Kamis, 18 Juni 2015

Nafisah..”
“Si Nafisah suruh duduk menghadap kiblat, dan di sini aku menghadap kiblat kau mengahadapku, bayangkan saja Nafisah di antara kita, kau arahkan tanganmu ke perutnya dan aku ke punggungnya, salurkan tenagamu, selanjutnya serahkan padaku, bagaimana?”
Macan mengangguk, lalu tanpa banyak cakap ia pun menelpon ibunya, dan menyarankan seperti yang ku katakan.
Sementara itu Nafisah yang dirawat di rumah sakit Aisiyah Bojonegoro, diminta duduk oleh ibunya menghadap kiblat, aku dan Macan juga duduk berhadap-hadapan, kami berdua berkonsentrasi membangkitkan kekuatan sirri yang ada di tubuh kami.
Aku rasakan kekuatanku telah bangkit dan mengalir ke telapak tanganku, juga kurasakan ada angin dingin, menghembus lembut dari arah Macan ke arahku, udara serasa bergumpal-gumpal, aku membayangkan tubuh Nafisah ada di depanku.
Memang kekuatan anugrah Alloh yang tak terlihat ini begitu dahsyad, aku pernah mencoba pada temanku Tarsan, saat itu pemuda yang jago manjat kelapa itu di depanku, kami sedang membicarakan tenaga yang ada di pusar, tapi pemuda itu tak percaya akan ada tenaga sehebat itu, lalu aku menyalurkan tenaga ke tangan dan mengaduk isi perutnya, padahal jaraknya denganku tiga meter, Tarsan muntahkan semua isi perutnya, lalu aku coba menulis namanya di udara dengan jariku, dan kupukul dengan tanganku, walau tanpa menyentuhnya dan Tarsan terpental.
Aku memejamkan mata dan membayangkan tanganku mengambil penyakit usus buntu yang ada di perut Nafisah, sementara gadis itu yang tengah duduk, merasakan hawa dingin merasuk dari depan dan hawa panas merasuk dari belakang, lalu dia merasakan seperti ada ribuan semut memasuki tubuhnya, dan seperti mengambil sesuatu dari dalam tubuhnya.
Nafisah merasakan seluruh tubuhnya seperti kesemutan. Aku dan Macan masih duduk, menyalurkan tenaga.
“Turunkan pelan-pelan Can, tenaganya jangan disentak…” kataku memberi aba-aba.
Dan selesailah proses pengobatan kami. Aku mengusap peluh di kening dan jidatku, begitu juga Macan.
Ku sruput kopi yang penghabisan dan menyalakan rokok.
“Selanjutnya bagaimana Ian?” tanya Macan.
“Ya nanti telpon lagi, minta dironsen ulang, moga-moga aja pengobatan kita berhasil, sekarang aku tak pamit dulu…” kataku.
Macan mengantarku dengan motornya, sampai ke terminal Kampung Rambutan.
Aku berangkat, memilih bus yang langsung menuju Labuhan. Aku mendapatkan tempat duduk, dan tidur setelah bus berangkat.
Kondektur membangunkanku, meminta uang tiket. Ah aku kaget, pias, setelah ingat uangku yang tiga ratus sudah ku berikan Macan semua.
Ah sial aku, sementara kondektur itu menungguku, aku bingung, dah merogoh-rogoh saku, dan serr..!
Di sakuku ada uang tiga ratus ribu, ah pastilah Macan yang memasukkan tanpa ku ketahui.
Ah sudahlah yang penting aku punya uang tuk membayar bus, ku berikan uang seratus ribu kepada kondektur, dan setelah diberikan kembalian, aku tidur lagi sampai bus nyampai di pertigaan Pandeglang, aku turun, ojek datang mengerubutiku, aku melihat mang Sofyan, yang rumahnya, di kampung dekat pesantren,
“Ojek mang..?” Kataku ke arah mang Sofyan.
“Ke rumah kyai ya jang..?” tanyanya.
“Iya mang., berapa?” tanyaku.
“Lima belas ribu jang…”
“Byuuh gak salah mang? Ini kan ojek bukan taksi…”
“Sekarang ini BBM dah naik jang, penumpang jarang.., jadi ya kenaikan berlipat, mau gak jang…”
Terpaksa aku menyetujui. Daripada ribet urusannya, padahal jarak antara pertigaan tugu dengan lereng gunung putri ini tak terlalu jauh, paling juga tiga kiloan, sebenarnya kalau jalan kaki lewat jalan kampung malah lebih cepat, tapi sudahlah.
Motor ojek mang Sofyan segera mengantarku, motor itu menggerung-nggerung, karena jalan aspal yang sudah rusak di sana-sini itu, lubang-lubangnya penuh dengan air bekas hujan semalam.
Jalan yang ku lewati ini sebenarnya telah diperbaiki berkali-kali, tapi uang untuk perbaikan jalan kebanyakan disunat sini, maka imbasnya jalanan hanya diperbaiki seadanya, jadi ya begini, baru beberapa hari kelihatan halus, jalanpun akan rusak lagi.
Akhirnya nyampai juga, baru saja ojek ku bayar, dan mang Sofyan berlalu, hpku bunyi, segera ku angkat, suara Macan dengan nada bahagia.
“Ian syukur, adikku tak jadi dioperasi, dah sembuh, dan sudah diijinkan pulang, makasih ya Ian…”
“Wah jangan berterimakasih padaku, kita kan cuma berusaha, kesembuhan ada di tangan Allah jua. Bersyukurlah pada-Nya.”
“Iya… iya… wah ceramah terus..”
“Eeh uangku, kamu masukkan sakuku, tanpa setahuku ya Can?” tanyaku ketika ingat uangku ada di saku.
“Ah enggak, ini masih ku pegang, iya… iya.., nanti aku kembalikan, sekarang ku pinjam dulu.. Jangan kuatir..” nadanya serius, setahuku Macan orangnya tak suka main-main, kalau bilang a ya a kalau bilang b ya b.
Lalu kenapa ada uang di sakuku..
Para santri segera menyambutku, dan bersalaman mesra, mereka-mereka seperti saudara-saudara kandungku.
“Mas Ian udah ditunggu kyai.” kata Mujahidi,. Bibirnya masih seperti dulu, dikelotoki karena sariawan, sehingga kelihatan jontor sana-sini, wajahnya juga makin banyak lubangnya bekas jerawat batu dipenceti, malah lebih kelihatan seperti kayu dimakan rayap, yah biarlah itu kesenangannya sendiri.
Aku segera berlalu, kulihat kyai berdiri di bawah pohon melinjo, aku segera menghampiri, dan bersalaman mengecup tangannya dengan takzim.
“Bagaimana, Macan tak mau?” tanya kyai. Sambil mengajakku duduk di kayu pohon sengon yang telah mengering, dan telah tumbuh jamur di sana-sini, jamur kecil-kecil berwarna kuning kemerahan.
“Dia tak mau kyai….”
“Ya sudah kalau tak mau, nanti kamu menjalani sendiri, kamu sanggup, menjalani laku gila?”
“Sanggup kyai..” jawabku mantap, “Sekarang pun kalau kyai memintaku berangkat, aku akan berangkat kyai…”
“Tak usah buru-buru, mungkin sebulan lagi…, nanti setelah sholat ashar, kamu aku baiat, dan nanti malam mulai melatih ilmu rogo sukmo…”
“Bagaimana aku melatih ilmu itu kyai? Sedang aku tak punya…” tanyaku meragu.
“Ilmu itu telah ada dalam dirimu, hanya kau tak tau, nanti kalau ingin melepas sukma baca ini…” kyai membisiki telingaku.
“Wah cuma dua lafat itu kyai..” tanyaku heran.
“Iya cuma itu, dan bayangkan tempat yang akan kau tuju…” kata kyai.
“Apakah ada pantangannya kyai?”
“Tidak, tidak ada pantangan, tapi hati-hatilah, karena bila merogo sukmo, kau akan melihat aneka macam mahluq Alloh, dan kalau bertemu jin fasik, pasti akan berantem, kalau kau merasa tak mampu lebih baik menghindar, dan jika kau butuh sesuatu di alam sukma, bayangkan saja dengan hayalmu…”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar