Terima kasih kyai, saya mau istirahat
dulu…” setelah berpamitan aku pun menuju ruang pembuangan jin yang luas,
untuk tidur siang sebentar, dan aku agak masuk angin, maka aku akan
meminta pijit pada jin.
Pintu gerbang besi bercat hijau kubuka,
suara menderit khas besi yang tak pakai oli terdengar. Dan udara dingin
menusuk kontan kurasakan, nyeess! Lebih dingin dari AC karena udara
dalam rumah pembuangan jin ini tak berjalan.
Rumah ini walau tak pernah dimasuki
orang, tapi tampak bersih keramiknya. Cat temboknya banyak yang
mengelupas, dulu cat ini aku juga yang mengecatkan, dengan motif whoss,
yaitu kain disobek-sobek seperti kain pita, setelah segenggaman tangan
lalu diikat, nah ujung kain itulah yang dibuat menjadi motif, dicelupkan
ke cat dan dikecrok-kecrokkan ke tembok. Untuk hasil yang sempurna, cat
tembok putih dicampur cat pigmen sebagai pewarna. Dan binder sebagai
pengikat, maka setelah kering warna akan menyatu, jadi orang melihat
seperti kertas wallpaper yang ditempelkan.
Warna tembok ku motif warna bunga lavender, dan di tembok lain ku motif bunga tulip.
Aku segera mencari tempat untuk tiduran,
aku dekati tiang besar, ku cium bau wangi menusuk, aku tak jadi, karena
mengira pastilah jin wanita, nanti bisa-bisa tak tidur, malah main
cinta.
Aku memilih di ruang sebelah, ruang ini
luasnya delapan kali lima meter, cukup luas, aku menggeletak di pinggir
tembok. Ku eratkan jaketku, untuk mengurangi hawa dingin. Jam tangan ku
lihat pukul sebelas siang.
Kurasakan ada jin yang mendekatiku, dari
arah kananku, karena pipiku menebal, kuucapkan salam dalam hati, dan
kukatakan aku ingin dipijat, walau aku belum bisa melihat mereka karena
rendahnya ilmuku, tapi aku bisa merasakan kehadiran mereka.
Kurasakan tanganku ada yang memegang dan
memijid-mijid, juga kepalaku, lalu kakiku juga ada yang memijid, rupanya
dua jin yang memijidiku, aku mulai keenakan dan mengantuk, sebelum
tidur aku minta dibangunkan jam dua, akupun tertidur.
Aku terbangun, ketika kurasakan ada yang menggelitik kakiku, kubuka mata dan kulihat jam menunjukkan jam dua lebih satu menit.
Aku pun bangun dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Lalu beranjak pergi.
Mengambil sabun yang biasa kuselipkan di bawah para-para, kemudian pergi ke sungai,
“Gak makan dulu mas? Nasinya ada di dapur…” kata Jauhari dan Kholil ketika berpapasan denganku.
“Ah nanti aja.., ” aku segera berjalan di
jalan berbatu yang menuju sungai, dan melompat ke pematang sawah,
setelah melewati dua kotak sawah aku pun sudah sampai di tempat
anak-anak pada mandi, masih ada Tarsan dan Majid masih sibuk mandi, aku
pun bergegas mandi, setelah mengganti sarung dengan celana pendek khusus
mandi, aku pun mencebur,
“Awas mas, banyak lintah…!” suara Tarzan
memperingatkan, tapi terlambat, karena ada kurasakan sesuatu menempel di
dekat mata kakiku, aku segera keluar dari air dan naik ke atas batu
bundar pipih, sebesar kerbau yang ditempati Tarzan mencuci.
“Wah ketampel lintah nih…” kataku melihat binatang hitam ada garis coklat, yang tak lain lintah.
“Biar mas tak ambilnya mas…” kata Tarzan
Kemudian tanpa jijik, membetot lintah dari kakiku.
“Untuk apa Zan?”
“Biasa mas, untuk memperbesar…”
“Jangan terlalu besar, nanti tak ada wanita yang mau menikah denganmu lo…”
Setelah mandi aku cepat-cepat kembali ke
kamar, dan sholat dhuhur, melakukan dzikir setelah sholat, dan pergi ke
dapur, ternyata teman-teman masak urap, yaitu sambal kelapa, karena
paling mudah, kelapa tinggal manjat, lalapan daun pepaya dan daun kopi
muda, sedap juga.
Setelah makan terdengar adzan sayup-sayup
sampai dari masjid yang teramat jauh. Aku bergegas mengambil air wudhu
dan sholat ashar, setelah dzikir aku pun menghadap kyai, untuk dibaiat.
Teman-temanku semuanya telah berkumpul.
Aku pun diminta duduk menghadap kyai,
tangan dijabat dan menerima ijab, dan kobul, seperti dalam pernikahan.
Cuma isinya bukan tentang nikah, tapi siap sedianya diri menjalankan
syariat Islam secara kaffah, dan bersedia menjauhkan diri dari segala
macam perbuatan dosa.
Baiat pun selesai, dan kami mendengarkan
petuah-petuah kyai, dari bagaimana baiat dilakukan oleh Rosululloh, dan
dijelaskan untung ruginya.
Hari makin sore, para santri melakukan tugasnya masing-masing, aku memilih memasak.
Menggoreng jengkol dan membuat sambel tomat, wah sedap sekali.
Malam itu setelah isyak aku disuruh kyai latihan ilmu rogo sukmo dalam kamar.
Pintu kamar ku kunci, deg-degan juga aku,
karena aku belum tau akan bagaimana nantinya. Ku duduk membaca
Alfatehah tiga kali, Annas tiga kali, Alfalaq tiga kali, ayat kursi tiga
kali, lalu kutiupkan tangan dan ku usapkan ke seluruh tubuh.
Kemudian aku tiduran, memejamkan mata dan
membaca doa yang tadi siang diajarkan kyai, tak lupa membaca basmalah
tiga kali tanpa napas.
Leess!! Aku seperti begitu saja tertidur,
tau-tau aku telah di atas tubuhku sendiri. Melayang di udara, sementara
jasad kasarku tergeletak dalam kamar.
Aku segera keluar kamar menembus dinding,
bersalto di udara, terbang kesana kemari, hinggap di pucuk pohon
kelapa, lalu terbang lagi, sungguh terasa bebas dan nyaman, aku
menghampiri majlis dzikir, masih melayang-layang, kulihat semua santri
selain diriku tengah konsentrasi dengan wirid masing-masing, sementara
kulihat kyai juga tengah duduk memangku bantal tidur, dan tangan
kanannya tak henti memutar tasbih, kyai menatapku dan tersenyum, lalu
mengangguk.
Itu sudah cukup sebagai isyarat bagiku,
akupun melesat pergi, membumbung tinggi ke angkasa yang gelap, dan hanya
diterangi oleh beberapa bintang yang nampak.
Sebenarnya tujuanku adalah desaku sendiri
di kawasan kabupaten Tuban, karena aku selama ini teramat heran, dengan
sebuah sekolah madrasah, yang angker sekali, aku ingin menyelidiki ada
apa sebenarnya di sekolah itu.
Madrasah itu awalnya di sebelah rumahku,
tapi karena di sebelah rumahku terkena rencana perluasan masjid, maka
madrasah itu dipindah ke lahan kosong, untuk membangun madrasah itu
tentulah dibutuhkan tanah urukan untuk menyamaratakan tanah, dan tanah
untuk batur itu diambil dari tanah sekitar, maka terciptalah parit,
hampir mengitari madrasah, kalau kemarau parit itu sama sekali tak ada
airnya, sampai tanah dasar parit retak-retak, tapi kalau musim hujan
datang, parit itu penuh air, dan anehnya, akan banyak ikan muncul di
parit itu, dari ikan sepat, mujaer, lele, bandeng, dan ikan-ikan yang
lain, anehnya kalau ikan itu diambil dan dimakan, maka orang yang
memakan akan keracunan.
Madrasah itu jauh dari rumah penduduk,
rumah paling dekat adalah tujuh puluh meteran, sehingga madrasah tak
diberi penerangan listrik mengingat kalau malam madrasah tak digunakan
kegiatan apa-apa, tapi memang ada lampu bohlam dan dulu sudah terlanjur
dipasang, tapi belum sempat diberi saluran kabel listrik, tapi sungguh
aneh walau tanpa saluran kabel, kalau malam lampu di madrasah itu sering
menyala sendiri.
Keluarga yang tinggal paling dekat dengan
madrasah itu adalah keluarga pak Makrum, yaitu istrinya bu Rah, anak
perempuannya usia sebelas tahun, dan kedua anak laki-laki, yang satu
berusia sembilan tahun, yang satu berusia dua tahun, keluarga pak Makrum
adalah pindahan dari desa lain.
Tapi tak sampai setahun tinggal di situ,
semua keluarganya meninggal satu persatu, dari si balita meninggal,
disusul kakaknya, kakaknya lagi, kemudian istri pak Makrum, dan terakhir
pak Makrum sendiri meninggal selang satu bulan, anehnya tanpa didahului
sakit sama sekali. Yang selamat adalah anak pak Makrum yang telah
menikah dan dibawa hidup di daerah suaminya.
Sekitar lima puluh meter di depan
madrasah ada sebuah sumur pompa, dibuat oleh santri, dan saat kemarau
panjang, di sumur pompa ini tak perduli siang maupun malam sumur ini
selalu didatangi orang untuk mengambil air, mengingat sumur lain kering,
tapi sumur di depan madrasah ini tak pernah kering.
Dan pasti di musim kemarau, akan ada
cerita-cerita aneh, dari orang yang tunggang langgang saat mengambil air
di malam hari, lalu melihat hantu, macem-macem ceritanya, ada yang
melihat orang yang tinggi tiga meter, ada yang melihat pocong, ada yang
melihat orang menggantung di pohon.
Sukmaku melesat cepat, angin menggemuruh
di telingaku, dan kibasan angin sampai melepas ikatan rambutku, sampai
rambutku berkibaran. Kulihat ke bawah, kerlip lampu beraneka warna, dan
gedung-gedung menjulang, pasti ini Jakarta, pikirku, karena kulihat dari
angkasa, di sana-sini, lampu-lampu mobil berkelak-kelok, berderet-deret
seperti sisik naga raksasa.
Baru beberapa menit terbang aku telah
sampai di Jakarta. Ku membumbung tinggi, kadang menukik ke bawah. Ah
betapa enaknya terbang, aku jadi ketagihan, kulihat dari atas kerata api
berjalan, aku menukik turun, dan terbang di samping kereta api, kulihat
penumpang di dalamnya, lalu aku terbang di atas kereta dan hinggap di
atasnya. Tapi segera terbang lagi, mendahului kereta api, dan lebih
cepat sehingga rumah, pohon, jalan, desa, berkelebat cepat, hanya nampak
bayangan berkeledepan.
Sekejap saja aku telah sampai di sekolah madrasah yang ku tuju. Sebentar aku berdiri di udara depan madrasah.
Perlahan aku masuk, keadaan sangat sepi. Aku kitari ruangan demi ruangan.
Ini mungkin jam sepuluh atau jam sebelas, karena aku tak bawa jam, jadi kurang tau waktu.
Kulihat dua orang pemuda, kira-kira umur
tiga puluhan, dua pemuda ini wajahnya kembar, kalau kulihat rasanya
bukan dari golongan jin, tapi dari golongan arwah penasaran, wajahnya
cukup ganteng cuma pucat seputih kapas, di kedua lingkar mata mereka ada
lingkar hitam.
Aku turun ke tanah, dan berjalan menghampiri mereka berdua.
“Siapa kalian??” tanyaku
“Hei kau bisa melihat kami?” jawab mereka hampir serempak.
“Kenapa tak bisa?”
“Berarti kau juga arwah penasaran seperti kami…?” tanya mereka balik.
Dan prasangkaku tak salah. Bahwa mereka arwah penasaran.
“Oo jadi kalian yang selama ini membuat isu hantu, menakut-nakuti warga sini..?”
“Kami hanya butuh tempat, dan tak mau diganggu, jadi kami takut-takuti warga…”
“Apakah kalian juga yang menewaskan seluruh keluarga pak Makrum?” tanyaku.
“Ah, apalah artinya hidup buat mereka…
malah susah aja, miskin, dan kalau mati setidaknya membantu kami, agar
orang takut tinggal di daerah ini..” kata salah satu arwah itu.
“Kalian keji sekali, melihat kalian jadi
arwah penasaran, tentu kalian hidup selalu berbuat jahat, tapi setelah
matipun masih melakukan kejahatan…”
Aku jadi ingat kejadian waktu aku kecil
teman sekolahku meninggal dengan mata mendelik dan lidah terjulur keluar
ketika pulang dari sekolah.
“Apakah kalian juga yang membunuh Muflida, gadis kecil yang berumur sepuluh tahun?” tanyaku penasaran.
“Heh gadis itu, aku yang mencekiknya…, karena dia melihatku…” kata salah satu arwah, dengan senyum mengejek.
“Apakah kalian juga yang membuat anak bernama Saeri, yang tulang kering kakinya patah, dan sekarang jadi anak pincang?”
“Aku yang memukul kakinya dengan kayu… hahaha..” kata arwah satunya.
“Sekarang juga kalian harus hengkang dari sini, minggat sejauh-jauhnya ….!”
“E,e,e kau ini siapa? Berani melarang kami tinggal di sini, kami di sini sebelum kau lahir,”
“Baiklah aku akan memaksa kalian,” kataku melompat menerjang.
Aku ingat kata kyai kalau di alam gaib
supaya membayangkan yang kita inginkan, maka aku membayangkan tanganku
membara, mengelurkan panas yang berlipat-lipat, lalu dengan tangan itu
aku memukul mereka, mereka berdua kaget dan meloncat mundur, tapi
tubuhku yang enteng bisa melayang segera memburu, dan satu pukulan
mengenai salah satu dada arwah itu… Dia menjerit diseret kawannya
mundur, karena dadanya telah berlubang, segenggaman tangan, dan
mengeluarkan bau sangit terbakar.
Asap tipis mengepul dari luka yang terbakar itu, dan arwah itu mengaduh-aduh, sementara temannya segera memanggulnya.
“Tunggu besok di sini kalau berani, guru
kami akan menghajarmu…” katanya sambil melesat pergi , melompati jendela
madrasah yang tinggi.
Aku tak mengejar, aku juga melesat pergi,
pulang ke rumahku dan mau melihat jam dinding, ah ternyata baru jam dua
belas kurang seperempat.
Aku keluar lagi melayang ke atas masjid,
turun di ujung mustaka, berdiri melihat sekitar, depan masjid adalah
jalan raya, dan tempat angker lagi adalah dekat jembatan, dimana waktu
pembangunannya dulu, mengakibatkan banyak korban, entah korban jatuh
dari menara bok, atau tertumbuk palu paku bumi.
Aku melesat ke arah jembatan yang
berjarak dua ratus meter dari masjid, dan hanya tiga detik aku telah
berdiri di atas jembatan, suasana sepi, tapi pandangan mataku menangkap
sosok baju putih melayang malah di jauh sekali di pertigaan jurusan
makam, tanpa pikir panjang aku melesat mengejar sampai di pertigaan aku
turun dan clingak-clinguk, aku ingat di pertigaan ini sering terjadi
kecelakaan, ada anak taman kanak-kanak yang dihantam mobil dan seketika
meninggal di tempat.
Juga ada seorang petani yang mau pergi kesawah ditabrak mobil dan terseret lima meter, walau tak sampai mati.
Keadaan masih sunyi, aku tak melihat
bayangan putih tadi, kulihat gerobak tukang bakso yang memang biasa
mangkal, orang-orang memanggilnya Wakman, kulihat dia masih duduk di
plester regol, sambil menghisap rokoknya, tiba-tiba ia membuang puntung
rokoknya dan menginjaknya dengan sendalnya, lalu beranjak ke gerobak
baksonya.
“Iiih mrinding… ada apa ini..?” keluhnya.
Dan Wakman mendorong gerobak baksonya berjalan, saat itulah aku melihat perempuan baju putih bertengger di atas gerobak bakso,
“Hei siapa kau…!?” bentakku.
Perempuan itu kaget dan melayang pergi.
Dengan suara ketawa yang menggidikkan bulu roma. Aku pun segera
mengejar, ah pasti ini kuntilanak… Dia melesat ke arah rumah salah
seorang pengasuh pesantren. Karena melayangnya pelan, akupun dengan
mudah menyusul, dan menghadangnya.
“Huu….huuu… jangan tangkap aku… huu..” dia menangis.
“Aku tak bermaksud menangkapmu, tapi aku hanya ingin tau kau ini siapa?” tanyaku dengan lembut.
Dia menghentikan tangisnya, memandangku,
aku dipandangnya begidik juga, perempuan ini sungguh menyeramkan sekali,
jika aku bukan sukma mungkin aku telah lari pontang-panting.
Rambut perempuan ini awut-awutan, dan di
sana-sini nggimbal lengket oleh tanah, sementara, wajahnya putih, tanpa
darah, di sekitar matanya menghitam, dan matanya melotot keluar tanpa
cahaya, pipi kanan kirinya berlubang, sehingga giginya terlihat, dan ada
ulat-ulat yang keluar dari pipi…putih, kecil-kecil menggeliat..
“Kau ini siapa nyai?” tanyaku lagi.
“Aku ini istri kamituwo Gerot.” katanya
tanpa menggerakkan giginya, sehingga suaranya seperti suara yang teramat
jauh, tapi jelas di telingaku.
Aku mengingat-ingat nama kamituwo Gerot,
ingatanku pun tertuju pada sumur gerot, yaitu sumur yang dibangun
sesepuh desa dulu, ada enam sumur penjuru desa, yang dibuat oleh pendiri
desaku. Enam sumur juga disebut sumur gede. Karena memang sumbernya
teramat besar, dan menjadi tumpuan mengambil air bagi semua penduduk
yang kekeringan.
Dulu sumur-sumur itu selalu diadakan
ngunduh sajen, yaitu acara nanggap wayang untuk mengucap terimakasih
pada danyang penunggu desa, tapi setelah disadarkan oleh kyai Fatah dan
kyai Sidik maka acara-acara itu pun dihilangkan.
Kamituwo Gerot, aku berpikir.
Dan ada kamituwo ya adanya di kampung Degan,
“Sampean dari mana nyi? Dari kampung apa?…”
“Aku dari kampung Degan…” suaranya masih tetap terdengar dalam.
“Kok sampean klambrangan gak karu-karuan begini nyi? Boleh aku tau sebabnya?”
Perempuan ini menjerit melengking kemudian dia menangis hahahuhu…ah perempuan.. jadi hantu masih juga cengeng.
Aneh begitu saja kisah perempuan di
depanku ini, terpampang runtut seperti melihat filem layar lebar,
namanya juga alam gaib, jadi serba gaib, nyleneh dan tak masuk akal.
Perempuan ini bernama Sunti. Seorang
ledek dari daerah Tambak Boyo, untuk mendapatkan penglaris maka dia
mencari orang yang mumpuni dalam memasang susuk pengasihan, ada orang
yang menyarankannya ke tempat kamituwo Gerot, maka pergilah Sunti ke
tempat kamituwo, yang umurnya lebih pantas jadi ayahnya, Sunti umur
delapan belas tahun dan kamituwo umur empat puluh lima tahun.
Saat itu kamituwo adalah duda, yang istrinya minta cerai, karena tak tahan dengan kesenangan suaminya yang suka main perempuan.
Memang ilmu kejawen kamituwo terkenal
ampuh, dari ilmu kekebalan, aji kesantikan, sirep, gendam, pasang susuk
pengasihan sampai aji pelet, sehingga jangankan perempuan yang masih
perawan, yang sudah punya suamipun bisa dibuat meninggalkan suaminya.
Melihat Sunti yang cantik, menik menik,
tentu saja ki gerot langsung jatuh hati, maka ketika tau gadis itu
meminta susuk pengasihan, maka ki gerot pun memberikan susuk yang
terbaik, tapi juga memelet Sunti dengan ilmu pelet yang paling hebat.
(maaf, sebenarnya ini tak pantas
diceritakan, tapi semoga menjadi pelajaran untuk tidak mendatangi aneka
macam dukun dan paranormal.)
Pelet yang dipakai ki gerot adalah kulit kemaluan wanita perawan yang meninggal di rebu wage,
Jika ada perempuan meninggal di saat itu
maka ki gerot malamnya akan membongkar makamnya dan menguliti
kemaluannya mayat, setelah itu, kemaluan tadi dikeringkan, dan bila
dibutuhkan akan dicuil sedikit dan dicampurkan dalam minuman, dengan
mantra-mantra.
Malang nasib Sunti, dia meminum teh yang
telah dicampur ramuan pelet yang ganas itu, seketika gadis itu mabuk
kepayang pada ki gerot, dia seperti telah minum bergalon arak cinta.
Maka ketika ki gerot menuntunnya ke kamar dan mengajaknya berzina, Sunti tak kuasa menolaknya.
Begitu juga ketika Sunti telah pulang ke rumahnya dan ki gerot melamarnya, maka Sunti pun ho-oh aja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar