Kakek ini ku taksir umurnya tujuh puluh
tahunan, badannya kurus namun tegap. Wajahnya penuh kerutan ketuaan tapi
bersih, alis matanya sebagian memutih, ikat kepalanya bercorak lurik
batik. Kumisnya dan jenggotnya sedikit, matanya teduh dan bersahabat.
“Kakek ini siapa, kok tau nama saya?” tanyaku heran.
“Itu tak penting nak mas, aku hanya mau menyerahkan warisan nak mas yang selama ini dititipkan pada saya…” kata kakek itu.
“Warisan apa kek…?” aku teringat dengan
mimpiku tadi malam, kakek di depanku ini mengarahkan kedua tangannya ke
balik baju di punggung, lalu mengeluarkan dua buah keris dari balik
baju, keris ditunjukkan di depanku.
Satu keris dan warangkanya panjang kurang
lebih empat puluh cm, dan yang satu pendek kurang lebih tigapuluh
cm. Lalu kakek misterius di depanku ini melolos keris yang panjang dari
warangkanya, aku tak tau keris, tapi melihat bentuknya keris ini indah,
ada ukiran di pangkal keris, berwarna seperti emas, keris ini berluk
banyak.
“Ini namanya kyai sapto paningal,”
katanya sambil mengulurkan keris kepadaku. Kurasakan ada getaran aneh
menjalari tanganku ketika menerima keris itu.
Kemudian kakek itu mencabut keris yang kedua, “Ini namanya kyai condong pamelang.” katanya sambil mengulurkan keris kepadaku.
Aku mengamat-amati kedua keris di
depanku, sekedar menyenangkan pada kakek ini, tapi aku benar-benar buta
dan tak tertarik dengan aneka macam wesi aji. Aku menyerahkan kedua
keris itu kepadanya.
“Karena nak mas sudah ada di sini, maka
keris ini kuserahkan padamu…” kata kakek ini, mengulurkan kedua
tangannya terbuka ke hadapanku, dan kedua keris ada di atas tangan itu.
“Nanti dulu kek…” kataku dengan isyarat tangan menahan.
“Kenapa nak mas?”
“Aku ini sama sekali tak tau, seluk beluk
tentang keris, dan aku tak tau bagaimana merawatnya, ah alangkah
baiknya kalau keris ini tetap di tangan kakek, mungkin akan lebih baik
keris ini tetap di tangan kakek, aku takut kalau di tanganku akan
rusak…” kataku berdalih dengan alasan setepat mungkin.
“Tapi nak mas, keris ini nak maslah pewarisnya…”
“Begini lo kek, aku ini punya keyakinan,
bagiku Allohlah sebaik-baiknya dzat tempatku bergantung dan tempatku
meminta menyelesaikan segala urusanku, aku tak mau menomer duakan Alloh
karena mempunyai kedua keris ini..”
Kakek tua itu manggut-manggut, ”Baiklah
aku mengerti, tapi aku tak mau disalahkan oleh orang yang telah
mempercayakan amanahnya kepadaku, maka sudilah nakmas menerima keris ini
dan nanti menyerahkan padaku lagi…?”
“Oh aku mengerti kek, baiklah aku terima
keris ini, dengan kelapangan hati…” kataku, sambil menerima kedua keris.
Lalu ku lanjutkan berkata setelah keris ada di tanganku.
“Dan keris ini ku serahkan padamu untuk menjaga dan merawatnya…”
Kataku sambil mengulurkan keris kepada
kakek ini, sebagai tanda penyerahan. Kemudian kakek itu pun menerima
lagi keris. Dan menempelkan ke jidatnya, “Akan ku jaga dengan
sebaik-baiknya.” Setelah itupun kakek itu mohon diri.
Aku menarik napas lega, tukang bakso mengulurkan bakso ke depan mejaku, matanya menatapku heran.
“Ada apa bang, kenapa menatapku begitu?” tanyaku pada tukang bakso.
“Tak apa-apa gus.., saya hanya heran saja..”
“Heran kenapa?”
“Yah saya lihat dari tadi, agus ini
ngomong sendiri, jadi saya mau memberikan bakso, saya urungkan, karena
melihat agus ngomong sendiri.”
“Maksud abang tadi saya ngomong sendiri, jadi abang tak lihat saya tadi ngomong sama kakek-kakek.”
“Kakek-kakek yang mana to gus, wong dari tadi agus di sini sendirian…”
Aku segera turun dari kursi, dan melihat
ke arah mana tadi kakek itu pergi, maunya menunjukkan pada tukang bakso
tentang kakek yang ku ajak ngomong, tapi walau jalan raya itu lurus, aku
tak melihat bayangan kakek yang ngomong denganku. Ah pupus harapanku,
aku dianggap gila dah.
Cepat-cepat aku kembali ke tempat duduk,
menghabiskan bakso, dan dua lontong, lalu cepat-cepat beranjak pergi,
dengan tatapan aneh dari penjual bakso.
“Aku sering Can, mau dikasih segala macam wesi aji, batu akik, tapi selalu aku tolak, apa pula perlunya…?” kataku pada Macan.
“Ah kamu ini gimana sih Ian, kalau ada
yang ngasih mbok ya diterima, kalau kamu tak mau biar aku yang
mengkoleksinya, aku aja udah mengkoleksi banyak sekali,”
“Wah hebat Can…”
“Ayo aku tunjukkan..” katanya kemudian mendahuluiku berdiri dan masuk rumah, akupun mengikuti dari belakang.
Kulihat ia menurunkan tiga dus sarimi
dari atas lemari bifet. Dah uh banyak sekali, satu dus berisi aneka
macam keris panjang penuh, satu dus berisi berbagai batu akik, setengah,
dan satu dus berisi aneka macam keris kecil, berbagai bentuk dan macam.
“Dari mana semua barang begini Can?”
“Ya ada yang ngasih, kadang juga ketemukan sendiri, macam-macamlah kejadiannya.”
“Wah kamu ini mungkin cocoknya ngumpulin barang seperti ini,”
“Yah semoga saja ini bermanfaat Can.” kataku.
“Ian…, aku ini sebenarnya punya masalah..!” kata Macan menatapku serius.
“Masalah apa?”
“Gini Ian, aku punya anak buah, dari
anak-anak nakal yang aku insyafkan, dan aku membuatkan mereka warung
tenda masakan Lamongan, tapi aku menemui kendala, warung yang ku buka
itu sepi pengunjung, nah kalau begitu, aku takut anak-anak muda itu
patah arang, melihat warung sepi begini, mereka akan kembali menjadi
pemabuk lagi, bagaimana menurutmu Ian?”.
Aku merenung sejenak.
“Coba Can, kamu bel mereka, sekarang ini warung sepi apa enggak?”
“Maksudmu..?”
“Iya kamu bel aja, tanyakan warungnya
sepi apa enggak? Dan bilang nanti kalau warungnya rame, mereka suruh
ngebel kemari, biar aku wirid sebentar.”
Aku segera duduk menghadap kiblat, berdoa
pada Alloh supaya warungnya Macan ramai pengunjung dan melakukan wirid,
baru aku melakukan wirid setengah jam, hpnya macan berdering, dan
terdengar olehku Macan berbicara, aku tetap konsentrasi dengan wiridku.
“Sudah ramai Ian, warungnya, katanya sampai antri, dan terpaksa digelarkan tikar, karena tempat sudah tak muat.”
“Syukur Alhamdulillah… semoga bermanfaat, dan bisa menjadikan keimanan mereka menjadi kuat.” kataku mengakhiri wirid.
Malam itu aku tidur di sofa, karena
memang rumah Macan sempit, dan cuma ada satu kamar dan ruang tamu, jadi
aku tidur di sofa ruang tamu.
Pagi-pagi sekali setelah sholat subuh, aku mau pamit pada Macan. Dan ternyata Macan telah menungguku.
“Aku balik ke pesantren dulu ya Can…” kataku sambil meletakkan tasku di dekat pintu.
“Nanti dulu Ian… duduk dulu sini, aku ada
masalah serius nih.., nanti aja pulangnya setelah sarapan…” kata Macan,
dengan mimik muka serius.
“Ada masalah apa lagi Can..?”
“Saudara perempuanku ada yang kena musibah…”
“Musibah apa? Apa kecelakaan…”
“Bukan, tapi sakit usus buntu, dan mau
dioperasi, wah bagaimana nih ibuku minta kiriman untuk biaya operasi,
tapi aku tak punya uang… Apa kamu punya uang Ian..?”
“Wah aku juga tak punya, ini ada juga
paling tiga ratus, dari kyai dua ratus, dan uangku sendiri seratus, nih
pakailah…” kataku mengeluarkan dompet budukku, dan mengambil uang tiga
ratusan ribu. Dan menyerahkan pada Macan.
Kami terdiam sebentar, aku menyeruput
kopi yang disediakan Ida istri Macan, lalu kunyalakan rokok djisamsoe
filter, tiba-tiba ada ide kuat terlintas di benakku.
“Ah kenapa kita tak coba obati sendiri Can? Kita mintakan kesembuhan pada Allah, bagaimana?”
Kataku seketika mendapatkan ide, karena
aku pernah mendengar kyai mengatakan padaku, jika ilmu yang ku miliki
dan ilmunya Macan digabung, kekuatannya akan teramat dahsyat, karena
Macan diberi ilmu yang bersifat dingin, sebab Macan yang sifatnya
gampang emosi, sementara aku diberi ilmu yang bersifat panas, karena
sifatku yang lembek, Macan aja sering mengolokku, kalau aku ini ditipu
orang, maka yang nipu itu akan kesenengan sampai mati karena terlampau
seneng.
“Ah kalau mengobati dari dekat biasa, tapi dari jauh itu apa bisa? Masak obat ditransfer?” katanya ragu.
“Ee kamu lupa, selama ini kita mengobati,
hanya dengan doa, doa kepada Alloh, dan Alloh itu kuasanya tak ada
batas, kalau dia bisa menyembuhkan orang yang di dekat kita, tentu tak
sulit bagi Alloh menyembuhkan orang yang jauh dari kita, sebab, Alloh
tak dibatasi jauh dan dekat kuasanya,”
“Tapi caranya gimana Ian, aku tak ngerti?”
“Wah kalau itu aku juga tak mengerti,
selama ini, kita kan memang tak diajar apa-apa sama kyai, tapi jangan
takut aku ini kan tukang ngayal, moga-moga Alloh melimpahkan rahmatnya,
dan memberikan kesembuhan yang mutlak.”
“Lalu bagaimana Ian?”
“Begini, kamu telfon ortumu, saudarimu yang sakit siapa namanya?”
“Nafisah..”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar