aku menatapnya, malah ingin aku bisa tidak, sanggup tidak melawan tarikan kumparan magned gaib yang disebut kasih sayang.
Dadaku berdentuman, ada rasa sesak,
ketika tarikan itu mencoba menarik dan meremas-remas jantungku, aku
berusaha bertahan dalam logika totalitas kesadaran, dan perlahan
gelombang magnet yang ada di wajah Lina terlihat biasa di mataku. Ku
lihat masih ada getaran kecil di bibirnya karena luapan perasaannya.
“Kau kan belum tau siapa aku, terlalu
jauh penilaian yang kau berikan, aku tak mau kau akan menyesal nanti,
sebaiknya pikirkan dengan pikiran jernih.” kataku meredakan gejolaknya.
Orang yang mudah terseret pada satu
keadaan, maka sulit bila menjadi pengayom dan pelindung orang lain, dan
aku harus berlatih mengendalikan perasaanku sendiri.
“Mbak Lina ini kan belum tau secara
keseluruhan, jadi dipikirkan dulu, sebab banyak sifat burukku, nanti
jangan sampai penyesalan akan terjadi, dan itu sudah terlambat.”
jelasku.
“Ya kita kan bisa pacaran dulu.” jelasnya juga tak mau kalah.
“Hm pacaran? Walau aku sendiri suka
pacaran, tapi aku sekarang jika menyukai perempuan, maka akan ku nikahi
saja, tak pakai pacaran.”
“Nah tu kan.!”
“Tuh kan kenapa?” tanyaku.
“Ya kelihatan, mas bukan lelaki yang jelek budinya.”
“Haha… bilang begitu, kamu anggap sudah
baik budinya, wah dangkal dong nilai suatu budi pekerti yang baik, semua
lelaki juga bisa mengucapkan seperti yang aku ucapkan, suatu budi
pekerti yang baik itu perlu menjalani perjalanan panjang, untuk tau
jelek atau baik budi pekerti seseorang, seseorang yang budi selalu
memberimu barang berharga saja belum tentu dia budi pekertinya baik,
sebab bisa saja dia ada maksud di balik pemberian-pemberiannya, orang
yang selalu menemanimu, kesana kesini, membantumu, selalu kelihatan di
depanmu murah senyum, bisa jadi di belakang dia menikammu, jadi budi
pekerti seseorang itu tidak bisa di tentukan dengan sekali dua kali
pertemuan, seseorang itu bisa di ketahui baik atau tidaknya, jika kau
telah mengumpulinya dalam bersama mengecap keprihatinan, dan bersama
memetik kebahagiaan, bisa saja seseorang itu jika dalam keprihatinan
bisa seiya sekata, tapi jika ada emas di tanganmu, maka dia tak
segan-segan menghunjamkan belati di jantungmu, jika kau maju, bisa saja
dia iri dan berusaha menjatuhkanmu, aku jadinya kok banyak omong ya..!”
kataku.
“Gak, aku suka, setahun sekalipun jika mas Ian bicara di depanku, aku akan rela duduk selalu mendengarkan.”
“Ah kau ngaco aja…, udah ah, tuh pemilik sepatu bata liatin kita, kamu balik ke butikmu sana gi…” kataku,
“Ntar istirahat siang, ke tempatku ya mas…, aku dah sediain makan siang spesial.”
“Iya entar aku kesana, sama Edy, juga Ikrom ya..?” tanyaku.
“Nggak mas sendiri.”
“Iya…, ntar habis sholat dzuhur aku kesana.” biasanya setiap siang ada istirahat 1 jam, dan penjaga toko bergiliran.
Rasanya dunia seperti ini benar-benar
bukan duniaku, kalau aku tidak segera pergi meninggalkannya, sepertinya
aku akan terseret pada pusarannya, aku harus mengambil keputusan final.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar