Tau aja kalian.” jawabku singkat, agar
tak berbantahan, dan untuk Tia, karti, dan Lola, ini kalian udah ku bawa
dalam cerita. Berarti aku udah tak punya hutang harapan pada kalian.
Kami berdua dijamu bak tamu kebesaran,
bahkan makan mereka bertiga menyuapiku, huedan, bener-bener, padahal aku
penulis kacangan, penulis angin-anginan, penulis kambuhan, lalu apa
yang terjadi andai aku sekaliber Habiburrohman Assayrozi, atau misal
saja aku artis terkenal.
Sore itu, kami jalan-jalan ke taman
Kartini lagi, kulihat betapa bangganya mereka berjalan di sampingku,
seakan berjalan dengan orang yang benar-benar terkenal, ah biarlah
mereka menikmati daya hayal mereka. Aku tenang saja. Sementara Majid
mengikuti dari belakang, kayak nunggu uang jatuh.
Aku diminta menginap, tapi aku tak mau,
bisa berbahaya, maka kami berdua pamit, dan tak lupa menghadiahkan semua
lukisan. Aku dan Majid pulang dengan kegagalan total. Sekarang aku
memutuskan pergi sendiri, mungkin ini lebih baik, maka aku pamitan pada
orang tuaku, ku bilang mau main ke rumah teman, pagi itu aku berangkat
ke Bojonegoro, kemudian naik kereta api KRD jurusan Jakarta, aku
memutuskan turun di daerah yang tak ku kenal, agar perjalananku tak
tergantung pada siapa-siapa, uang di sakuku ku berikan pada pengemis
semua, aku ingin kepasrahanku total pada Alloh. Ku pilih turun di
Kradenan Purwodadi. Daerah pedalaman.
Aku mulai melangkahkan kaki tak tentu
arah, tanpa bekal apapun, hanya kepasrahan, kepasrahan yang ku usahakan
setotal mungkin, ya Alloh inilah aku, aku yang masih tertempeli keakuan
yang menumpuk, aku yang berserah padamu lengkap dengan dosa-dosaku masa
lalu, bila Kau tolak aku, aku sendirian, apapun tanggapanMu, apapun
kehendakMu, aku adalah orang yang berusaha berserah. Jerit hatiku, di
sela-sela kaki yang melangkah satu-satu. Aku terus berjalan, hanya
berhenti, kalau waktu sholat datang, mampir ke masjid, dan menjalankan
sholat, lalu berjalan lagi.
Malam telah tiba, aku yang tau jalan,
sama sekali tak takut tersesat, karena tak punya tujuan, jadi apa yang
harus disesatkan. Aku tak punya arah, jadi tak takut kehilangan arah, ku
langkahkan saja kaki yang teramat lelah. Ketika waktu isyak aku coba
mencari masjid, ketika bertanya pada orang, malah tak dijawab, tapi
ditinggal pergi, tapi aku akhirnya menemukan mushola kecil, dan ada
orang berjamaah, aku segera ambil wudhu dan ikut berjamaah, perut yang
seharian ku isi air saja, terdengar berkrucukan saat aku sujud. Setelah
sholat, semua orang pergi, tinggal aku sendiri, mengenang satu-satu
perjalanan hidupku, sambil terus memutar tasbih, menuntaskan wiridku.
Dan tanpa sadar aku pun roboh tertidur, padahal nyamuk-nyamuk besar
mengeroyokku, tapi tak menggemingkan dalam tidurku.
Kira-kira jam 2 malam aku terbangun,
karena dingin yang menusuk tulang, tapi aku kaget, karena telah
berselimut, dan di sampingku ada obat nyamuk, pasti ada orang yang
menyelimutiku saat aku lelap, aku pun pergi ke tempat wudhu. Dan
menjalankan sholat malam, lalu wirid sampai tertidur lagi, waktu subuh
terbangun, saat adzan dikumandangkan, dan mengikuti sholat subuh, lalu
melakukan wirid biasa setelah subuh. Setelah wirid, matahari telah
meninggi, aku keluar dari mushola, di depan mushola ada gadis umur 17
tahun, tengah menyapu halaman.
“Mas, itu ketela goreng dan kopinya dimakan,” kata gadis manis itu, sambil menunjukkan ketela goreng, dan segelas kopi hangat.
“Wah, makasih mbak, jadi ngrepotin aja.”
kataku berbasa basi. Ah tanggungan dari Alloh, gak boleh ditolak, akupun
lahap ketela, wah sayang tak ada rokok, yah kenapa, sejak kemaren aku
lupa ngumpulin uthis, untuk sekedar ngerokok, setelah makan aku pun
pamitan melanjutkan perjalanan. Kembali aku melangkah dan melangkah,
cuma kali ini dengan harapan baru, harapan nemuin uthis, atau puntung
rokok, harapan baru ini cukup membuatku sibuk, apa sih berharganya
puntung rokok, cuma mungkin karena ada unsur kepentingan dunia, jadi
membuatku benar-benar sibuk. Yah aku kadang sibuk mengikuti seseorang
yang sedang merokok sambil berjalan. Terus ku kuntit kemanapun orang itu
pergi, ku ikuti masuk gang dan jalan-jalan kecil, sampai orang itu
membuang puntung rokoknya, yah kalau ternyata puntung yang di buang
kecil, kadang sampai habis, aku menyumpah “pelit amat, kenapa gak
dimakan sekalian gabusnya ditelan.” kataku jengkel. Dan kalau puntungnya
panjang, aku seperti menemukan bongkahan emas. Begitulah terus. Aku
betapa sibuknya, cuma karena puntung.
Tak terasa telah seharian aku berjalan,
dan sampai di daerah pinggiran hutan, kubaca tulisan yang terpampang di
regol desa, SELAMAT DATANG DI KEDUNG TUBAN.
Segera kucari masjid, tak begitu susah,
karena adzan yang berkumandang, dan aku pun pergi ke masjid, mengikuti
sholat berjama’ah, mungkin nanti malam bermalam di masjid ini, batinku,
selesai sholat aku pun duduk di emperan masjid, ku ambil satu puntung
rokok dan kunyalakan, dengan kenikmatan yang tersisa, inilah yang paling
nikmat, menikmati ketidak punyaanku, kemiskinan tiada tara. Kepapaan
tiada duanya. Tapi aku tak kawatir, dan tak takut, apapun yang
menimpaku, terburuk sekalipun, aku akan terima dengan kelapangan dada.
Aku tak takut karena kehilangan jabatan, karena aku tak punya kedudukan
apa-apa, cuma jadi hansip pun enggak, aku tak takut kehilangan harta
benda, karena uang cuilan satu rupiah pun tak punya, aku benar-benar tak
punya apa-apa yang harus dibanggakan. Lapar? Haus? Aku telah yakin
Alloh akan menanggungku, takut apa lagi?
Untuk menuju Alloh, ikuti sungai-sungai
dzikir, walau menabrak batu kebosanan, aliran itu adalah sabar. Lintasi
gersangnya padang puasa. Yang panasnya luruhkan hati yang melata.
Rumputnya kadang kita cintai. Karena tumbuh dari kesenangan hati. Basuh
jubahnya dengan istigfar. Kuatkan dengan sholawat. Lailahailallah,
terbawa ke satu muara, ketenangan jiwa yang merana, khauqolah, tak ada
yang mampu bergerak, dan tak ada yang dapat berhenti, keculi atas
idzin-Nya. Tak ada yang lebih menyenangkan dari pada tenggelam di
samudra makrifat. Bercumbu dengan kekasih yang telah lama dirindukan.
Ah kenapa aku malah menikmati puntung
rokok, ah syetan telah hampir menundukkanku, dengan barang yang
sebenarnya dibuang oleh orang lain, yah puntung rokok, apa sih
berharganya puntung rokok? Aku segera membuang semua puntung rokok yang
seharian ini ku kumpulkan dengan kecintaan dunia, dan segera mengambil
air wudhu di samping masjid, kemudian duduk bersila memulai
wirid-wiridku, mungkin baru beberapa jam, kudengar suara ramai di depan
masjid, lelaki dan perempuan, lalu salah seorang menghampiriku.
“Maaf mas, mas ini harus menghadap kepala desa.” kata seorang pemuda umur 17an.
“Lho ada apa?” kataku heran.
“Wah kampung kami, sedang rawan, banyak maling, kami takut nanti mas disangka maling.”
“Oo.. begitu, ya udah mari menghadap.”
kataku sambil beranjak berdiri. Kemudian diikuti sekitar 15 pemuda
pemudi, ku dengar bisik-bisik yang menganggapku gila, ya tak salah
memang saat itu, aku sendiri tak tau persis keadaanku, sudah beberapa
hari tak mandi, rambutku juga panjang terurai, tak pernah kucuci,
kulitku pasti hitam berdebu, juga pakaianku yang pasti entah bagaimana
kotornya, karena tidur di sembarang tempat. Dianggap gila? Itulah yang
ku harap, atau mungkin aku lebih tepatnya ingin dianggap bukan dari
bagian dunia.
Sampai di tempat kepala desa aku pun
ditanya ini, itu, ditanya KTP, ditanya langsung dicocokkan dengan
KTP-ku, setelah itu aku diajak nonton latihan silat Kera Sakti. Aku
santai saja duduk di kursi, sampai seorang gadis umur 18 tahun
menghampiriku,
“Mas, ayo ke rumah makan dulu.” kata
gadis itu, yang segera ku ikuti dari belakang, sampai di rumah kepala
desa lagi, telah tersedia masakan opor ayam. Aku pun disuruh duduk,
ditinggal makan sendiri. Malam itu, aku menginap di rumah kepala desa,
tak ada yang istimewa, besoknya aku pamitan melanjutkan perjalanan.
Jalan kaki, menulusuri jalan, tanpa tujuan. Tapi baru satu kilometer,
berjalan, tiba sebuah sepeda motor Astrea berhenti, seorang gadis
berseragam sekolah pengendaranya. Aku tak perduli, jalan saja, tapi
gadis itu memanggilku,
“Mas Ian…” aku pun terpaksa berhenti, ternyata anak kepala desa yang waktu berkenalan denganku namanya Maftukhah.
“Eh embak…” kataku dengan panggilan menghormati, walau umurnya lebih muda dariku.
“La kok jalan kaki mas? Kenapa tak naik mobil aja?” tanyanya kawatir.
“Sebenarnya mau kemana sih?”
“Iya mbak, jalan kaki aja, dan aku tak punya tujuan.” jawabku agak lama, karena bingung, mau jawab bagaimana.
“Tak punya uang ya?” wah nanyanya yang
enggak aja, mau ku jawab punya, jelas aku bohong, mau ku jawab tak
punya, aku diam aja. Dia menyodorkan uang 20 ribuan,
“Ini ambil..!” katanya, tapi tak ku ambil,
“Kurang?” katanya, wah kenes juga nih gadis.
“Bukan, bukan itu maksudku, tak usah…
aku…” aku jadi bingung. Dan dia sudah memasukkan uang ke sakuku. Yah
udahlah dari pada gontok-gontokan tak ada ujung pangkalnya.
“Ayo naik ke motor, aku bonceng…, atau kamu yang di depan, aku dibonceng…”
“Ah tak usah mbak, biar aku jalan kaki aja,” kataku risih.
“Bener gak mau, kalau gitu, ya udah ku
tinggal dulu.” kata Maftukhah. Yang segera berlalu dengan motornya,
sementara aku melanjutkan berjalan, dengan terus dzikir tanpa henti, aku
telah tak perduli apa di sekitarku, sampai jam 2 siang aku sampai di
daerah Cepu. Segera ku cari warung makan, sekedar nyari pengganjal
perut. Uang dari Maftukhah ku belikan nasi, dan setelah itu aku mencari
masjid untuk sholat dzuhur. Selesai sholat dzuhur aku melanjutkan
perjalanan lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar