perempuan, bener-bener bisa membuat hati
bercabang-cabang, herannya juga kenapa selalu lelaki normal suka sama
perempuan, dan aku termasuk lelaki normal, tapi di dasar hatiku yang
tengah bergulat selalu ada perang batin, perang antara menyenangkan
nafsu, dan berusaha tak dikendalikan nafsu, dan terus terang kelemahan
terbesarku adalah tak bisa tidak suka pada perempuan, karena aku lelaki,
dan perempuan lawan jenisku, jika aku dicoba keimanan, maka aku akan
memilih jangan dicoba dengan perempuan, sebab kebanyakan aku pasti yang
kalah, tak bisa menolak cinta mereka, tak bisa menyakiti mereka.
Benar kalau Nabi sendiri menekankan,
seakan ada unsur ancaman di dalamnya: MENIKAHLAH, MENIKAH ADALAH
SUNNAHKU, SIAPA YANG TIDAK MENIKAH BUKAN TERMASUK GOLONGANKU.
Aku merasakan seakan Nabi mencintai
Ummatnya dalam penekanan itu, agar umatnya tidak tergoda dengan lawan
jenisnya, sebab beratnya godaan itu, sehingga Nabi menekankan ancaman
yang tidak menikah bukan golongannya.
“Ada apa mbak nyari aku? Mau ngajak nikah ya..” aku mengucapkan dengan kata enteng.
“Eh kamu ngigau ya…?” kata Lina dan
matanya menatapku dengan jeli, dan bening matanya seperti
kilatan-kilatan listrik yang menggetarkan nadiku.
“Kenapa memandang aku seperti itu? Apa di wajahku telah tumbuh bunga?” kataku asal.
“Hm… kamu cakep.” katanya seperti dengan
ketidaksadaran, karena pandangan matanya tak lepas dari wajahku seperti
mata pisau yang mau mengoperasi kulit wajahku lalu menguraikan dagingku
untuk mencari di dalam ada apanya.
“Kamu serius?” katanya kemudian dengan juga seperti seorang penantang, dadanya dibusungkan.
“Serius apa?” tanyaku, kubuat bloon, sebab aku sendiri tak berani menerima kenyataan, misal sampai terjadi menikah sama Lina.
“Ya soal nikah.” jawabnya setengah menggantung.
“Aku kan cuma nanya, Mbak Lina nyari aku, ada apa?” jawabku sambil membetulkan sepatu di jejeran rak pemajangan.
“Udah sini lihat aku.” katanya menarik tanganku.
“Maas…! Mas Ian..! ” panggilnya memaksaku mengalihkan perhatian dari deretan sepatu.
“Iya ada apa? Kita kan bisa omong sambil menata sepatu, soalnya ini tanggung jawabku, kerja di sini,” jelasku.
“Pindah aja kerja di tempaku, bagaimana?” katanya lembut.
Wah setan itu kalau kita mau berbuat
dosa, nyatanya peluang ke sana dibuat semulus mungkin, ya mungkin saja
jika di depan ada pohon perdu, setan akan berusaha menebanginya, kalau
jalan dosa itu belum teraspal, setan akan berusaha mengaspalnya.
“Gak ah, ntar malah terjadi yang enggak-enggak.” kataku membuat batasan.
Aku bukan orang suci, dan hatiku amat
pekat dilapisi nafsu, pandanganku saja jika melihat perempuan masih
selalu terfokus pada kesempurnaan bentuk tubuhnya, jelas aku orang yang
masih mudah sekali tergoda, jika aku tak membuat kendali sendiri, apa
aku harus menunggu orang lain membuat kendali di leherku?
“Mas…!”
“Iya… ada apa? Bicara aja.” jawabku
sambil tetap menata sepatu, anehnya dia malah memiringkan sepatu yang
tatanannya udah ku benarkan, dia buat miring sehingga kami berdua
muter-muter di situ-situ saja, padahal toko sepatu bata ini luas sekali.
“Terus terang, aku sayang, cinta, tak
bisa melupakan mas…, siang malam selalu ku ingat, sehari tak bertemu,
serasa kangeeen minta ampun, aku tak tau, tak sebelumnya aku dengan
cowok lain seperti ini, aku merasa mas inilah yang terbaik untuk hidup
dan masa depanku, yang pantas menjadi imamku, yang pantas membimbingku.”
Lina mengutarakan semua unek-unek di hatinya, dan jongkok di depanku,
karena aku juga sedang jongkok menata sepatu yang di bawah.
Aku menatap wajahnya, dan kulihat matanya
menatapku dengan penuh cinta menggelora, tatapan yang seakan ada ribuan
bintang di setiap inci matanya, dan aku amat tahu, jika aku menatap
lama-lama, pasti akan membuatku hanyut oleh keindahan, wajah yang
dibalur aura cinta memang adalah lain daripada yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar