Kamis, 18 Juni 2015

menjadi istri ki gerot, Sunti masih menjadi penari ledek, karena didukung oleh susuk ki gerot yang ampuh, Sunti pun menjadi ledek yang laris dengan bayaran tinggi, dan uangnya semua masuk ke kantong ki gerot, membuatnya jadi orang terkaya di kampung Degan.
Tapi sesuatu yang dilakukan di luar sunatulloh atau aturan hidup yang diatur oleh Sang Pencipta, maka adalah kerusakan.
Alloh Taala melarang sesuatu, bukan untuk kepentingannya, tapi untuk kehidupan tentram manusia, sebab sesuatu dilarang itu karena bahayanya lebih besar dari manfaatnya.
Seperti memasang susuk, karena Alloh melarangnya, maka itu adalah perbuatan yang membahayakan diri, dunia dan akhirat.
Disamping tidak bersyukur atas anugrah Alloh, juga terlalu tak menerima kodrat yang telah Alloh berikan.
Satu ketika, seperti biasa, Sunti ditambah lagi susuk intan di dagunya oleh ki gerot.
Awalnya tak apa-apa, tapi selang tiga hari dagu Sunti membiru, dan Sunti kejang-kejang.
Ki gerot pontang-panting, membawa Sunti ke rumah sakit, tapi pihak rumah sakit tak tau penyakitnya..
Sementara Sunti sudah berulang kali tak sadar, dan akhirnya Sunti meninggal dengan wajah lebam membiru.
Hari itu juga Sunti dikuburkan, dengan sederhana.
Namun esoknya semua orang kampung Degan geger karena melihat makam Sunti kosong. Dan mayatnya hilang tak tau kenapa.
Awalnya yang tau adalah penggembala kambing yang biasa menggembala di area pemakaman. Ketika dia tau bahwa kubur Sunti dibongkar orang.
Sebenarnya apakah yang terjadi? Malam itu setelah siang tadi Sunti dikuburkan, kira-kira jam satu dinihari, nampak pekuburan Sunti bergerak-gerak, asap tipis bau daging terbakar menyeruak, tiba-tiba, “bleg..!” Terdengar ledakan seperti petasan dalam tanah, dan terlemparlah tubuh Sunti, seperti gedebok pisang tapi langsung melayang pergi.
Sementara itu ketika jam menunjukkan jam tiga seperempat, seorang perempuan tua tergopoh-gopoh, berjalan melintasi jalan raya dekat pemakaman, orang biasa memanggilnya Nyiyam, seorang dukun beranak yang mendapat panggilan di desa Karanglor, dia harus melewati pekuburan Degan, ada rasa merinding di tengkuk Nyiyam.
Perempuan umur enam puluh tahunan itu menguatkan hati, memang dia rasa malam ini terasa sunyi, suara jengkrik aja tak ada, atau suara katak setidaknya untuk menghiburnya.
Hanya suaru burung hantu, kadang dari jauh terdengar satu, malam yang teramat mencekam, bulan di atas pun yang tinggal seujung kuku seperti diselimuti warna hitam, walau tak ada mendung, kabut tebal mulai turun, walau tak menahan jarak pandang, tapi bagi perempuan tua setangguh Nyiyam, itu bukan apa-apa, walau sebagai manusia, rasa takut seperti menggelitik perasaannya.
Soal digoda hantu, perempuan tua ini pengalamannya sudah tak terhitung lagi, dari ditiup obornya terus, dilempar ke kali, bahkan pernah ditemukan warga di tengah-tengah pohon bambu, sehingga warga harus mengeluarkanmya dengan menebangi pohon bambu.
Keadaan teramat sunyi, hanya sandal jepit tipis, yang sebagian sudah berlubang karena gesekan, terdengar srek-srek, seakan paling berisik sendiri, ah entah telah berapa tahun sandal ini menemani tugasnya. Melintasi malam, mengukur keihlasannya menolong perempuan yang akan melahirkan, yang kadang hanya diupah setandan pisang, atau cuma ucapan terimakasih saja.
Nyinyam mengetatkan selendangnya, ketika dia rasakan bulu kuduknya makin meremang, ah makam juga sudah terlewati, dan di depan adalah pos kampling, apa yang ditakutkan, mungkin masih ada yang jaga…, tapi kenapa seluruh bulu di tubuhnya berdiri semua, Nyiyam mempercepat langkahnya, apalagi di pos kamling jarak sepuluh meter dia melihat bayangan orang dari mata rabunnya. Bajunya putih dan sarungnya putih.
Nyiyam telah memutuskan, dia tak akan menyapa pada petugas ronda, dan kalau dia disapa akan menjawab, dan kalau tak disapa maka akan berlalu saja, tapi kenapa dia merasakan makin merinding saja.
Tepat di depan bayangan yang ada di pos,
“Mau kemana Nyi…?” suara perempuan, serrr…! Semua bulu kuduknya berdiri tegak semua, kepalanya sampai terasa keribo, bukan suara perempuan yang membuatnya merinding, walau itu juga iya, tapi yang lebih membuatnya merinding adalah suara itu seperti suara dari alam lain, bukan alam ini, tapi alam kegelapan.
“ss….ssa…s..siapa., k..kau..?” Nyiyam merasakan lidahnya seperti selembar triplex yang diemutnya, kaku tak bisa digerakkan untuk mengeluarkan ucapan.
Perempuan di depannya ini menunduk, rambutnya gimbal, dan masih ada tanah menempel. Sebagian rambut menutupi wajahnya hingga tak terlihat.
“hii…hik…hihihh….” terdengar suara tertawa yang teramat aneh, yang membuat kaki Nyiyam gemetar. Bahkan kencing pun merembes dari jaritnya ketika bau bangkai menyengat terbawa angin, bau bangkai orang mati.
Walau bagaimana nenek tua ini masih berusaha tabah, untung ia ingat Alloh, setidaknya mengurangi, ketakutannya.
“Kau ini siapa nduk? Kembalilah ke tempatmu nduk…?” kata Nyiyam yang mulai kuat menahan batinnya.
“Aku Sunti nyai…, aku tak diterima nyai… tolooong aku nyai… huhuu…” suara perempuan itu mengguguk.
“Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku ini orang bodo…” kata Nyiyam kemudian dalam hati membaca ayat kursi berulang-ulang.
“Aduh nyai panas… panas… Aduuuuuh kau apakan aku nyai..?” perempuan itu menjerit dan tubuhnya seketika melayang ke atas, dan melayang pergi sambil ketawa hahahihi.
Sejak malam itu, rumah ki Gerot pun diganggu dan diteror Sunti yang krambyangan, sampai karena sudah tak kuat, dukun yang anti ngaji itupun mengundang orang-orang untuk mengaji di rumahnya, sampai gangguan dari Sunti tiada lagi.
“Maukah kau ku sempurnakan?” tanyaku pada Sunti.
“Hihi…. bocah bau kencur… mau melawanku, hiiihii….!”
Aku tanpa kata lagi jariku kuputar, seakan melingkarinya lalu kutulis bak di tengah, seketika.
“Hai apa yang kau lakukan padaku?” tanyanya, karena tubuhnya terkurung.
Lalu kubaca basmalah tiga kali, tahan nafas, kullu saiin halikun illa wajhah. AllahuAllahu. Allahu akbar!!, tangan yang telah tersaluri tenaga dari pusarku ku hantamkan berbareng, dengan tapak tangan terbuka ke arah Sunti, dan “hlukgh!!”, terdengar ledakan kecil, dan sebuah asap mengepul, bersatu tersedok ke satu titik lalu lenyap.
Mungkin sudah jam tiga pagi, aku segera melesat, di atas desaku, melesat kucepatkan, aku ingin mencoba paling cepat les.. Kurasakan aku telah ada dalam tubuhku sendiri. Dan kulihat jam tanganku, jam tiga seperempat.
Aku menata bantal dan tidur, ah pengalaman rogo sukmo pertamaku. Lumayan mengesankan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar