hari perjalanan, akhirnya aku sampai di
kota Bojonegoro, selama dua hari ini aku tidur di alam bebas, juga hanya
makan jambu hutan dan pisang yang tumbuh di hutan, jadi perut kempes,
tapi aku berusaha untuk tawakal berserah pada yang memberi hidup, sore
hari ketiga setelah keluar dari tempat pak Fadhol aku sampai ke
Bojonegoro, aku berjalan terus arah selatan terminal lama, aku berjalan
sampai di satu mushola daerah Pacul, aku berbelok mengambil wudhu
kemudian sholat ashar, setelah sholat aku duduk tenggelam dalam wirid,
tiba-tiba di belakangku terdengar piring dan gelas diletakkan di lantai
mushola.
Setelah wirid selesai aku menengok
seorang pemuda berambut panjang dan berpeci putih tengah duduk, di
depannya ada nasi lengkap dengan lauk pauk, umur pemuda itu sekitar 30
tahun, dia tersenyum padaku.
“Mari mas makan dulu,” katanya ramah.
“Wah saya sudah menunggu dari tadi, takutnya mengganggu wirid.”
Aku mengulurkan tangan, mengajak kenalan, “Febrian.” kataku menjabat tangannya.
“Mashur.” ucapnya memperkenalkan diri,
“Sudah ayo makan dulu, ngobrolnya
dilanjutkan nanti, sambil makan.” katanya sambil mengangsurkan piring ke
hadapanku, kulihat sayur terong, ikan bandeng, sambal trasi sebagai
lauk, terasa nikmat.
“Mas Ian ini musafir ya?” tanyanya.
“Iya.” jawabku sambil menikmati makan yang nikmat.
“Kok tau aku musafir?” tanyaku.
“Ada seorang pemuda yang dari kemarin telah menunggu mas di rumahku,” katanya.
“Seorang pemuda?”
“Iya mas, katanya dia mendapat bisikan
dari gaib disuruh menunggu mas, pokoknya orang yang ciri-cirinya seperti
mas ini, yang akan singgah di mushola ini, itu orangnya masih di
rumahku,” kata Mashur menjelaskan.
“Wah ada apa ya?” tanyaku heran.
“Nanti aja tanya sendiri mas ke orangnya, wah ayo mas, nasinya nambah lagi.”
Kami makan dengan lahap, hampir satu bakul kami habiskan berdua, seakan kami ini kenalan lama, di sela-sela makan kami bercanda.
Mashur orangnya supel dan ramah, dia
hidup dengan istri dan dua anaknya, punya pesantren kecil di belakang
rumah, yang isinya santri-santri yang ada sambil sekolah, juga ada yang
sambil kerja. Muridnya cuma 10 orang.
Setelah makan aku diajak menemui seorang
pemuda yang katanya telah menunggu kedatanganku sejak kemarin di rumah
Mashur. Pemuda itu bernama Ilham, ketika masuk ke rumah Mashur pandang
mataku segera menangkap sosok pemuda kurus, ceking, matanya menjorok ke
dalam, pertanda telah mengalami berbagai keprihatinan, tapi setelah
sebentar mengamati, aku seperti pernah melihat pemuda ini, tapi aku
mengingat-ingat sebentar….. yah pemuda ini pernah ada dalam satu
mimpiku, entah 3 bulan atau berapa bulan yang lalu, aku telah melihat
masa lalunya tanpa aku tau bagaimana caranya, kami bersalaman, dia
mencium tanganku, ku biarkan saja.
“Ilham.” katanya menyebutkan nama. Aku
juga memperkenalkan namaku. Aku manggut-manggut kulihat aura hitam
menggumpal-gumpal melingkupi tubuhnya, dan aku benar-benar ingat pada
semua mimpiku.
Dalam mimpi itu aku melihat pemuda ini
mempelajari ilmu tanpa guru, jadi dari membaca-baca buku, tanpa
pembimbing, dia mengikuti petunjuk buku itu, dia menyepi di salah satu
makam yang dikeramatkan, berhari-hari dia menyepi, berpuasa dan menekuni
amalan dari buku tersebut, entah di hari yang ke berapa, di suatu malam
di makam itu, sendiri dia membaca wirid dari buku, dan datanglah orang
tua berjenggot panjang,
“Ngger, aku akan memberikan ilmu padamu,
tapi kau harus menghentikan salat 5 waktu, bersediakah kau ngger?” tanya
orang tua itu. Ilham pun manggut. Maka orang tua berjenggot itu
memasukkan cahaya dari tapak tangannya ke kepala Ilham.
Persis setelah kejadian itu Ilham tak
pernah sholat, tapi aneh dia bisa mengobati berbagai penyakit. Waktu
berlalu Ilham masih aktif duduk di makam keramat itu, sambil membaca
amalan dari buku.
Entah yang ke berapa malam, dia didatangi
bung Karno, presiden RI yang pertama, “Ngger Ilham, aku akan memberi
ilmu padamu, tapi kau harus mau membakar warung tempat menjual minuman
keras di ujung desa.” pesan bung Karno.
Setelah pulang dari makam, Ilham
linglung, betapa tidak, bagaimana harus membakar sebuah warung minuman?
Bagaimana kalau nanti seluruh desa terbakar? Tapi ini perintah presiden
RI, yang akan memberikan ilmu padanya, tiap malam Ilham merenung, tiap
hari dia bengong karena suara bisikan yang berkecamuk tumpang tindih
dalam hatinya.
Malam itu jam 2 dini hari, Ilham telah
bertekat, berangkat dengan motornya dan berbekal bensin 5 liter, dia
mendatangi warung bensin di ujung desa, motor dia setandarkan, dia
menghampiri warung dan menyiram pinggir dan dinding warung dengan
bensin, korek api dinyalakan dan wus, warung pun terbakar, Ilham kabur
dan mengawasi dari jauh hasil karyanya, dengan seringai puas, sementara
api menjilat habis warung dan segala isinya, rumah di sebelah warung pun
mulai terjilat api, untung yang punya rumah segera terbangun dan
berteriak kebakaran, jadi satu keluarga masih bisa menyelamatkan diri,
orang desa mendengar teriakan kebakaran segera berdatangan bahu membahu
memadamkan api, walau tak urung rumah di sebelah warung ludes terbakar,
tapi api telah dapat dipadamkan.
Pemilik warung, suami istri dan anaknya
yang masih bayi hangus terbakar, tak bisa tertolong lagi. Orang-orang
bertanya-tanya apa sebenarnya penyebab kebakaran, tapi tak ada yang tau,
Sementara Ilham besok malamnya menunggu di pemakaman keramat, dan bung
Karno pun datang menyerahkan sebuah keris. Setelah mendapat keris itu,
Ilham makin sakti, kebal senjata, dan dia makin serius di pemakaman
keramat, hari-hari berlalu.
Malam itu, Ilham masih tekun membaca
amalan, hio telah beberapa kali padam dan dia nyalakan hio yang baru,
tiba-tiba tercium bau wewangian teramat harum menyeruak memenuhi
seantero pemakaman keramat, baunya amat harum, sehingga membangkitkan
birahi, dan perlahan tapi pasti, nampak bentuk perempuan cantik di depan
Ilham, cantik tiada terkira, tak pernah Ilham melihat wanita cantik
sesempurna perempuan muda yang ada di depannya, biar kata semua artis
Indonesia disatukan lalu dikareti, masih tak mampu menandingi perempuan
ini, cantiknya sulit digambarkan, sampai biasanya Ilham yang tak begitu
doyan cewek, kali ini jakunnya naik turun kayak gergaji, seperti
kehausan yang teramat sangat di tenggorokannya, kayak jakun itu kurang
oli.
“Apakah kau tak ingin jadi suamiku? Dan
tak ingin kaya?” tanya perempuan itu, suaranya merdu, seperti alat musik
petik yang dipetik dengan hati-hati takut putus senarnya, atau suling
yang ditiup dengan nafas yang telah berlatih menemukan nada terhalus
dari suara,
“Ho-oh mau… mau.. mau..” kata Ilham air
liurnya sampai membanjir tak karuan, apalagi melihat baju biru tipis
yang membungkus tubuh si perempuan, sehingga memperlihatkan samar
pemandangan yang membangkitkan birahi.
“Tapi kau harus memenuhi syaratku.” kata
perempuan itu, sambil melenggak lenggok di depan Ilham, yang membuat
pemuda itu makin empot-empotan.
“Apa…. apa syaratnya..?” tanya Ilham dadanya sesek, ampek nahan nafsu yang membuncah.
“Syaratnya kau harus membakar pasar
kecamatan.” kata perempuan itu dan Ilham terlongong-longong sampai
perempuan itu sirna dari hadapannya.
Setelah pulang dari makam keramat, Ilham
pun linglung, membakar pasar kecamatan Bangilan? Bagaimana mungkin?
Tempat orang-orang menggantungkan nafkah keluarga, bahkan ibunya Ilham
berjualan pakaian di pasar itu. Tapi ketika terdengar bisikan merdu
merayu, dan tercium harum memabukkan, tanpa sadar Ilham pun memacu
motornya ke pasar yang berjarak dua kiloan dari rumahnya dengan membawa
jurigen bensin, tapi begitu sampai di pasar, kesadaran dan nuraninya
menolak, maka dia pun linglung, menggelosor begitu saja di tengah pasar,
dan kalau sudah begitu orang-orang di pasar pun ramai, yang susah juga
ibunya Ilham harus membawanya pulang dengan becak. Dan hal itu terjadi
berulang-ulang, orang pasar pun menganggap Ilham gila, karena terjadi
terus menerus. Ilham pun dikunci dalam kamar, kalau bisikan datang dia
menggedor-gedor pintu, ingin membakar pasar, tapi kalau kesadarannya
muncul maka Ilham cuma merenung bengong,
Telah bermacam dukun dan paranormal
didatangkan untuk mengobati, tapi malah ada yang dibanting dan ada juga
yang sampai digotong pingsan, itulah yang ku lihat dalam mimpiku.
“Bagaimana kabarnya?” tanyaku setelah duduk di kursi kayu rumah Mashur.
“Ah ndak baik mas.” katanya, dengan
pandangan cowong matanya menjorok ke dalam, dan ada kantung mata di
sekitar mata Ilham, menunjukkan dia tak pernah nyenyak tidur.
“Hehe…. Kamu kan yang membakar warung minuman keras?” tanyaku sambil tertawa.
“Iya mas.., tentu mas sudah tau keadaanku.” kata Ilham menunduk.
“Kata siapa aku sudah tau keadaanmu? Tapi udahlah yang penting 3 jin dalam tubuhmu musti dihilangkan.”
“Saya pasrah saja, apa yang terbaik menurut mas Ian.” katanya mengiba.
“Tapi aku ingin tau dulu, kenapa kok kamu bisa tau aku akan singgah di mushola sini?”
“Ceritanya begini mas, saat aku dikunci
terus dalam kamar oleh orang tuaku, waktu antara sadar dan tidak,
maksudku tidur dan terjaga, aku didatangi orang tua, yang mengaku kakek
buyutku.” katanya bercerita, dia menarik nafas dalam. Biar ceritanya
tambah lama.
“Kakek itu berpesan, tunggu pemuda di
mushola Annur daerah Pacul, minta tolong untuk membantu masalahmu, apa
yang dia katakan turuti saja. Begitu pesan kakek itu, yang mengaku
sebagai kakek buyutku,” kata Ilham mengakhiri ceritanya,
“Lalu bagaimana kamu tau pemuda yang kau tunggu itu aku?” tanyaku.
“Kakek itu juga menyebutkan ciri mas
lengkap, dan saya cerita sama mas Mashur juga, jadi ketika mas muncul di
mushola, baru saya yakin mimpi saya bukan mimpi bohong.”
“Begitu rupanya,” kataku, padahal pakaianku uapek banget, juga bauku kulit yang terbakar matahari.
“Terus sekarang bagaimana mas..?” tanya Mashur yang dari tadi diam menyimak.
“Ya jinnya harus dikeluarkan,” kataku menjawab.
“Wah apa perlu kembang setaman, dan menyan mas? Kalau iya, biar saya yang ke pasar, apa aja syaratnya mas?” tanya Mashur.
“Ya tak perlu syarat apa-apa.” kataku. “Cuma perlu persetujuan Ilham aja.”
“Persetujuan apa lagi mas?” tanya Ilham setengah bengong.
“Ya kamu benar-benar sudah ikhlas, jin yang ada dalam tubuhmu ku cabut?” tanyaku menunggu jawaban mantep dari raut wajahnya.
“Kan sudah saya bilang, saya pasrah pada mas Ian, apa yang terbaik, jadi saya rela serela-relanya.” katanya mantep.
“Walau semua ilmumu hilang?” tanyaku.
Ilham sebentar merenung, tapi kemudian
berucap, “Sudah saya siap, walau tak punya ilmu, tak apa-apa, yang
penting saya bisa hidup wajar seperti orang lain.”
“Baiklah. Sekarang duduk membelakangiku.”
kataku, sementara aku berpikir, ah aku ini belum pernah mencabut ilmu
seseorang, juga jin yang menyatu karena seseorang mengamalkan ilmu,
apakah aku bisa dan mampu?
Ku ingat Kyai waktu mencabut ilmu
seseorang, cuma seperti mengambil buah dari punggung orang itu,
digenggam lalu dibuang, kalau aku, ah tentu belum bisa setarapan itu,
lalu bagaimana? Pikiranku mencari jalan keluar, tapi tanganku perlahan
menempel ke punggung Ilham, wirid ku baca tiga kali-tiga kali, aliran
hawa panas dan dingin segera menggebu dalam pusarku naik mengalir ke
tanganku. Tiba-tiba, tanganku seperti tersedot kekuatan kasat mata di
punggung Ilham, karuan tanganku menempel pada punggung Ilham, ku pejam
mata, kurasakan tenang dari tubuhku menggulung-gulung masuk tubuh Ilham,
aku segera membaca doa khijab dan minta pada Alloh, supaya mukzijatnya
Nabi dan karomahnya para wali masuk ke tubuhku, ku rasakan udara dingin,
mendekat sejuk mengalir ke setiap pori tubuhku, tangan ku renggangkan
ku sedot apa yang ada di dalam tubuh Ilham ku genggam dalam satu tangan,
dan tangan kiriku membuat gerakan mengikat, lalu ku lempar jauh-jauh,
sementara Ilham menggelosor di kursi, entah pingsan, entah tidur, tapi
wajahnya menyiratkan kedamaian.
Ku ambil teh yang terhidang di meja,
untuk membasahi tenggorokanku yang lumayan kering, lalu ku nyalakan
rokok Djarum yang disuguhkan di meja.
“Bagaimana kang?” tanya Mashur.
“Syukur mas, udah beres, udah biarkan dia tidur.” kataku sambil mengusap keringat yang mengalir di jidat.
“Wah mau minta doanya mas, biar pondok
saya ramai.” kata Mashur, ketika kami berdua duduk di emperan mushola,
meninggalkan Ilham yang tengah tidur di kursi.
“Ah kita ini sama kang Hur, kang Hur diberi tangan dan kaki dua, saya juga, jadi pada kenyataannya kita ini sama,” kataku,
“Kenapa kang Hur tidak berdoa sendiri, minta pada Sang Kholik agar apa yang kang Hur harap bisa terwujud.”
“Kalau begitu, saya mbok dikasih amalan, biar santri saya tambah banyak.” kata Mashur sambil menyedot dalam-dalam rokok mlinjo.
Aku pun minta pena dan kertas, dan menulis amalan untuk mendapatkan santri banyak.
“Aku sebenarnya nyari tempat untuk nyepi, mengheningkan diri, apa di sini ada?” kataku setelah menyerahkan catatan amalan.
Kulihat Mashur menerawang, lama tak menjawab pertanyaanku.
“Mas Ian mau, ada tempat di pasar Pacul, tempatku yang tak terpakai,” katanya kemudian.
“Yah kita lihat aja dulu…” jelasku.
Dengan naik motor GL aku diantar Mashur
ke pasar Pacul, yang telah terlantar tak terurus, dan menunjukkan toko
yang telah jebol dinding papannya, yah cukuplah untuk tempatku menyepi,
maka malam itu aku mulai membersihkan bekas toko itu, dan ditinggal
sendirian di pasar. Ku ambil air di sumur pompa belakang pasar, sedang
waktu magrib telah tiba, ku ambil air wudhu dan menjalankan sholat di
dalam toko, tapi waktu aku selesai wudhu, seorang jin menghadangku,
perawakannya hitam, pakaian sobek-sobek, dan tubuh hitam legam, seperti
mandi oli,
“Ada apa kau menghadangku?” tanyaku, sambil mengusap air wudhu yang mengalir di jenggot kecilku.
Wajah tirusnya mengguratkan rasa takut,
bibir merahnya dan taring yang mencuat, meneteskan air liur, yang
membuatku tak bisa untuk tak meludah, dia mundur, “Ada apa?” tanyaku
lagi.
Terdengar suaranya mendengung, seperti suara lebah, tapi dengan nada berat, aku pun membuka batin.
“Aku mewakili, para penghuni pasar ini, kami minta tuan tidak bertempat di pasar ini….” katanya.
“Memangnya kenapa?”
“Kami merasa panas.”
“Kalau aku tetap bertempat di sini bagaimana?”
“Sungguh kami sangat memohon tuan….”
katanya dan perlahan menghilang. Aku pun melangkah ke dalam dan
melakukan sholat magrib, setelah wirid, aku pun beranjak, keluar, ah
mungkin aku tak usah mengganggu keberadaan para jin, aku pun memutuskan
pergi, menelusuri jalan sampai ke setasiun kereta api. Setelah sholat
isyak di musola setasiun, aku selonjorkan tubuh di kursi setasiun.
Seminggu telah berlalu, aku hidup di
stasiun Bojonegoro, tak pernah mandi, tidur seadanya, kadang menggelosor
di lantai setasiun aja, jadi tubuh dan lengan panjang, celana jean
belel sudah tak karuan warnanya, karena tertempel debu dan oli kereta,
juga rambut panjangku lengket dan gimbal, hingga tak jarang orang
menyebutku gila.
Aku tak perduli, terlalu terlena dengan
robul izati, tenggelam dalam wirid-wiridku, tenggelam teramat dalam,
bahkan aku pun tak memikirkan makan, karena memang tak ada sejumputpun
rupiah di saku, aku kadang makan sepotong nasi yang jatuh ke tanah,
Kadang juga cuma minum air wudhu, walau seminggu tubuhku telah teramat kurus.
Hari itu hari minggu, setasiun teramat
ramai, aku menggelosor aja di lantai, tenggelam dalam wiridku, tiba-tiba
tangan halus menepukku dari belakang, “Iyan…? Iyan khan?”
Ku buka mataku yang terpejam, dan
menengok ke belakang, seraut wajah gadis cantik nan anggun dengan
balutan jilbab coklat tua, membungkuk di belakangku, “Ya Alloh, Ian,
kenapa sampai jadi gini….” kata gadis bernama Eka Damayanti, dia
langsung memelukku dari belakang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar