Kamis, 18 Juni 2015

Terima kasih kyai, saya mau istirahat dulu…” setelah berpamitan aku pun menuju ruang pembuangan jin yang luas, untuk tidur siang sebentar, dan aku agak masuk angin, maka aku akan meminta pijit pada jin.
Pintu gerbang besi bercat hijau kubuka, suara menderit khas besi yang tak pakai oli terdengar. Dan udara dingin menusuk kontan kurasakan, nyeess! Lebih dingin dari AC karena udara dalam rumah pembuangan jin ini tak berjalan.
Rumah ini walau tak pernah dimasuki orang, tapi tampak bersih keramiknya. Cat temboknya banyak yang mengelupas, dulu cat ini aku juga yang mengecatkan, dengan motif whoss, yaitu kain disobek-sobek seperti kain pita, setelah segenggaman tangan lalu diikat, nah ujung kain itulah yang dibuat menjadi motif, dicelupkan ke cat dan dikecrok-kecrokkan ke tembok. Untuk hasil yang sempurna, cat tembok putih dicampur cat pigmen sebagai pewarna. Dan binder sebagai pengikat, maka setelah kering warna akan menyatu, jadi orang melihat seperti kertas wallpaper yang ditempelkan.
Warna tembok ku motif warna bunga lavender, dan di tembok lain ku motif bunga tulip.
Aku segera mencari tempat untuk tiduran, aku dekati tiang besar, ku cium bau wangi menusuk, aku tak jadi, karena mengira pastilah jin wanita, nanti bisa-bisa tak tidur, malah main cinta.
Aku memilih di ruang sebelah, ruang ini luasnya delapan kali lima meter, cukup luas, aku menggeletak di pinggir tembok. Ku eratkan jaketku, untuk mengurangi hawa dingin. Jam tangan ku lihat pukul sebelas siang.
Kurasakan ada jin yang mendekatiku, dari arah kananku, karena pipiku menebal, kuucapkan salam dalam hati, dan kukatakan aku ingin dipijat, walau aku belum bisa melihat mereka karena rendahnya ilmuku, tapi aku bisa merasakan kehadiran mereka.
Kurasakan tanganku ada yang memegang dan memijid-mijid, juga kepalaku, lalu kakiku juga ada yang memijid, rupanya dua jin yang memijidiku, aku mulai keenakan dan mengantuk, sebelum tidur aku minta dibangunkan jam dua, akupun tertidur.
Aku terbangun, ketika kurasakan ada yang menggelitik kakiku, kubuka mata dan kulihat jam menunjukkan jam dua lebih satu menit.
Aku pun bangun dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Lalu beranjak pergi.
Mengambil sabun yang biasa kuselipkan di bawah para-para, kemudian pergi ke sungai,
“Gak makan dulu mas? Nasinya ada di dapur…” kata Jauhari dan Kholil ketika berpapasan denganku.
“Ah nanti aja.., ” aku segera berjalan di jalan berbatu yang menuju sungai, dan melompat ke pematang sawah, setelah melewati dua kotak sawah aku pun sudah sampai di tempat anak-anak pada mandi, masih ada Tarsan dan Majid masih sibuk mandi, aku pun bergegas mandi, setelah mengganti sarung dengan celana pendek khusus mandi, aku pun mencebur,
“Awas mas, banyak lintah…!” suara Tarzan memperingatkan, tapi terlambat, karena ada kurasakan sesuatu menempel di dekat mata kakiku, aku segera keluar dari air dan naik ke atas batu bundar pipih, sebesar kerbau yang ditempati Tarzan mencuci.
“Wah ketampel lintah nih…” kataku melihat binatang hitam ada garis coklat, yang tak lain lintah.
“Biar mas tak ambilnya mas…” kata Tarzan
Kemudian tanpa jijik, membetot lintah dari kakiku.
“Untuk apa Zan?”
“Biasa mas, untuk memperbesar…”
“Jangan terlalu besar, nanti tak ada wanita yang mau menikah denganmu lo…”
Setelah mandi aku cepat-cepat kembali ke kamar, dan sholat dhuhur, melakukan dzikir setelah sholat, dan pergi ke dapur, ternyata teman-teman masak urap, yaitu sambal kelapa, karena paling mudah, kelapa tinggal manjat, lalapan daun pepaya dan daun kopi muda, sedap juga.
Setelah makan terdengar adzan sayup-sayup sampai dari masjid yang teramat jauh. Aku bergegas mengambil air wudhu dan sholat ashar, setelah dzikir aku pun menghadap kyai, untuk dibaiat. Teman-temanku semuanya telah berkumpul.
Aku pun diminta duduk menghadap kyai, tangan dijabat dan menerima ijab, dan kobul, seperti dalam pernikahan. Cuma isinya bukan tentang nikah, tapi siap sedianya diri menjalankan syariat Islam secara kaffah, dan bersedia menjauhkan diri dari segala macam perbuatan dosa.
Baiat pun selesai, dan kami mendengarkan petuah-petuah kyai, dari bagaimana baiat dilakukan oleh Rosululloh, dan dijelaskan untung ruginya.
Hari makin sore, para santri melakukan tugasnya masing-masing, aku memilih memasak.
Menggoreng jengkol dan membuat sambel tomat, wah sedap sekali.
Malam itu setelah isyak aku disuruh kyai latihan ilmu rogo sukmo dalam kamar.
Pintu kamar ku kunci, deg-degan juga aku, karena aku belum tau akan bagaimana nantinya. Ku duduk membaca Alfatehah tiga kali, Annas tiga kali, Alfalaq tiga kali, ayat kursi tiga kali, lalu kutiupkan tangan dan ku usapkan ke seluruh tubuh.
Kemudian aku tiduran, memejamkan mata dan membaca doa yang tadi siang diajarkan kyai, tak lupa membaca basmalah tiga kali tanpa napas.
Leess!! Aku seperti begitu saja tertidur, tau-tau aku telah di atas tubuhku sendiri. Melayang di udara, sementara jasad kasarku tergeletak dalam kamar.
Aku segera keluar kamar menembus dinding, bersalto di udara, terbang kesana kemari, hinggap di pucuk pohon kelapa, lalu terbang lagi, sungguh terasa bebas dan nyaman, aku menghampiri majlis dzikir, masih melayang-layang, kulihat semua santri selain diriku tengah konsentrasi dengan wirid masing-masing, sementara kulihat kyai juga tengah duduk memangku bantal tidur, dan tangan kanannya tak henti memutar tasbih, kyai menatapku dan tersenyum, lalu mengangguk.
Itu sudah cukup sebagai isyarat bagiku, akupun melesat pergi, membumbung tinggi ke angkasa yang gelap, dan hanya diterangi oleh beberapa bintang yang nampak.
Sebenarnya tujuanku adalah desaku sendiri di kawasan kabupaten Tuban, karena aku selama ini teramat heran, dengan sebuah sekolah madrasah, yang angker sekali, aku ingin menyelidiki ada apa sebenarnya di sekolah itu.
Madrasah itu awalnya di sebelah rumahku, tapi karena di sebelah rumahku terkena rencana perluasan masjid, maka madrasah itu dipindah ke lahan kosong, untuk membangun madrasah itu tentulah dibutuhkan tanah urukan untuk menyamaratakan tanah, dan tanah untuk batur itu diambil dari tanah sekitar, maka terciptalah parit, hampir mengitari madrasah, kalau kemarau parit itu sama sekali tak ada airnya, sampai tanah dasar parit retak-retak, tapi kalau musim hujan datang, parit itu penuh air, dan anehnya, akan banyak ikan muncul di parit itu, dari ikan sepat, mujaer, lele, bandeng, dan ikan-ikan yang lain, anehnya kalau ikan itu diambil dan dimakan, maka orang yang memakan akan keracunan.
Madrasah itu jauh dari rumah penduduk, rumah paling dekat adalah tujuh puluh meteran, sehingga madrasah tak diberi penerangan listrik mengingat kalau malam madrasah tak digunakan kegiatan apa-apa, tapi memang ada lampu bohlam dan dulu sudah terlanjur dipasang, tapi belum sempat diberi saluran kabel listrik, tapi sungguh aneh walau tanpa saluran kabel, kalau malam lampu di madrasah itu sering menyala sendiri.
Keluarga yang tinggal paling dekat dengan madrasah itu adalah keluarga pak Makrum, yaitu istrinya bu Rah, anak perempuannya usia sebelas tahun, dan kedua anak laki-laki, yang satu berusia sembilan tahun, yang satu berusia dua tahun, keluarga pak Makrum adalah pindahan dari desa lain.
Tapi tak sampai setahun tinggal di situ, semua keluarganya meninggal satu persatu, dari si balita meninggal, disusul kakaknya, kakaknya lagi, kemudian istri pak Makrum, dan terakhir pak Makrum sendiri meninggal selang satu bulan, anehnya tanpa didahului sakit sama sekali. Yang selamat adalah anak pak Makrum yang telah menikah dan dibawa hidup di daerah suaminya.
Sekitar lima puluh meter di depan madrasah ada sebuah sumur pompa, dibuat oleh santri, dan saat kemarau panjang, di sumur pompa ini tak perduli siang maupun malam sumur ini selalu didatangi orang untuk mengambil air, mengingat sumur lain kering, tapi sumur di depan madrasah ini tak pernah kering.
Dan pasti di musim kemarau, akan ada cerita-cerita aneh, dari orang yang tunggang langgang saat mengambil air di malam hari, lalu melihat hantu, macem-macem ceritanya, ada yang melihat orang yang tinggi tiga meter, ada yang melihat pocong, ada yang melihat orang menggantung di pohon.
Sukmaku melesat cepat, angin menggemuruh di telingaku, dan kibasan angin sampai melepas ikatan rambutku, sampai rambutku berkibaran. Kulihat ke bawah, kerlip lampu beraneka warna, dan gedung-gedung menjulang, pasti ini Jakarta, pikirku, karena kulihat dari angkasa, di sana-sini, lampu-lampu mobil berkelak-kelok, berderet-deret seperti sisik naga raksasa.
Baru beberapa menit terbang aku telah sampai di Jakarta. Ku membumbung tinggi, kadang menukik ke bawah. Ah betapa enaknya terbang, aku jadi ketagihan, kulihat dari atas kerata api berjalan, aku menukik turun, dan terbang di samping kereta api, kulihat penumpang di dalamnya, lalu aku terbang di atas kereta dan hinggap di atasnya. Tapi segera terbang lagi, mendahului kereta api, dan lebih cepat sehingga rumah, pohon, jalan, desa, berkelebat cepat, hanya nampak bayangan berkeledepan.
Sekejap saja aku telah sampai di sekolah madrasah yang ku tuju. Sebentar aku berdiri di udara depan madrasah.
Perlahan aku masuk, keadaan sangat sepi. Aku kitari ruangan demi ruangan.
Ini mungkin jam sepuluh atau jam sebelas, karena aku tak bawa jam, jadi kurang tau waktu.
Kulihat dua orang pemuda, kira-kira umur tiga puluhan, dua pemuda ini wajahnya kembar, kalau kulihat rasanya bukan dari golongan jin, tapi dari golongan arwah penasaran, wajahnya cukup ganteng cuma pucat seputih kapas, di kedua lingkar mata mereka ada lingkar hitam.
Aku turun ke tanah, dan berjalan menghampiri mereka berdua.
“Siapa kalian??” tanyaku
“Hei kau bisa melihat kami?” jawab mereka hampir serempak.
“Kenapa tak bisa?”
“Berarti kau juga arwah penasaran seperti kami…?” tanya mereka balik.
Dan prasangkaku tak salah. Bahwa mereka arwah penasaran.
“Oo jadi kalian yang selama ini membuat isu hantu, menakut-nakuti warga sini..?”
“Kami hanya butuh tempat, dan tak mau diganggu, jadi kami takut-takuti warga…”
“Apakah kalian juga yang menewaskan seluruh keluarga pak Makrum?” tanyaku.
“Ah, apalah artinya hidup buat mereka… malah susah aja, miskin, dan kalau mati setidaknya membantu kami, agar orang takut tinggal di daerah ini..” kata salah satu arwah itu.
“Kalian keji sekali, melihat kalian jadi arwah penasaran, tentu kalian hidup selalu berbuat jahat, tapi setelah matipun masih melakukan kejahatan…”
Aku jadi ingat kejadian waktu aku kecil teman sekolahku meninggal dengan mata mendelik dan lidah terjulur keluar ketika pulang dari sekolah.
“Apakah kalian juga yang membunuh Muflida, gadis kecil yang berumur sepuluh tahun?” tanyaku penasaran.
“Heh gadis itu, aku yang mencekiknya…, karena dia melihatku…” kata salah satu arwah, dengan senyum mengejek.
“Apakah kalian juga yang membuat anak bernama Saeri, yang tulang kering kakinya patah, dan sekarang jadi anak pincang?”
“Aku yang memukul kakinya dengan kayu… hahaha..” kata arwah satunya.
“Sekarang juga kalian harus hengkang dari sini, minggat sejauh-jauhnya ….!”
“E,e,e kau ini siapa? Berani melarang kami tinggal di sini, kami di sini sebelum kau lahir,”
“Baiklah aku akan memaksa kalian,” kataku melompat menerjang.
Aku ingat kata kyai kalau di alam gaib supaya membayangkan yang kita inginkan, maka aku membayangkan tanganku membara, mengelurkan panas yang berlipat-lipat, lalu dengan tangan itu aku memukul mereka, mereka berdua kaget dan meloncat mundur, tapi tubuhku yang enteng bisa melayang segera memburu, dan satu pukulan mengenai salah satu dada arwah itu… Dia menjerit diseret kawannya mundur, karena dadanya telah berlubang, segenggaman tangan, dan mengeluarkan bau sangit terbakar.
Asap tipis mengepul dari luka yang terbakar itu, dan arwah itu mengaduh-aduh, sementara temannya segera memanggulnya.
“Tunggu besok di sini kalau berani, guru kami akan menghajarmu…” katanya sambil melesat pergi , melompati jendela madrasah yang tinggi.
Aku tak mengejar, aku juga melesat pergi, pulang ke rumahku dan mau melihat jam dinding, ah ternyata baru jam dua belas kurang seperempat.
Aku keluar lagi melayang ke atas masjid, turun di ujung mustaka, berdiri melihat sekitar, depan masjid adalah jalan raya, dan tempat angker lagi adalah dekat jembatan, dimana waktu pembangunannya dulu, mengakibatkan banyak korban, entah korban jatuh dari menara bok, atau tertumbuk palu paku bumi.
Aku melesat ke arah jembatan yang berjarak dua ratus meter dari masjid, dan hanya tiga detik aku telah berdiri di atas jembatan, suasana sepi, tapi pandangan mataku menangkap sosok baju putih melayang malah di jauh sekali di pertigaan jurusan makam, tanpa pikir panjang aku melesat mengejar sampai di pertigaan aku turun dan clingak-clinguk, aku ingat di pertigaan ini sering terjadi kecelakaan, ada anak taman kanak-kanak yang dihantam mobil dan seketika meninggal di tempat.
Juga ada seorang petani yang mau pergi kesawah ditabrak mobil dan terseret lima meter, walau tak sampai mati.
Keadaan masih sunyi, aku tak melihat bayangan putih tadi, kulihat gerobak tukang bakso yang memang biasa mangkal, orang-orang memanggilnya Wakman, kulihat dia masih duduk di plester regol, sambil menghisap rokoknya, tiba-tiba ia membuang puntung rokoknya dan menginjaknya dengan sendalnya, lalu beranjak ke gerobak baksonya.
“Iiih mrinding… ada apa ini..?” keluhnya.
Dan Wakman mendorong gerobak baksonya berjalan, saat itulah aku melihat perempuan baju putih bertengger di atas gerobak bakso,
“Hei siapa kau…!?” bentakku.
Perempuan itu kaget dan melayang pergi. Dengan suara ketawa yang menggidikkan bulu roma. Aku pun segera mengejar, ah pasti ini kuntilanak… Dia melesat ke arah rumah salah seorang pengasuh pesantren. Karena melayangnya pelan, akupun dengan mudah menyusul, dan menghadangnya.
“Huu….huuu… jangan tangkap aku… huu..” dia menangis.
“Aku tak bermaksud menangkapmu, tapi aku hanya ingin tau kau ini siapa?” tanyaku dengan lembut.
Dia menghentikan tangisnya, memandangku, aku dipandangnya begidik juga, perempuan ini sungguh menyeramkan sekali, jika aku bukan sukma mungkin aku telah lari pontang-panting.
Rambut perempuan ini awut-awutan, dan di sana-sini nggimbal lengket oleh tanah, sementara, wajahnya putih, tanpa darah, di sekitar matanya menghitam, dan matanya melotot keluar tanpa cahaya, pipi kanan kirinya berlubang, sehingga giginya terlihat, dan ada ulat-ulat yang keluar dari pipi…putih, kecil-kecil menggeliat..
“Kau ini siapa nyai?” tanyaku lagi.
“Aku ini istri kamituwo Gerot.” katanya tanpa menggerakkan giginya, sehingga suaranya seperti suara yang teramat jauh, tapi jelas di telingaku.
Aku mengingat-ingat nama kamituwo Gerot, ingatanku pun tertuju pada sumur gerot, yaitu sumur yang dibangun sesepuh desa dulu, ada enam sumur penjuru desa, yang dibuat oleh pendiri desaku. Enam sumur juga disebut sumur gede. Karena memang sumbernya teramat besar, dan menjadi tumpuan mengambil air bagi semua penduduk yang kekeringan.
Dulu sumur-sumur itu selalu diadakan ngunduh sajen, yaitu acara nanggap wayang untuk mengucap terimakasih pada danyang penunggu desa, tapi setelah disadarkan oleh kyai Fatah dan kyai Sidik maka acara-acara itu pun dihilangkan.
Kamituwo Gerot, aku berpikir.
Dan ada kamituwo ya adanya di kampung Degan,
“Sampean dari mana nyi? Dari kampung apa?…”
“Aku dari kampung Degan…” suaranya masih tetap terdengar dalam.
“Kok sampean klambrangan gak karu-karuan begini nyi? Boleh aku tau sebabnya?”
Perempuan ini menjerit melengking kemudian dia menangis hahahuhu…ah perempuan.. jadi hantu masih juga cengeng.
Aneh begitu saja kisah perempuan di depanku ini, terpampang runtut seperti melihat filem layar lebar, namanya juga alam gaib, jadi serba gaib, nyleneh dan tak masuk akal.
Perempuan ini bernama Sunti. Seorang ledek dari daerah Tambak Boyo, untuk mendapatkan penglaris maka dia mencari orang yang mumpuni dalam memasang susuk pengasihan, ada orang yang menyarankannya ke tempat kamituwo Gerot, maka pergilah Sunti ke tempat kamituwo, yang umurnya lebih pantas jadi ayahnya, Sunti umur delapan belas tahun dan kamituwo umur empat puluh lima tahun.
Saat itu kamituwo adalah duda, yang istrinya minta cerai, karena tak tahan dengan kesenangan suaminya yang suka main perempuan.
Memang ilmu kejawen kamituwo terkenal ampuh, dari ilmu kekebalan, aji kesantikan, sirep, gendam, pasang susuk pengasihan sampai aji pelet, sehingga jangankan perempuan yang masih perawan, yang sudah punya suamipun bisa dibuat meninggalkan suaminya.
Melihat Sunti yang cantik, menik menik, tentu saja ki gerot langsung jatuh hati, maka ketika tau gadis itu meminta susuk pengasihan, maka ki gerot pun memberikan susuk yang terbaik, tapi juga memelet Sunti dengan ilmu pelet yang paling hebat.
(maaf, sebenarnya ini tak pantas diceritakan, tapi semoga menjadi pelajaran untuk tidak mendatangi aneka macam dukun dan paranormal.)
Pelet yang dipakai ki gerot adalah kulit kemaluan wanita perawan yang meninggal di rebu wage,
Jika ada perempuan meninggal di saat itu maka ki gerot malamnya akan membongkar makamnya dan menguliti kemaluannya mayat, setelah itu, kemaluan tadi dikeringkan, dan bila dibutuhkan akan dicuil sedikit dan dicampurkan dalam minuman, dengan mantra-mantra.
Malang nasib Sunti, dia meminum teh yang telah dicampur ramuan pelet yang ganas itu, seketika gadis itu mabuk kepayang pada ki gerot, dia seperti telah minum bergalon arak cinta.
Maka ketika ki gerot menuntunnya ke kamar dan mengajaknya berzina, Sunti tak kuasa menolaknya.
Begitu juga ketika Sunti telah pulang ke rumahnya dan ki gerot melamarnya, maka Sunti pun ho-oh aja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar