Kyai 42
Di tempat kerja, seorang pekerja bertubuh tinggi masuk ke ruanganku. Aku
sering memanggilnya Towil, karena tingginya, aku sendiri cuma
seketiaknya.
“Ya syaikh… bagaimana kabarnya?” kata Towil menyapaku.
“Baik, kamu sendiri bagaimana kabarmu Towil?” tanyaku balik.
“Baik syaikh,”
“Syaikh apaan?”
“Ya syaikh ya guru besar, seorang guru besar saja belum tentu bisa
seperti kamu bisa, setahuku kamu apapun bisa, dari ilmu kitab, ilmu
bekerja, ilmu komputer, bahkan ilmu mengobati.” kata Towil.
“Aku sebenarnya tak semua bisa, tapi aku hanya mungkin lebih percaya
diri dari orang lain, orang yang percaya diri itu selalu kelihatan bisa
karena percaya diri itu akan menimbulkan aura keyakinan di wajah,
sehingga menjadikan orang lain yang memandang menjadi yakin karena
terpengaruh oleh kepercayaan diri yang kita bawa, orang percaya diri
yang bukan dari kelebihan yang dimiliki tapi percaya diri karena Alloh,
percaya Alloh akan melindunginya, akan menjaganya, la khaufun alaihim
walahum yakhzanun, tak ada rasa takut, kawatir, sedih, susah, tentu beda
dengan orang yang percaya diri karena harta, kedudukan, kepintaran,
ketampanan, skill, ketinggian.”
“Wah nyindir aku nih.”
“Tidak juga, itu kenyataan,”
“Mungkin kalau kau pendek, mungkin tak sepercaya diri, karena kau
tinggi, lalu membuatmu bersikap beda karena merasa tinggi, benar tidak?
Jujur saja, kita itu tak akan menjadi berkembang maju, jika tak jujur
pada diri, untuk memperbaiki perubahan ke depan, pertama, sadari
kekurangan, lalu maju ke depan, jika sudah tidak mau mengakui
kekurangan, bagaimana mau menutup kekurangan, hanya membanggakan apa
yang dimiliki saja, sehingga sibuk membanggakan diri, dan tak sempat mau
menambah pengetahuan, dan menolak kemauan dari luar, ya jadinya
seumur-umur begitu-begitu saja.”
“Ya Syaikh…! Aku diangkat jadi murid ya…” kata Towil.
“Datang saja ke kamarku kalau mau belajar.”
“Pasti Syaikh, saya akan sering datang,” kata Towil yang asli dari Yaman itu.
Hampir waktu istirahat siang, bulan Romadhon, sebenarnya ini cuti
ketigaku, tapi aku tak mengajukan cuti, karena aku akan langsung
mengajukan pengunduran diri, jadi ingat cutiku di tahun kemaren tepatnya
setahun silam, beberapa hari aku mau cuti lagi beres-beres ruang kerja,
Munif masuk ke ruanganku.
“Lagi beres-beres mau cuti?” tanya Munif.
“Iya…”
“Aku mau nitip boleh?” tanya Munif lagi.
“Nitip dari sini apa dari sana ke sini, asal jangan nyuruh bawain istrimu kesini.” candaku.
“Aku mau nitip dari sini.” jawab dia.
“Ya dibungkus aja yang rapi, kalau tak terlalu berat pasti ku bawa.”
“Ringan kok. Kamu enak ya…?”
“Enak apanya?”
“Ya enak, kerjanya di ruangan, ber AC, gak kepanasan kayak aku.”
“Di syukuri saja, aku ber AC, dalam ruangan tapi kan gajiku kecil, tak
ada lemburan, kalau kamu banyak lemburan, pendapatan lemburannya saja di
atas gajiku, jadi kalau merasa kurang, selamanya manusia itu terasa
kurang saja, wong kui sawang sinawang, melihat orang lain enak, kalau
menurutku disyukuri saja, semua ada bagiannya, manusia itu tak akan mati
sebelum menghabiskan rizqinya, sebelum menghabiskan jatah nafasnya,
kalau sudah jatahnya habis, setengah nafas juga tak akan bisa dibeli,
walau dengan uang seberapapun, makanya disyukuri.”
“Rizqi, ajal, itu ketentuan Alloh, tak bisa dimajukan dan tak bisa diundur, semua sudah pasti.”
“Yang tak bisa memajukan dan memundurkan menambah dan mengurangi itu manusia, tapi kalau Alloh ya bisa.” jelasku.
“Lho kalau bisa dimajukan dan dimundurkan itu berarti Alloh membantah firmanNya?”
“Lho kan yastaqdimuna sa’atan wala yasta’khiruna, itu kan rujuk jamak,
maksudnya manusia semua itu tak bisa memajukan dan tak bisa memundurkan,
kalau Alloh ya terserah Alloh, mau memajukan atau memundurkan itu kan
hak mutlak Alloh, karena sifat Dia ‘ala kulli syai’ing qodir, jadi Alloh
tidak membantah pada firmanNya, sebab firman itu ditujukan pada
manusia, jadi harus dipahami itu.”
“Berarti apa perlunya firman kalau ajal itu tidak bisa dimajukan dan dimundurkan walau sesaat?” tanya Munif.
“La qur’an itu kan turun untuk memberi petunjuk bagi orang yang
bertaqwa, ya jelas maksudnya untuk memberi petunjuk bagi orang yang
bertaqwa, memberi petunjuk kalau ajal itu hal yang sudah ditulis,
ditentukan, digariskan, jadi manusia itu pasti mati, dan kematiannya
sudah dipastikan, tapi bukan berarti Alloh tak bisa merubah apa yang
telah dia tentukan, ya kalau tak bisa lagi merubah sekehendakNya, ya
berhenti jadi Alloh, kekuasaan Alloh itu tak terbatas, tak bisa diganggu
gugat, dan apapun yang akan Alloh lakukan maka tak salah, karena Dia
yang menciptakan, mau menghancurkan atau membuat itu terserah Dia.”
“Kalau menurutku ya tidak begitu, kalau umur yang sudah ditentukan ya sudah tak bisa dirubah,” kata Munif ngotot.
“Ya kalau Alloh tak bisa merubah, kan waman aroda syai’an aiyaqula lahu kun fayakun harus di hapus dari ayat qur’an.”
“Menurutku rizqi, ajal, jodoh, itu sudah tak bisa dirubah.” otot Munif.
“Gini saja, jika kataku ini benar, bahwa Alloh itu mampu memajukan ajal,
dan memundurkannya sekehendak-Nya, berani tidak kamu bulan depan mati,
dan jika menurut pendapatmu bahwa Alloh itu tak sanggup memajukan dan
memundurkan ajal, moga-moga aku bulan depan mati.” kataku agak emosi.
“Ya tak bisa seperti itu, itu tak bisa dibuat ukuran kebenaran.” katanya.
“Ya kita lihat, bulan depan.” kataku.
Malamnya seperti biasa bila ada yang cuti semua pada main untuk mengucapkan selamat jalan.
Dan saat malam telah larut, jam satu malam, tinggal dua tamu di kamarku,
yaitu Muhsin dan Umam, di malam itu Munif mengetuk pintuku.
“Aku minta maaf.” kata Munif
“Wah dramatis banget ada apa?” kataku melihat wajah Munif yang sedih.
“Iya siapa tau kita tak ketemu lagi,”
“Wah aneh- aneh saja kamu Nif.”
“Iya siapa tau kamu tak kembali lagi ke Saudi.”
“Aku kembali lagi kok, kan aku belum hajian, rugi lah jauh-jauh dari Indonesia ke Saudi kalau tak hajian.”
———————————–
Baru setengah bulan di rumah, aku mendengar kabar Munif meninggal dalam
kecelakaan, ceritanya, para pekerja dikirim ke pabrik satunya,
sebenarnya Munif bukan salah satu pekerja yang dikirim, jadi dia tak
tercatat sebagai salah satu pekerja yang dikirim, tapi salah satu
pekerja yang dikirim mengalami halangan, maka Munif yang dijadikan
ganti, semua pekerjaan sudah diselesaikan, dan pekerja akan pulang ke
pabrik asal, tapi busnya mogok, maka disewalah bus lain, di saat
menuruni jalan gunung yang curam, bus remnya blong, sopir membanting
setir agar bus tak menghantam jurang, tapi bus malah menghantam dinding
gunung, lalu terguling ke arah dinding gunung, dan terbanting lagi ke
aspal, dan terseret sampai dua ratusan meter, karena terbanting-banting,
sehingga penumpang menimpa penumpang lain, sehingga yang dibawah,
terkena aspal dan pecahan kaca, ada yang tangannya hancur sampai siku,
ada yang semua jarinya lepas, ada yang sebagian wajahnya terkelupas,
Munif tak terluka sama sekali, tapi dia yang meninggal, setelah aku
kembali cuti, jasad Munif tak bisa diurus kembali ke Indonesia, dan
dimakamkan di Saudi, itu juga menunggu tiga bulan, sebab cutiku tiga
bulan, aku menyesal telah berkata yang keras kepada Munif, tapi nasi
sudah menjadi bubur, memang seharusnya aku bisa menjaga lisan, walau
semua adalah ketentuan Alloh, tapi aku amat merasa bersalah sekali,
semoga amal ibadahnya diterima di sisi Alloh.
HP berdering, ku lihat nomer yang tak ku kenal, ku angkat, suara seorang wanita.
“Siapa ini?” tanyaku.
“Aku Ibu Sarah,”
“Ibu Sarah siapa?” tanyaku lagi.
“Aku seorang TKW,” katanya.
“Ooo, maaf bu… aku tak ada waktu bicara yang tak perlu.” kataku dan HP ku matikan.
Aku tak mau terjebak oleh telpon-telponan dengan TKW, hanya melakukan
perbuatan yang sia-sia saja. Tapi HP berdering lagi, dan ku lihat masih
nomer yang sama.
“Iya bu… ada apa?” tanyaku dengan nada tak suka.
“Anu nak, ibu mau minta tolong,”
“Minta tolong apa Bu?” tanyaku.
“Terus terang aku tak tau lagi harus minta tolong pada siapa, maka aku
coba mengacak nomer telpon, kok yang keluar nomer anak ini, namanya
siapa?”
“Saya Febrian,” jawabku.
“Nak Febrian, saya minta tolong, ya setidaknya minta do’a, saya sangat
tertekan sekali dengan majikanku, yang orang si’ah, yang suka memukulku,
menyiksaku, bagaimana ini nak,”
“Ooo, ibu tenangkan diri, coba perbanyak dzikir basmalah, nanti ku bantu
supaya majikan ibu menjadi baik, dan tak suka menyiksa.” kataku.
“Berapa kali saya harus wirid basmalah nak?”
“Ya sebanyak yang ibu mampu, dua belas ribu juga boleh kalau mampu, atau lebih, nanti ku do’akan dari sini.” kataku menghibur.
“Iya nak, ternyata tak salah aku mengacak nomer telpon, terimakasih nak…” kata Sarah.
“Tapi ingat ya bu…, jangan menyumpahi majikan ya..”
HP mati, sepertinya pulsa habis.
Jika Alloh menjamin sesuatu, maka berarti Alloh telah menempatkan segala
sesuatu sebagai pelengkapnya, itu suatu perencanaan Alloh atas segala
kejadian, sehingga semua sesuai dengan yang Alloh kehendaki, dan Alloh
tak pernah membutuhkan sebab tapi Alloh selalu membuat segala sesuatu
seakan kejadian yang wajar yang masuk akal jika dicerna dengan ilmu
pengetahuan, seperti garam yang asin, dan tersedia air laut yang bila
diuapkan akan menjadi garam, kejadian dan kejadian lain itu saling
berkaitan dan saling melengkapi, saling mendukung dan menyempurnakan,
seperti orang membuat sambel tanpa garam tak enak.
Semua kejadian dirancang untuk bergerak dan saling membutuhkan, satu
saja kurang kelengkapan itu maka tak akan terjadi, kita manusia yang
wajib mempelajari maka tertemukan teori dan ilmu pengetahuan, walau
sekedar membuat sambel, sambel tanpa cabe, maka tak akan enak, atau
membuat mobil, mobil tanpa roda maka tak jalan.
Begitu juga jika Alloh membuat syarat ubudiyah, penyembahan, penundukan
hati dan ketundukan atas perintah, tak ada seorang pun yang akan bisa
mengakali Alloh, kecuali akan mengakali dirinya sendiri, tidak ada
seorang pun yang menipu Alloh, kecuali hanya akan menipu dirinya
sendiri, sebab Alloh telah melihat hati bahkan nasib seseorang, tembus
terlihat jelas, maka daripada menipu lebih baik jujur, kejujuran itu
lebih menyelamatkan.
Pagi-pagi baru bangun tidur HP sudah berdering, dan kulihat ternyata Sarah.
“Ada apa bu?” tanyaku.
“Amalan dari anak sudah ku amalkan,” kata Sarah.
“Lalu?” tanyaku.
“Ini nak, ibu kok jadi takut.” kata Sarah.
“Takut apa bu?”
“Gini, kemaren kan aku dimarah-marahi sama majikanku lagi, sampai
matanya melotot-lotot, lalu aku sumpahi, matamu copot, ya aku juga tak
sadar bilang itu dengan bahasa Indonesia, dan majikanku tak tau, la tadi
pagi, aku nyapu, kok ku lihat di lantai menggelinding seperti kelereng,
setelah ku teliti ternyata kok mata, mata majikanku itu lepas satu, ini
bagaimana nak, ibu merasa berdosa, huuu… ibu berdosa pada Alloh.” kata
Sarah sambil menangis.
“Sudah bu… sudah yang terjadi ya biar terjadi, sekarang saya minta ibu
berhati-hati menggunakan lisan, walau cuma bacaan basmalah, kelihatan
sepele, dan anak kecil juga bisa, tapi basmalah yang ku berikan pada ibu
itu ada sanadnya menyambung sampai Nabi, dari guruku, jadi ada
kekuatannya, jadi saya minta ibu dijaga lisannya.” jelasku.
“Ya maafkan aku nak…” kata Sarah
“Sudah bu, yang penting jangan diulangi.”
Setiap manusia itu khalifah, pemimpin, dan setiap hati itu menjadi
khalifahnya tubuh, sungai-sungainya adalah urat, patihnya adalah
pikiran, dan tentaranya adalah semua indra, jika hati buruk, dengkian,
sombong, angkuh, fanatik, pemaksa, ingin menang sendiri, pemarah, keras,
jorok, cabul, maka di sungai-sungai urat akan mengalir berbagai limbah,
dan pikiran juga akan mengupayakan kejahatan terencana dengan sempurna,
dan orang lain yang berdekatan pasti merasa tak aman, semua akan
tergaris jelas kepalsuan dan kecabulan juga kejahatan di wajah, makanya
tak semua orang lantas dekat polisi merasa aman, dan tak semua orang
dekat pengemis merasa takut.
Siapa saja yang belum bisa mengendalikan dan membersihkan dunia dalam
tubuhnya, pasti akan menyebabkan orang lain yang berdekatan akan merasa
tak nyaman.
Jika seseorang telah mampu menjadikan hatinya jadi khalifah yang adil
atas dirinya, maka orang lain yang di dekatnya akan merasa nyaman, dan
senang berlama-lama di dekat orang tersebut, lebih nyaman dari berada di
tepi aquarium ikan yang di dalamnya berbagai ikan berenang, sebab orang
yang telah menjadikan segala gerak laku menjadi bersih dari pamrih dan
selalu ikhlas, maka akan seperti pertamanan yang indah, keindahan
memancar dari gerak, lisan yang penuh hikmah, ilmu yang mengalir seperti
sungai bening, yang kelihatan dasarnya, dan angin yang bersahabat
menjadi penenang tanpa obat, damai tanpa ujung pangkal, setiap
pemikirannya adalah mutiara yang tak ternilai harganya, karena tiada
keberpihakan pada kepentingan, dan keuntungan yang semu, dan semua orang
itu bisa, menjadikan hatinya sebagai khalifah, sebagai pemimpin yang
mengayomi dan menjaga seperti pohon yang jika dipakai berteduh akan
menurunkan buah agar si peneduh melepas dahaga, tak usah menyalahkan
orang lain, agar diri menjadi benar, dan tak perlu memerintah agar
diikuti, jadikan saja khalifah hatimu, mengatur benar semua prilaku,
makanya belum dikatakan orang yang beriman, jika orang lain masih tak
selamat dari prilaku dan prasangka burukmu, Alloh itu dzat yang suci,
bagaimana jika diri mau menggantungkan diri pada Alloh, sementara hati
masih dikotori oleh keinginan selain-Nya.
Musim haji telah tiba, dan Alhamdulillah perjalanan hajiku lancar, dan banyak hikmah ku petik di dalamnya.
Setelah Hajian aku pulang ke Indonesia, semua sahabatku di Saudi ku
tinggalkan, perjalanan panjang akhirnya sampai di bandara kepulangan.
Aku beserta pak Ibrahim.
Sampai di bandara Riyad, ternyata pesawat sudah mau berangkat.
Padahal harus boking tiket, sementara temanku pak Ibrahim sudah tua, dia
sudah 20an tahun di Saudi, dan ini adalah kepulangannya yang terakhir,
aku suruh pak Ibrahim di depanku, agar selesai lebih dulu boking
tiketnya, tapi ternyata tiket diminta semua, dan anehnya tiketku yang
diberikan dahulu, aku tunggu pak Ibrahim, tiketnya belum juga diberikan,
setengah jam menunggu, seperti ada yang memberitahuku, kalau sebentar
lagi pesawat akan berangkat.
“Pak aku tunggu dulu di ruang tunggu ya…!” kataku pada pak Ibrahim.
“Iya tak papa.” jawabnya.
Aku segera bergegas ke ruang tunggu, sampai di ruang tunggu yang
biasanya ramai banyak TKW, ini tak ada satupun yang duduk, seorang pilot
yang biasa mengecek tiket pesawat menghampiriku.
“Mau pergi ke mana?” tanyanya dengan logat bahasa Arab.
“Mau ke Indonesia.” jawabku.
“Ayo cepat sebentar lagi pesawat akan berangkat.” kata pilot itu.
Dan aku segera bergegas ke pesawat, memang lima menit kemudian pesawat
telah tinggal landas, aku tak tau bagaimana nasib pak Ibrahim, dan ku
tahu setelah sampai di Indonesia, kalau pak Ibrahim ketinggalan pesawat,
dan menginap di hotel Riyad, diikutkan pada penerbangan berikutnya.
Sampai di Indonesia dengan selamat, dan bau rumah, serta kehangatan
keluarga, baru dua harian di rumah, ada banyak tamu datang, ku kira
tetanggaku, ternyata orang yang mau minta tolong, dengan berbagai
keluhan sakit dan aneka macam masalahnya.
Ku pandangi Laptop putihku, ada banyak kenangan di dalamnya, tapi
sekarang di Indonesia, baru ku rasakan keberadaannya tak banyak memberi
manfaat, dan aku jika dipakai nulis pun enakan memakai HP, jadi bisa
dibawa kemana-mana, dan bisa nulis sambil tiduran.
Tapi bagaimanapun Laptop ini telah banyak memberikan kenangan,
teman-teman fb yang seperti bintang gemintang, berkerlap kerlip dengan
beraneka ragam latar belakang kehidupannya, dan dari laptopku dulu ku
berikan jawaban atas masalah di pesan facebook, atau di wapsite, dan
website ku, juga ku bimbing banyak orang yang menjadi murid internetku,
walau kami tak pernah bertemu.
Ada banyak kisah dan cerita dari teman-temanku di internet, kisahku dan
kisah mereka kadang seperti susu dan warna putih, tak bisa dipisahkan,
walau tak diakui atau diakui, kita seperti air yang mengalir kemudian
bertemu di satu sungai bernama persahabatan, lalu dipisahkan oleh
kepentingan.
Tapi kami seperti para penjaga yang saling memperingatkan ketika lena,
walau kadang bertemu itu seperti mimpi, mimpi mendapat selembar daun
emas, yang tak laku kami belanjakan ketika terjaga, sebab daun emasnya
hanya di mimpi saja.
Ada banyak kisah, walau hanya sahabat Facebook, teramat banyak kisah, sampai aku kadang bingung mau menulis dari mana?
Seperti teman wanitaku yang bernama Inayah, mengeluhkan karena lama sudah nikah tapi tak juga punya anak.
“Mas saya bisa dido’akan agar bisa dikaruniai momongan, saya sudah
belasan tahun menikah tapi belum punya momongan.” pesannya di Fbku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar