Kamis, 18 Juni 2015

ladalah, aku kok malah mumet to mendengar penuturanmu?” kata pak Fadhol, mengerutkan kening, dan tangannya memegangi kepala.
“Saya aja yang mengucapkan mumet, apalagi sampean..” kataku, dan kami tertawa berdua. Kira-kira saat itu jam 1 dini hari, tiba-tiba pak Fadhol mengajakku ke kebun jagung belakang rumah, ku kira mau membakar jagung. Sementara bulan di langit terang mengapung di angkasa. Ini tanggal 19, sehingga bulan masih penuh. Sampai di kebun, tiba-tiba pak Fadhol menghentakkan kaki dan tubuhnya meloncat seperti belalang, melenting ke pucuk pohon jagung, ringan seperti kapas, kemudian berlarian di pucuk-pucuk pohon jagung, lalu kembali ke depanku.
“Apa ilmu begini ini yang kamu cari ngger?” kata pak Fadhol masih berdiri di pucuk pohon jagung, dan daun itu cuma bergoyang sedikit.
Aliran di pusarku mengalir deras, mengalir cepat ke seluruh urat di tubuhku, sehingga seketika tubuhku terasa enteng. Tapi aku cepat-cepat minta perlindungan pada Alloh, dan minta disembunyikan siapa aku, dijauhkan dari pamer dan takabur.
“Ah ndak butuh ilmu seperti itu aku pak Fadhol.” jawabku.
“Lho memangnya kenapa? Semua pemuda menginginkan ilmu seperti ini.., kok kamu enggak?” kata pak Fadhol sambil melayang ringan ke sampingku.
“Punya ilmu kayak gitu juga buat apa kalau hidup susah, hati nggrengseng, yang ku inginkan ketenangan batin, sehingga saat aku beribadah pada Alloh pikiran dan batinku tak kemana-mana.”
“Weh kamu ini cita-citanya sebenarnya sepele, tapi setelah ku pikir kok teramat tinggi, dan di atas kewajaran.” kata pak Fadhol sambil melangkah memetiki jagung muda.
“Sebenernya itu keinginan wajar, seperti keinginan orang pada umumnya, tapi…”
“Tapi apa ngger?” tanya pak Fadhol, tangannya tak henti mengupas jagung, dan membersihkan, lalu menyalakan api pada tempat pembakaran, yang sepertinya sudah biasa dipakai, aku pun dengan cekatan membantu meletakkan jagung di api yang mulai membesar.
“Ya tapi mewujudkannya dalam nyata yang susah, apa itu cuma ada di batin?”
“Aku sendiri tak tau ngger, dulu aku juga sering lelaku sepertimu, tapi yang ku cari ilmu kanuragan, aji kesentikan. Eh, besok ayo ke tempatnya H. Ibrahim.”
“Mau apa pak? Apa dia juga kenalan ayahku?”
“Weh bukan kenalan lagi, sudah seperti saudara malah, dia pernah ngomong mau menjodohkan putri satu-satunya denganmu…”
Ah kenapa lagi-lagi soal jodoh… apa memang aku sudah saatnya menikah?
“Kenapa?” kata pak Fadhol melihatku melamun.
“Ah tak papa kok pak…”
“Kamu ragu ama anaknya pak Ibrahim? Ee.. kalau nanti sudah melihat orangnya kamu pasti bilang he-eh, orangnya cantik, pinter, jebolan Nggontor, mau apa lagi, kekayaan ada.”
“Ya nantilah pak.” kataku supaya Pak Fadhol tak cerita terlalu banyak. Malam itu, setelah sholat magrib, aku diajak pak Fadhol ke tempatnya pak Ibrahim, naik motor Honda cdi, rumahnya tak terlampau jauh cuma 2 km. Sampai di rumah pak Ibrahim, hampir isyak, pekarangan rumahnya luas, berpagar besi, dan bertutup viber, halamannya luas, aneka pohon dan bunga tertata rapi, sebagian halaman tertutup batako, dan sebagian tertutup rumput Jepang di antara beraneka tanaman bunga. Bangunan rumah mewah dan berkelas, dengan tiang besar-besar dan bundar. Rumah bercat kuning gading, dan lantai dari marmer. Dari situ aja udah membuatku grogi, bukan karena aku yang miskin, aku hanya berpikir jika anak pak Ibrahim jadi istriku, tentu mahal biayanya merawat anak orang kaya.
Tapi ya udahlah, tapi aku benar-benar berdoa, moga-moga, dia bukan jodohku. Kami mengucap salam, dan pak Ibrohim keluar, menyambut, orangnya perawakannya tinggi besar dan gagah, umurnya mungkin 50 tahun, tak kelihatan tua, juga ibu Aminah, istri Pak Ibrohim keluar menyambut, orangnya cantik, berkerudung lapis dua, aku jadi berpikir, ah kalau ibunya aja secantik itu apalagi anaknya. Kami dipersilahkan duduk.
“Wah ada angin apa ini, kok kang Fadhol dolan kemari, padahal sudah lama kami sekeluarga ingin ketemu.” kata pak Ibrohim dengan suara berat.
“Pertama, ya biasa pengen silaturrahmi, dan kedua… Ini, ngajak putranya pak Mustofa main ke mari.” kata pak Fadhol tanpa banyak basa basi.
“Anaknya pak Mustofa Tuban maksudmu kang?”
“La iya, pak Mus yang mana lagi?”
“Ini…” tangan pak Ibrohim menunjukku.
“Iya pak…” kataku agak grogi.
“Weh sudah sebesar ini..?” kata pak Ibrohim, entah untuk basa basi atau apa, aku tak tau.
Aku pun ditanya sama pak Ibrohim, seperti Polisi mengintrograsi penjahat, tak satupun pertanyaan terlewat, seakan aku ini benar akan jadi menantunya, sampai ibu Aminah keluar dengan seorang pembantu membawakan makanan dan minuman,
“Ini lo bu, anaknya pak Mus…” kata pak Ibrohim ditujukan pada istrinya.
“Weh kok bisa kebetulan… Apa sudah dikasih tau?” kata bu Aminah.
“Ya sudah to bu…” kata pak Ibrahim.
“La kalau sudah, tunggu apa lagi? Mbok yang tua pada ke dalam biar yang muda berkenalan.” tambah bu Aminah, membuatku makin kikuk aja.
“Laya…!, Kesini…” bu Aminah memanggil. Dari dalam terdengar sahutan, dan keluarlah gadis jangkung, berjilbab hitam dengan motif bunga, pakaiannya berwarna ping juga dengan motif bunga, di pergelangan tangannya berhias hitam putih renda.
“Ayo-ayo yang tua ke dalam, mari pak Fadhol, nak Iyan, di sini aja ya, Laya sana nak Iyan ditemani ngobrol.” kata bu Aminah. Laya panggilan dari nama lengkap Ulfa Nurul Layali.
Gadis itu duduk di kursi depanku, banyu minyak wangi lembut segera menerobos hidungku, ku pandang sekilas wajahnya rupanya dia juga melirikku, mata yang bening seperti embun, alis mata yang tebal, pipi kemerahan, hidung yang mancung kecil, bibir nan merah dengan lipstik tipis, dagu yang lancip. Dia duduk menunduk, kulihat tangannya putih, terkulai di pangkuan, jari jemari lentik saling bertautan, ah denganku teramat jauh, tentu saat itu aku betapa hitam, karena berhari-hari berjalan di terik matahari, sempat mandi juga waktu di rumah pak Fadhol, tentu wajahku berminyak, sepeti wajan dan penggorengan. Ah sudahlah dia tak mau denganku juga Alkhamdulillah apa yang musti dikawatirkan. Aku juga tak ingin kelihatan gagah di muka dia. Perduli amat, batinku, memompa rasa percaya diri. Lama juga kami terdiam, seperti radio yang menunggu dinyalakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar