KITA MULAI saja dari sebuah tempat bernama Syi’ib Bani Muthalib. Di tempat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
para sahabat berada dalam embargo berkepanjangan. Semua bermula pada
bulan Muharram tahun ketujuh nubuwah. Tiga tahun lamanya mereka
terkurung dalam kelaparan, kehausan, dan keletihan. Mereka dikucilkan
dari masyarakat. Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury melukiskan bahwa
Rasulullah beserta para sahabat hanya memakan dedaunan dan kulit
binatang. Anak-anak dan wanita banyak yang merintih kelaparan.
Setiap kali mau membeli kebutuhan sehari-hari, Abu Lahab meneriakkan
propaganda, “Wahai pedagang, naikkan harga barangmu agar orang-orang
Muhammad tidak sanggup membeli apapun!” Begitulah yang terjadi,
kaumMuslimin kembali dengan tangan kosong karena tidak sanggup membeli.
Demikian Said Ramadhan al-Buthy menerangkan dalam Fiqh as-Sîrah an-Nabawiyyah.
Mengenaskan keadaan mereka saat itu. Tak ada relawan yang berani mengantarkan makanan bagi mereka. Kalau toh
ada yang akan membantu, jumlah mereka sangat terbatas. Salah satunya
adalah Hakim bin Hizam. Suatu ketika ia pernah membawa gandum untuk
bibinya, Khadijah radhiyallahu ‘anha. Namun, Abu Jahal mencegah dan menghalanginya.
Tiga tahun lamanya berada di Syi’ib Bani Muthalib. Waktu yang tidak
pendek untuk sebuah pengucilan. Tapi, tak ada yang sanggup menghambat
kekuatan iman. Dalam situasi seperti itu, harapan masih tetap tumbuh
dalam diri Rasulullah dan para sahabat.
Ada banyak kisah dalam sejarah kenabian yang berbicara tentang
kekuatan harapan. Salah satunya adalah peristiwa di Syi’ib Bani Muthalib
di atas. Selebihnya kita dapat membaca kisah-kisah yang lain, seperti
peristiwa Perang Khandak yang fenomenal itu. Dari kisah-kisah itu
marilah kita belajar tentang kekuatan harapan seorang Muslim. Dan, bagi
kita yang Muslim, berbicara tentang harapan sama artinya berbincang
tentang iman.
Kisah di atas, dan mungkin juga kisah-kisah lainnya dalam sirah
nabawiyah, mengajarkan kepada kita agar tidak terlalu fokus untuk
meratapi keterbatasan diri. Keterbatasan diri yang dimaksud tentu sangat
beragam. Mungkin dapat berwujud kebangkrutan usaha, kegagalan dalam
mencari jodoh, latar belakang pendidikaan yang rendah, kapasitas
pengetahuan yang terbatas, ekonomi yang pas-pasan, atau musibah yang tak
kunjung mereda.
Berapa banyak di antara kita lebih sering berputus asa dan bersikap
panik menghadapi hidup. Ketika teman-teman di kantor mendapat proyek,
mendadak sikap iri dan panik muncul. Seakan-akan hidup akan berantakan
karena tidak memperoleh seperti yang diperoleh orang lain. Ketika
pendapatan tidak lebih besar daripada orang lain, seakan-akan harapan
hidup tidak lagi ada. Tanpa sadar kita gantungkan harapan pada kemampuan
diri dan materi-materi. Akibatnya, ketika sumber harapan itu luput dari
diri mendadak kita kehilangan kendali dan berputus asa.
Dengan iman kita perbarui cara pandang hidup kita. Pertama, kalau kita meyakini bahwa janji Allah benar adanya, semestinya kita pun harus yakin dengan rumus hidup yang difirmankan-Nya. “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Qs. al-Baqarah [2]: 286). Ini berarti, kemampuan kita menyelesaikan masalah lebih besar daripada beban hidup yang dihadapi.
Alangkah banyak bukti kebenaran firman Allah di atas, tapi hanya
sedikit saja yang kita sadari. Ada banyak masalah hidup kita yang telah
terselesaikan, tapi sayang masih sangat sedikit yang disyukuri. Jika
demikian, rasa-rasanya tidak ada yang dapat membenarkan keputusasaan
menjadi tabiat dalam hidup kita.
Kedua, masa yang dibutuhkan untuk menyudahi beban hidup
sesungguhnya tidaklah lama. Sayangnya, kita terlalu tergesa untuk
menghendaki terselesaikannya masalah dengan cepat dan melalui jalan
pintas. Marilah kita mengingat rumus hidup yang dijelaskan Allah ta’ala kepada kita. “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (Qs. asy-Syarh [94]: 5-6).
Beberapa pakar tafsir menjelaskan bahwa kata ma’a dapat bermakna sesudah, tapi dapat pula bermakna bersama. Ini berarti, sangat dekat dan singkatnya waktu antara kehadiran kemudahan dan kesulitan yang sedang dialami. Kata al-‘usr (kesulitan) berbentuk definite, sementara kata yusran (kemudahan) tidak. Hal ini bermakna bahwa setiap satu unit kesulitan akan disusul dengan dua kemudahan.
Dengan kemudahan yang diberikan Allah di atas, apalagi yang pantas
untuk dirisaukan dalam hidup ini, selain ketika kita mengalami defisit
keimanan. Selayaknya kita mulai menyadari bahwa banyak kemudahan dan
pertolongan yang diberikan Allah dalam hidup ini, lalu kita belajar
untuk menyukurinya.
Jika disederhanakan kita perlu melakukan tiga hal: meminta
perkara-perkara besar, berusaha memantaskan diri untuk menerima karunia
Allah, dan belajar menyukuri setiap pemberian Allah ta’ala. Terakhir, marilah kita mengingat firman Allah ta’ala. “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang kafir” (Qs. Yusuf [12]: 87).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar