Kamis, 18 Juni 2015

kalau air brush, itu nglukis pakai pena brush, pake tekanan angin compresor, sebenarnya biasanya dipake nglukis di motor atau mobil, pernah lihat kan bus yang dilukisin kuda lagi lari?” Afifah manggut.
“Nah itu nglukisnya pake air brush,” kataku sambil ngelihat Afifah yang melongo.
“Wah berarti wajahku mau dilukis di mobil ya mas?” tanya Afifah.
“Ya enggak lah, di media apa aja kan bisa, maunya kamu di mana, apa di viber?”
“Wah itu apa lagi mas, kok kyak nama susu?”
“Viber ya plastik akrilik, aduh susah deh njelasinnya….” kataku agak jengkel.
“Ya udah deh terserah mas Ian aja dech.” katanya menatapku jidatnya mengkerut.
“Wah aku malah tak kebagian…” celetuk Khanafi. Yang sejak tadi diam aja mengunyah nasi uduk.
“Ini nanti kesiangan, ayo balik dulu…” kataku seperti diingatkan. Kulihat jam tangan sudah menunjukkan jam sembilan lebih. Kami pun pergi meninggalkan warung, seperti biasa aku dibekali, kali ini krupuk jengkol sekresek. Lumayan buat cemilan.
Sampai di pondok aku segera mengajak Khanafi membuat adukan semen dicampur alkasit untuk memperlambat pengeringan semen, guna membuat ukiran kaligrafi semen. Hari berlalu begitu cepat, kebetulan malam nanti jum’at kliwon, tiap jumat kliwon di pesantren diadakan acara jamiyah khataman torekoh kodiriyah wanaksabandiayah, sejak sore, tamu yang akan mengikuti khataman sudah pada datang, selepas magrib mobil-mobil telah mulai memenuhi tempat parkir. Para santri sibuk menata dan mengarahkan parkir mobil agar mudah kalau mau masuk arena parkir, sementara santri yang lain menerima tamu, mengumpulkannya di majlis, majlis dzikir yang terbuat dari bambu. Berdinding kerai, dan beralaskan bambu yang dipecahkan dan dibentang, yah orang-orang yang datang dengan mobil mewah, dan yang datang dengan angkot, duduk bersama tanpa membedakan jabatan, atasan dan bawahan. Semua datang dengan niat masing-masing. Banyak yang membawa air botol aqua, juga berbagai macam senjata tajam semua ditumpuk di tengah-tengah majlis dzikir.
Kyai tak pernah menolak bagaimanapun orang yang datang, bahkan ada juga orang beragama Hindu dan Budha atau Kristen yang datang, walau ujung-ujungnya juga masuk Islam, tapi Kyai tak pernah memusuhi mereka, semua patut diajak ke jalan kebenaran dengan kehalusan budi, dengan kasih sayang, belum tentu yang sekarang jahat, yang sekarang kafir, nantinya malah meninggal dalam Islam. Dan sekarang yang Islam juga tak sulit bisa saja nanti mati dalam kekafiran.
Jam masih menunjukkan jam 9 malam, tamu sudah berjubel sampai jalan, padahal biasanya wirid dan dzikir dimulai pukul 11 malam. Aku masih di dalam kamarku, di depan kamar telah penuh orang, kunyalakan sebatang Djarum Super, dan kunikmati secangkir kopi Kapal Api Duo Susu, saat seperti ini apa-apa berlimpah, para tamu banyak yang membawa rokok berpak-pak, juga kopi dan makanan, kami anak pesantren yang jarang makan enak tentu seperti ketiban rizki, walau itu tetap kami anggap biasa. Kamarku dipakai nongkrong teman-temanku, sampai penuh sambil menunggu saat wirid dimulai, dan semuanya ngerokok, sampai asap memenuhi ruangan, kalau sudah begini pakaianku yang kugantung di gantungan baju, yang nantinya baunya kayak baju dukun lepus.
Nampak pak Made kepalanya nongol di pintu, pak Made adalah wartawan RCTI.
“Halah penuh.” katanya pendek.
“Iya pak, penuh asap,” kataku. “Masuk pak?”
“Enggak lah aku di depan sini aja.”
Aku ingat waktu pak Made pertama ke pesantren rombongan empat orang, pak Made asalnya beragama Hindu. Saat itu setelah menghadap Kyai. Semua orang dikupas satu-satu, semua melongo karena Kyai tau mereka habis berzina dengan wanita panggilan di salah satu hotel. Semua wajah menunduk seperti dihadapkan pada pengadilan Tuhan.
“Aku saja tahu dengan apa yang kalian lakukan apalagi Alloh, apa kalian berani menghadapi adzabNya?” kata Kyai walau masih dengan nada lembut. Besoknya pak Made disuruh membershkan diri di laut pantai Carita, dan setelah pulang dari pantai, maka pak Made dituntun membaca dua kalimat syahadah untuk masuk Islam, sejak itu pak Made aktif mengikuti jamaah torekoh kodiriyyah wankhsabandiyyah, aktif mengikuti jamiyah setiap bulan melakukan khataman.
Jam telah menunjukkan pukul 11 malam, dan dzikir berjamaah pun dimulai dipimpin langsung oleh Kyai. Para santri termasuk aku duduk di sekitar Kyai, dan para jamaah memenuhi majlis. Keadaan teramat kyusuk. Semua mengalir pelan, namun penuh ketenangan, sampai jam 3 dini hari dzikir pun selesai, kami makan bersama dengan nasi yang dibawa dari rumah makan NIKKI dari Subang, dan orang yang ingin menyampaikan keluhan menghadap Kyai, antri satu-satu.
Masih ada waktu sebelum subuh datang, aku pun pergi ke kamar, menyelonjorkan tubuh dan melafatkan ilmu melepas sukma. Sukmaku pun melesat, melintasi ruang dan waktu, ke arah sekolah angker di desaku, mungkin cuma lima menitan aku telah sampai, keadaan sepi, aku segera masuk ke dalam, tiba-tiba ku dengar suara,
“Nah ini orangnya sudah datang,” suara itu dari 2 arwah yang kemaren berantem denganku.
Tapi dari pintu melompat dua bayangan tinggi besar menghadangku,
“Lho kok sampean kang?” kata bayangan satu ke bayangan yang lain. Seorang berkumis tebal melintang dengan pakaian ala Madura.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar