Orang yang tidak berbekas pada hatinya
akan kesempurnaan Allah s.w.t itu adalah orang dungu. Dia masih juga
merungut tentang perjalanan hukum takdir Ilahi, seolah-olah Tuhan harus
tunduk kepada hukum makhluk-Nya. Bagi yang cenderung mengikuti latihan
kerohanian perlulah berusaha untuk melenyapkan kehendak diri sendiri dan
hidup dalam aturan Allah menjalankan hidup lahir sesuai dengan jalan
Alloh, dan menjalankan kehidupan batin dengan memberi asupan-asupan
makanan bathin yaitu disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan batin agar
hati tersinari nur ilahiyah, rasa syukur menjadi udara, kesabaran jadi
air, dan ketenangan jadi bumi pijakannya, kepada siapa saja hati lapang,
jauh dari iri, sebab syukur dengan apa yang dimiliki, dan jauh dari
mengumpat karena sabar dengan keadaan yang dihadapi, manusia siapapun
pasti yang dicari kebahagiaan dunia juga kebahagiaan akherat, kebaikan
dunia juga kebaikan akherat, dan keduanya perlu ilmunya, dan keduanya
perlu pekerjaannya masing-masing, jika salah mengambil langkah, maka
sekalipun sesal dengan menangis darah itu tak akan membuat waktu yang
telah lalu kembali, apalagi jika diri sudah mati.
Jangan sekali-kali mengeluhkan takdir
karena Penentu Takdir tidak pernah berbincang dengan sesiapa pun dalam
menentukan arus ketentuan-Nya. Takdir itu tiada siapapun dapat mengubah,
kecuali Alloh yang sanggup mengubah, jika Alloh tak sanggup mengubah
maka namanya bukan ‘ala kulli syai’ing qodiir, artinya melakukan apapun
itu kuasa, jadi Alloh itu kuasa melakukan apapun, termasuk merubah
taqdir seseorang yang buruk ingin dirubah menjadi baik, kita yang
manusia, jika khawatir taqdir buruk ternyata telah dituliskan untuk
kita, maka kita tinggal meminta pada Alloh agar taqdir yang buruk
dirubah menjadi baik, tentunya kita harus mendekatkan diri pada Alloh,
baru mengajukan permintaan, orang lapor Polisi aja harus datang mendekat
ke kantor Polisi, orang lapor mau nikah harus mendekat ke kantor urusan
agama, Alloh sama sekali tak mengharap kita itu mendekat, sebab kita
mendekat atau kita menjauh, sama sekali tak menguntungkan bagi Alloh,
tapi kita yang butuh Alloh, bukan Alloh yang butuh kita.
Jika kita mau mengenali Allah s.w.t kita
tidak boleh melihat-Nya pada satu aspek saja. Jika kita melihat Allah
al-Ghafur (Maha Pengampun), kita juga harus melihat Allah al-‘Aziz (Maha
Keras). Jika kita melihat Allah al-Hayyu (Yang Menghidupkan) kita juga
harus melihat Allah al-Mumit (Yang mematikan).
Jika kita dapat melihat semua Sifat-sifat
Allah s.w.t dalam satu kesatuan barulah kita dapat mengenali-Nya dengan
sebenar-benarnya siapa itu Alloh. Bila Allah s.w.t dikenali dalam semua
aspek, hikmat kebijaksanaan-Nya dalam menentukan sesuatu perkara pada
sesuatu masa tidak terlindung lagi dari pandangan mata hati. Hati yang
tidak mau tunduk kepada Maha Pengatur tidak akan menemui kedamaian.
Seperti orang yang sudah digariskan makan dengan mulut, lalu berusaha
makan makanan lewat lubang telinganya, sungguh akan menganiaya dirinya
sendiri atau orang yang sudah ditetapkan melihat dengan mata, lalu
mencoba melihat dengan lidahnya, pasti akan sulit mengenali barang
karena tidak adanya optik di lidah, juga jika berusaha mengecap makanan
dengan matanya pasti akan merasakan perih tak berkesudahan jika
merasakan sambel, itu merupakan tanda jelas kalau manusia atau hewan
apapun itu tak bisa melepaskan diri dari ketentuan Alloh, jika berusaha
melepas diri dari ketentuan Alloh, itu hanya akan menganiaya dirinya
sendiri. Waktu, ruang dan kejadian akan membuatnya gelisah karena
nafsunya tubuhnya, tidak akan mau diajak memenuhi yang di luar
jangkauan, tidak dapat menguasai semua itu. Dia inginkan sesuatu perkara
pada satu masa sedangkan Maha Pengatur inginkan perkara lain. Kehendak
makhluk tidak dapat mengatasi kehendak Tuhan. Jika ingin hati menjadi
tenteram usahakan agar hati senantiasa ingat kepada Allah s.w.t.
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan
zikrullah”. Ketahuilah! hanya Dengan “zikrullah” itu, tenang
tenteramlah hati manusia. (Ayat 28 : Surah ar-Ra’d) menunjukkan
bagaimanapun tidak bisa tidak manusia kalau ingin bahagia dunia akherat
maka harus menyesesuaikan diri dengan aturan yang Alloh berikan, lalu
ridho dan menerima bulat, mensyukurinya seperti Alloh tentukan makan
makanan dari mulut, maka itu kita terima, kita syukuri dengan menjaga
mulut rajin menyikat gigi, dan menghindari makanan yang membuat gigi
pada lepas, misal makan sekrup, baut dan koral, atau makan tiang
listrik, sebab ada makanan manusia yang mencocoki manusia, nah itu yang
kita sesuaikan dengan kebutuhan, sama dengan hati.
Apa yang tidak menjadi porsinya hati,
maka kita hindari dan kita bersihkan, seperti benci, iri dengki,
sombong, ujub, itu bukan porsinya hati, juga bukan layak untuk
dikonsumsi, seperti mulut mengkonsumsi besi dan koral, konsumsinya hati
adalah dzikir. Berimanlah kepada Allah s.w.t dan beriman juga kepada
takdir. Lepaskan yang sebab musabab yang menjadi pagar nafsu menutup
hati.
Suhandi datang wajahnya kelihatan sangat keruh sekali, aku yakin dia pasti sangat banyak masalah.
“Ada masalah lagi…?” tanyaku sambil menyalakan rokok LA kesukaanku.
“Iya mas. Aku mau diciduk Polisi.” jawabnya dengan nada khawatir.
“Kenapa mau diciduk?”
“Aku punya banyak hutang mas, dan orang yang ku mengutang padanya itu melaporkanku ke polisi.”
“Ya itu kesalahanmu, harusnya kamu itu
jangan bayar hutang dengan mengutang lagi, masak bayar hutang dengan
meminta barang dan memberi giro kosong, dengan mengatakan nanti mau
dibayar sekalian, lalu setelah jatuh tempo, giro tidak diisi, malah
minta barang lagi dengan alasan kalau itu akan dipakai bayar hutang yang
sebelumnya, aku saja mumet dengan cara berpikir yang kamu pakai, kalau
aku lebih simpel pikiran, mending bisnis yang langsung jadi, ndak pakai
muter-muter, ulur-uluran kertas yang tak ada isinya begitu, ya mending
jualan pisang goreng, pisang goreng terjual dan uang dipegang, ya kayak
caramu yang kamu pakai itu bisa saja sukses, tapi nanggung hutang yang
segitu banyaknya, ya bagiku tak sanggup, bukan tak sanggup nanggung
secara tak mau bayar, tapi takutnya aku mati hutangku belum dibayar,
makanya sekalipun aku ini hidup miskin, makan seadanya, malah kerjaan
cuma ngurusi jama’ah, ndak punya kerjaan lain, dan miskin, tapi kalau
disuruh ngutang terus terang aku takut, jadi hutang se perak saja aku
ndak punya, bagiku hidup itu simpel saja, hidup sederhana, apa adanya,
di jalan Alloh, hutang tak punya, dan mati tak berat meninggalkan dunia,
karena tak ada tanggungan yang harus ditanggung, ya ndak pegang uang
ndak papa, yang penting keluarga kecukupan, jadi aku orang yang tak
berpikiran muluk-muluk.”
“Tapi kenyataannya aku terlanjur begini, mungkin dulu perhitunganku salah, sehingga aku mengalami seperti ini.”
“Ya menurutku bukan salah lagi, amat
salah, karena apa selama ini yang kamu makan saja sudah menjadikan rizqi
yang kamu terima tidak berkah.”
“La terus solusinya bagaimana mas?” tanya Suhandi.
“Ya solusinya kamu harus taubat, mandi taubat tiap jam dua belas malam ke atas.”
“Lalu masalah aku mau diciduk Polisi bagaimana mas..”
“Ya dihadapi dengan jantan, kan kamu berani melakukan harus berani menanggung akibatnya.”
“Tapi saya dibantu do’a mas, biar saya selamat.”
“Ya kalau soal itu aku do’akan kamu selamat.” kataku sambil menyalakan rokok yang kedua.
“Sebenarnya siapa orang yang melaporkanmu ke Polisi?”
“Ini orang Kajen mas, yang melaporkanku kakaknya yang punya urusan hutang denganku.” jawab Suhandi.
“Lo kok bisa kakaknya yang melaporkan?”
“Iya mas, malah kalau aku ke tempat orang
yang punya hutang padaku itu, kakaknya itu yang selalu marah-marah
padaku, dan seakan ingin memaksaku.”
“Ya coba nanti aku lihat bagaimana, yang
penting kamu itu banyak-banyak bertaubat, dan banyak-banyak mendekatkan
diri pada Alloh, agar ditolong oleh Alloh, kalau aku sendiri cuma
bisanya mendo’akan, kalau kamu sendiri tak mau mendekatkan diri pada
alloh, ya aku percuma saja mendo’akan. Ya kayak nyiram air bersih ke
comberan, berapa kali disiram juga air bersihnya akan ikut menjadi
comberan, karena selama ini salah jalan, menjalankan hal yang dilarang
agama, kayak suka pergi ke dukun, belum lagi makanan yang kamu makan
adalah makanan yang haram dari riba, jadi apa-apa sudah ditolak oleh
Alloh, tapi kalau kamu serius, sungguh-sungguh, Alloh itu juga dzat yang
penuh kasih sayang, pintu taubatnya lebih luas dari bumi dan seisinya,
jangan lupa wirid yang ku beri dijalankan dengan tekun.”
“Wah aku wiridnya tak pernah selesai mas, malah baru dapat bismillah seratus juga sudah ketiduran.”
“Ya kalau gitu, kamu pantas ditangkap Polisi.”
“Lho kok gitu mas?”
“Ya iya, la kalau mau disuruh menjalankan
peringatan halus supaya mendekat dengan Alloh, dengan cara dzikir, kamu
malah tidur, ya kalau diingatkan secara halus tak mengindahkan, ya
Alloh akan menjadikanmu ditangkap Polisi, mungkin dengan di penjara kamu
akan sadar.”
“Oalah kok malah gitu to mas, mbok saya dido’akan to mas biar tak dipenjara.”
“Ya kamu kalau ndak mau dimasukkan
penjara ya dzikirnya diperkuat, jangan malas, kalau tidur, anak kecil
juga bisa, semua orang juga senang, la kamu kan punya masalah, kok malah
lebih memilih tidur, ya nanti tidur saja di penjara kan lebih banyak
waktu.”
“Waduh bagaimana mas, saya tak mau dipenjara.”
“Ya kalau tak mau dipenjara, dzkir yang ku beri itu dituntaskan, kan selama ini dzikirmu tak ada yang tuntas,”
“Tapi kan sudah aku bayar besoknya mas.”
“Kalau besoknya tak tuntas, kan itu
namanya sama saja hutang dibayar hutang, ya kayaknya memang kamu itu
sudah terlanjur kebiasaan diri membayar hutang pakai hutang, masak
sampai dzikir saja diutang, dan dibayar dengan hutang.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar