Sekitar jam limaan aku sampai di
Padangan, kakiku telah pegal, dan butuh istirahat, aku mencari tempat
duduk yang enak untuk menyelonjorkan kaki, agar darah di kaki tak
menumpuk, kulihat regol depan rumah, tapi ada gadisnya seumuran 16
tahunan, aku gak jadi membelok, ku cari tempat yang lain saja, aku pun
meneruskan perjalanan, tapi baru tiga empat langkah, gadis itu
memanggilku,
“Mas Iyan…! Mas Iyan….” apa telingaku
yang salah dengar, aku tetap melangkah, tapi suara gadis itu memanggil
lagi, sekarang malah kenceng.
“Mas Iyan..!” Aku berhenti, ternyata memang gadis itu memanggilku, dia menghampiriku,
“Bener kan mas Febrian?” tanyanya dengan tersenyum, ah paling-paling penggemarku lagi.
“Benar namaku Febrian,” kataku tak ragu.
“Jadi…, jadi, bener? Ih tak disangka…” katanya dengan raut muka berbinar, ku taksir gadis ini baru kelas 1 SMA.
“Kok kamu tau namaku? Dan tau diriku?” tanyaku untuk meyakinkan dia pasti penggemar tulisan-tulisanku.
“Wah jadi orang terkenal, kok merendah
gitu, ini juga pasti sedang mencari bahan tulisan, aku ini penggemarmu
mas.” Benar memang dia salah satu penggemarku, yah memang manusia tak
bisa lepas dari masa lalu. Masa lalu tetap saja akan selalu mengikuti,
kemanapun kita pergi,
“Ayo ke rumah, wah jadi grogi didatangi penulis terkenal.” katanya menggandeng tanganku.
“Wah kalau mencari bahan tulisan, memang harus gini ya mas, sampai-sampai nggembel gitu.”
“Heeh” kataku sekenanya.
“Ck.. ck… Huebat..! Jadi penulis jadi berat ya mas..?”
“Ya jadi penulis kan setidaknya harus tau
keadaan, situasi, kondisi yang akan kita tulis, jadi bisa menjiwai,
bisa menyeret pembaca pada alur cerita.” kataku asal aja. Gadis itu
bernama Yulianti. Dia membawaku ke ruang tamunya, dan dikenalkan pada
kedua orang tuanya, yang ramah menyambutku, lama kami ngobrol tentang
karya-karyaku.
Setelah sholat magrib aku pun pamitan,
walau kedua orang tua Yulia, memintaku untuk menginap tapi aku tetap
melanjutkan perjalanan, ku putuskan kembali ke Cepu. Aku akan menuju ke
Ngawi saja, dan berharap untuk tak bertemu penggemar, ah kenapa rasanya
dunia ini sempit, kemana-mana masih saja ada yang mengenalku. Jam 10
malam aku sampai di stasiun kereta api Cepu. Aku memutuskan tidur di
stasiun saja. Setelah sholat isyak, ku selonjoran di kursi ruang tunggu
setasiun. Mengenang satu demi satu perjalanan di antara dengung nyamuk
yang mulai terasa mengerubutiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar