tak perlu syarat apa-apa.” kataku. “Cuma perlu persetujuan Ilham aja.”
“Persetujuan apa lagi mas?” tanya Ilham setengah bengong.
“Ya kamu benar-benar sudah ikhlas, jin yang ada dalam tubuhmu ku cabut?” tanyaku menunggu jawaban mantep dari raut wajahnya.
“Kan sudah saya bilang, saya pasrah pada mas Ian, apa yang terbaik, jadi saya rela serela-relanya.” katanya mantep.
“Walau semua ilmumu hilang?” tanyaku.
Ilham sebentar merenung, tapi kemudian
berucap, “Sudah saya siap, walau tak punya ilmu, tak apa-apa, yang
penting saya bisa hidup wajar seperti orang lain.”
“Baiklah. Sekarang duduk membelakangiku.”
kataku, sementara aku berpikir, ah aku ini belum pernah mencabut ilmu
seseorang, juga jin yang menyatu karena seseorang mengamalkan ilmu,
apakah aku bisa dan mampu?
Ku ingat Kyai waktu mencabut ilmu
seseorang, cuma seperti mengambil buah dari punggung orang itu,
digenggam lalu dibuang, kalau aku, ah tentu belum bisa setarapan itu,
lalu bagaimana? Pikiranku mencari jalan keluar, tapi tanganku perlahan
menempel ke punggung Ilham, wirid ku baca tiga kali-tiga kali, aliran
hawa panas dan dingin segera menggebu dalam pusarku naik mengalir ke
tanganku. Tiba-tiba, tanganku seperti tersedot kekuatan kasat mata di
punggung Ilham, karuan tanganku menempel pada punggung Ilham, ku pejam
mata, kurasakan tenang dari tubuhku menggulung-gulung masuk tubuh Ilham,
aku segera membaca doa khijab dan minta pada Alloh, supaya mukzijatnya
Nabi dan karomahnya para wali masuk ke tubuhku, ku rasakan udara dingin,
mendekat sejuk mengalir ke setiap pori tubuhku, tangan ku renggangkan
ku sedot apa yang ada di dalam tubuh Ilham ku genggam dalam satu tangan,
dan tangan kiriku membuat gerakan mengikat, lalu ku lempar jauh-jauh,
sementara Ilham menggelosor di kursi, entah pingsan, entah tidur, tapi
wajahnya menyiratkan kedamaian.
Ku ambil teh yang terhidang di meja,
untuk membasahi tenggorokanku yang lumayan kering, lalu ku nyalakan
rokok Djarum yang disuguhkan di meja.
“Bagaimana kang?” tanya Mashur.
“Syukur mas, udah beres, udah biarkan dia tidur.” kataku sambil mengusap keringat yang mengalir di jidat.
“Wah mau minta doanya mas, biar pondok
saya ramai.” kata Mashur, ketika kami berdua duduk di emperan mushola,
meninggalkan Ilham yang tengah tidur di kursi.
“Ah kita ini sama kang Hur, kang Hur diberi tangan dan kaki dua, saya juga, jadi pada kenyataannya kita ini sama,” kataku,
“Kenapa kang Hur tidak berdoa sendiri, minta pada Sang Kholik agar apa yang kang Hur harap bisa terwujud.”
“Kalau begitu, saya mbok dikasih amalan, biar santri saya tambah banyak.” kata Mashur sambil menyedot dalam-dalam rokok mlinjo.
Aku pun minta pena dan kertas, dan menulis amalan untuk mendapatkan santri banyak.
“Aku sebenarnya nyari tempat untuk nyepi, mengheningkan diri, apa di sini ada?” kataku setelah menyerahkan catatan amalan.
Kulihat Mashur menerawang, lama tak menjawab pertanyaanku.
“Mas Ian mau, ada tempat di pasar Pacul, tempatku yang tak terpakai,” katanya kemudian.
“Yah kita lihat aja dulu…” jelasku.
Dengan naik motor GL aku diantar Mashur
ke pasar Pacul, yang telah terlantar tak terurus, dan menunjukkan toko
yang telah jebol dinding papannya, yah cukuplah untuk tempatku menyepi,
maka malam itu aku mulai membersihkan bekas toko itu, dan ditinggal
sendirian di pasar. Ku ambil air di sumur pompa belakang pasar, sedang
waktu magrib telah tiba, ku ambil air wudhu dan menjalankan sholat di
dalam toko, tapi waktu aku selesai wudhu, seorang jin menghadangku,
perawakannya hitam, pakaian sobek-sobek, dan tubuh hitam legam, seperti
mandi oli,
“Ada apa kau menghadangku?” tanyaku, sambil mengusap air wudhu yang mengalir di jenggot kecilku.
Wajah tirusnya mengguratkan rasa takut,
bibir merahnya dan taring yang mencuat, meneteskan air liur, yang
membuatku tak bisa untuk tak meludah, dia mundur, “Ada apa?” tanyaku
lagi.
Terdengar suaranya mendengung, seperti suara lebah, tapi dengan nada berat, aku pun membuka batin.
“Aku mewakili, para penghuni pasar ini, kami minta tuan tidak bertempat di pasar ini….” katanya.
“Memangnya kenapa?”
“Kami merasa panas.”
“Kalau aku tetap bertempat di sini bagaimana?”
“Sungguh kami sangat memohon tuan….”
katanya dan perlahan menghilang. Aku pun melangkah ke dalam dan
melakukan sholat magrib, setelah wirid, aku pun beranjak, keluar, ah
mungkin aku tak usah mengganggu keberadaan para jin, aku pun memutuskan
pergi, menelusuri jalan sampai ke setasiun kereta api. Setelah sholat
isyak di musola setasiun, aku selonjorkan tubuh di kursi setasiun.
Seminggu telah berlalu, aku hidup di
stasiun Bojonegoro, tak pernah mandi, tidur seadanya, kadang menggelosor
di lantai setasiun aja, jadi tubuh dan lengan panjang, celana jean
belel sudah tak karuan warnanya, karena tertempel debu dan oli kereta,
juga rambut panjangku lengket dan gimbal, hingga tak jarang orang
menyebutku gila.
Aku tak perduli, terlalu terlena dengan
robul izati, tenggelam dalam wirid-wiridku, tenggelam teramat dalam,
bahkan aku pun tak memikirkan makan, karena memang tak ada sejumputpun
rupiah di saku, aku kadang makan sepotong nasi yang jatuh ke tanah,
Kadang juga cuma minum air wudhu, walau seminggu tubuhku telah teramat kurus.
Hari itu hari minggu, setasiun teramat
ramai, aku menggelosor aja di lantai, tenggelam dalam wiridku, tiba-tiba
tangan halus menepukku dari belakang, “Iyan…? Iyan khan?”
Ku buka mataku yang terpejam, dan
menengok ke belakang, seraut wajah gadis cantik nan anggun dengan
balutan jilbab coklat tua, membungkuk di belakangku, “Ya Alloh, Ian,
kenapa sampai jadi gini….” kata gadis bernama Eka Damayanti, dia
langsung memelukku dari belakang.
Eka Damayanti, nama gadis itu, ku kenal
waktu aku kelas 2 SMA dan masih aktif menulis di majalah remaja, pertama
perkenalanku, dia waktu itu mencari rumahku, dan dia salah satu dari
penggemar karya tulisku, aku pulang sekolah ketika Eka berdiri di
pinggir jalan menuju lorong rumahku, dia menghentikanku, “Mas… Mas…
berhenti…” tegurnya. Aku baru turun dari Angkot.
Aku pun berhenti, dan menunggunya datang
menghampiri, saat itu Eka masih belum memakai jilbab, rambutnya diikat
dengan pita merah, dan wajahnya anggun, menyiratkan kedewasaan.
“Ada apa mbak?” tanyaku.
“Maaf ngeganggu sebentar, mau tanya nih mas…?” katanya dengan nada datar tapi merdu dan terdengar centil di telingaku.
“Tau alamat ini gak mas?” tanyanya,
sambil menyodorkan secarik kertas bertuliskan alamat. Di situ tertulis,
Febrian, kulon pon pes Al-alawi Sendang,
“Wah itu aku mbak.” kataku setelah membaca sebaris alamat di kertas yang ditunjukkan padaku.
“Ih yang bener?” katanya tersenyum ceria, dan ada binar bintang di matanya.
“Ya benerlah, masak bohong, tau dari mana tentang alamatku? Perasaan aku tak punya kerabat kayak embak.” kataku menyelidik.
“Aku ini bukan kerabatmu, tapi
penggemarmu, kamu penulis khan? Nah aku ini salah satu penggemar
beratmu.” katanya menjelaskan dengan mimik yang lucu, kayak guru TK
menerangkan pada muridnya.
“Wah jadi malu nih, aku cuma penulis kacangan, karyaku juga cuma ngawur aja, gak bermutu.” kataku salah tingkah.
“Tapi aku benar-benar kagum, sungguh, kamu calon penulis besar.” katanya memuji.
“Wah ini mau ke rumah atau ngobrol di sini aja.” kataku, karena kami dari tadi cuma berdiri di pinggir jalan.
“Eh iya, kayaknya aku juga belum kenal
namamu?” kataku setengah bertanya, saat kami berdua menyusuri tanggul
paping blok jalan di depan rumah,
“Eka Damayanti….” katanya, sembari menyodorkan tangan mungilnya. Aku pun menjabat erat, penuh persahabatan.
“Febrian, dah tau namaku khan?” candaku.
Dan tak terlalu lama kami pun nyampai
depan rumahku. Itulah perkenalanku dengan Eka, dan sejak saat itu kami
menjadi akrab, karena Eka hampir tiap minggu main ke rumahku, rumah dia
di daerah Rengel, jadi masih satu kabupaten denganku.
Setahun telah berlalu, dan aku telah
kelas tiga SMA, dan Eka menjadi salah satu sahabat, yang mengagumiku,
dia selalu mensuportku untuk menghasilkan karya-karya tulisku.
Aku teramat terbuka dengan Eka, sampai
soal pacar-pacarku Eka juga tau, suatu hari aku dan Eka jalan-jalan ke
Tanjung Kodok, “Yan…” kata Eka, ketika kami duduk di bawah tenda dan
menikmati es kelapa muda, sambil merasakan semilir udara pantai yang
membawa bau air laut yang khas,
“Ada apa?” tanyaku sembari mengeluarkan rokok Djarum merah.
“Umpama kita jadian gimana?” katanya dengan tatapan kepadaku, serius.
“Maksudmu mahluk jadi-jadian?” kataku mencandainya, memang aku paling suka kalau dia mbesengut.
“Ah kamu, aku ini serius.!!” benar juga dia mbesengut, dan dari situ terlihat jelas kecantikannya yang khas.
“Iya… iya, aku ngerti kamu serius.” kataku buru-buru mencegah kemarahannya.
“Trus gimana? Kamu setuju enggak?” tanyanya.
“Kamu tau sendiri lah Ka…, aku kan ceweknya banyak, aku tak tega kalau kamu jadi kemakan hati.”
“Kenapa semua cewekmu tak kamu putusin aja.!?”
“Wah, aku juga tak setega itu untuk memutusin mereka.” memang waktu itu cewekku ada 18 an, ah bisa dibilang raja pelet,
“Wah kamu ini tak tega atau kemaruk,
tamak, aku heran juga kenapa mereka, cewek-cewek itu mau-maunya kamu
renteng-renteng kayak tasbih.”
“Itu kan urusan mereka Ka,”
“Aku jadi heran Yan…”
“Heran kenapa?”
“Ya, apa mereka semua akan kamu jadikan istri semua…,?”
“Wah la ya enggak lah, mana mampu aku melayani mereka semua, bisa habis darah dihisap dan aku tinggal tulang.”
“Emangnya cewek lintah? Ngaco kamu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar