ada, sebentar ibu panggilkan, ayo duduk
dulu di kursi, ibu kedalam dulu..” kata bu Aminah ramah. Bu Aminah masuk
ke dalam, bersama Ulfa.
Sebentar kemudian pak Ibrahim keluar, disertai bu Aminah, dan seorang pembantu yang membawakan makanan ringan dan minuman.
“Eh nak Iyan, habis jalan-jalan sama Ulfa ya?” tanya pak Ibrahim sambil menyalamiku.
“Iya pak, sambil sekalian ada perlu sedikit sama bapak dan ibu…” kataku tak menunggu masalah bertele-tele.
“Wah perlu apa kok kelihatannya sangat penting?” kata pak Ibrahim yang duduk di depanku berdampingan dengan bu Aminah.
“Begini pak…” wah agak rikuh juga
menyampaikannya, tapi kalau tak dijelaskan sekarang malah akan makin
panjang dan tak tau kapan berujung pangkal.
“Itu pak…” aku masih kikuk juga, padahal
sudah tarik nafas berkali-kali supaya mantap dalam menyampaikan, tapi
rasanya lidah kelu amat.
“Sudah tak usah ragu, disampaikan saja…”
kata bu Aminah melihat keraguanku. Mungkin aku tak langsung ke pokok
pembahasan, tapi cari lorong kecil untuk menuju ke muara,
“Sebenarnya, Ulfa sudah punya pacar.” kataku menunggu ekpresi wajah kedua orang di depanku.
“Wah ku rasa itu biasa nak Ian, siapa sih
remaja sekarang yang tak berpacaran, melihat tayangan televisi zaman
sekarang seperti ini, remaja juga pasti ikut terseret, jadi bapak kira
wajar,” kata pak Ibrahim sambil ketawa.
“Iya ibu kira juga apa, kiranya cuma masalah itu, nanti juga kan suaminya cuma nak Ian seorang.” tambah ibu Aminah.
“Tapi bu, pak, masalahnya Ulfa telah hamil.” kataku dari pada muter-muter tak karuan.
“Apa, hamil?!” suara kedua orang di depanku hampir berbareng. Aku manggut.
“Bruak…!” meja digebrak pak Ibrahim, sampai aku kaget tanpa buatan, soalnya tak menyangka sama sekali kalau meja bakal digebrak.
“Jangan menuduh sembarangan tanpa bukti
kau Ian!” bentak pak Ibrahim, dengan mata merah dan telunjuknya menuding
ke arahku, keder juga aku.
“Kalau tak mau jadi jodoh Ulfa, bilang
aja tak mau, jangan terus memfitnah tanpa bukti! Tak ku kira anak pak
Mustofa, berpikiran sekeji itu.” muka pak Ibrahim memerah, urat lehernya
menegang.
“Sareh pak..!, Ingat penyakit darah
tinggimu.” kata bu Aminah. Walau ku lihat dia juga menatapku marah,
keramahannya yang tadi barusan entah terbang kemana.
“Tapi pak, saya tidak menuduh, bapak
kenapa tidak bertanya sendiri pada Ulfa, jadi persoalanannya akan
jelas.” kataku, sudah terlanjur nyebur, basah sekalian.
“Panggil Ulfa bu!” bentak pak Ibrahim sambil menepis tangan istrinya yang memegang lengannya.
“Awas kalau ini cuma fitnah,” kata pak Ibrahim memelototiku.
Bu Aminah ke dalam, dan sebentar kemudian
telah keluar lagi bersama Ulfa, belum lagi Ulfa duduk di kursi, pak
Ibrahim telah membentaknya.
“Benar kamu hamil!?” Ulfa terdiam masih
berdiri menunduk, air matanya mengalir, hingga jilbab hitam
kembang-kembang yang dipakainya basah.
“Jawab! Jangan nangis aja, kamu hamil atau tidak?!” bentak pak Ibrahim dengan suara menggelegar.
Ulfah manggut.
“Iya….” suaranya lirih tertindih perasaannya yang berkecamuk.
“Dasar anak sial, tak tau diuntung!” pak
Ibrohim berdiri, dan mau mengemplang Ulfa, tangan telah diangkat, aku
segera melompat meja, dan memegang tangannya, dan ku tarik mundur.
“Sudah pak… sabar…” bujukku.
“Tak ada sabar, anak telah mencoreng nama
orang tua, musti dihajar! Mau ditaruh di mana mukaku?!” kata pak
Ibrohim berusaha lepas dari peganganku. Segera ku tempel tangan ke
pundaknya untuk menyalurkan hawa mengendapkan amarahnya, tak berapa lama
pak Ibrahim membalik ke arahku dan menangis memelukku.
“Sudahlah pak, sudah terlanjur terjadi,
jadi dicari aja jalan keluar terbaik.” kataku sambil menepuk bahunya.
Suasana pun kembali tenang. Tapi bu Aminah masih menangis sesenggukan,
“Laya… Laya… dosa apa ibumu ini, sampai dicoba sedemikian beratnya?” katanya.
“Sudahlah bu, semua orang pasti dicoba
oleh Alloh, jadi tak usah dikeluhkan, dicari saja jalan keluar
terbaiknya.” kataku setelah menuntun pak Ibrahim duduk di kursi sofa.
“Dan menurutku jalan terbaik adalah
menikahkan Ulfa dengan Imron, lelaki yang menghamilinya, tapi saya tak
mau turut campur dengan urusan keluarga bapak, jadi sekalian saya mau
mohon diri.” kataku.
Pak ibrohim berdiri dan memelukku lagi, “Maaf nak Ian, bapak telah menuduhmu yang tidak-tidak,”
“Tak apa-apa pak, misalkan saya juga akan merasa terhina kalau anak saya dituduh berbuat yang tidak benar.” kataku.
“Andai kamu yang jadi suami Ulfa, betapa bangganya aku.”
“Yah kalau tidak jodoh, tak bisa
dipaksakan….” Aku pun pamit, dan bu Aminah segera ke dalam mengambil
bungkusan kerdus dan menyerahkan uang dalam amplop, aku menolak tapi bu
Aminah tetap memaksa, terpaksa ku terima, aku pun kembali ke tempat pak
Fadhol, sampai di rumah pak Fadhol, melakukan sholat dzuhur, dan aku pun
pamit melanjutkan perjalanan, apa yang diberikan oleh ibu Aminah ku
serahkan semua kepada pak Fadhol, juga uang dalam amplop, yang ku tak
tau berapa isinya, awalnya pak Fadhol dan istrinya menolak, tapi setelah
ku bujuk, akhirnya uang dan bungkusan dalam kerdus pun diterima, hingga
aku bisa melanjutkan perjalanan dengan perasaan enteng tanpa beban.
Angin persawahan, yang membawa aroma
lumpur dan harum dedaunan mengantar setiap pijakan kaki, kuputuskan
pergi ke daerah Bojonegoro melewati daerah persawahan dan kedalaman desa
terpencil, yang mata-mata penduduknya menatap aneh padaku, kadang ku
sebrangi sungai, kadang ku susuri pematang, kadang aku nikmati
burung-burung yang berloncatan riang di dahan, mencarikan makan untuk
anak-anak mereka yang menunggu di sarang, sambil duduk aku selonjorkan
kaki di bawah pohon yang rindang, melepas lelah.
Sesekali orang di sawah menyapaku, ah
ketabahanku kalah dengan mereka, yang tiap hari bergelut dengan lumpur,
menanam padi, merawatnya, sampai panen, dengan kesabaran, panen tak bisa
dipaksakan, betapa tawakalnya mereka, tak memaksakan hasil cepat
didapat, walau hasil lama didapat, tapi mereka dengan sabar datang ke
sawah, entah mencabut rumput, mengusir tikus, dan mengusir burung,
layakkah aku mengharap keberhasilan tanpa susah payah? Layakkah aku
hanya duduk ongkang-ongkang, lalu mendadak dekat dengan Alloh, sang
kekasih.
Ah aku malu, cepat ku ayunkan kaki, mungkin aku harus lebih semangat dalam pencarianku, hingga dapat mengeja khaliah dari Robku.
Ya Alloh tuntunlah setiap gerak gerikku,
Ya Alloh tuntunlah setiap gerak gerikku,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar