Eka Damayanti, nama gadis itu, ku kenal
waktu aku kelas 2 SMA dan masih aktif menulis di majalah remaja, pertama
perkenalanku, dia waktu itu mencari rumahku, dan dia salah satu dari
penggemar karya tulisku, aku pulang sekolah ketika Eka berdiri di
pinggir jalan menuju lorong rumahku, dia menghentikanku, “Mas… Mas…
berhenti…” tegurnya. Aku baru turun dari Angkot.
Aku pun berhenti, dan menunggunya datang
menghampiri, saat itu Eka masih belum memakai jilbab, rambutnya diikat
dengan pita merah, dan wajahnya anggun, menyiratkan kedewasaan.
“Ada apa mbak?” tanyaku.
“Maaf ngeganggu sebentar, mau tanya nih mas…?” katanya dengan nada datar tapi merdu dan terdengar centil di telingaku.
“Tau alamat ini gak mas?” tanyanya,
sambil menyodorkan secarik kertas bertuliskan alamat. Di situ tertulis,
Febrian, kulon pon pes Al-alawi Sendang,
“Wah itu aku mbak.” kataku setelah membaca sebaris alamat di kertas yang ditunjukkan padaku.
“Ih yang bener?” katanya tersenyum ceria, dan ada binar bintang di matanya.
“Ya benerlah, masak bohong, tau dari mana tentang alamatku? Perasaan aku tak punya kerabat kayak embak.” kataku menyelidik.
“Aku ini bukan kerabatmu, tapi
penggemarmu, kamu penulis khan? Nah aku ini salah satu penggemar
beratmu.” katanya menjelaskan dengan mimik yang lucu, kayak guru TK
menerangkan pada muridnya.
“Wah jadi malu nih, aku cuma penulis kacangan, karyaku juga cuma ngawur aja, gak bermutu.” kataku salah tingkah.
“Tapi aku benar-benar kagum, sungguh, kamu calon penulis besar.” katanya memuji.
“Wah ini mau ke rumah atau ngobrol di sini aja.” kataku, karena kami dari tadi cuma berdiri di pinggir jalan.
“Eh iya, kayaknya aku juga belum kenal
namamu?” kataku setengah bertanya, saat kami berdua menyusuri tanggul
paping blok jalan di depan rumah,
“Eka Damayanti….” katanya, sembari menyodorkan tangan mungilnya. Aku pun menjabat erat, penuh persahabatan.
“Febrian, dah tau namaku khan?” candaku.
Dan tak terlalu lama kami pun nyampai
depan rumahku. Itulah perkenalanku dengan Eka, dan sejak saat itu kami
menjadi akrab, karena Eka hampir tiap minggu main ke rumahku, rumah dia
di daerah Rengel, jadi masih satu kabupaten denganku.
Setahun telah berlalu, dan aku telah
kelas tiga SMA, dan Eka menjadi salah satu sahabat, yang mengagumiku,
dia selalu mensuportku untuk menghasilkan karya-karya tulisku.
Aku teramat terbuka dengan Eka, sampai
soal pacar-pacarku Eka juga tau, suatu hari aku dan Eka jalan-jalan ke
Tanjung Kodok, “Yan…” kata Eka, ketika kami duduk di bawah tenda dan
menikmati es kelapa muda, sambil merasakan semilir udara pantai yang
membawa bau air laut yang khas,
“Ada apa?” tanyaku sembari mengeluarkan rokok Djarum merah.
“Umpama kita jadian gimana?” katanya dengan tatapan kepadaku, serius.
“Maksudmu mahluk jadi-jadian?” kataku mencandainya, memang aku paling suka kalau dia mbesengut.
“Ah kamu, aku ini serius.!!” benar juga dia mbesengut, dan dari situ terlihat jelas kecantikannya yang khas.
“Iya… iya, aku ngerti kamu serius.” kataku buru-buru mencegah kemarahannya.
“Trus gimana? Kamu setuju enggak?” tanyanya.
“Kamu tau sendiri lah Ka…, aku kan ceweknya banyak, aku tak tega kalau kamu jadi kemakan hati.”
“Kenapa semua cewekmu tak kamu putusin aja.!?”
“Wah, aku juga tak setega itu untuk memutusin mereka.” memang waktu itu cewekku ada 18 an, ah bisa dibilang raja pelet,
“Wah kamu ini tak tega atau kemaruk,
tamak, aku heran juga kenapa mereka, cewek-cewek itu mau-maunya kamu
renteng-renteng kayak tasbih.”
“Itu kan urusan mereka Ka,”
“Aku jadi heran Yan…”
“Heran kenapa?”
“Ya, apa mereka semua akan kamu jadikan istri semua…,?”
“Wah la ya enggak lah, mana mampu aku melayani mereka semua, bisa habis darah dihisap dan aku tinggal tulang.”
“Emangnya cewek lintah? Ngaco kamu.”
“Ya mending ngomong ngaco, daripada diam
kayak batu, bisa-bisa dianggap arca, trus digotong orang ditaruh di
Klenteng, ckakakak…”
“Ah jangan ngomong ngaco ah, trus kalau semua tak kamu jadikan istri kan pasti yang tak jadi istrimu akan sakit hati?”
“Kan aku terbuka, mereka mau jadi
cewekku, kan udah aku ceritain semua tentang aku, lagian aku udah
ngenalin antara satu dengan yang lain.”
“Bener-bener tak habis pikir aku Yan.., wah jangan-jangan kamu pakai ilmu pelet? Wah jangan-jangan juga aku kamu pelet?”
“Pelet semar ngakak? Ya kamu ngerasa dipelet enggak?”
“Bener aku ingat kamu terus.” katanya serius.
“Kalau malam ingat sampai kebawa mimpi?” tanyaku.
“He-eh.” jawabnya manggut.
“Wah kamu dah kena penyakit cinta, ckakakak…” kataku dan Eka pun mencubit lenganku.
Itulah aku dengan Eka selalu terbuka
lepas, tapi betapapun Eka sayang padaku, tapi kami tak pernah menjalin
asmara, karena aku tak pernah mau memutuskan sepihak pada pacarku, dan
hubungan kami sebatas sahabat, sahabat yang saling mengerti, sampai aku
bertaubat, dan meninggalkan masa lalu kelam, bayangan Eka pun ikut
hilang menjadi masa lalu, masa lalu yang ingin ku hapus dari ingatanku,
masa lalu yang hanya ku ingat ketika aku menangis pada satu kekasih
yaitu Alloh. Menghaturkan hina dan dosaku yang minta diampuni,
“Yan…! Kenapa kamu menjadi begini…” suara
Eka memelukku dari belakang, tak perduli pakaianku yang kotor, tak
perduli pandangan aneh semua orang yang ada di setasiun. Aku ingin
menjelaskan pada Eka, aku bukanlah Ian yang dikenalnya dulu, tapi aku
ragu apa ia akan mengerti.
“Ka… Kamu tak malu dilihat semua orang?”
“Aku tak rela kamu begini Yan…” katanya,
tangannya mencengkeram pergelangan tanganku, dan mengajakku berdiri, air
matanya meleleh membasahi jilbab coklat mudanya. Dulu Eka bukan gadis
yang suka memakai jilbab. Sampai pada pertemuan yang terakhir kami, aku
mengantarnya mendaftar di perguruan tinggi. Kami dalam satu bus menuju
Surabaya.
“Yan…! Andai kau menghayal punya istri, kamu mengharap punya istri yang bagaimana?” tanyanya dengan tatapan serius ke wajahku.
“Aku?” aku menerawang, “Aku membayangkan punya istri yang sholikhah…, ya setidaknya yang memakai jilbab,” kataku pasti.
“Berarti aku bukan termasuk kategori yang kau harapkan ya?” tanyanya seperti pertanyaan adikku minta permen.
“Ah sudahlah Ka, jodoh kan di tangan yang kuasa, andai kamu jodohku, aku juga tak kan menolak.” kataku tandas.
Tapi sampai di Surabaya, Eka mengajakku ke Butik busana muslim dan dia memborong jilbab.
“Wah untuk apa Ka, jilbab sebanyak ini?” tanyaku heran.
“Untuk persediaan aja Yan, siapa tau, aku
jadi jodohmu, hehe…” katanya sambil tersenyum manis, karena salah satu
jilbab langsung dia kenakan.
“Hm… Kamu makin cantik aja Ka, kalau makai jilbab.” pujiku tulus.
“Ah yang bener…” katanya dengan pipi bersemu merah.
Dan sekarang, hatiku teriris, Eka menangis di depanku, karena menangisi keadaanku.
“Ya Alloh, ampunkan aku, kenapa kau
jadikan hatiku selalu runtuh oleh tangis wanita… Kenapa tak kau uji aku
dengan yang lain saja.” keluh hatiku, dan aku seperti kerbau yang
dicocok hidungnya, mengikuti saja, kemana Eka menarik tanganku.
Aku diseretnya masuk depot makan, lalu
dia memesan nasi dan sepotong ayam panggang, juga dua gelas es jeruk.
“Nih makan… Pasti kamu beberapa hari tak makan….” katanya menyodorkan ke
depanku, seperti seorang ibu menyodorkan nasi pada anaknya,
Ku pandangi nasi di depanku, betapa
nikmatnya ayam bakar, sambel kecap, air liur begitu saja terkuras dari
sela-sela gigi membasahi tenggorokan yang tak sabar ingin menikmati
kelezatan.
Tapi aku terpaku, hatiku seperti terbang entah ke mana, ke dunia yang penuh asma Alloh.
“Heh makan..!” kata Eka suaranya seakan jauh, walau tepukannya di pundakku.
“Apa kamu sudah lupa cara makan, nih biar
ku suapi…” kata Eka yang segera mengambil piring di depanku, dan mulai
menyuapiku, pandangan mataku kosong, aku telah berjalan jauh, jauh, dan
teramat jauh, sampai di kedalaman dunia, dunia yang hanya kedamaian,
danau menghijau, suara airnya melantunkan ayat-ayat suci, pohon-pohon
menghijau, tertiup angin singkronisasi, mengalunkan dzikir dengan suara
berirama, embun yang setiap waktu turun dan seakan enggan sampai ke
tanah, karena terlena oleh puja puji pada sang khaliq.
Matahari yang bersinar lembut, dengan
kehangatan yang seakan diukur oleh dokter paling ahli, sehingga seperti
selimut yang membuatku teramat mengantuk dan terlena, dan aku tak sadar
lagi.
“Yan…!” suara itu mengagetkanku, suara
Eka yang menangis dan memelukku, air matanya membasahi pipi dan bajuku.
Aku kaget, segera melepas pelukannya. Ku lihat piring di depanku telah
ludes, juga wedang jeruk telah tinggal gelasnya saja.
“Yan., sadar Yan…!” Eka menepuk-nepuk pipiku.
“Aku sadar…” kataku.
“Udahlah Ka… mending kamu tinggalin aku…” kataku.
“Tak bisa, kalau perlu aku akan ikut denganmu…” katanya tegang.
“Kamu ini aneh-aneh aja, ya tak bisalah, kamu lihat sendiri keadaanku, bagaimana kamu mau ikut denganku?”
“Kamu mau lari dari kenyataan Yan? Kamu tak menerima keadaanmu, hingga mau pura-pura gila?” tanya Eka mencari kesepakatan.
“Siapa yang lari dari kenyataan? Bahkan
aku sangat menerima kenyataan, sudahlah Ka, jangan ngajak berdebat,
untuk saat ini biarlah aku sendiri.” kataku memelas,
“Tapi Yan, aku tak rela kamu begini….”
Eka menangis lagi, tanganku diraihnya dan ditempel ke pipinya, ada air
mata mengaliri punggung tanganku.
“Kadang sesuatu, harus direlakan, aku juga bukan mau mati, kenapa musti kau tangisi.”
Eka melepas tanganku, dan mencopot gelang, cincin, kalung yang dipakainya dan menggenggamkannya ke tanganku.
“Ini buatlah bekal, jangan lupakan aku.” katanya dan beranjak pergi.
Sekejap aku bengong, tapi segera mengejar
ke arah mana Eka pergi, ku lihat dia berdiri di tepi jalan, mencegat
bus jurusan Tuban.
“Ka ini apa-apaan,” kataku mengangsurkan segenggam emas ke tangannya.
“Udah pakai untuk bekalmu.” katanya menampik tanganku.
“Gak bisa Ka, kamu mau aku ditangkap Polisi, dengan tuduhan merampokmu?”
“Siapa? Polisi mana yang mau menangkap, kan itu ku berikan ikhlas padamu.”
“Ka… tak bisa Ka…,” ku angsurkan lagi emas ke tangannya tapi dia tolak.
“Maumu apa sih Yan? Aku ikut denganmu tak
boleh, aku tak tega kau begini, aku tak bawa uang, biar perhiasanku
untuk kau jadikan bekal…, tolong Yan… Jangan kau biarkan aku menangis
tiap malam karena mengkawatirkanmu…” Eka menangis lagi.
“Mengapa tak juga kau mengerti, betapa
aku menyayangimu, dan teramat menyayangimu…” katanya sambil berjongkok
dan menangis sampai tubuhnya terguncang.
“Baik Ka, sekarang apa yang kau mau? Tapi jangan kau suruh aku membawa perhiasanmu…” kataku ikut berjongkok.
Dia membuka tapak tangannya yang ditutupkan ke wajahnya.
“Sekarang ikut pulang ke rumahku.” katanya sambil mengusap air mata yang membasahi pipi.
“Baik, ini terima perhiasanmu dan
simpan.” kataku mengangsurkan perhiasan ke tangannya, pas ada bus
jurusan Tuban berhenti, dan kami pun segera naik.
Sampai di rumah Eka, aku pun turun dari
bus, masih digandeng Eka, dengan tatapan aneh para penumpang bus, sampai
di dalam rumah, aku langsung digeret ke sumur, ah biarlah, Eka juga tak
akan membunuhku, tatapan bu Asih, dan pak Junaidi, yang ada di kamar
tamu, tak digubris, kedua orang itu cuma sempat ngomong, “Lho Ka, kok
sama mas Ian….” tapi kata mereka tak dijawab, juga tak sempat aku jawab,
aku telah digeret ke sumur, dan air satu timba diguyurkan padaku,
“Udah Ka, aku bisa mandi sendiri,” kataku repot, gelagapan.
“Udah biar aku yang mandiin….” katanya sambil mengambil sampo dan mencuci rambut panjangku yang gimbal.
“Udah Ka… Biar aku mandi sendiri…! Udah ambilin handuk aja.” kataku, ketika Eka mau mencopot kaos lengan panjangku.
Eka tanpa berkata, pergi meninggalkanku,
aku telah selesai mandi ketika Eka datang membawa handuk dan pakaian
ganti, dan tanpa babibu, dia langsung mengelap rambut dan tubuhku.
“Udah aku ke kamar mandi dulu, mau ganti baju.” kataku mengambil baju ganti dari tangan.
“Ku tunggu di kamar tamu ya, tuh ayah nanyain…” kata Eka dari luar kamar mandi.
“Heeh, udah nanti aku ke sana.” jawabku.
Setelah ganti baju, aku segera ke ruang
tamu, pak Junaidi, pegawai pemda, orangnya ramah dan suka bercanda, bu
Asih ibunya Eka, seorang guru SMP, mereka berdua pun menyambutku dengan
ramah, aku bersalaman dan duduk di kursi.
“Ketemu di mana, dengan Eka dik Iyan?” tanya bu Asih.
“Wah tadi ku temukan di setasiun, lagi
jadi gelandangan,” kata Eka, yang baru keluar dari dalam dan membawa
sisir, lalu begitu saja menyisir rambutku, ku tolak tapi tetep aja Eka
menyisir sambil berdiri di kursi yang ku duduki.
“Udah makan nak Ian? Mbok sana Ka disiapkan makan…” kata pak Junaidi.
“Em… Ku buatkan pecel lele kesukaanmu ya?” tawar Eka masih menyisir rambutku.
“Udah Ka, jangan repot-repot.” jengahku.
“Iya Ka… sana beli lele…” kata bu Asih.
“Dan Eka segera beranjak….”
Tinggal aku dan pak Junaidi, sementara bu Asih masuk.
Sebentar kami terdiam, sampai pak Junaidi membuka pembicaraan.
“Nak Ian, gimana khabar orang tuanya, baik?” tanya pak Junaidi.
“Alhamdulillah baik pak.”
“Ini sebenarnya saya mau tanya ke nak Ian, jangan tersinggung lo ya?” kata pak Junaidi dengan nada hati-hati.
“Tanya aja pak, tak usah rikuh.” kataku tak enak dengan nada kehati-hatian pak Junaidi.
“Begini nak Ian, apakah sebenarnya
hubungan nak Ian dengan Eka?” tanya pak Junaidi, sebentar terdiam,
“Sekedar teman, atau…. pacaran… Maksudku kekasih.”
“Ya selama ini kami cuma berteman akrab kok pak, tak lebih, juga bukan sepasang kekasih.” jawabku tenang.
“Tapi Eka itu sayang banget sama nak Ian, yang diceritakan tiap hari ke ibunya, hanya nak Ian aja….” tambah pak Junaidi.
“Saya juga sayang sama Eka kok pak, tapi
sayang antara sahabat, tak terkotori nafsu birahi, saya menghargai dan
menghormati Eka, jika ada yang mengganggu Eka, saya akan membelanya
dengan sekuat saya.” kataku masih tanpa emosi.
“Ya kalau begitu bapak mengerti… Silahkan diminum tehnya nak, bapak tinggal dulu…” kata pak Junaidi meninggalkanku.
Sebentar kemudian Eka telah datang membawa ikan lele segar, dan langsung memasaknya jadi pecel lele, kami makan bareng.
Sore itu aku pamitan, Eka dan ayah ibunya memintaku tinggal lebih lama, tapi aku memaksa pergi,
Eka mengantarku sampai jalan raya, dan sampai aku mau naik bus, dia memasukkan amplop ke sakuku.
“Ini untuk bayar bus..” katanya melepasku.
Aku segera naik bus, ketika kondektur
minta ongkos bus, aku ingat uang yang dimasukkan Eka ke dalam sakuku, ku
ambil satu dan tanpa melihat ku serahkan pada kondektur.
“Wah mas, apa tak ada yang kecil?” katanya.
Aku kaget ternyata yang ku serahkan uang seratusan ribu.
Aku terima uang dari kondektur itu, lalu
kembali merogoh ke dalam amplop, tapi tiap ku keluarkan ternyata semua
seratusan ribu, wah jadi Eka memberikan uang padaku 1 juta,
“Tak ada yang kecil mas, cuma ini.,” kataku menyerahkan uang seratusan.
Di Bojonegoro kembali aku turun di stasiun kereta api.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar