diam aja?” kataku membuka pembicaraan, kalau saling menunggu, lama-lama bibir bisa kesemutan,
“Kamu juga diam.” katanya membalas. Wah kayak saling lempar kesalahan.
“Kamu tau, kenapa oleh ayah ibumu kita dipertemukan kayak gini?” tanyaku lagi.
“Ya tau, kan udah dikasih tau ama ayah ibu.” jawabnya.
“Berarti kamu setuju, dengan perjodohan ini?” wah kenapa aku yang jadi Polisinya.
“Aku ngikut ayah ibu aja,”
“Wah apakah itu tak membabi buta? Kamu
kan baru kenal aku, lagian pasti kamu ndak cinta padaku, apa nanti tak
nyesal seumur-umur.”
“Pokoknya ayah ibu menilai baik, maka aku
akan menilai baik, aku hanya mencoba taat, kan surga ada di telapak
kaki ibu, kalau Nabi sudah bilang begitu, kenapa harus ragu?”
“Wah kamu ilmunya lebih mendalam, kalau aku bodoh banget, kamu sekolahnya lebih tinggi… dan…”
“Kamu sebenarnya mau denganku apa enggak?” tiba-tiba ku rasakan dia menyerang balik aku.
“Ndak tau.” jawabku dengan tatapan kosong ke wajahnya yang berkerut alisnya.
“Ndak tau gimana? Aku kurang cantik
menurutmu? Kamu ndak cinta, kan cinta bisa tumbuh karena kebiasaan? Apa
aku kurang kaya? Ini semua nanti akan jadi milikku, aku cuma anak
tunggal.” katanya seakan mengharuskanku untuk mau.
“Kamu cantik, malah terlalu cantik
bagiku, hingga membuatku takut, tanganku yang kasar akan melukaimu kalau
menyentuhmu, kamu pinter, malah terlalu pinter bagiku, sehingga kalau
aku di dekatmu kayak gini perasaan kayak ngikuti perlombaan cerdas
cermat. Kaya? Wah itu tak disangsikan, kalau aku menikahimu, kayak
memetik buah apel mateng di pohon.”
“Nah tunggu apa lagi…, soal cinta nanti kan bisa dibangun bersama… please bantu aku taat pada ayah ibuku.” bujuknya.
“Biarkan aku berfikir dulu Ul…” kataku,
“Apa? Kau panggil apa aku?” tanyanya.
“Iya kupanggil Ul, namamu Ulfa kan?”
“Ih masak dipanggil Ul, gak ada mesranya
sama sekali, kayak dengkul kepentok kursi aja suaranya,” dia manyunkan
bibirnya meruncing, kayak pensil habis diraut.
“Ya aku musti panggil apa?” aku jadi keki karena tak biasa bermanis manja ama perempuan.
“Ya panggil Laya kek.”
“Wah kok kesannya kamu sudah tua, kalau pake kek segala.”
“Iiih maksudku Laya aja.” katanya gemes, dan pipinya memerah.
“Wah kalau Laya, kok kayak anak kecil meneriakin layangan putus.”
“Udah deh kamu panggil apa aja… Kamu suka ya kalau aku ngambek.” katanya mbesengut.
“Tapi makin cantik kok.” kataku menggoda, maksudku agar dia makin benci padaku, tapi seketika ku lihat raut wajahnya sumringah.
“Berarti kamu udah mau?” tanyanya.
“Mau apa?” kataku bego.
“Ah masah gak ngerti, kan yang tadi kita omongin.”
“Yang mana? Tentang aku memanggilmu kakek?”
“Iiih, ya udah…!” Dia uring-uringan lalu
beranjak dari kursi dan berlari ke dalam. Hatiku bersorak, kena kau ku
kerjai. Dalam hati aku berbisik dalam doa, ya Alloh maafkan aku, Engkau
tau bukan maksudku begitu.
Tak lama pak Fadhol keluar diiringi pak Ibrohim dan istrinya.
“Sudah bicara, dan perkenalannya?” tanya pak Fadhol.
“Jangan diambil hati nak Ian, kalau Laya rewel, maklum anak tunggal, jadi manja.” kata istri pak Ibrohim.
Sebentar kemudian kami pamit pulang. Di jalan sambil membonceng, pak Fadhol bertanya,
“Gimana ngger, cantik kan orangnya?”
“Iya pak, cantik.” kataku.
“Berarti sudah cocok dong?”
“Ndak tau pak.”
“Ndak tau bagaimana?”
“Cocok enggaknya kan tak bisa dinilai sekilas aja pak.”
“Iya bapak ngerti.”
Setelah sholat isyak dan wirid, aku
segera tidur, tak mau masalah Ulfa jadi beban pikiranku, bahkan tak mau
dia masuk dalam mimpiku, sampai pagi datang, suara adzan membangunkanku,
aku segera ambil wudhu dan berangkat ke masjid dengan pak Fadhol.
Setelah sholat subuh aku wirid agak lama, hingga pak Fadhol
meninggalkanku. Matahari akan muncul, aku baru pulang ke tempat pak
Fadhol.
Sampai di depan rumah pak Fadhol ku lihat
motor Mio di depan rumah. Ah pasti ada tamu. Aku pun melangkah ke pintu
dan betapa terkejut aku, si Ulfa lagi duduk di kursi ditemani istri pak
Fadhol.
“Ini pagi-pagi udah main kesini nak Ian, pasti semalam Laya tak bisa tidur.” kata istri pak Fadhol,
“Sana ditemani, ibu tak ke dalam dulu.”
“Kok pagi-pagi udah maen?” tanyaku sambil duduk di kursi kayu, sehingga terdengar kriet karena tergenjet beban tubuhku.
“He-eh, mau ngajak kamu maen.” katanya.
“Main kemana?” tanyaku.
“Ya kemana aja, supaya kita masing-masing saling kenal.”
“Tadi sudah ijin sama ayah ibumu?”
“Sudah.”
“Diijinin?”
“Ya diijinin lah, masak bisa nyampek sini, kalau tak diijinin?”
“Ya siapa tau kamu kabur.”
“Enak aja, emangnya aku perempuan apaan? Aku itu teramat tunduk pada ayah ibuku.”
“Ih promosi…., “
“Ah jangan goda terus ah, mau enggak kamu ku ajak jalan?”
“Kamu tak takut, kalau ku apa-apakan?”
tanyaku sambil ku tatap lekat-lekat ekpresi wajahnya, dan dia balas
menatapku dengan titik embun di matanya, sehingga memaksaku memalingkan
pandang dan berlindung pada Alloh atas godaan syaitan yang terkutuk,
tapi juga aku mendesah dalam hati, mengapa begini berat cobaan yang Kau
beri duhai kekasih, apakah aku akan berpaling dariMu.
“Kenapa harus takut? Aku tau kamu bukan tipe lelaki seperti itu.”
“Dari mana kamu tau?”
“Dari tatapan matamu padaku.”
“Emang kenapa tatapan mataku?”
“Kamu tak pernah menatapku dengan tatapan birahi.”
“Ah sok ngerti aja kamu, siapa tau di hatiku aku birahi padamu.”
“Ya bagus, kan nantinya kita jadi suami istri.” katanya sumringah.
“Siapa yang mengatakan begitu?” tanyaku.
“Ah tak usah muter-muter ah omongnya, mau enggak ku ajak jalan?”
“Entar dulu aku tak ijin ibu.”
Aku segera berjalan ke dalam dan ijin
untuk pergi. Kami pun berboncengan di motor, aku risih juga ketika Ulfa
menempelkan tubuhnya lekat di tubuhku, dan kedua tangannya melingkar di
pinggangku, seperti memakai sabuk ular aja rasanya.
Sebenarnya pikiranku menerawang jauh,
mengingat satu-satu tentang mimpi semalam, padahal aku tak melepas
sukma, kurasa mimpiku itu nyata, tentang Ulfa dengan seorang pemuda
bernama Imron. Ketika sampai di jalan sepi, jauh dari perumahan, nampak
sebuah warung, kubelokkan motor ke warung dan berhenti di depan.
“Mau sarapan?” tanya Ulfa,
“He-eh.” jawabku dan segera turun dari
motor melangkah ke dalam warung, kulihat perempuan setengah baya tengah
menaruh gelas piring, aku segera memesan teh hangat, juga untuk Ulfa. Ku
comot gorengan, sembari menunggu teh datang, perempuan pelayan warung
itupun membawakan teh hangat, meletakkan di depan kami dan masuk lagi,
tinggal aku dan Ulfa, ku sruput teh, rasa hangat mengaliri
tenggorokanku, ku pandang Ulfa di depanku.
“Heh, kenapa menatapku seperti itu?” jengahnya.
“Kenapa kamu tak terus terang?” kataku.
“Terus terang apaan?” tanyanya jidatnya mengerut.
“Terus terang pada kedua orang tuamu, kalau kamu hamil.” kataku datar tanpa ekspresi.
“Ih ngaco kamu, kamu kesambet ya?” katanya wajahnya memerah, pias dia tak dapat menyembunyikan keterkejutannya.
“Heh, ngaco? Aku tau semua, tentang Imron, tentang hubunganmu dengannya, perbuatanmu dengannya, dari a sampai z aku tau…”
“Tau? Tau dari mana? Kamu temannya Imron? Imron yang cerita padamu?” Ulfa panik.
“Aku tak pernah kenal dengan Imron, tapi
aku tau semua… Walau aku tak kenal Imron, dan tak pernah ketemu
dengannya, tapi aku tau siapa ayah ibunya, rumahnya bagaimana, bahkan
kamu melakukan dengannya di mana aja, kalau tak percaya, kamu melakukan
dengannya pertama kali di sebuah bugalow di pinggiran Telaga Sarangan,
apa perlu ku ungkap semua?”
Wajah Ulfa memerah, menunduk dalam, aku
harus tega, kebenaran harus diluruskan, walau dalam hati ada rasa iba
menyeruak, untuk tak menyakiti perempuan secantik Ulfa, tapi kebenaran
adalah kebenaran yang tak mengenal cantik atau jelek, diletakkan di
manapun kebenaran tetap harus berjalan dalam relnya.
“Bagaimana mungkin kau tau?” tanyanya
seperti anak kecil bego yang tak pernah kenal sekolah, atau orang tua
yang buta huruf, diberitahu bunyi sebaris tulisan.
“Itu tak penting, yang penting aku tau,
aku aja tau apalagi Alloh, Alloh Maha Tahu segala-galanya, kamu bisa
mendustai orang tuamu, tapi tak bisa mendustai, dan menipu Alloh, dan
jika Alloh menghendaki aku untuk tau apa susahnya?” kataku.
“Apakah kau seorang auliya’?” tanyanya dengan wajah takut.
“Auliya’? Aku hanya orang sepertimu, yang
hampir kau tipu dan kau perdaya, yang akan kau buat menutupi aibmu.”
kataku dengan senyum sinis.
Seketika tubuh Ulfa gemetar, dan luruh merosot dari kursi, dan bersimpuh di tanah, menangis….
“Maafkan aku, maaf… hu.. hu..” suara
tangisnya makin keras, membuat ibu yang menjadi pemilik warung keluar,
tapi kembali ke dalam lagi setelah ku beri isyarat dengan tangan.
“Bukan padaku kau minta maaf, kepada
kedua orang tuamu, yang telah kau tipu selama ini, harusnya kau minta
maaf, juga segeralah kau bertaubat pada Alloh,” kataku dengan nada
lemes.
“Aku tak sanggup, ayah ibu, selama ini
betapa menyanjungku, aku anak yang berbakti, aku tak bisa mengecewakan
mereka.” katanya mengiba.
“Lucu…. lalu kamu mau menunggu apa lagi? Mau menunggu orok di dalam rahimmu lahir?” kataku lumayan ketus.
“Kenapa kamu tak malu dulu pada saat
melakukan? Kamu nikmati tiap inci dosa-dosa, ini baru hamil, belum
akibat lebih buruk, kamu masuk neraka, apa kamu sudah merasa kebal
dibakar api? Atau jangan-jangan tak ada iman di hatimu? Jangan-jangan
kamu tak percaya akan adanya keadilan Alloh?” Ulfa terdiam aku lanjutkan
kata-kata.
“Apa kamu menunggu keadilan Alloh tiba?
Aibmu dibuka di depan makhluq seluruh dunia, dari jaman nabi Adam sampai
sekarang?” Ulfa masih diam.
Tiba-tiba matanya nanar menatapku, merah, dan ada lingkar hitam di sekitar mata.
“Biarkan aku mati! Biarkan..!” “bruak!”
dia menggebrak meja, gelas minumannya sampai terlontar dan jatuh pecah
di lantai warung. Lalu dia lari keluar, seperti orang kesetanan, menuju
kebun belakang warung, ada kebun tebu dan gerumbul hutan kecil, aku
segera memburu, ku ikuti arah jeritannya.
“Biarkan aku mati!” Ulfa lari tak
terarah, menerobos semak perdu, ku percepat memburu di belakangnya,
setelah dekat ku sergap dari belakang, aku dilempar, ternyata kuat
sekali, ah ada yang tak beres, masak kekuatan wanita bisa melemparku
dengan ganas begitu, menyadari hal itu, lalu ku baca wirid tiga kali, ku
salurkan ke tapak tangan, tangan terbuka ku hantamkan ke punggungnya,
Ulfa terpelanting, jatuh terjengkang. Matanya merah menatapku,
“Siapa kau!?” bentakku,
“Hahaha, aku penghuni pohon mahoni tua…” suaranya berat, suara lelaki.
“Kenapa kau memukulku?” tanyanya.
“Aku tak cuma akan memukulmu, tapi akan
membakarmu jadi arang kalau kau tak segera keluar dari tubuhnya.” kataku
sambil membaca wirid, menyalurkan tenaga ke tapak tangan, dan
membayangkan tanganku telah berbentuk api, tapak tanganku mulai ku rasa
hangat.
“Heh.! Hehehe…, mau kau bakar aku? Kau bakar dengan apa?” tanyanya.
Tanganku mulai memanas, “Lihat ini…” tangan ku acungkan.
“Ampun..!, Ampun…” katanya lagi.
“Cepat keluar!”
“Iya.., aku keluar.” katanya, dan Ulfa
pun mengejang, dan lunglai, aku segera mendekati, ku tempel tangan ke
kepala dan punggungnya, untuk mengambil pengaruh jahat yang masih
tertinggal, dan perlahan dia sadar dan membuka mata.
“Hah… Kenapa aku di sini mas…?” tanyanya,
tapi segera ku ajak kembali ke warung, diantar tatapan kawatir oleh
suami istri pemilik warung.
“Tak apa-apa mas?” tanya lelaki paruh baya pemilik warung,
“Tak apa-apa kok pak.” jawabku rikuh,
setelah sampai di dalam warung aku minta air putih untuk diminum Ulfa,
tak lupa ku isi, supaya hati dan pikirannya tenang.
Setelah memutuskan, aku akhirnya mengantar Ulfa pulang ke rumahnya, sampai di depan rumah, bu Aminah ibunya Ulfa menyambutku,
“O… nak Ian, mari-mari, ibu kira Ulfa
dengan siapa? Ternyata dengan nak Ian, tadi pagi Ulfa juga pamitan mau
main ke tempat nak Ian.” kata bu Aminah, dengan senyum tak dibuat-buat.
“Maaf bu, bapak ada?” kataku tak bertele-tele.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar