kiri menyamping ke arah wajah Munsorif, pemuda itu
mengengoskan kepalanya, sehingga pipinya selamat dari kemplangan. Tapi
ternyata itu hanya serangan tipuan, ketika terdengar tangan kanan Gimo
menghantam pipi kiri Munsorif, “prok!!” Pemuda itupun terjengkang. Darah
keluar dari hidung, telinga dan mulut Munsorif, sebentar dia berkejedan
dan diam, ibu Duriah pun menghambur.
“Munsorif…! Nak jangan mati nak… nak
Munsorif anakku… hu… huu… Gimo, kenapa kau bunuh adikmu..!? Tak
puas-puasnya kau menyusahkan aku…huuk..”
Ibu Duriah yang tak kuat menahan goncangan batinnya itupun pingsan.
Sementara Gimo, tiba-tiba tersadar… ah
apa yang kulakukan, suara hatinya…benarkah aku membunuh adikku.. oh..!
Dia menghampiri Munsorif, dan meraba urat leher dan denyut nadinya… dan
dia lega ternyata adiknya itu cuma pingsan saja.
Lalu Gimo yang merasa telah sadar dari
pengaruh gaib keris dan batu akik dalam sakunya segera mengangkat ibunya
ke amben. Juga mengangkat tubuh Munsorif ke amben yang lain.
Tetangga Gimo tak ada yang datang, karena
sudah jadi adat, Pemuda bengal ini bikin ribut, tetangganya tak berani
ikut campur, bisa-bisa malah kena sasaran. Jadi kalau ada ribut-ribut di
rumah Gimo, mereka lebih memilih menutup pintu rapat-rapat.
Ah mungkin nanti Gimo kalau mati, berangkat ke kuburan sendiri.
Setelah membaringkan kedua orang itu Gimo
keluar rumah, lalu mengayuh sepedanya ke arah pertigaan Ponolawen, jam
telah menunjukkan jam setengah dua, biasanya masih ada tukang becak yang
narik malam hari, dan prasangkanya tak meleset, ada beberapa tukang
becak yang masih berjejer.
Gimo langsung membawa salah seorang
tukang becak ke rumahnya, sampai di rumah dia menaikkan adiknya ke atas
becak, dan mengantarnya sampai ke rumah sakit. Menyerahkan perawatan
kepada dokter jaga, lalu pulang lagi, sampai di rumah, ibu Duriah,
ibunya Gimo telah sadar dan sedang menangis sesenggukan, melihat Gimo
datang, ibunya langsung menghambur.
“Ayo lub, mayat adikmu kamu buang kemana lub… kok kebangeten kuwe to lub. huhuuu…”
“Sudahlah bu… Munsorif tak mati, sekarang
dia di rumah sakit…, kalau ibu mau kesana ayo saya antar…” kata Gimo.
“Itu becaknya masih ku suruh nunggu di luar.”
Gimo pun membawa ibunya naik becak, dan mengantarkan kerumah sakit, menunggui Munsorif.
Gimo lelah dia tiduran di atas bangku
panjang di depan kamar tempat merawat adiknya, dia berpikir, satu malam,
berapa tangan yang jadi korban tangannya, ah ini pasti karena keris dan
batu akik yang semalem di terimanya, ah dia harus mengembalikan kedua
benda itu, maka ketika setelah subuh itulah dia bertemu denganku.
Memang aku sendiri merasakan perbawa yang
jahad, pada kedua benda ini, ketika memegang keris dan batu akik itu,
seakan-akan dada terasa tersumbat, suntuk, sumpeg, dan berbagai perasaan
yang seakan ingin marah.
Setelah pulang, aku segera masuk kamar,
dan kedua benda itu ku taruh di depanku lalu kututup bantal, aku mulai
wirid, membaca fatehah kepada Nabi, dan membaca fatihah kepada ketiga
hadam surat ikhlas, membaca wirid tiga kali, menyalami kepada hadam yang
mendiami kedua benda tersebut, dan “Demi kekuasaan Alloh yang mutlak,
kembalilah kalian ke asal kalian, dengan izin Alloh… Allohu akbar,” lalu
ketepuk bantal, dan kubuka, kedua benda itu telah tak ada, dan itulah
pengalamanku pertama kali aku mendapatkan wesi aji, dan batu akik,
setelah kejadian itu, telah tak terhitung aku didatangi, khadam-khadam,
keris, batu akik, dan aneka macam pusaka, minta dirawat, tapi aku tak
pernah mau menerima.
Akan aku ceritakan sedikit pengalamanku tentang aku didatangi khadam pusaka.
Waktu itu aku sedang mencari udara segar,
dan sedikit hiburan, aku memutuskan pergi ke Nglirip, yaitu tempat
wisata air terjun, di daerah Jojogan Singgahan, Tuban. Sampai di Nglirip
setelah membeli makanan kecil dan minuman ringan aku naik ke atas bukit
kecil, yang ada pemakamannya.
Aku duduk di tepi jurang, sambil makan kacang dan menikmati pemandangan.
Sungguh pemandangan yang elok, jauh di
bawah sana persawahan terhampar seperti permadani beludru, rumah-rumah
kecil yang cuma terlihat gentengnya saja, betapa kecilnya kita di tangan
kekuasaan ALLOH Taala, pohon-pohon seperti gerumbul kecil saja, lalu
kalau mata menghadap ke timur, nampak bukit kecil, dengan persawahan
tumpanp sari, seperti anak tangga raksasa, suara lenguh sapi yang dibuat
membajak oleh petani, seperti suara panggilan lugu alam desa. Jalan
tikus para petani yang akan pergi ke sawah, seperti ular kecil yang
memanjang,
Tepat di bawah kakiku, sekitar sepuluh
meter, nampak jalan raya, mengitari bukit, di bawahnya lagi sungai yang
mengalir terus sampai ke kampung-kampung dan sawah-sawah, menjadi
tumpuan hidup para petani, satu meter ke bawah ada taman, tempat muda
mudi berpacaran, sambil menikmati alam, saling bercengkrama, atau
menghayalkan masa depan. Lalu di bawah lagi ada penjual makanan kecil.
Dan warung minuman juga jalan kampung menurun, nampak anak kecil dan
beberapa perempuan memanggul kayu bakar di punggung, berjalan. Menuruni
jalan kampung.
Di belakang warung, sebuah jurang
menganga, dan tempat air terjun tercurah, saat begini kemarau baru
mulai, air di bawah kulihat berwarna hijau.
Air yang jatuh dan percikannya tertiup
angin, menjadi uap tersedot mentari, ketika cahaya mentari menyentuhnya,
terciptalah bias pelangi, melengkung. Sungguh lukisan alam yang
sempurna.
Keindahan yang tumpang tindih, menjadikan
mata orang menatap kagum, dan hati berperan, penilaian mengembalikan
pada Sang Khalik bagi yang ada iman di dadanya, dan bagi orang yang
kosong iman, menganggap ini kejadian biasa.
Aku memutuskan ziarah sebentar ke syaih
Abdul Jabar. Makam orang yang ada di situ, yang menurut orang tuaku
masih ada hubungan nasab kepadaku, dan sampai kepada Jaka Tingkir, mas
Karebet.
Tapi aku mau berziarah saja, mengingat
dia Ulama zaman dahulu, yang memperjuangkan Islam, karena hari telah
sore aku memutuskan untuk bermalam di mushola, sebelah pemakaman, di
mana banyak juga para musafir yang bermalam.
Usai sholat magrib dan isyak berjamaah,
aku meneruskan membaca dzikir harianku, sampai malam kemudian
tidur. Dalam mimpi aku merasa ditemui oleh orang tua berikat kepala
putih, dan wajahnya menatap lembut kepadaku.
Kumis dan jenggotnya putih dan tak terlalu banyak, bajunya hitam legam dia berkata.
Kumis dan jenggotnya putih dan tak terlalu banyak, bajunya hitam legam dia berkata.
“Ngger..! Besok tunggulah warisan yang menjadi hakmu, di pertigaan Anjlog..” Cuma itu yang diucapkan lalu dia menghilang.
Aku terbangun, dan kulihat semua orang tertidur di sana-sini, aku pun melanjutkan tidur lagi.
Paginya setelah sholat subuh, aku mandi
di sungai, yang airnya teramat dingin, kabut yang turun membuat pendek
jarak pandang. Hanya sejauh dua meter.
Embun di rumput pun terlihat amat tebal
seperti permadani putih tipis terbentang, setelah mandi, dingin tak
begitu terasa lagi menggigit tulang. Karena kabut yang turun teramat
tebalnya pohon-pohon besar seperti bayangan raksasa.
Tapi perempuan-perempuan desa kulihat
keluar dari kabut, suara mereka bercanda seakan tak ada kesulitan hidup
yang dihadapi, BBM yang harganya melambung, bahan-bahan pokok yang ikut
melonjak naik, seakan bukan masalah bagi mereka, setiap wajah dihiasi
keceriaan, padahal aku yakin para perempuan itu bukanlah orang-orang
kaya.
Mereka hanya orang yang teramat
sederhana, masak dengan kayu bakar yang diambil di hutan, yang mereka
masak adalah padi yang mereka tanam dan mereka panen, lalu dibawa ke
penggilingan, lauk mereka juga mereka tanam sendiri, jadi apa yang perlu
dikawatirkan lagi, mungkin pergi naik mobil, belum tentu dua atau tiga
tahun mereka naik mobil, jadi walau bensin oleh pemerintah dinaikkan
seliter satu juta, juga tak mempengaruhi mereka, sebab naik mobil bagi
para orang gunung ini adalah siksaan tersendiri, yaitu siksaan mabuk
perjalanan. Mereka seperti punya negara sendiri, yang bernama Republik
bersahaja. Hidup tak neko-neko, seadanya saja.
Perempuan-perempuan itu menyapaku ketika lewat di depanku.
“Nderek punten gus…!”
“Manggo… ngatos-atos…” jawabku.
Aku melangkah meninggalkan Nglirip, dan segala keindahannya.
Aku penasaran dengan mimpiku semalam,
hanya bunga tidurkah. Pertigaan Anjlog sekitar dua kilo, jalan menurun,
kalau ditempuh dengan sepeda mungkin tak sampai sepuluh menit tanpa
dikayuh, karena jalanan menurun, malah berbahaya kalau tak punya rem.
Aku tempuh jalan itu dengan jalan kaki, disamping hari masih pagi, dan kabut tebal sekali, jalan kaki tentu menyehatkan.
Sampai di pertigaan Anjlog, matahari
telah meninggi, dan kabut tinggal tipis, menyisakan butiran air di pucuk
daun dan rumput, bercahaya berkilauan seperti manik-manik mutiara.
Beberapa anak sekolah bergerombol
menunggu bus, ada yang berseragam biru tua, berarti anak SMP, ada juga
remaja berseragam abu-abu, berarti anak SMA, kalau ada SMA di sini ya
sekolah Bukit Tinggi, itu adalah nama sekolah lanjutan yang ada di bukit
jadi dinamakan Sekolah Bukit Tinggi, aku sebenarnya sekalian mau cari
sarapan, tapi setiap warung pinggir jalan yang kutanya, selalu menjawab
belum matang, kulihat juga ada gerobak bakso, ah bakso juga tak apa-apa
kalau ada lontongnya, jadi kalau kepedesan ngrokok juga lebih enak,
kulihat tukang bakso menata mangkok, aku dekati.
“Baksonya sudah ada bang?” tanyaku.
“Bentar lagi gus…., silahkan duduk dulu…!” katanya hormat.
“Lontongnya ada bang…?”
“Oh ada-ada, banyak…”
Aku masuk ke dalam rumah-rumahan bambu,
yang dibuat serampangan dan seadanya, hanya untuk melindungi para
pemesan bakso agar bisa menikmati bakso pesanannya dengan nyaman. Saos,
kecap, sambal, berjejer di depanku.
“Nak mas…, anak ini kan yang namanya
Febrian…?” kudengar suara lembut di belakangku, aku menoleh, nampak
orang tua yang kurus sedang, duduk di belakangku, aneh kenapa aku tak
merasakan kedatangannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar