Kamis, 18 Juni 2015

Aku dipanggil muridku untuk menghadapi pengganggu ketenangan tempatnya,” kata bayangan satunya berpakaian besar ala warok Ponorogo.
“La sampean dulu meninggalnya kenapa kang?” tanya orang yang berpakaian warok.
“Aku menemukan lawan yang tangguh di, dan dia melukai punggungku sampai sobek melintang, yang mengakibatkan kematianku.” jawab orang yang berpakaian adat ala Madura sambil menunjukkan luka menganga tanpa darah di punggungnya.
“La kamu matinya bagaimana di..? Bukannya kamu punya ilmu kebal senjata?” tanya orang yang berpakaian warok,
“Ah, kang, ilmu kebalku ternyata ada yang mampu menembusnya, lihat ini perutku…” orang yang berpakaian ala Madura itu menyingkap pakaian penutup perutnya dan luka menganga menyobek perutnya sehingga ususnya terburai.
“Ya udah lah kang, sekarang kita membereskan orang yang mengganggu murid kita.”
“Duar….!” suara letupan pecut hampir saja merobek telingaku, pecut tambang yang sebelumnya mengikat kepala warok Wiro Gubras, si Madura itu memanggil, tiba-tiba dilolos dari kepalanya dan dihantamkan ke arahku yang sedang berdiri mengawang di atas meja, untung aku terpeleset, sehingga lecutan cambuk tak mengenaiku tapi aku terjengkang di lantai. Tanpa daya. Aryo Lincang nama orang berpakaian Madura itu melompat menebaskan cluritnya, aku benar-benar tak berdaya, tubuh kaku dan tak bisa digerakkan sama sekali. Aku sudah berusaha menggerakkan tubuhku tapi rasanya tubuhku seperti terhipnotis. Aku hanya bisa mendelikkan mata, ketika clurit Aryo Lincang menderu ke arah dadaku. Dan “wuuut….!” begitu saja Aryo Lincang terlempar seperti daun yang diterbangkan angin. Dan bau harum tapi lembut kuhirup seperti melepas kelumpuhanku, nampak orang berpakaian jubah putih membelakangiku, orang tinggi besar, dengan surban pengikat kepala ala Mesir, juga berwarna putih.
Singo Gubras dan Aryo Lincang juga kedua muridnya segera melompat dari jendela, saat mengetahui orang yang datang. Dan segera lenyap ditelan kegelapan. Orang yang datang dan membelakangiku itupun membalik tubuhnya, ketika aku tau itu siapa, aku pun bersimpuh takzim, ya Syaih Abdul Qodir Aljailani, ketiga kali ini mendatangiku, dengan idzin Alloh menolongku, aku segera menyalaminya tanpa berani menatap agung wajahnya.
“Nah inilah ngger, maksudku, kenapa dulu aku menyuruhmu untuk segera berbai’at toriqohku…” katanya dengan penuh perbawa yang sulit diceritakan dengan kata-kata. Aku masih menyucup tangannya ketika Syaih telah pergi dari hadapanku.
Perlahan aku bangkit, dalam benakku timbul semangat untuk lebih banyak melakukan amaliyah, agar aku tak tertaklukkan oleh syaitan dan jin yang durjana. Aku pun segera melesat pulang. Sampai di pesantren telah subuh, aku segera mengambil air wudhu dan sholat subuh, habis sholat aku wirid wajib. Dan kemudian berangkat tidur. Jam 11 siang pergi ke sungai mandi, setelah mandi aku kembali ke pesantren, ada Macan dan pak Abdulloh tamu Kyai. Aku segera menyalami, pak Abdulloh bertanya, “Orang mana ni?” tanyanya singkat sambil tertawa.
“Orang Tuban pak.” jawabku juga singkat. Kami pun ngobrol panjang lebar, karena ternyata kami adalah tetangga desa, satu kecamatan. Sehingga seperti ketemu saudara. Setelah lama kami ngobrol tiba-tiba pak Abdulloh berkata ditujukan pada Macan.
“Can, Ian ini dikawinkan sama adikku, cocok gak Can?” kata pak Abdulloh yang membuatku kaget. Aku kaget, bukan apa-apa, terus terang walau aku tak pernah merasa rendah diri karena kemelaratanku, tapi melihat pak Abdullah yang kaya raya, punya banyak perusahaan, mobil mewah berderet-deret, masak menghendaki aku jadi adiknya, ah aku bukan tipe orang yang matrialistis, aku tipe orang yang bahagia dalam kemiskinan, susah dan suntuk kalau kaya, mimpi pun jadi kaya tak pernah terbayang dalam benakku, karena bukan cita-citaku, cita-citaku sepele, bahagia di jalan Alloh, ini ditawari kawin milyarder, ah enggak lah…!
“Wah cocok sekali pak,” kata Macan mengerling penuh arti.
“Alah jangan bercanda ah, nanti jadi beneran.” kataku rikuh.
“Bercanda gimana? Ini serius.” kata pak Abdulloh.
“Wah saya belum berani kawin pak,”
“Jangan-jangan kamu mandul, tak bermutu, gak berfungsi, ckakaka…” Macan ngakak.
“Eh jangan kira…. paling kamu yang lembek, harus dibantu pake lidi….” kataku jengkel emang Macan kalau bercanda suka kelewatan, walau ku akui tak ada temanku sebaik Macan.
“Gimana, mau enggak?” tanya pak Abdul mendesak.
“Wah nanti dulu lah pak, aku pikir-pikir dulu, lagian pak Abdullah kan belum tau siapa aku?”
“Halah jangan banyakan mikir, keburu karatan.” Macan ngakak lagi. Setelah Macan dan pak Abdulloh pergi aku pun mikir, ah mungkin Alloh lagi mencobaku, sejauh mana aku tahan oleh godaan. Aku makin serius dalam wiridku, tak ada waktu tanpa wirid sampai-sampai semua wirid yang dibebankan oleh Kyai selesai semua. Malam itu aku dipanggil Kyai menghadap,
“Ada apa Kyai?” kataku, setelah ada di depan Kyai.
“Ini ada yang nawari,” kata Kyai sambil ketawa.
“Nawari apa Kyai?”
“Nawari nikah, mas Ian ikut saja, nanti dilihat cocok apa enggak, kalau cocok, ya bagus, biar mas Ian jadi orang sini aja, biar dekat sama Kyai.” lagi orang nawari nikah, aku jadi berpikir apa aku ini sudah saatnya nikah? Ataukah ini cuma ujian dari Alloh? Entahlah.
Malam itu pun aku ngikuti Kyai naik mobil kijang hidrolik meluncur ke tempat yang dituju, ke sebuah pesantren Salafiyah, tak jauh amat dari pesantrenku, sekitar 10 kiloan, kami disambut oleh Kyai pesantren bernama kyai Ghofur, orangnya sudah tua sekali, jenggotnya putih sampai ke dada, wajahnya putih kemerahan penuh wibawa. Pesantren yang ku datangi, lumayan banyak dan tempat pemondokan dari bambu beratap daun alang-alang, dan yang lebih mengesankan pesantren sama sekali tak berlistrik, karena di pesantren ini memang tidak boleh memakai listrik, jadi penerangan memakai lampu minyak, aku, kyai dan sopir segera dipersilahkan.
Setelah duduk, Laila Aulya gadis yang dijodohkan denganku keluar, membawa makanan dan minuman, Kyai mencolek lenganku, “Gimana cantik gak?” kata Kyai dengan nada berbisik. Aku pun tanpa sadar menatap gadis yang meletakkan minuman di depan. Mak deg! Aku terpana melihat kilauan bintang gemintang di tengah telaga mata Laila. Wah kecantikan yang sempurna, hidung ala artis India. Membuatku tak sengaja mengelus pipi, karena membayangkan andai pipiku dicium olehnya aku lebih takut hidungku akan terluka oleh lancip mancung hidungnya. Bibir yang seperti dibentuk dengan kehati-hatian ranum dan seakan menyimpan berbagai rasa buah, ah aku jadi ngelantur,
“Udah jangan lama-lama memandangnya.” bisik Kyai. Mak deg! Ketika mata Laila mengerling padaku, untung aku duduk di atas kursi, kalau berdiri mungkin aku langsung terjengkang pingsan, aku lelaki biasa, yang masih punya perasaan sebagaimana lelaki pada umumnya, tapi aku juga Febrian lelaki kerdil dengan segudang kekurangan, salah satu kekerdilanku adalah tak berani beristri terlampau cantik, takut nanti rusak bila ku sentuh dengan tangan kasarku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar