Kamis, 18 Juni 2015

Sekitar jam limaan aku sampai di Padangan, kakiku telah pegal, dan butuh istirahat, aku mencari tempat duduk yang enak untuk menyelonjorkan kaki, agar darah di kaki tak menumpuk, kulihat regol depan rumah, tapi ada gadisnya seumuran 16 tahunan, aku gak jadi membelok, ku cari tempat yang lain saja, aku pun meneruskan perjalanan, tapi baru tiga empat langkah, gadis itu memanggilku,
“Mas Iyan…! Mas Iyan….” apa telingaku yang salah dengar, aku tetap melangkah, tapi suara gadis itu memanggil lagi, sekarang malah kenceng.
“Mas Iyan..!” Aku berhenti, ternyata memang gadis itu memanggilku, dia menghampiriku,
“Bener kan mas Febrian?” tanyanya dengan tersenyum, ah paling-paling penggemarku lagi.
“Benar namaku Febrian,” kataku tak ragu.
“Jadi…, jadi, bener? Ih tak disangka…” katanya dengan raut muka berbinar, ku taksir gadis ini baru kelas 1 SMA.
“Kok kamu tau namaku? Dan tau diriku?” tanyaku untuk meyakinkan dia pasti penggemar tulisan-tulisanku.
“Wah jadi orang terkenal, kok merendah gitu, ini juga pasti sedang mencari bahan tulisan, aku ini penggemarmu mas.” Benar memang dia salah satu penggemarku, yah memang manusia tak bisa lepas dari masa lalu. Masa lalu tetap saja akan selalu mengikuti, kemanapun kita pergi,
“Ayo ke rumah, wah jadi grogi didatangi penulis terkenal.” katanya menggandeng tanganku.
“Wah kalau mencari bahan tulisan, memang harus gini ya mas, sampai-sampai nggembel gitu.”
“Heeh” kataku sekenanya.
“Ck.. ck… Huebat..! Jadi penulis jadi berat ya mas..?”
“Ya jadi penulis kan setidaknya harus tau keadaan, situasi, kondisi yang akan kita tulis, jadi bisa menjiwai, bisa menyeret pembaca pada alur cerita.” kataku asal aja. Gadis itu bernama Yulianti. Dia membawaku ke ruang tamunya, dan dikenalkan pada kedua orang tuanya, yang ramah menyambutku, lama kami ngobrol tentang karya-karyaku.
Setelah sholat magrib aku pun pamitan, walau kedua orang tua Yulia, memintaku untuk menginap tapi aku tetap melanjutkan perjalanan, ku putuskan kembali ke Cepu. Aku akan menuju ke Ngawi saja, dan berharap untuk tak bertemu penggemar, ah kenapa rasanya dunia ini sempit, kemana-mana masih saja ada yang mengenalku. Jam 10 malam aku sampai di stasiun kereta api Cepu. Aku memutuskan tidur di stasiun saja. Setelah sholat isyak, ku selonjoran di kursi ruang tunggu setasiun. Mengenang satu demi satu perjalanan di antara dengung nyamuk yang mulai terasa mengerubutiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar