Kamis, 18 Juni 2015

://laporgub.jatengprov.go.id/main/detail/1773.html#.VQAysZ_vH5M.gmail

Saya  melaporkan  oknum polisi  an  bambang permadi  ( bripka) ,telah secara arogan anarkhis  membawa lari istri sah saya an  Indah wahyu widyawati

Urusanku bukan hanya Sengkuni, aku sendiri heran apa maunya dia, jika orangnya jujur sebenarnya ingin ku tanya langsung, apa maunya, tapi sayang dia bukan orang yang jujur, jadi jika ku tanya juga akan sia-sia, mungkin orang yang membaca tulisanku ini juga bertanya-tanya siapa sebenarnya Sengkuni itu, kalau ditanya secara pasti, aku sendiri tak kenal dengan jelas siapa dia, Sengkuni itu menjadi murid kyai, aku sendiri tak tau pasti kapan pertama kali, mungkin tahun 2006, atau 2007, aku tak tau pasti, sementara aku sendiri tahun 2006 sampai tahun 2010 sama sekali tak pernah berhubungan dengan kyai, karena aku bekerja di Saudi, dan aku sendiri tipe orang yang tak akan menghadap guru kalau tak dipanggil menghadap, sebagai tanda tawadukku pada guru, karena aku tau urusan guruku sudah banyak sekali, aku tak mau merecokinya, jadi aku tak akan menghadap kalau tak dipanggil kyai, di samping aku sangat takut berbuat kurang tata krama kalau ada di dekat kyai, yang penting bagiku ilmu dari kyai aku jalankan dengan istiqomah, bahkan aku orang yang tak pernah meminta ilmu sama sekali pada kyai, kalau dikasih ya saya terima, sebab bagiku kyai lebih tau, apa yang ku perlukan daripada diriku sendiri. Tapi walau aku tak minta, selalu saja kalau kyai memanggilku berarti akan memberikan ilmu. Satu ilmu diberi maka aku berusaha ku jalankan sampai ku dapatkan buah manisnya ilmu. Baru ilmu itu akan ku berikan kepada orang lain.
Jadi aku kenal Sengkuni tahun 2011, lupa aku kapan tepatnya, tapi selama tahun 2006 sampai 20011, ku rasakan perkembangan jamaah thoreqoh yang ku ikuti kok tak ada sama sekali, malah ku tau mengalami kemunduran, belum lagi kyai Cilik dalam keadaan sakit, aku dipanggil tiap dua minggu sekali, menghadap untuk mengobati beliau, beliau disantet juga diracun, heran juga, kenapa beliau disantet dari segala penjuru demikian rupa, dan waktu itu, aku sendiri baru kenal santet sampai menghadapi 900 tukang santet, hari-hari hanya menghadapi santet, di mana mana, di bus bahkan santet tetap memburu, tidur tak tenang, dan ketika aku diperintah kyai untuk memimpin dzikir, maka santet menyerangku di tenggorokan, sehingga suaraku habis, juga menusuk ke perutku sampai rasanya sakit minta ampun, pernah dulu di majlis Cilegon, aku merasakan sakit yang teramat sangat, di perut sampai sakitnya tak karuan, sampai aku tidur melintir-lintir menahan sakit, anehnya sakitnya mulai jika aku mau berangkat ke Cilegon, dan aku sama sekali tak mengira kalau itu sakit kena santet, ku kira hanya sakit batu ginjal biasa, malah waktu itu mas Bangun ku ajak menemaniku beli batugin, untuk mengobatiku, tapi tetap saja sakitku tak juga sembuh, rasanya mau mati saja, karena teramat sakitnya, dan baru diobati kyai baru sembuh, dan baru belakangan ku ketahui itu santet dari dukun yang dibayar Sengkuni.
Sebab hari-hari belakangan ini, ketika semua telah jelas, apa yang ku rasakan dulu, sekarang hampir tiap hari ku rasakan, cuma sekarang aku bisa menariknya, dan kadang Aisyah yang ku minta mengeluarkannya, sekarang juga kyai Cilik sering menghubungiku, juga kadang ku pantau dari jarak jauh, apa ada santet yang masuk ke tubuh kyai atau tidak, kalau ada ku tarik dari jarak jauh, kadang kyai menghubungiku lewat telepati dan minta santetnya ku keluarkan dari tubuh beliau, yah… memang keadaannya seperti ini, kasihan juga kalau kyai jauh dariku, beliau sering mengatakan tak ada murid yang bisa diandalkan, karena muridnya masih cenderung mementingkan kepentingannya sendiri-sendiri, tak ada yang serius memperjuangkan thoreqoh, kebanyakan masih memikirkan bagaimana saya bisa hidup enak, dari doa kyai, ah entahlah, kadang malas kalau membahas para murid kyai, apalagi kalau yang dikehendaki kepentingan masing-masing, lebih baik ku putuskan memperbesar jamaah dengan caraku sendiri. Itu saja mereka bukannya membantu, malah kebanyakan menjelek-jelekkan di belakang, Seakan tak mau jamaah menjadi besar dan berkembang pesat.
Sepertinya aku sendirian, maka aku harus kuat sendirian, dan Allah hanya yang tak berhianat bila ku jadikan teman, memang aku seharusnya sendirian, sendirian berjuang, dan tak akan berhenti sebelum Allah menghentikanku, dan mencabut nyawaku.
Serangan dari Sengkuni, tak juga berhenti, dengan berbagai cara dia melakukan, yang lebih aneh lagi semua muridku yang ada di rumah, yang tinggalnya di daerahku, sama sekali tak ada sedikitpun perduli, malah menuduhku mengada-ada, ya ini menunjukkan hanya cobaanku, ujianku, dan ujian orang yang dikehendaki maju oleh Allah, maju memperjuangkan thoreqoh yang ku pimpin, dan yang mendukungku malah murid dari internet, makanya kenapa kyai Cilik mengacungkan jempol untuk mereka, walau dari internet yang tak bertemu langsung, ternyata Allah memilih mereka untuk berjuang bersamaku, dan mereka orang-orang yang dipilih dari berbagai kawasan, dan daerah, bukan orang yang asal-asalan, tapi memang orang yang dipilih Allah untuk berjuang bersamaku.
Waktu magrib, keadaan kenapa sepi, aku merasakan ada yang aneh, kenapa biasanya juga Aisyah hadir, ini kok gak ada, biasanya aku mengajari dia berbagai ilmu, dan ku suruh mempraktekkan, tapi ini kok tak muncul, aneh…. ku tarik Aisyah untuk ku masukkan ke mediator. Malah yang masuk latifah adiknya Aisyah,
“Kok Latifah ya….? mana mbak Aisyah…?” tanyaku.
“Huuu huuu….” Latifah menangis, Latifah itu umurnya sekitar 250 tahun, ya sekitar seumuran anak kelas 6 SD untuk seumuran manusia.
“Kenapa nduk, kok nangis?”
“Huuu… huuuu… ” dia malah nangis makin kencang.
Aku jadi kawatir terjadi apa-apa terhadap Aisyah, bagiku semua jin yang sudah masuk thoreqoh adalah keluargaku sendiri, itu ajaran kyai, jadi siapa saja yang sudah masuk thoreqoh adalah saudara kita, kita harus menyayanginya lebih dari menyayangi diri sendiri. Dan aku berusaha menerapkannya benar benar dalam kehidupanku. Apalagi Ratu sudah menitipkan Aisyah padaku, bagiku tanggung jawab, amanah itu akan dimintai pertanggung jawaban di sisi Allah. Akan dipertanyakan nanti di pengadilannya Allah, jika kok aku tak bisa menjaganya, bagaimana aku menghadap Allah nanti.
“Nduk… ndak usah nangis, ada apa dengan mbak Aisyah?” tanyaku menghibur, “Ayo cerita sama kyai, kalau ada apa-apa, nanti kyai akan minta pada Allah untuk minta jalan kelurnya.”
“Huuuhuuu… kyai, mbak Aisyah… ditangkap sama jinnya Sengkuni, dia…. dia dimasukkan kerangkeng, sekarang dia disiksa…” jawab Latifah di sela tangisnya.
“Yang benar nduk?”
“Iya kyai… huuu..”
“Lalu dia dikerangkeng di mana?”
“Di Surabaya.. di rumahnya adiknya Sengkuni.”
Aku menarik nafas, bingung, bagaimana menolongnya? tengak tengok tak tau apa yang harus ku lakukan.
“La tadi bagaimana mbak Aisyah kok bisa ditangkap?”
“Huuu… tadi mbak Aisyah ikut bu nyai jalan-jalan, dia di atas, dan ada diikuti jinnya Sengkuni, dan akhirnya dia ditangkap dan dimasukkan ke dalam kerangkeng, sekarang sedang disiksa… bagaimana ini kyai.. kasihan mbak Aisyah..”
Wah aku makin panik…
Ku kumpulkan saja jamaah yang ada di majlis ada beberapa orang untuk ku ajak dzikir bersama, dan menolong Aisyah yang sedang dipenjara.
Aku berdoa semoga Allah mengirimkan bala tentara malaikat untuk menolong Aisyah, dan mengembalikan Aisyah, suasana tegang, karena kami tak tau apa nanti hasilnya. Tapi ini juga menjadikanku makin teguh dan yakin untuk selalu berserah dan bertawakal pada Allah, yakin Akan pertolongan Allah.
-----
Kami semua dalam kepanikan, karena Aisyah sudah seperti keluarga, aku sendiri yang tak paham 100% metode, cara, waktu, dan semuanya dari alam jin, yang tentu berbeda dengan alam manusia, padahal kalau bahas jin, harusnya logika kita membuat ukuran alam mereka, bukan lagi alam kita, sebagaimana kalau bahas malaikat, seharusnya logika kita harusnya dimasukkan ke alam mereka agar pembahasan itu tepat, sebagaimana juga orang mau goreng tempe, tau kan goreng tempe, orang mau goreng tempe itu harus logikanya masuk ke membuat adukan tepung dan ukuran air dan bagaimana menggoreng sehingga dihasilkan gorengan yang tepat, tak beda sebenarnya dengan hal yang lain apapun di dunia ini, jika mau melakukan sesuatu apapun akal kita harus masuk ke dalam bidang yang akan kita lakukan, jangan dicampur aduk, misal mau goreng tempe memakai resep cara nyangkul sawah, sudah pasti tak akan jadi, semoga paham dengan apa yang saya maksudkan.
Karena tak paham bagaimana dunia jin itu, ya setidaknya dari pengalaman demi pengalaman yang ku alami, sedikit banyak membuka cakrawala kepahaman baru saya dengan dunia jin, walau aku tau masih banyak lagi yang belum ku tau, dan masih banyak lagi yang ingin ku ketahui.
Murid ku ajak dzikir, dan aku berdoa, semoga Allah mengirim petir untuk menghancurkan kerangkeng yang mengurung Aisyah, dan tak sampai sepuluh menit Aisyah sudah masuk ke tubuh Yaya, dan hati kami berbareng merasa ploong, lega, tapi Aisyah dalam keadaan lemah, dan kesakitan.
“Aduh pak kyai…. sakiit, saya dikurung, ini tubuh saya ditancapi bambu sampai tembus…”
Aku segera bertindak, walau sedang memimpin dzikir, aku segera menarik bambu yang menancap di tubuh Aisyah, dan ku tanya Aisyah ternyata sudah tak sakit lagi, cuma tubuhnya masih lemah, tapi tetap saja dia ngoceh.
“Pak kyai… pak kyai… saya ditangkap Sengkuni.” celoteh Aisyah.
“Bagaimana menangkapnya nduk?” tanyaku sambil terus memutar tasbih.
“Saya pas pulang menemani ibu belanja di pasar, saya terbang pulang dahulu, lalu ada beberapa rombongan jin, yang membawa jaring, dan kurungan, menangkap saya, saya jadi tak berdaya, dan saya ditangkap.”
“Lalu saya dibawa ke Surabaya, ke rumah adiknya, dan saya dikurung dalam kerangkeng, saya disiksa, tubuh saya ditusuk-tusuk pakai bambu dari perut tembus ke punggung.., rasanya sakiit sekali pak kyai…”
“Kok Aisyah bisa lepas bagaimana ceritanya..”
“Nyai ratu…” oceh Aiyah kebiasaan kalau diajak ngomong kemana perhatiannya kemana.
“Apa nduk.”
“Nyai ratu pak kyai… itu ikut dzikir sama prajurit semua, nyai ratu mengomeli saya, saya dilarang terbang-terbang lagi, disuruh di dekat pak kyai saja, biar tak ada yang menangkap.”
“Ya nduk, sebaiknya ndak terbang lagi untuk sementara, biar suasananya aman dulu, biar suasananya kondusif dulu, baru nanti terbang lagi.”
“Apa kondusif pak kyai?”
“Kondusif? apa ya kondusif…? ya itu kata yang dipakai orang-orang pinter itu untuk mengucapkan kata aman dan damai mungkin.” jawabku sekenanya saja.
“Wah berarti pak kyai pinter hayo…”
“Kok pinter.”
“La itu memakai kata kondusif?”
“La Aisyah kan baru saja juga mengucapkan kata kondusif, berarti juga pinter kan..”
“Iya ya pak kyai, Aisyah juga baru mengucapkan, berarti Aisyah juga pinter.”
“Wes lah nduk…. bagaimana kok Aisyah bisa lepas dari kurungan?”
“Itu kok pak kyai, saya juga tak tau..”
“Kok tak tau?”
“Ya tau-tau ada bola cahaya dari langit, menyambar kerangkeng yang mengurung Aisyah, dan kerangkeng jadi hancur lebur jadi cair, juga jin yang menjaga semua terpental mati.”
“Ooo begitu ceritanya?”
“Ya pak kyai… dan saya terbang ke sini, karena pak kyai memanggil, padahal saya sudah bingung.”
“Bingung kenapa nduk?”
“Ya bingung lah pak kyai, kan Aisyah sedang dalam kerangkeng, dan pak kyai memanggil Aisyah, kan Aisyah tak bisa datang, nanti Aisyah jadi murid yang tak berbakti pada guru, jadi Aisyah sedih sekali, ee kok ada bola api yang menyambar kerangkeng Aisyah, sehingga Aisyah jadi bisa memenuhi panggilan kyai.”
“Ndak kok nduk, kyai tidak menyalahkan Aisyah, ini kyai lagi dzikir ini untuk menolong Aisyah dari kerangkeng Sengkuni.”
“Jadi yang menolong Aisyah itu kyai ya?”
“Tidak nduk, yang menolong Aisyah itu Allah taala, kyai hanya meminta pada Allah agar menolong Aisyah, dan Allah membebaskan Aisyah dengan mengirim cahaya malaikat itu.”
“Terimakasih ya Allah, Engkau telah menolong Aisyah.”
“Bagaimana lukamu nduk?”
“Sudah sembuh kyai, setelah kyai obati.”
“Itu juga pertolongan Allah nduk, kyai hanya berdoa supaya sakit Aisyah disembuhkan, musnah hilang.”
“Iya kyai.”
“Ingat Aisyah jangan terbang-terbang lagi.”
“Tapi Aisyah jadi tak bebas no kyai.”
“Ya kalau ditangkap lagi bagaimana, apa Aisyah mau?”
“Hiii ngeri, masak tubuh Aisyah ditusuk-tusuk, leher ditusuk sampai tembus, perut ditusuk sampai tembus.”
“Nah kan, apa Aisyah mau seperti itu lagi?”
“Ya gak mau lah kyai.”
Akhirnya malam itu kami lega dengan kejadian yang kami alami, dan bagiku ada pelajaran yang ku ambil manfaat.
_________________________________________________
Jam 8 pagi, karena dalam perut seperti ada yang mengganjal, jika dipakai bernafas, atau batuk terasa menusuk-nusuk, seperti sebuah bambu lancip, aku panggil Aisyah ingin ku tanya sebenarnya apa yang dalam perutku. Tapi ku panggil-panggil tak juga datang, ku tarik saja dengan daya penarik, ku masukkan ke tubuh Yaya. Malah yang masuk jin lain, dia menggereng-gereng.
“Siapa?” tanyaku.
“Hem.. grrrr..” jawab dia menggereng, biasa mungkin menggertak, jin selalu begitu, suka main gertak.
“Siapa?”
“He.. he.. he… kau mencari Aisyah muridmu?”
“Iya..”
“Muridmu sudah dibawa teman-temanku.”
“Kemana.”
“Terbang ke Surabaya,”
“Ke tempat Sengkuni?”
“Ya..”
“Apa maunya Sengkuni, kenapa selalu menggangguku, dan membawa Aisyah?”
“Hmmm… karena dia kau ajari mengobati.”
“Kan dia ku ajari menolong orang.”
“Tak boleh.”
“Kenapa tak boleh?”
“Ya tak boleh berbuat baik, tak boleh menolong orang, tak boleh mengobati.”
“Kenapa?”
“Nanti thoreqohmu terkenal, banyak pengikutnya.”
“Sekarang bawa Aisyah kembali,”
“Hahahahah… tak bisa, dia akan kami kurung, akan kami bunuh.”
“Suruh temanmu bawa kembali.”
“Tak bisa, hahaha…, bawa kembali sendiri kalau mampu.”
“Baik.” segera ku membaca doa minta sama Allah diberi pedangnya malaikat maut, padahal aku sendiri tak tau, apa malaikat maut punya pedang apa tidak, heheheh…, yang jelas aku membayangkan pedang di tanganku menembus langit, dan ku tebaskan pada jin yang membawa kabur Aisyah, dan….
“Ampuuun….” terdengar jin lain.
“Siapa?”
“Kami yang membawa Aisyah.”
“Sekarang dia di mana?”
“Sekarang dia di penjara di sangkar burung.”
Perlu diketahui, Aisyah itu berbentuk asli burung merpati berwarna putih.
“Ayo bebaskan.”
“Tak bisa…”
“Kenapa? Apa kamu tak takut denganku?”
“Ya kami semua takut.”
“Kenapa tak mau membebaskan?”
“Kami diancam.”
“Sama siapa?”
“Sama Sengkuni, kalau kami tak menangkap Aisyah dan membebaskannya, kami akan disiksa.”
“Takutan mana sama Sengkuni, apa denganku?”
“Takut denganmu.”
“Nah bebaskan, apa kamu ku penggal kepalamu?”
“Jangan, jangan, jangan kami dibunuh.”
“Nah sekarang bawa kesini.”
“Kami tak bisa membuka sangkar burungnya, karena dikunci dengan ilmu,”
“Ini pegang pedangku, dan tebas sangkar burungnya.” ku berikan pedangku padanya.
“Aduuh berat sekali.”
“Sudah tebas, sini ku bantu tenaga,”
Lalu dia melakukan gerakan menebas.
“Pak kyai… saya bebas..” suara Aisyah.
“Ampuun… kami ingin menjadi murid kyai.” terdengar suara jin yang tadi.
“Iya… kalian sudah Islam..?” tanyaku.
“Belum..”
“Ayo tirukan aku membaca dua kalimat sahadat.”
“Iya.”
Lalu dia ku ajari membaca dua kalimat sahadat, dan setelah itu ku suruh mandi sebagai tanda masuk Islam.
__________________________________________________
bersambung
sumber : Febrian Hubbah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar