ladalah, aku kok malah mumet to mendengar penuturanmu?” kata pak Fadhol, mengerutkan kening, dan tangannya memegangi kepala.
“Saya aja yang mengucapkan mumet, apalagi
sampean..” kataku, dan kami tertawa berdua. Kira-kira saat itu jam 1
dini hari, tiba-tiba pak Fadhol mengajakku ke kebun jagung belakang
rumah, ku kira mau membakar jagung. Sementara bulan di langit terang
mengapung di angkasa. Ini tanggal 19, sehingga bulan masih penuh. Sampai
di kebun, tiba-tiba pak Fadhol menghentakkan kaki dan tubuhnya meloncat
seperti belalang, melenting ke pucuk pohon jagung, ringan seperti
kapas, kemudian berlarian di pucuk-pucuk pohon jagung, lalu kembali ke
depanku.
“Apa ilmu begini ini yang kamu cari
ngger?” kata pak Fadhol masih berdiri di pucuk pohon jagung, dan daun
itu cuma bergoyang sedikit.
Aliran di pusarku mengalir deras,
mengalir cepat ke seluruh urat di tubuhku, sehingga seketika tubuhku
terasa enteng. Tapi aku cepat-cepat minta perlindungan pada Alloh, dan
minta disembunyikan siapa aku, dijauhkan dari pamer dan takabur.
“Ah ndak butuh ilmu seperti itu aku pak Fadhol.” jawabku.
“Lho memangnya kenapa? Semua pemuda
menginginkan ilmu seperti ini.., kok kamu enggak?” kata pak Fadhol
sambil melayang ringan ke sampingku.
“Punya ilmu kayak gitu juga buat apa
kalau hidup susah, hati nggrengseng, yang ku inginkan ketenangan batin,
sehingga saat aku beribadah pada Alloh pikiran dan batinku tak
kemana-mana.”
“Weh kamu ini cita-citanya sebenarnya
sepele, tapi setelah ku pikir kok teramat tinggi, dan di atas
kewajaran.” kata pak Fadhol sambil melangkah memetiki jagung muda.
“Sebenernya itu keinginan wajar, seperti keinginan orang pada umumnya, tapi…”
“Tapi apa ngger?” tanya pak Fadhol,
tangannya tak henti mengupas jagung, dan membersihkan, lalu menyalakan
api pada tempat pembakaran, yang sepertinya sudah biasa dipakai, aku pun
dengan cekatan membantu meletakkan jagung di api yang mulai membesar.
“Ya tapi mewujudkannya dalam nyata yang susah, apa itu cuma ada di batin?”
“Aku sendiri tak tau ngger, dulu aku juga
sering lelaku sepertimu, tapi yang ku cari ilmu kanuragan, aji
kesentikan. Eh, besok ayo ke tempatnya H. Ibrahim.”
“Mau apa pak? Apa dia juga kenalan ayahku?”
“Weh bukan kenalan lagi, sudah seperti saudara malah, dia pernah ngomong mau menjodohkan putri satu-satunya denganmu…”
Ah kenapa lagi-lagi soal jodoh… apa memang aku sudah saatnya menikah?
“Kenapa?” kata pak Fadhol melihatku melamun.
“Ah tak papa kok pak…”
“Kamu ragu ama anaknya pak Ibrahim? Ee..
kalau nanti sudah melihat orangnya kamu pasti bilang he-eh, orangnya
cantik, pinter, jebolan Nggontor, mau apa lagi, kekayaan ada.”
“Ya nantilah pak.” kataku supaya Pak
Fadhol tak cerita terlalu banyak. Malam itu, setelah sholat magrib, aku
diajak pak Fadhol ke tempatnya pak Ibrahim, naik motor Honda cdi,
rumahnya tak terlampau jauh cuma 2 km. Sampai di rumah pak Ibrahim,
hampir isyak, pekarangan rumahnya luas, berpagar besi, dan bertutup
viber, halamannya luas, aneka pohon dan bunga tertata rapi, sebagian
halaman tertutup batako, dan sebagian tertutup rumput Jepang di antara
beraneka tanaman bunga. Bangunan rumah mewah dan berkelas, dengan tiang
besar-besar dan bundar. Rumah bercat kuning gading, dan lantai dari
marmer. Dari situ aja udah membuatku grogi, bukan karena aku yang
miskin, aku hanya berpikir jika anak pak Ibrahim jadi istriku, tentu
mahal biayanya merawat anak orang kaya.
Tapi ya udahlah, tapi aku benar-benar
berdoa, moga-moga, dia bukan jodohku. Kami mengucap salam, dan pak
Ibrohim keluar, menyambut, orangnya perawakannya tinggi besar dan gagah,
umurnya mungkin 50 tahun, tak kelihatan tua, juga ibu Aminah, istri Pak
Ibrohim keluar menyambut, orangnya cantik, berkerudung lapis dua, aku
jadi berpikir, ah kalau ibunya aja secantik itu apalagi anaknya. Kami
dipersilahkan duduk.
“Wah ada angin apa ini, kok kang Fadhol
dolan kemari, padahal sudah lama kami sekeluarga ingin ketemu.” kata pak
Ibrohim dengan suara berat.
“Pertama, ya biasa pengen silaturrahmi,
dan kedua… Ini, ngajak putranya pak Mustofa main ke mari.” kata pak
Fadhol tanpa banyak basa basi.
“Anaknya pak Mustofa Tuban maksudmu kang?”
“La iya, pak Mus yang mana lagi?”
“Ini…” tangan pak Ibrohim menunjukku.
“Iya pak…” kataku agak grogi.
“Weh sudah sebesar ini..?” kata pak Ibrohim, entah untuk basa basi atau apa, aku tak tau.
Aku pun ditanya sama pak Ibrohim, seperti
Polisi mengintrograsi penjahat, tak satupun pertanyaan terlewat, seakan
aku ini benar akan jadi menantunya, sampai ibu Aminah keluar dengan
seorang pembantu membawakan makanan dan minuman,
“Ini lo bu, anaknya pak Mus…” kata pak Ibrohim ditujukan pada istrinya.
“Weh kok bisa kebetulan… Apa sudah dikasih tau?” kata bu Aminah.
“Ya sudah to bu…” kata pak Ibrahim.
“La kalau sudah, tunggu apa lagi? Mbok
yang tua pada ke dalam biar yang muda berkenalan.” tambah bu Aminah,
membuatku makin kikuk aja.
“Laya…!, Kesini…” bu Aminah memanggil.
Dari dalam terdengar sahutan, dan keluarlah gadis jangkung, berjilbab
hitam dengan motif bunga, pakaiannya berwarna ping juga dengan motif
bunga, di pergelangan tangannya berhias hitam putih renda.
“Ayo-ayo yang tua ke dalam, mari pak
Fadhol, nak Iyan, di sini aja ya, Laya sana nak Iyan ditemani ngobrol.”
kata bu Aminah. Laya panggilan dari nama lengkap Ulfa Nurul Layali.
Gadis itu duduk di kursi depanku, banyu
minyak wangi lembut segera menerobos hidungku, ku pandang sekilas
wajahnya rupanya dia juga melirikku, mata yang bening seperti embun,
alis mata yang tebal, pipi kemerahan, hidung yang mancung kecil, bibir
nan merah dengan lipstik tipis, dagu yang lancip. Dia duduk menunduk,
kulihat tangannya putih, terkulai di pangkuan, jari jemari lentik saling
bertautan, ah denganku teramat jauh, tentu saat itu aku betapa hitam,
karena berhari-hari berjalan di terik matahari, sempat mandi juga waktu
di rumah pak Fadhol, tentu wajahku berminyak, sepeti wajan dan
penggorengan. Ah sudahlah dia tak mau denganku juga Alkhamdulillah apa
yang musti dikawatirkan. Aku juga tak ingin kelihatan gagah di muka dia.
Perduli amat, batinku, memompa rasa percaya diri. Lama juga kami
terdiam, seperti radio yang menunggu dinyalakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar