Kamis, 18 Juni 2015

telah sholat subuh, aku membuat sketsa lukisan dinding, sambil menyelesaikan wirid. Dingin masih menusuk tulang, teman-temanku habis wirid subuh semua kembali ke dalam selimut sarung, kamarku terasa dingin apalagi ketika angin masuk dari sela-sela papan kayu dinding kamar, yang pemasangannya asal-asalan.
“Mas…! Gak nyarap?” suara Khanafi santri dari Cilacap, berdiri di pintu kamar.
“La kamu gak puasa to Fi?” tanyaku balik.
“Wah mutung kang,”
“Halah Fi… Fi… La gimana to, apa kamu mau terus di pondok nyampai tua? Masuk aja Fi, gak dikunci kok…” kataku sambil terus membuat sketsa gambar.
“Lagi bikin apa mas?” tanya Khanafi setelah masuk ke dalam kamar geladakku, yaitu kamar yang beralaskan papan kayu.
“Ah, ini Fi lagi bikin sket, buat lukisan di aula belakang, duduk, tunggu bentar, entar nyari sarapan bareng.” kataku.
Hari makin beranjak siang, dingin pun kian hilang, meninggalkan titik embun di rerumputan, suara burung ramai bercicit, menyambut matahari yang telah mulai menyembul dari puncak gunung Putri. Seakan dunia ini betapa damainya, tak ada problem, tak ada dendam iri dengki, tak ada pembunuhan, kematian hanya terjadi karena kewajaran, seperti daun yang berguguran, seperti matahari yang terbit kemudian tenggelam. Angin pun mengalir dengan kasih sayang, alam dan manusia seperti keselarasan yang saling melengkapi, tak ada kejahatan manusia, atau jin, tapi dunia di luar tak sesempit harapan setiap orang. Aku pun selesai membuat sketsa, ketika jam tangan butut telah menunjukkan jam 7 pagi.
“Ayolah Fi, kalau mau nyari sarapan…” kataku setelah selesai memberesi buku. Dan kami pun beranjak untuk pergi ke tempat nyari makan di warung bu Enur, biasa makan nasi uduk, tak mahal cuma 1500 sudah bisa mengganjal perut, plus teh pahit gratis.
Sebenarnya di warung bu Enur, sudah jadi rahasia umum, bahwa setiap pemuda yang datang bukan hanya yang dituju makannya tapi anak gadis bu Enur yang cantik, manis dan centil, itu juga tak ketinggalan si Khanafi, dan aku ujung-ujungnya juga ikut ngelirik. Ah memang syaitan paling gampang menularkan penyakit menular, yang paling mudah yaitu nafsu. Melewati got-got aliran darah, dan menghangatkan hati yang kasmaran dengan bisikan-bisikan menghanyutkan. Dan membumbui sesuatu yang sepele jadi besar, bahkan jadi gunung yang siap meletus. Karena jaraknya cuma seratus meteran dari pondok, maka kami berdua pun cepat sampai, tapi rupanya teman-temanku yang ku kira mendengkur di bawah selimut ternyata sudah pada nongkrong di warung, sembari menggoda Afifah, anak gadis bu Enur yang tak bosan-bosannya melempar senyum termanis.
“Oalah, kalian sudah pada di sini to?” tanyaku dijawab dengan cengengas-cengenges si Kolil, Udin, Tarsan, Majid, dan yang lain. Mereka tak segera beranjak padahal semua nasi di piring sudah tak ada sebijipun. Heran!
“Ah mbok ya gantian to!” kataku agak jengkel, karena kursi penuh sudah tak ada tempat duduk.
Teman-temanku pun segera beranjak, “Udah deh mas, dienak-enakin aja, ku tinggal dulu.” kata Udin mewakili yang lain. Aku dan Khanafi segera memesan nasi uduk, yang segera dibawa keluar oleh Afifah, biasa Khanafi pun mengeluarkan jurus menggoda,
“Aduh ini nasinya apa orangnya ya, yang baunya harum?”
“Ih mas Khanafi bisa aja…” jawab Afifah dengan nada kenes.
“Mas Ian, tolong dilukis Afif dong…” katanya manja sambil duduk di sebelahku.
“Kamu minta dilukis?”
“Heeh…”
“Emang kuat kamu musti duduk seharian?”
“Jangankan seharian, bertahun-tahun duduk di depan mas Ian pun aku kuat.” jawabnya makin kenes dan manja, wah bisa membuatku tak bisa tidur. Sementara Khanafi makin mbesengut melihat Afifah dekat di sampingku. Afifah memang cantik, wajahnya mirip Bunga Citra Lestari, malah mungkin lebih cantik, kecantikan yang alami tanpa polesan, sebenarnya beberapa hari yang lalu, ketika aku belanja sendiri ke warung bu Enur dan Afifah yang melayaniku membeli menanyaiku,
“Mas Ian ini dari Jawa Timur ya?” kata bu Enur.
“Iya bu…” jawabku singkat.
“Belum punya istri kan mas?” tanya ibu Enur lagi.
“Apa bu?” kataku pura-pura tak mendengar.
“Enggak, kalau mas Ian belum punya istri, nyari aja di sini…” wah gelagatnya makin tak baik.
“Afifah ini anak ibu juga sudah besar dan sudah pantas bersuami,” kata ibu Enur tanpa basa-basi.
“Wah saya ini sudah punya istri tiga bu…” kataku berbohong,
“Ah tak mungkin itu, masak masih muda, sudah punya istri tiga,” kata bu Enur sambil tertawa.
“La mau bilang apa bu, kenyataannya memang begitu, kalau saya punya istri 3 lalu bilang masih perjaka, la nanti kalau ketahuan kan berabe. Mending jujur aja,” kataku meyakinkan.
“Wah kalau tiga tentu masih bisa tambah satu, maukan Fa jadi istri yang ke empat?” kata bu Nur ditujukan pada Afifah yang sedang ngupas bawang merah, dan Afifah manggut. Edan, aku jadi melongo, salah tingkah, ibu sama anak kompak banget ngerjain orang.
“Gimana mas Ian? Afifah sudah mau itu,”
“Wah harus ngasih makan empat orang bu, tiga orang aja mumet, apa kuat ya, kalau ditambah satu?” kataku seakan-akan perkawinan itu akan benar-benar terjadi.
“Mas, Ifah ini makannya sama tempe aja sudah mau, tak perlu yang mewah.” kata bu Enur, seakan memojokkanku.
“Sudah jangan terlalu dipikir, dijalani aja.” katanya.
Sementara itu Afifah yang masuk ke dalam, tiba-tiba menjerit, “Aduh tanganku terbakar…!” bu Nur pun lari ke dalam. Dan keluar lagi dengan Afifah sambil ngomel-ngomel.
“Kenapa tak hati-hati, sudah tau panci panas, malah dipegang.”
“Dikasih pasta gigi aja Fa, biar adem. Dan tak melembung.” kataku menyarankan. Afifah pun ke dalam dan keluar lagi sambil membawa pasta gigi yang disodorkan padaku.
“Oleskan…!” katanya manja, kulihat jarinya memang melepuh, dia mengulurkan jemarinya ke arahku dan aku pun mengoleskan pasta gigi perlahan. Mata bening Afifah menatapku, yang sedang tekun mengoleskan pasta gigi, lama ditatap aku jadi jengah.
“Mas, sayang aku enggak.?” tanyanya bergetar.
“Ya jelas aku sayang kamu, aku sayang semua manusia, walau kafir sekalipun, walau jahat sekalipun, kalau kafir, ya upayakan jadi muslim, kalau jahat ya upayakan untuk sadar, bukankah itu yang diperjuangkan Nabi, kalau tak bisa ya didoakan, bukankah Alloh menciptakan manusia atau hewan pasti ada maksud dan tujuannya. Kalau orang jahat dan kafir, itulah ladang amal yang harus digarap.” kataku panjang lebar.
“Alloh menjadikan ada yang muslim, ada yang kafir, ada kaya ada miskin, dan sebagainya, Alloh mampu menjadikan manusia muslim semua, tapi kenapa dia juga menjadikan garis manusia kafir. Alloh juga menjadikan kambing, tapi juga menjadikan srigala, kalajengking, macan.” kataku lagi.
“Wah mas maksudku bukan itu….” sela Afifah,
“Terus apa?” tatapku heran.
“Maksudku sayang antara lelaki dan perempuan?” kata Afifah menunduk.
“Kalau kamu gimana?” tanyaku balik, menutupi kebingunganku menjawab.
“Aku,” katanya sambil menunjuk hidung mancungnya yang mungil,
“Ah masak tak ngerti selama ini sikapku terhadapmu.” aku menerawang, memang Afifah selama ini sikapnya terhadapku teramat beda, cuma aku aja yang membutakan mata, tiap aku belanja di tokonya selalu dikasih apa-apa yang tak ku beli. Kadang dia sempat-sempatkan datang ke pondokku untuk memberi cemilan atau makanan. Ku pandang wajah Afifah, mata nan jeli, dan bening, bulu mata lentik, alis melengkung dan tertata rapi, seperti ditanam satu-satu, hidung mancung nan mungil, pipi putih seperti susu yang ditetesi setetes perasa strawberi, bibir yang tipis dan terbentuk seperti mudah pecah memerah tanpa gincu. Di atas bibir bulu kumis halus tumbuh seakan seperti polesan madu pada ujung es krim, dagu lancip tercetak penuh kehati-hatian, menunjukkan kekerasan hati.
“Gimana mas? Sayang enggak sama aku?”
“Siapa sih lelaki yang melihat bunga mekar sepertimu yang tak merasa sayang? Termasuk aku, aku lelaki normal,” kataku satu-satu.
“Makasih mas….” Afifah memotong ucapanku dan lari ke dalam rumah, dan sampai di pintu berhenti dan mengerling padaku, ah ancur-ancur kalau kayak gini…. bisa yang enggak-enggak, desah batinku, dan ku ambil belanjaan lalu pergi ke pesantren.
“Mas Ian, aku bener dilukis ya…!” suara manja Afifah memecah lamunanku. Ah kenapa perempuan lagi-perempuan lagi, yang akan memecah konsentrasi wiridku.
“Iya deh, kapan-kapan aku lukis,” jawabku daripada urusan jadi panjang dan bertele-tele.
“Berapa lama sih untuk nyelesaikan lukisannya?” tanya Afifah lagi.
“Ya tergantung media, dan cara nglukisnya, kalau pake pencil ya seperempat jam pun jadi, ya kalau pake air brush ya setengah jam jadi, kalau pake kuas, ya sehari jadi. Kamu maunya pake apa?” jelasku lengkap, kyak mau jual beli.
“Trus kalau air brush, itu nglukis apaan mas?” tanya Afifah serius.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar