Pagi baru jam delapan, mata masih
ngantuk, sebenarnya sudah ku batasi tak menerima tamu, kecuali setelah
habis isya’ tapi jika sudah datang, aku juga tak tega menolak, kadang
mata masih perih tapi tetap saja tamu ku temui, pagi itu ada beberapa
tamu menunggu, aku cuci muka, agar kelihatan lebih fress.
Ada enam orang yang datangnya tak bersama’an, ku temui dulu yang dua orang, seorang perempuan tua dengan cucu perempuannya.
“Ada keperluan apa bu..?” tanyaku.
“Anu kyai saya ingin minta air obat untuk
orang tua lelaki saya, yang sakit tapi terus-terusan menjerit-jerit,
sepertinya sakitnya sudah parah, tapi kok menjerit-jerit terus, sehingga
membuat para tetangga kami merasa terganggu.” jawab ibu tua itu.
“Itu dulu kayaknya mengamalkan amalan kejawen.” kataku.
“Iya kyai, memang bapak saya itu dulu juga bisa berbagai pengobatan, tapi kok sekarang malah sakitnya kesakitan.”
“Itu sebenarnya sudah saatnya meninggal,
tapi masih ditahan oleh jin yang jadi khodamnya.” kataku. “Mungkin punya
perjanjian dengan jinnya, nanti ku kasih air, diminumkan saja.”
Lalu aku ambil aqua, dan ku tiup ku serahkan. Kedua nenek dan cucunya itu pun pulang.
Lalu maju lagi seorang perempuan setengah
baya, yang mengeluhkan penyakit di kandung kemihnya, sudah diperiksakan
dokter dan sudah dioperasi tapi malah yang dioperasi kandungannya,
sehingga tumor yang ada di kantung kemihnya tidak terangkat, sementara
operasi telah menghabiskan berjuta-juta, perempuan itu bernama Amrina.
“Apanya yang sakit bu?”
“Saya itu kata dokter kan ada tumor di
kandung kemih, tapi pernah disuruh operasi, kok yang dioperasi
kandungan, jadi operasi sudah dijahit kembali, dilihat lagi tumornya
masih ada, dan saya mau dioperasi ulang, saya jadi takut, perut kok
diedel-edel, makanya sudahlah tak usah operasi saja, maka saya ke tempat
kyai minta dido’akan saja, agar saya diberi kesembuhan oleh Alloh.”
kata perempuan yang bernama Amrina.
“Iya, insaAlloh kalau Alloh mengijinkan,
insaAlloh sembuh, nanti akan ku kasih air, diminum kalau mau tidur, dan
tak akan makan apa-apa lagi, juga bangun tidur, sebelum makan apa-apa.”
“Baik saya paham.”
Lalu ku ambil air mineral, dan ku tiup dan ku berikan pada Amrina, dan perempuan itupun pulang diantar anaknya.
Namum besoknya sudah datang dengan ketakutan.
“Kenapa?” tanyaku.
“Saya takut kyai, tadi pagi saya kencing
kok yang keluar seperti banyak daging, dan hancur-hancuran daging,
bercampur darah dan nanah, sampai badan saya lemas.” jelasnya.
“Tak apa-apa, itu tumor yang hancur, dan keluar lewat saluran kencing, sekarang bagaimana rasanya?”
“Ya sekarang terasa enteng kyai.” kata Amrina.
“Ya moga saja akan sembuh total, dan segera sehat.” kataku.
___________________________
Aku menemui tamu dua lagi yang terakhir, dua orang lelaki.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku pada kedua orang itu.
“Saya ini ingin ketenangan hidup kyai,
kenapa kok saya selalu resah, rizqi susah dan serba kekurangan dalam
rumah tangga.” kata seorang yang bernama Furqon.
“Kalau Al Qur’an sendiri mengatakan, Ala
bidzikrillahi tatma’inul qulub, ingatlah hanya dengan dzikir Allohlah,
hati itu bisa tenang, jadi kok resah tak tenang, maka jalan terbaik ya
dzikir Alloh, ingat selalu pada Alloh, dzikir dengan benar, tak asal
dzikir, yang bersanad, yang berguru.” kataku.
“Ma’af kyai, sebenarnya saya ini juga berthoreqoh,”
“Ooo bagus itu, apa thoreqohnya?”
“Thoreqoh kejawen.”
“Lho memang ada thoreqoh seperti itu?”
“Ya ada, seperti yang saya ikuti itu.”
“Kalau boleh saya tau itu modelnya kayak apa?”
“Ya itu kami berkumpul, lalu melakukan dzikir,”
“Apa dzikirnya?”
“Ya dzikirnya diam, duduk bersila kaki
dilipat saling mengait, dan tubuh tegak diam, lalu menunggu kehadiran
Alloh, Alloh itu ada di mana-mana, semua alam ini tak akan kuat
ditempati oleh Alloh, yang kuat ditempati itu hati,”
“Wah itu sesat.”
“Dalam Qur’an sendiri kan Alloh itu
bertempat meliputi Arsy, dan arsy itu meliputi sidrotul muntaha langit
ke tujuh, dan langit ke tujuh meliputi langit di dunia ini, jadi
kekuasaan Alloh itu meliputi langit dan bumi, wasi’a kursiyuhussamawati
wal ardh, ingat cerita Nabi ketika dimi’rojkan oleh Alloh, sampai ke
sidrotul muntaha, dan malaikat Jibril yang menemani tak sanggup ikut
masuk ke mustawa, karena akan hancur lebur jika bertemu Alloh. Jadi
menunjukkan Alloh itu dzatnya ada, wujuduhu kamislihi syai’un, wujudnya
tak ada yang menyerupai, karena kekalnya, besarnya, akbarnya,
kesempurnaannya, jika kok dikatakan Alloh itu hanya di hati tempatnya
itu amat menyesatkan. Allohu itu cahaya langit dan bumi, jika tak ada
cahaya-Nya maka langit dan bumi dan seisinya itu tak ada, langit bumi,
aku sampean, ini kelihatan ada, karena pancaran cahaya Alloh, jika
cahaya Alloh itu tak memancar, maka matahari padam, cahaya semua padam,
juga cahaya akal dan hati, la akal saja bisa menterjemahkan apa yang
dilihat mata, karena ada cahaya penjelasan dan pemahaman akan apa yang
dilihat, yang masuk dan membuka tabir hati itu cahaya ilahiyah, Allohu
nurussamawati wal’ard. Dan adanya cahaya yang mengenai apa yang dilihat,
dan adanya cahaya yang ada di mata, orang mati itu kalau kamu buka
matanya, maka akan hilang cahaya matanya, jadi cahaya mata itu ada, coba
lihat kucing kalau di tempat gelap di matanya akan ada cahaya biru atau
hijau atau yang lain, makanya dia bisa melihat dalam gelap, tanda
sesuatu itu hidup dan mati adalah adanya cahaya, listrik dikatakan mati,
karena tidak bercahaya, kulit manusia saja jika mati atau terlepas dari
tubuh maka akan hilang cahayanya. Juga pohon mati maka kehilangan
cahaya hidupnya, yaitu warna pohon, hijau, jadi hati juga begitu, jika
hati itu mati, maka akan kehilangan cahaya, seperti orang di tempat
gelap, mau kemana-mana takut nabrak tembok, atau kena paku, atau kecebur
jurang, sebab tak melihat cahaya di depannya, juga hati yang mati tak
tau akan kemana, sifatnya resah, kering, risau, sedih, loba, tamak,
berkeluh kesah buruk sangka, membangkai, baunya tak sedap, jadi selalu
akan mengeluarkan keburukan, sekalipun diberi roti, atau kebaikan.”
“Di tempat saya ikut toreqoh itu, juga
kata pemimpinnya, kalau semua manusia ini yang dicari ketenangan, dan
ketenangan itu bisa saja karena dari punya uang, punya kedudukan, atau
punya apa yang disenangi.” jelas Furqon.
“Wah itu malah lebih salah lagi, itu namanya harus menjadikan keinginan nafsunya sebagai Tuhan, atau ilahahu hawahu,”
“Lhoh apa ketenangan itu juga keinginan nafsu?” tanya Furqon.
“La yang namanya keinginan kan keinginan
nafsu, itu namanya belum jalan sudah kesasar, karena punya anggapan
salah, pengen ke Jakarta dari Jawa Tengah, dikira Jakarta ke timur
arahnya, padahal jelas-jelas di barat, lalu apa yang disangka salah itu
dijalankannya, maka dia terus berjalan ke timur, sampai mengitari bumi,
baru deh nyampek Jakarta, waktu perjalanan yang seharusnya cuma ditempuh
semalam, bisa seumur hidup, atau sampai mati di jalan pun tak bisa
sampai, la jalannya salah, ada sambungan ilmu sampai ke kanjeng Nabi
thoreqoh itu? Jelas tidak, Nabi itu tak pernah menjalankan yang
susah-susah lalu diri membuat acara sendiri, membuat agama sendiri, dan
membuat cara ibadah yang itak-itukan akal, yang akal-akalan, segala
apapun yang selain Alloh itu bukan tujuan, sebab jelas kalau manusia
diciptakan itu untuk penghambaan diri pada Alloh, bukan pada ketenangan,
atau segala macam keinginan kepuasan hati, jelas manusia tak akan
tenang, jika melakukan itu, membuat tujuan selain Alloh, la kamu selama
mengikuti aliran itu, tenang apa tidak?” tanyaku.
“Tak tenang, malah semua hartaku ludes.”
“Kok bisa seperti ituu?” tanyaku.
“Menurut guru thoreqoh kejawen yang ku
ikuti, katanya kita itu hidup lewat jalan tol, seperti orang naik gunung
kalau lewat jalan raya, kan harus muteri gunung, nah kalau lewat jalan
tol maka jalannya lurus, langsung ke atas, jadi jalan menanjak dan pasti
susah, karena menanjak, makanya kami harus susah dulu baru nanti
belakangan jadi senang.” jelas Furqon.
“Wah apa memang ada yang kayak gitu?” tanyaku.
“La nyatanya aku hidup susah, sudah
selama ini jualan tahu aci, malah ndak pernah laku, lalu mencoba menjadi
tukang ojek, eee motor malah ditipu orang.”
“Bagaimana mungkin motor bisa ditipu orang?” tanyaku.
“Ya alasannya dipinjam, la kok malah
dijual, malah ku datangi, ternyata bukan hanya motorku aja yang dijual,
ya aku mau bagaimana lagi, orangnya ditangkap polisi, dan motorku tak
ada yang ganti, la aku kredit lagi, la kok malah berulang lagi, malah
aku ini pernah ngasih uang ke orang lain, dua hari uangku dibalikin,
katanya uang dariku bikin sial, wah jan bener-bener susah aku, lahir
batin.”
“Setahuku, Alloh itu tak pernah
mendzolimi hambanya, hambanyalah yang selalu mendzolimi diri sendiri,
kamu itu juga ngawur, ikut aliran juga tak diakal dengan akal sehat, tak
ada susah di depan dan senang belakangan dengan merugikan diri sendiri,
yang kamu alami itu namanya celaka, kan sudah jelas kalau ada robbana
atina fi dunia khasanah wafil akhiroti khasanah, jadi dunia itu ada
bagiannya sendiri, juga akherat ada bagiannya sendiri, kalau minta do’a
sembuh dari sakit, sembuhnya ya sekarang, kalau nanti sembuhnya di
akherat, ya udah ndak butuh lagi sembuh, juga minta hujan, ya ijabahnya
di saat membutuhkan, kalau ijabahnya semua di akherat ya nanti apa
akheratnya ndak kebanjiran? Jadi kalau do’a untuk dunia maka ya di dunia
ini ijabahnya, cuma ijabahnya terserah Alloh, minta uang setrilyun, la
kok diberi sejuta, itu hak Alloh, dan penolakan Alloh itu lebih baik
dari pemberian manusia, kenapa seperti itu? karena Alloh itu paling tau
apa yang kita butuhkan.” jelasku.
“Aku malah sudah pernah berusaha jualan sate pada setan?” kata Furqon.
“Wah apa itu, memangnya ada yang seperti itu? Wah bener-bener aneh kamu lakon-lakonnya.”
“Ya memang karena aku ini ingin mencari
kebahagiaan, tapi sama sekali tak ada yang membimbing, ya apa yang aku
temui dan mengajak aku ya ku ikuti saja, tak tau bagaimana
ujung-ujungnya, yang penting aku ikuti.”
“Yang soal jualan sate sama setan itu bagaimana?” tanyaku yang penasaran, karena kok ada cerita seaneh itu.
“Ceritanya kami tukang ojek pada
bicarakan si Hasim salah seorang tukang ojek yang biasa ngojek sama
kami, dia beberapa hari ndak berangkat ngojek, dan datang-datang dia
motornya sudah beli baru dari dealer, dan semua teman pada nanya dia tak
mau cerita dapat rejeki nompliok dari mana, nah sama diriku dia malah
mau jujur, kalau dia mendapat uang dari jualan sate pada setan. Menurut
Hasim cara jualan sate itu ya sama jualan sate, tapi yang dibakar sate
kalong dan gagak, jualannya di hutan karang jaten, di sana bakar sate,
seorang bakar sate, seorang lagi yang siap menerima uang, seorang lagi
yang siap melarikan uangnya,”
“Kok pakai dilarikan segala?” tanyaku.
“Iya agar uangnya tak diminta lagi…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar