Orang-orang yang dekat dengan Alloh
s.w.t, dan para ahli syurga gemar berdoa kepada-Nya karena doa itu
adalah perhubungan kasih sayang di antara Tuhan dengan hamba-Nya. Alloh
s.w.t. ‘memanjakan’ hamba-Nya dengan membuka pintu doa, tanda kecintaan
Alloh pada hamba itu Alloh menggerakkan pada hati hamba agar berdo’a,
lalu Alloh memberi karunia berupa terijabahnya do’a, dan jika Alloh itu
menghendaki orang itu jauh dari-Nya maka Alloh menjadikan orang itu
malas meminta dan berdo’a, dan menimbulkan syak wasangka kalau meminta
itu menunjukkan ketamakan, padahal Alloh itu tempat meminta, tanda
kekuasaan-Nya adalah mampu mengabulkan semua permintaan bagaimanapun
sulitnya, tapi hamba yang ingin Alloh jauhkan itu seakan tak percaya
atau merasa dirinya kotor, atau alasan tertentu sehingga hamba itu di
dalam pikirannya jauh untuk bergantung pada Alloh, jika lisan kita hati
kita cenderung meminta pada Alloh, berarti Alloh itu tengah menyayangi
kita, sebab tak ada yang berdesir di dalam hati seorang manusia, itu ada
dan berdesir lalu menjadi suatu amal ibadah, kecuali Alloh menjadikan
ijin untuk terjadi dan berlaku.
Suhandi ketika datang padaku pertama
kali, wajahnya amat gelap oleh aura syaitan, walau sekalipun aku tau apa
yang pernah dia lakukan, maka aku harus bersikap bukan orang yang
menghakimi, semua manusia bagiku punya proses perjalanan, dan jika kita
selalu menyalahkan orang lain, atau menfonis salah orang lain dengan
segala masa lalunya maka tak akan bisa kita menjadikan manusia lain
menjadi benar, semua orang akan terlihat salah, padahal semua orang itu
punya pintasan perjalanan, yang tak selalu baik, tapi sekalipun seorang
pelacur, maka tak ada yang bercita-cita menjadi pelacur, sekalipun
perampok maka tak ada yang bercita-cita menjadi perampok.
“Mas.. saya mau minta tolong, agar usaha saya bisa maju.” kata Suhandi.
“Ya ikut saja dzikir di sini, nanti juga akan maju…, tapi mungkin kamu akan lama.” kataku.
“Kenapa begitu mas?”
“Ya orang itu kan bisa maju usahanya,
bisa melaju cepat sebuah motor, kalau di dalam mesinnya motor itu bersih
dari kotoran dan kerak, kalau karaten, kotor, tentu jalannya akan
lambat, dalam motor harus diservis dulu, apa yang rusak parah harus
diganti, kalau bannya saja jadi angka delapan lalu motor dipaksa jalan,
itu hanya akan menyusahkan yang mengendarai, bisa jadi dari Surabaya ke
Jakarta, sepanjang perjalanan motor akan dipikulnya, ya daripada seperti
itu mendingan jangan bawa motor, kalaupun motor terpaksa dibawa maka
harus ditumpangkan ke bus, sama dengan sebuah usaha jika kok usaha itu
sudah lubang sana-sini, mending ditinggalkan, mencari usaha baru, walau
hasilnya lebih sedikit, setidaknya akan bisa menutup lubang di usaha
lama, tapi kok usaha sudah remuk, masih dipaksakan jalan, maka bisa
dipastikan usaha bukannya akan menemui kebaikan, tapi akan malah makin
mengalami kerugian,” jelasku, walau terus terang aku ini nol besar dalam
bidang usaha.
“Wah kalau meninggalkan usahaku yang lama ya sulit mas…” kata Suhandi.
“Ya itu terserah sampean, saya juga bukan orang yang mengerti dengan usaha, itu hanya saran saya saja.”
“Ya saya hanya minta do’anya saja mas.” kata Suhandi.
“Ya sekali lagi ku contohkan motor, biar
mudah pembahasannya, ini misal motor setelah tabrakan lalu bannya lepas,
dan apa-apanya patah, rantainya juga putus, lalu diletakkan di depan
pendo’a yang paling tangguh sekalipun, maka dido’akan siang malam juga
tak akan motor itu kembali seperti semula, artinya tetap saja motor itu
hancur, artinya begini, apa yang sudah terlihat jelas di depan mata,
maka itu penyelesaiannya dengan cara yang terlihat di depan mata, ya
kalau tali putus disambung, tangan kotor dicuci, tak bisa tali putus
lantas dido’akan, saranku carilah usaha lain, yang bisa diharap hasilnya
walau sedikit, tapi terus menerus sehingga bisa menambal lubang di
usaha yang sekarang, tapi tak mau juga tak apa-pa.” jelasku.
Dan Suhandi masih terus menggeluti
usahanya, hutangnya makin membengkak, setiap setoran pendapatannya hanya
untuk membayar bunganya hutang, dan pendapatannya tak mencukupi untuk
sekedar menutup bunga, tapi berulang kali Suhandi tak juga mau
meninggalkan usahanya, seakan telah ada keterikatan dengan usaha yang
mungkin pernah menjadikan kaya, sehingga Suhandi terseret dalam
keterjebakan yang tak berkesudahan, seperti tikus yang muter-muter di
lubang jebakan, dan telah tak bisa keluar, memang lebih sulit memberi
saran seseorang yang telah terjebak oleh itung-itungan akalnya, dan
selalu mengandalkan itungan matematika. Aku hanya menggelengkan kepala
jika Suhandi meminta saran, karena walaupun dia meminta saranku
seakan-akan saranku itu hanya seperti angin lalu saja, dia sudah
terlanjur terperangkap oleh daya hisap pikirannya sendiri, dan mengejar
hayalan yang tak ada bentuknya.
Mengeluarkan orang yang terjebak oleh
mimpi dan hayalannya itu lebih sulit, seperti orang yang tengah mabuk
pil ektasi, dibilangi bagaimanapun itu hanya akan melelahkan diri bicara
saja, maka aku hanya berharap Alloh memberikan kesadaran dari sisi yang
mungkin lebih baik nanti kesudahannya, aku hanya memerintahkan Suhandi
rajin sholat, dan menjalankan ibadah, yang selama ini ditinggalkannya,
sebagai orang yang menyampaikan, maka aku hanya wajib menyampaikan,
secara penerimaan dan hasil nantinya itu bukan urusanku lagi, aku yakin
jika kehendak baik dan disertai suatu kebenaran menyampaikan akan
berhasil baik.
Berulang kali aku menyarankan pada
Suhandi, dan berulang kali aku juga tau kalau dia tak akan menerima
dengan akalnya, tapi aku tetap tak bosan menyampaikan.
“Apakah nanti usahaku akan membaik ?” tanyanya.
“Dalam usaha dan keseharian, orang itu
tak beda, dengan ibadah, jika tak mau diberi peringatan oleh Alloh
dengan cara halus, maka akan diberi peringatan dengan cara kasar.”
jelasku.
“Bagaimana itu cara halus, dan bagaimana itu cara kasar?” tanya Suhandi.
“Cara halus seperti puasa, jika tak ingin
nanti diperingatkan oleh Alloh dengan cara kelaparan, sakit perut,
kesusahan mendapatkan rizqi untuk mengisi perut, dan selalu urusan perut
itu sangat menyulitkan, maka lakukanlah puasa, guncangkanlah hati
dengan dzikir, kejutkan hati dengan lafadz jajalah, agar diri tak
diperingatkan Alloh dengan gempa bumi dan sambaran petir, jadi segala
sesuatu kita ini mau ngambil cara halus memperingatkan diri dengan
instropeksi, jika kita diperingatkan Alloh dengan gempa bumi, banjir
bandang, badai petir, agar kita mampu membaca setiap gerak dan perbuatan
itu semua ada maksudnya, karena alam ini menunjukkan keberadaan Alloh
di segala aspek apapun yang wujud.”
“Kamu itu sudah terlalu banyak makan barang haram.” kataku.
“La saya bisnis halal kok mas.” jawab Suhandi.
“Ya kalau sistim yang kamu pakai, sistim
makai sogok agar dapat pinjaman, lalu mengganti uang senang karena belum
bisa membayar hutang itu ndak dibenarkan dalam Islam, walau itu ada
dalam kesepakatan.”
“Berarti itu haram?”
“Iya itu tak boleh.”
“Tapi semua orang menjalankan.”
“Walau semua menjalankan, kalau haram ya
tetap haram, kayak di suatu daerah misal minuman memabukkan dijual
bebas, minuman memabukkan ya tetap haram, atau di kawasan pelacuran,
lalu semua orang melacur, pelacuran ya tetap haram, atau di Bali di
pantai, semua orang telanjang, ya telanjang tetap haram, jadi halal
haram itu tidak bisa ditentukan oleh sedikit banyak orang kayak pilihan
kepala desa, kalau haram ya selamanya haram, sekalipun semua penduduk di
muka bumi menjalankannya.”
“Wah lalu bagaimana mas?”
“Makanya itu jadi sulit, jalan
satu-satunya kamu bertaubat dengan sungguh-sungguh, ingat setetes
minuman memabukkan itu 41 hari ibadah tertolak, walau dalam kewajiban
gugur jika menjalankan sholat, tapi sholatnya hanya menggugurkan
kewajiban, juga makan makanan yang haram, maka do’nya tertolak, jadi
berdo’a tak ubahnya membaca bacaan cersil.”
“Wah kok ada yang kayak gitu ya?”
“Ya kalau ndak percaya, sekarang saja di-tes, kamu berdo’a minta hujan, apa hujan akan turun, gampang kan untuk tau..?”
“Ya saya do’anya jelas ndak diterima mas.”
“La memangnya Alloh terhalang menerima do’a, tidak kan..?”
Alloh s.w.t saja yang mencipta,
meletakkan hukum dan peraturan, membagikan rizki dan lain-lain. Dia
menentukan urusan dengan bijaksana dan adil, termasuk urusan mengenai
diri kita dan apa yang terjadi pada kita. Kita memandang diri kita dan
kejadian yang menimpa kita dalam sekop yang kecil. Alloh melihat kepada
seluruh alam dan semua kejadian, tanpa keliru pandangan-Nya kepada diri
kita dan kejadian yang menimpa kita, juga tidak beralih pandangan-Nya
dari makhluk-Nya yang lain. Maha sempurna Alloh suci dari cela.
Bahkan Alloh amat memperhitungkan
sedetail sampai urusan paling kecil, sampai urusan pigmen di kulit,
sehingga orang tak berpenyakit belang karena pigmen kulitnya tercukupi,
juga kelengkapan molekul zat dalam darah, kekurangan dari salah satu zat
saja orang akan sakit, juga kelebihan satu saja zat dalam darah orang
juga sakit, jadi ukurannya harus konsisten dan saling melengkapi dengan
zat lain. Misal gula darah seseorang dalam darah lebih maka seseorang
akan sakit juga jika zat asam, berarti semua telah diatur Alloh
sedemikian rupa, agar manusia itu bisa bergerak dengan gerakan yang
saling mendukung apa yang di dalam tubuh, dalam pengaturan Alloh itu ada
pengaturan secala fisikal, dan ada pengaturan secara ruh, dan hati,
sama dalam pengaturan dalam ruh, yang sama sekali tak pernah terlihat
itu, tak beda pengaturannya dengan pengaturan lahiriyah. Cuma dalam
pengaturan lahir, badan lahir ini butuh makanan lahir, jika kita makan
maka kecukupan kebutuhan badan atas zat yang dibutuhkan sangat
mempengaruhi lahiriah seseorang, maka manusia itu bisa dilihat jika
kurang salah satu zat yang dibutuhkan tubuhnya, dengan sendirinya akan
terlihat lemes, sakit, malas.
Tak beda dengan pengaturan lahiriah, yang
membutuhkan asupan makanan lahir, maka asupan batiniyah, ruh juga
membutuhkan makanan yang sifatnya tidak membuat ruh, dan hati, juga
pikiran, menjadi sakit, walillahi asma’ul khusna fad’uhu biha, yang
menjadikan ruh itu Alloh, yang menjadikan hati itu Alloh, yang
menjadikan kejernihan pikiran kesehatan hati dan sekaligus yang
menempatkan ilham dan aneka macam pengetahuan itu adalah Alloh, la ilma
lana illa maa ‘alamtana, tidak ada yang memberi pengetahuan kecuali
Alloh yang memberi pengetahuan, pengetahuan itu cahaya, cahaya dengan
Alloh itu tak bisa dipisahkan, karena Alloh itu cahaya itu sendiri,
kebijakan, ilmu, dan apa yang memancar dari Alloh itu yang menjadi
kebutuhan ruh, makanya dalam diri Alloh itu terdapat asma’ul husna,
kadang hati itu butuh ketenangan, kesabaran, maka ada nama Alloh
Assobir, yang dibutuhkan oleh kebutuhan hati dan ruh atas sabar, lalu
sering -sering asma sabar itu kita sebut-sebut, sehingga seperti cahaya
yang membekas pada sesuatu yang disinari, jika diupayakan untuk disinari
dan selalu diupayakan, maka hati akan membekas rasa sabar, karena bekas
rasa sabar dari cahaya sabar yang dimilki Alloh, juga jika hati
membutuhkan rizqi, maka ada Alfatah, yang membuka, ada Al wahab, yang
banyak memberi, dan ada Arrozaq, yang memberi rizqi, wama min dzabattin
fil ardhi illa ‘alallohi rizqoha, tak ada apapun yang berjalan di muka
bumi ini kecuali Alloh lah yang memberi rizqi, maka jiwa membutuhkan
itu, lalu jiwa harus mencari cahaya atas kebutuhannya rizqi, sekalipun
di luar sibuk mencari rizqi sementara hati sama sekali gelap dari rizqi,
sekalipun dapat rizqi maka rizqi itu hanya sesuatu yang tidak bisa
dimanfaatkan untuk dunia akheratnya hanya habis untuk foya-foya, sebab
hati gelap dari kepahaman untuk apa kegunaannya rizqi, kemudian semua
hidup hanya sia-sia, sebab tanpa adanya sinkron antara jiwa dengan
badan, tanpa adanya singkron antara mesin motor dengan bodi, juga sama
jika mesin motor itu bagus, sementara bannya lepas, maka motor juga tak
akan bisa jalan, seperti manusia juga, jika yang dalam dan luar tidak
saling mendukung dan saling melengkapi, maka bisa dipastikan manusia itu
akan berjalan dalam rel yang tak ada keseimbangan, bisa jadi lelah
lahirnya, atau lelah batinnya.
Jika kemudian mesin motor, diberi mesin
dokar, tentu ndak nyambung, juga roda bis meledak lalu diganti roda
sepeda mini, tentu juga tak akan nyambung, segala sesuatu harus sesuai
porsinya, orang dewasa saja disuruh makan makanan bayi tiap hari yang
dari pisang dihancurkan dicampur nasi, atau bubur, maka manusia dewasa
akan lemas, karena tak cukup dengan asupan gizinya, begitu juga, motor
dinaiki sejak lama, mesinnya tak pernah diservis, oli tak pernah
diganti, bensin tak pernah diisi, bisa pasti mesinnya akan ngadat,
manusia juga begitu jika hatinya tidak pernah diberi makan dengan
dzikir, apa yang dibutuhkan hati sama sekali tak pernah diteliti, lalu
asupan gizinya, makanannya yaitu dzikir tak pernah dilakukan, maka bisa
pasti hati itu akan ngadat, rusak, suka sekali sombong, suka sekali
tamak, rakus, tak syukur, mengeluh, pengumpat, tak sabar, pendengki,
kasar, lacut, buruk sangka, suka meremehkan orang, tak terima dengan
keadaan, dan berbagai macam sifat buruk tumplek bleg, apalagi seperti
misal motor yang sudah tau mesinnya rusak, kok malah dipaksakan jalan,
maka akan makin rusaknya parah, hati juga gitu, jika sudah tau suka
mengumpat, suka mengeluh, suka menghina orang, tapi kok ndak mau
menyadari itu adalah penyakit yang merusakkan hati, kok terus
dilanjutkan, maka akan makin mencari kata-kata paling kotor untuk
diumpatkan, itu bukan menunjukkan hebat tapi seperti motor yang suaranya
makin keras dan makin memekakkan telinga, itu bukan motor yang benar,
tapi yang rusak, sama kok makin hati itu suka mengumpat dengan lisan dan
menemukan umpatan yang paling jelek, itu bukan menunjukkan diri makin
berilmu, tapi makin rusak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar