Laila bagiku terlampau cantik dan mahal,
ah aku ingin yang biasa, aku tak mau nanti terlalu jatuh cinta dan
mengenyampingkan Alloh, aku tak mau menduakan Alloh, lebih baik tak aku
terima, sebelum cinta ini terhunjam dalam menawan seumur hidupku.
Melupakan siapa aku, “Cantik sekali, Kyai.” bisikku.
“Ya kalau begitu tak usah,” bisik Kyai
seakan telah membaca galau hatiku. Dan terasa aku dibebaskan dari
himpitan gunung. Mak plong.
Kami pun ngobrol dengan kyai Ghofur
sampai larut malam, dan kembali pulang ke pesantren Pacung dengan
perasaan lega. Pagi baru saja beranjak, aku memasukkan baju dan
keperluan ke dalam tas punggung butut andalanku, untuk pergi ke Jakarta
mencari uang untuk keperluanku hidup di pesantren. Yah beginilah
hidupku, hidup di pesantren kalau uang ada, kalau uang habis, ya aku
harus nyari lagi, walau makan sudah dijatah kyai, tapi aku orang yang
tak suka terus-terusan jadi benalu, hidupku adalah aku yang harus
menjalani dan membiayai. Untung masih ada uang untuk ke Jakarta, ke
tempat temanku, Macan atau tempat temanku Karim di Cipinang Muara.
Setelah pamitan kepada Kyai aku pun beranjak, baru seratus meteran
berjalan ada mobil di belakangku. Pak Jahru. Bos barang bekas, tamunya
Kyai mengklaksonku.
Aku berhenti, dan mobil kijang warna biru berhenti di sampingku, kaca pintu terbuka,
“Ayo naik…!” kata pak Jahru, dengan tawa khasnya.
“Mau kemana mas?” tanyanya setelah aku duduk di kursi jok.
“Ke Jakarta pak.” jawabku enteng.
“Wah kalau begitu mas Ian tak anter aja, Jakartanya mana?”
“Ke Cipinang Muara pak.” Mobil pun jalan, lumayan ada nunutan, jadi gak usah keluar uang.
Pak Jahru, adalah pengusaha sukses barang
bekas, orangnya pendiam tak banyak bicara, menurut ceritanya dulu dia
orang miskin, sekolah aja mungkin sampai kelas 4 SD. Lalu merantau ke
Jakarta dan menjadi pemulung, suatu hari tengah ia memulung didatangi
pemilik pabrik besi untuk membersihkan besi bekas, nah disaat yang
hampir bersamaan datang juga orang minta dipulungkan besi, maka pak
Jahru pun tinggal mengoper. Itulah awal karir pemulungnya menanjak,
sekarang yang dipulungnya sudah alat berat kyak buldoser. Dalam
perjalanan sampai Jakarta aku tak banyak omong dengan pak Jahru, aku
diantar sampai ke Cipinang Muara, sebelumnya diajak ke tempat pak Jahru
menginap semalam dan besoknya aku diantar ke kontrakan Karim, teman
sekolahku waktu di MI. Di tempat kontrakan kumpul teman-teman sedesaku.
Ada Sengkle, Renges, Tro, Klewer, ah memang nama panggilan semua, sampai
nama aslinya kami sudah lupa, dan nama-nama itu jadi simbol keakraban,
satu nasib sepenanggungan.
“Wah kamu di sini juga Nges.” tanyaku
ketika teman sepermainanku di kampung ini menyalamiku, Renges, pemuda
seumuranku 24 tahun, hidung pesek habis, lubang hidung melebar, karena
sering dicongkel-congkel pakai jari, untuk mengambil kotoran hidung,
kadang dia mencongkel hidung ngotot sambil berpegangan pada tiang, kayak
sesuatu yang teramat susah diambil dan membutuhkan tenaga extra,
rambutnya panjang sebahu, wajahnya lebih mirip Kaka personel SLANK.
“Iya Ian, dah datang sebulan yang lalu, kamu ndiri kesini ngapain?”
“Wah, aku mau nyari uang saku untuk di pondok.” kataku.
“Eh Ian, dah lama datangnya.” Karim masuk
kontrakan, langsung menyapaku, dia baru datang, kerjanya di kantor
miliknya pak Abdullah.
“Baru aja Rim.” jawabku.
“Trus ada perlu apa?”
“Biasa nyari tambahan modal untuk di pondok alias nyari kerjaan.”
“Iyalah besok aku cari’in kerjaan.”
Begitulah dialog-dialog ringan di antara
kami. Tapi setelah itu nyampai seminggu pun aku belum dapat kerjaan,
makan nebeng, ah jadi tambah susah.
“Wah sudah ku carikan pekerjaan, tapi susah tak dapat-dapat tuh Ian, gimana?” tanya Karim pada suatu sore.
“Wah gimana ya Rim, la aku kalau balik ya lebih repot lagi,” jawabku prihatin.
“Kenapa gak bikin lukisan sendiri aja Ian?” sela Renges.
“Nanti tak bantu njualin deh.”
“Wah kalau itu perlu modal Nges…”
“Biar aku yang modalin, kamu anggep beres aja, butuh berapa?” kata Karim mantep.
“Ya paling butuh 4 ratusan ribu,” kataku.
“Ya udahlah besok beli barang
keperluanmu.” kata Karim. Maka besoknya aku pun beli barang keperluan,
aku membuat lukisan kaca, yaitu lukisan kebalik. Melukis dari dalam,
jadi bisa dilihat dari luar. Kelihatan bagus, tiga hari ku selesaikan
lukisan besar, enam buah lukisan pemandangan. Setelah selesai dibingkai,
aku dan Renges mulai menawarkan lukisan dari pintu ke pintu, dari gang
ke gang, banyak yang melihat lukisan, dan menawar tapi tak ada yang mau
beli setelah ku kasih tau harganya, satu lukisan ku tawarkan dengan
harga 2 ratus ribu. Untuk mengejar isi perut yang keroncongan.
“Nges, perasaan kita muter-muter di jalan ini-ini aja?” kataku pada Renges sebagai penunjuk jalan.
“Maksudmu kita bingung?” kata Renges, seakan aku tak percaya atas kefasihannya menghafal jalan Jakarta.
“Iya.” jawabku, dari pada muter-muter lagi. Karena perut belum keisi dan pegelnya kaki minta ampun.
“Aku ini sudah hafal jalan di Jakarta, lebih hafal jalan dari pada mata pelajaran di sekolah.” kata Renges sambil nepuk dada.
“Hafal jalan aja bingung, apalagi tak hafal jalan?” kataku jengkel.
“Kamu itu yang bingung, karena lukisannya tak laku.” kata Renges juga marah.
“Udah gini aja, kita lihat tuh ada toko
Sarinah, nah mari kita jalan, apa balik ke toko Sarinah lagi apa
enggak?” kataku menengahi keributan kami, dan kami pun melanjutkan
perjalanan. Dan memang sesuai dengan apa yang aku bilang, kami kembali
ke toko Sarinah.
“Heran, kenapa bisa bingung gini ya?” kata Renges sambil duduk di regol.
“Udah nges, mending kita cari masjid, ini
waktu dzuhur hampir habis.” kataku sambil lalu pergi nanya pada orang
arah masjid, dan kami pun ditunjukkan masjid yang jaraknya 300 meteran.
Kami pun segera pergi ke masjid dan menjalankan sholat dzuhur. Selesai
sholat kami memajang lukisan di depan masjid, yang kebetulan pertigaan
jalan yang ada pohon mahoni tua.
Tapi sampai jam menunjukkan jam setengah
lima, tak juga ada yang beli, walau banyak yang nawar, tapi sebatas
nawar, kalau harus pulang ke kontrakan dengan tanpa lukisan terjual sama
sekali, ah betapa jauhnya, kami berdua harus berjalan, belum lagi perut
yang lapar karena dari pagi kami belum makan. Ah kami lebih parah dari
pada tentara yang kalah perang, pulang memanggul senjata, setidaknya
mereka punya uang.
“Gimana Ian?” kata Renges, wajahnya yang bertampang suntuk, makin suntuk aja.
“Aku tak kuat, kalau gini, udah jauh,
perut lapar, bisa klenger beneran nih,” tambahnya, makin menambah beban
masalah aja keluhnya.
“Ya mau gimana lagi Nges, la emang tak laku,”
“Satu aja dijual 50 ribu aja deh, buat naik angkot. Dan untuk beli nasi bungkus” katanya mengiba.
“Ya udahlah nanti kalau ada yang nawar,
kasihkan aja,” kataku agak berat, karena kepikiran untuk mengembalikan
uangnya Karim. Selang beberapa menit, ada sepeda motor menghampiri kami
dan menanyakan harga lukisan, e udah dikasih harga 50 ribu rugi harga
produksi, masih tak laku juga, maunya 30 ribu, ya jelas aku tak mau,
memangnya kacang garing, semurah itu, orang bermotor itupun pergi,
meninggalkan harapan kami yang tercabik-cabik.
“Wah..! Udah Ian aku tak kuat lagi,
mending sekarang pulang aja, daripada nanti kemalaman.” kata Renges,
kayak mau nangis, rupanya keuletan dan kesabarannya telah memasuki batas
toleransi.
“Gini aja, biar aku wirid di dalam masjid
sebentar, siapa tau masih bisa laku, kita masih punya Alloh, aku akan
meminta supaya lukisan kita terjual.” kataku masih sabar.
“Ah Jakarta ini keras Ian, tak ada Alloh, Allohan, di sini itu siapa kuat maka jaya.” kata Renges masgul.
“Tapi ndak salah kan dicoba?”
“Ya udahlah sana, biar aku nunggu di sini, jangan lama-lama…!”
“Setengah jam aja.” kataku sambil berjalan ke dalam masjid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar